Senin, 04 Agustus 2014

Catatan Hati Seorang Suami

Jatuh hati itu sederhana. Sesederhana membebat tulang yang patah, sesederhana membuat kopi pahit yang pekat. Kamu bilang yang tersulit itu mempercayai dan mempertahankan. Ketika itu aku sadar hanya kamu yang melakukan semua itu untuk saya.
 Kamu yang jelas-jelas menguatkan saya saat semua tudingan menyatakan saya pecinta sesama jenis.
 Kamu bilang “Mana mungkin kamu mencintai sesama jenis. Bukan kan Tuhan menciptakan manusia berbagai rupa, agar saling melengkapi bukan saling meniadakan dengan kesaman yang pasti?”
 Berkat kata-katamu lah aku meminangmu. Mempercayaimu menjadi ibu dari anak-anak kita. mempercayai diri saya bahwa saya mampu membahagiakanmu. Tapi tampaknya salah….
                Saya tak pernah tau bagaimana mulanya saya mengecewakanmu. Bagaimana mulanya kita tak sejalan lagi. Entah karena anak-anak kita, entah karena mengecewakanmu, entah karena kamu mulai nyaman dengan orang lain, atau kerena tanpa sadar saya telah menekan diri saya selama ini bahwa saya bukan pecinta sesama jenis.
                Kamu masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara anak kita, Andin tampaknya telah memilih jalan lain. Memilih untuk menyerah akan dosa yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya ini.
Ya Tuhan, salahkah aku mencintai wanita yang satu ini? Wanita tangguh yang sanggup membiayai hidup kedua anaknya beserta suaminya? Wanita yang sanggup menerima cemoohan orang-orang karena saya yang tak lagi bekerja. Wanita yang sanggup menerima kenyataan bahwa ia memiliki penyakit kanker paru-paru karena suaminya yang busuk ini.
Kamu masih terbaring lemah berusaha menerima kenyataan. Mengiklaskan semua. Setelah hampir satu jam lebih kamu mengamuk. Tak iklas menerima kenyataan Andin telah pergi. Amukanmu berhenti ketika Dimas datang dan memohon padamu, untuk berhenti menyakiti diri sendiri. Memohon untuk melupakan segala hal yang telah terjadi.
Saya tidak menyangka-Dimas-anak semata wayang kita saat ini, memohon penuh tangisan, padamu dan pada saya. Tak terlihat lagi pandangan matanya yang kosong ketika sedang sakau. Ini Dimas, anak lelaki yang selalu saya banggakan pada teman-teman saya dulu.
***
Pagi itu tak secerah biasanya. Matahari pun belum juga bersinar dengan terang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Namun ada sebilah kehangatan dari senyummu hari ini. Saya memang tak cukup mengerti dengan arti  senyummu saat ini. Sudah ribuan senyum yang selama ini selalu saya artikan. Senyum ketika kamu kecewa, ketika kamu terluka, ketika kamu membenci saya. Saya tak cukup terampil untuk membedakan itu semua.
“Mas, maaf kalau Dini salah sama, Mas. Maaf kalau Dini selama ini egois. Dini gak mau kehilangan orang lagi, Mas. Dini benci Mas, tapi Dini sayang, Mas. Mas, gak akan mengecewakan Dini lagi kan? Mas, mau memaafkan semua kesalahan Dini kan?”

Saya tak mampu berkata, hanya mengangguk dan mendekapmu seerat yang saya mampu.

***




*ENDING  STORY OF INSTAN,  MEMBUATMU BAHAGIA, LUKA AND SEHARI TENTANG CINTA*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar