Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!
Aku
berusaha menahan tangis. Jika dilihat, jelas sekali hidungku memerah dan mataku
berkaca-kaca. Semua pegawai The Bay Bali, “Bumbu Nusantara” menatapku. Seolah
mencari sesuatu dari kehadiranku hari ini. Aku hanya mampu tersenyum seperti
biasanya. Seolah semuanya baik-baik saja.

Ornamen
kayu memenuhi aula depan tempat ini. Jauh masuk ke dalam terdapat ruang indoor dipenuhi meja unik dengan view langsung menghadap pantai, khas
restauran ini. Hari ini restauran ini tampak berbeda. Tak ada seorang
pengunjung pun selain aku. Meja-meja unik itu juga telah dimasukkan ke dalam
aula, digantikan dengan bangku dan meja khas ornamen pernikahan. Aku duduk di
salah satu bangku tersebut, meminta red
wine yang sudah jauh-jauh dipesan. Terdapat gate kecil yang telah dihiasi bunga mawar warna-warni. Tempat ini
sungguh romantis dan aku pun terkagum-kagum di sini, sendirian.



Aku
berusaha menghela nafas panjang. Dulu semua orang bertanya tentang hubungan
kedekatan kami berdua. Semua orang yang bertanya kadang tidak mau mengerti,
mereka lebih banyak sekadar ingin tahu tak lebih. Aku pun hanya dapat membalas
dengan senyum ketika mereka bertanya.
Bukankan
jatuh hati itu adalah sebuah karunia, Tuhan? Lalu mengapa kebanyakan
orang-orang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? Lalu mengapa kebanyakan orang
sibuk memendam luka menahan perasaan? Bukankah jatuh hati itu sebuah perasaan
harfiah yang sederhana?
Tentang
perasaanku padanya biarlah aku memendam hingga resah tak lagi terbendung,
hingga asa akan terlepas. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh hati. Butuh
waktu lama untuk mempercayai seseorang singgah terlebih menetap di hatiku.
Jadi, jika suatu hari nanti aku mampu mengungkapkan perasaanku padanya hanya
ada dua kemungkinan dia telah menjadi pasanganku atau aku telah berani membuang
perasaanku padanya.
Dulu
aku selalu mengelak tentang hubungan kedekatan kami berdua. Aku rasa mereka
tidak salah, tidak juga benar. Benar, jika mereka tanya perasaanku padanya
adalah nyata, namun salah jika mereka bertanya kedekatan kami berdua adalah
sebuah ikatan. Aku tak perlu sebuah ikatan yang dijelaskan dengan kata-kata
‘berpacaran’. Aku hanya butuh penyataan yang saling menguatkan ketika hati
mulai melemah. Hanya sebuah kepastian tidak lebih! Walaupun aku tahu sebuah
kepastian hakikatnya hanya ada pada Tuhan.
Aku
lagi-lagi memandangi sekeliling restauran ini. Suasana pagi ini begitu tenang. Hanya
terdengar deburan ombak perlahan. Air mataku kembali pecah. Ini kah hari
kebahagiaan yang selama ini aku harapkan?
Aku
tahu hubungan kami berdua hanya akan menyakitkan berbagai pihak terlebih
seseorang yang menyukai dia dalam diam, sama seperti aku. Sudah itu aku hanya
bisa melihat dan membuktikan bahwa doaku pada Tuhan tentangnya lebih kuat
dibandingkan orang itu. Aku tahu hubungan kami seperti hubungan tanpa status,
teman bukan, pacar pun bukan. Sungguh aku tak bermaksud melakukan hal itu. Aku
hanya tak ingin memaksa kekuasaan Tuhan.
Tentang
perasaannya padaku, aku tak pernah tahu persis. Tapi bukankan perasaan ini
lebih indah jika kami sama-sama terdiam dalam sebuah doa? Aku hanya tak ingin
keegoisanku, kecemburuanku membabi buta layaknya dia adalah milikku. Padahal
jelas sekali dia dan aku hanya sekadar milik Tuhan.
Masih
dapat kuingat jelas, ketika aku bertemu dengannya di restauran ini beberapa
bulan yang lalu. Sore itu ketika sunset
bewarna jingga keorenan, saat aku bersama dengan teman-temanku dan dia bersama
wanita lain. Ada rasa cemburu yang membabi buta ketika itu. Rasanya perih
sekali. Padahal aku jelas tahu wanita itu hanya klien dari pekerjaannya.
Bagaimana jika dia masih menjadi milikku saat ini? Aku curiga aku akan selalu
bersitegang dengannya untuk hal-hal sepele seperti ini.

Lagi pula bukan kah masalah hati dapat berubah-ubah setiap saat? Bukan kah kami dulu pernah saling menjauh, dipisahkan jarak dan waktu, membenci satu sama lain tanpa sebab dan takdir membuat kami seperti ini sekarang? Aku hanya tak ingin suatu saat nanti aku akan kembali membencinya. Aku hanya tak ingin mendahului waktu.
Aku
tahu seberapa pun aku ingin memilikinya jika dia bukan milikku maka dia akan pergi
menjauh. Seperti kemarin, saat ia
memilih kembali kepada pemiliknya yang abadi. Aku hanya mampu mendoakannya
dengan ikhlas. Karena itu hari ini di hari pernikahan kami, Aku harus
menyatakan perasaanku yang tak pernah kunyatakan secara gamang padanya.
“Marsya sayang
Ridwan. Marsya tau pernikahan ini hanya karena bisnis orang tua kita, tapi
Marsya benar-benar sayang Ridwan. Maafin Marsya tidak pernah mampu menyatakan
ini pada Ridwan secara langsung. Tapi Marsya tahu kok, Tuhan lebih sayang sama
Ridwan. Marsya harus bahagia kan,Wan? Marsya janji, Marsya akan bahagia walau
harus melepas Ridwan. Bahagia itu adalah sebuah keiklasan kan, Wan? Seperti saat
Ridwan mengiklaskan wanita itu pergi dan memilih menikahiku untuk menuruti
permintaan ayahmu kan wan?
Aku
mengelap kelopak mataku yang tak lagi basah. Meneguk segelas red wine yang dituangkan seorang pelayan.
Bahagia itu sederhana. Cukup menyimpan seseorang dalam kenangan di hati dan
mengiklaskannya bersama pemiliknya yang abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar