Semua orang di
kantor mulai memperbincangkan kedekatan kita berdua. Awalnya saya tidak peduli
tapi lama-lama saya pun mulai jera. Ketika sedang asik mengobrol denganmu saat istirahat
pasti disangka sedang pacaran. Saya benar-benar tak suka ketika kamu menyatakan
bahwa itu lah kenyataannya, bahwa kita pacaran. Kamu bahkan tak pernah
sedikitpun menyatakan perasaanmu pada saya! Bagaimana mungkin kita pacaran?
Saya tak suka
dengan gunjingan mereka yang mempermasalahkan kedekatan hubungan kita. Lagipula
bagaimana caranya mereka bisa yakin bahwa kita berdua saling mencinta? Bukankah
perasaan itu secara harfiah hanya milik, Tuhan? Hanya Tuhan yang mampu
membolah-balikkan hati. Seperti ini, seperti saat ini ketika saya mulai menjadi
cemburu padamu ketika kamu mengobrol mesra degan Mbak Vinka teman se-divisimu. Padahal
dulu saya tak pernah memperdulikan hal itu.
Semakin hari
kalian berdua semakin dekat. Apalagi dengan adanya project R n D marsamallow rasa green
tea di luar kota, kalian semakin sibuk berdua. Tak ada lagi waktu untuk
saya, walau hanya sekedar makan malam bersama. Dan mereka semakin gencar
mengunjing dan menggosip bahwa saya sudah putus denganmu, atau selama ini hanya
saya yang cinta padamu, bukan kamu.
Setiap kali
mereka mengosip seperti itu rasanya saya sangat membencimu. Ini kah yang
dinamakan jatuh hati? Jatuh hati yang tak pernah saya sadari seutuhnya. Sudah seperti
itu saya hanya berdoa smoga saya bisa cepat-cepat melupakanmu. Agar hati yang
baru bersemi ini tidak terlalu terluka.
Dulu pernah
kamu bilang, entah saat makan malam berdua yang ke berapa kalinya, bahwa yang
namanya patah hati dapat disebuhkan dengan cinta yang baru, dengan orang baru,
selama itu tidak ada mana ada manusia yang bisa melupakan seseorang. Tentu saya
menolak dengan keras ucapanmu. Saya pernah patah hati dan sembuh ketika orang
yang saya cintai itu berpacaran dengan orang lain. Secepat itu, semudah itu
evolusi hati saya. Maka dari itu saya paling tak suka ketika mereka sibuk
mengosipkan tentang perasaan hati saya. Sekarang saat saya harus patah hati karenamu,
saya hanya berharap kamu segera berpcaran dengan Mbak Vinka atau sekalian
menikah dengannya.
***
Win, kamu apa kabar?
Kangen!
Ping!
Pengen
cerita banyak sama kamu!
Diner ditempat biasa ya. C.U, your husband
Sebuah bbm
darimu mampu membuat galau seharian. Sudah beberapa hari ini saya tak
memikirkanmu, kini bbm darimu mampu membuat hati saya, meringis. Your husband? Memangnya saya sudah
menikah denganmu?
Saya membalasnya
bbm darimu dengan singkat.
Oke sip.
Jam biasa ya.
Saya tak ingin terlihat terlalu antusias. Saya
takut kecewa. Kecewa mungkin yang akan kamu ceritakan tentang Mbak Vinka.
***
Saya benar-benar
patah hati kali ini. saya benar-benar akan melupakan kamu detik ini. Saya janji,
ini hari terakhir kalinya saya mengharapkanmu! Saya janji, besok-besok saya
akan menganggapmu sebagai teman baik saya, tidak lebih.
Aduh, gusti saya gak boleh keluar air mata. Tahan,
Win, tahan! Masa saya nangis hanya gara-gara hal sepele kayak gini?! Masa saya harus nangis
karena secara gak langsung kamu bilang kamu sudah punya orang yang kamu cintai
apa adanya.
Masa kamu menolak secara halus Mbak Vinka yang
jelas punya perasaan padamu cuma karena Pak Erik sudah menyatakan perasaannya
duluan dan kamu pun juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Sungguh saya
lupa, selain Mbak Vinka kamu juga pergi keluar kota dengan Pak Erik.
Aciyee curcool hanipetong..
BalasHapus