Rabu, 16 April 2014

Bahagia itu Tentang Keiklasan

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali  & Get discovered! 





Aku berusaha menahan tangis. Jika dilihat, jelas sekali hidungku memerah dan mataku berkaca-kaca. Semua pegawai The Bay Bali, “Bumbu Nusantara” menatapku. Seolah mencari sesuatu dari kehadiranku hari ini. Aku hanya mampu tersenyum seperti biasanya. Seolah semuanya baik-baik saja.
bn-food0585

Ornamen kayu memenuhi aula depan tempat ini. Jauh masuk ke dalam terdapat ruang indoor dipenuhi meja unik dengan view langsung menghadap pantai, khas restauran ini. Hari ini restauran ini tampak berbeda. Tak ada seorang pengunjung pun selain aku. Meja-meja unik itu juga telah dimasukkan ke dalam aula, digantikan dengan bangku dan meja khas ornamen pernikahan. Aku duduk di salah satu bangku tersebut, meminta red wine yang sudah jauh-jauh dipesan. Terdapat gate kecil yang telah dihiasi bunga mawar warna-warni. Tempat ini sungguh romantis dan aku pun terkagum-kagum di sini, sendirian.




Aku berusaha menghela nafas panjang. Dulu semua orang bertanya tentang hubungan kedekatan kami berdua. Semua orang yang bertanya kadang tidak mau mengerti, mereka lebih banyak sekadar ingin tahu tak lebih. Aku pun hanya dapat membalas dengan senyum ketika mereka bertanya.
Bukankan jatuh hati itu adalah sebuah karunia, Tuhan? Lalu mengapa kebanyakan orang-orang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? Lalu mengapa kebanyakan orang sibuk memendam luka menahan perasaan? Bukankah jatuh hati itu sebuah perasaan harfiah yang sederhana?
Tentang perasaanku padanya biarlah aku memendam hingga resah tak lagi terbendung, hingga asa akan terlepas. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh hati. Butuh waktu lama untuk mempercayai seseorang singgah terlebih menetap di hatiku. Jadi, jika suatu hari nanti aku mampu mengungkapkan perasaanku padanya hanya ada dua kemungkinan dia telah menjadi pasanganku atau aku telah berani membuang perasaanku padanya.
Dulu aku selalu mengelak tentang hubungan kedekatan kami berdua. Aku rasa mereka tidak salah, tidak juga benar. Benar, jika mereka tanya perasaanku padanya adalah nyata, namun salah jika mereka bertanya kedekatan kami berdua adalah sebuah ikatan. Aku tak perlu sebuah ikatan yang dijelaskan dengan kata-kata ‘berpacaran’. Aku hanya butuh penyataan yang saling menguatkan ketika hati mulai melemah. Hanya sebuah kepastian tidak lebih! Walaupun aku tahu sebuah kepastian hakikatnya hanya ada pada Tuhan.
Aku lagi-lagi memandangi sekeliling restauran ini. Suasana pagi ini begitu tenang. Hanya terdengar deburan ombak perlahan. Air mataku kembali pecah. Ini kah hari kebahagiaan yang selama ini aku harapkan?
Aku tahu hubungan kami berdua hanya akan menyakitkan berbagai pihak terlebih seseorang yang menyukai dia dalam diam, sama seperti aku. Sudah itu aku hanya bisa melihat dan membuktikan bahwa doaku pada Tuhan tentangnya lebih kuat dibandingkan orang itu. Aku tahu hubungan kami seperti hubungan tanpa status, teman bukan, pacar pun bukan. Sungguh aku tak bermaksud melakukan hal itu. Aku hanya tak ingin memaksa kekuasaan Tuhan.
Tentang perasaannya padaku, aku tak pernah tahu persis. Tapi bukankan perasaan ini lebih indah jika kami sama-sama terdiam dalam sebuah doa? Aku hanya tak ingin keegoisanku, kecemburuanku membabi buta layaknya dia adalah milikku. Padahal jelas sekali dia dan aku hanya sekadar milik Tuhan.
Masih dapat kuingat jelas, ketika aku bertemu dengannya di restauran ini beberapa bulan yang lalu. Sore itu ketika sunset bewarna jingga keorenan, saat aku bersama dengan teman-temanku dan dia bersama wanita lain. Ada rasa cemburu yang membabi buta ketika itu. Rasanya perih sekali. Padahal aku jelas tahu wanita itu hanya klien dari pekerjaannya. Bagaimana jika dia masih menjadi milikku saat ini? Aku curiga aku akan selalu bersitegang dengannya untuk hal-hal sepele seperti ini.
bn-food0700

Lagi pula bukan kah masalah hati dapat berubah-ubah setiap saat? Bukan kah kami dulu pernah saling menjauh, dipisahkan jarak dan waktu, membenci satu sama lain tanpa sebab dan takdir membuat kami seperti ini sekarang? Aku hanya tak ingin suatu saat nanti aku akan kembali membencinya. Aku hanya tak ingin mendahului waktu.
Aku tahu seberapa pun aku ingin memilikinya jika dia bukan milikku maka dia akan pergi menjauh. Seperti  kemarin, saat ia memilih kembali kepada pemiliknya yang abadi. Aku hanya mampu mendoakannya dengan ikhlas. Karena itu hari ini di hari pernikahan kami, Aku harus menyatakan perasaanku yang tak pernah kunyatakan secara gamang padanya.
“Marsya sayang Ridwan. Marsya tau pernikahan ini hanya karena bisnis orang tua kita, tapi Marsya benar-benar sayang Ridwan. Maafin Marsya tidak pernah mampu menyatakan ini pada Ridwan secara langsung. Tapi Marsya tahu kok, Tuhan lebih sayang sama Ridwan. Marsya harus bahagia kan,Wan? Marsya janji, Marsya akan bahagia walau harus melepas Ridwan. Bahagia itu adalah sebuah keiklasan kan, Wan? Seperti saat Ridwan mengiklaskan wanita itu pergi dan memilih menikahiku untuk menuruti permintaan ayahmu kan wan?
Aku mengelap kelopak mataku yang tak lagi basah. Meneguk segelas red wine yang dituangkan seorang pelayan. Bahagia itu sederhana. Cukup menyimpan seseorang dalam kenangan di hati dan mengiklaskannya bersama pemiliknya yang abadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar