Jatuh hati itu
sederhana. Sesederhana membebat tulang yang patah, sesederhana membuat kopi
pahit yang pekat. Kamu bilang yang tersulit itu mempercayai dan mempertahankan.
Ketika itu aku sadar hanya kamu yang melakukan semua itu untuk saya.
Kamu yang jelas-jelas menguatkan saya saat
semua tudingan menyatakan saya pecinta sesama jenis.
Kamu bilang
“Mana mungkin kamu mencintai sesama
jenis. Bukan kan Tuhan menciptakan manusia berbagai rupa, agar saling
melengkapi bukan saling meniadakan dengan kesaman yang pasti?”
Berkat
kata-katamu lah aku meminangmu. Mempercayaimu menjadi ibu dari anak-anak kita.
mempercayai diri saya bahwa saya mampu membahagiakanmu. Tapi tampaknya salah….
Saya tak pernah tau bagaimana
mulanya saya mengecewakanmu. Bagaimana mulanya kita tak sejalan lagi. Entah
karena anak-anak kita, entah karena mengecewakanmu, entah karena kamu mulai
nyaman dengan orang lain, atau kerena tanpa sadar saya telah menekan diri saya
selama ini bahwa saya bukan pecinta sesama jenis.
Kamu masih terbaring tak
sadarkan diri di rumah sakit. Sementara anak kita, Andin tampaknya telah
memilih jalan lain. Memilih untuk menyerah akan dosa yang telah dilakukan oleh
kedua orang tuanya ini.
Ya
Tuhan, salahkah aku mencintai wanita yang satu ini? Wanita tangguh yang sanggup
membiayai hidup kedua anaknya beserta suaminya? Wanita yang sanggup menerima
cemoohan orang-orang karena saya yang tak lagi bekerja. Wanita yang sanggup
menerima kenyataan bahwa ia memiliki penyakit kanker paru-paru karena suaminya
yang busuk ini.
Kamu
masih terbaring lemah berusaha menerima kenyataan. Mengiklaskan semua. Setelah hampir
satu jam lebih kamu mengamuk. Tak iklas menerima kenyataan Andin telah pergi. Amukanmu
berhenti ketika Dimas datang dan memohon padamu, untuk berhenti menyakiti diri
sendiri. Memohon untuk melupakan segala hal yang telah terjadi.
Saya
tidak menyangka-Dimas-anak semata wayang kita saat ini, memohon penuh tangisan,
padamu dan pada saya. Tak terlihat lagi pandangan matanya yang kosong ketika
sedang sakau. Ini Dimas, anak lelaki yang selalu saya banggakan pada
teman-teman saya dulu.
***
Pagi
itu tak secerah biasanya. Matahari pun belum juga bersinar dengan terang. Padahal
jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Namun ada sebilah kehangatan dari senyummu
hari ini. Saya memang tak cukup mengerti dengan arti senyummu saat ini. Sudah ribuan senyum yang
selama ini selalu saya artikan. Senyum ketika kamu kecewa, ketika kamu terluka,
ketika kamu membenci saya. Saya tak cukup terampil untuk membedakan itu semua.
“Mas, maaf kalau Dini salah sama, Mas. Maaf
kalau Dini selama ini egois. Dini gak mau kehilangan orang lagi, Mas. Dini
benci Mas, tapi Dini sayang, Mas. Mas, gak akan mengecewakan Dini lagi kan? Mas,
mau memaafkan semua kesalahan Dini kan?”
Saya
tak mampu berkata, hanya mengangguk dan mendekapmu seerat yang saya mampu.
***
*ENDING STORY OF INSTAN, MEMBUATMU BAHAGIA, LUKA AND SEHARI TENTANG CINTA*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar