Senin, 10 Maret 2014

Bittersweet Of Love

                Ada derita dan kecewa dari wajah bapak tua itu. Anak semata wayangnya dibunuh dengan berutal oleh salah satu teman sekolah anaknya. Tubuh anak jelita anaknya yang kini beranjak dewasa tak lagi berbentuk. Terpotong satu persatu bagai bagian puzzle yang belum tersusun. Air matanya kembali jatuh, mengingat mayat anaknya yang ia lihat. Sementara istrinya yang masih syok mendengar kabar berita itu masih terbaring lemah di rumah.
                Semua reporter sibuk menulis dan nyimak segala perkataan yang diucapkan bapak tua itu. Tidak ada yang sadar dengan senyum tipis yang sempat mengembang beberapa detik di wajahnya. Senyum kemenangan yang telah lama ia siapkan lebih dari belasan tahun.
*
                Di ruang intrograsi, duduk terpaku seorang gadis yang tertuduh sebagai pelaku pembunuhan artis remaja terkenal. Gadis itu masih terdiam. Bahkan setelah dia divonis sebagai pelaku utama pembunuhan berencana itu. Semua pertanyaan yang ditanyakan petugas intrograsi ia diamkan. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri, mengingat berbagai kejadian yang tak sengaja ia lihat.
                Gadis itu seperti berjalan dalam ilusinya. Mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu sebelum kematian teman dekatnya, Winta, artis remaja yang sedang naik daun. Malam itu, ketika gadis itu baru pulang les, ia mendapati suara-suara jeritan dan desahan aneh. Gadis itu berusaha masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap. ia mendapati ibunya sedang bergumul mesra dengan pria tua yang tak dikenalnya. Gadis itu tidak sempat melihat bahwa tangan dan kaki itunya terikat kuat oleh tali. Pertahanannya pecah, air matanya jatuh namun tak ada suara apapun yang mampu dia keluarkan.
                Gadis itu merasa dikhianati oleh ibunya, namun itu hanya terjadi selama beberapa menit hingga ibunya berkata pada pria tua itu. Gadis itu mungkin tidak mampu melihat apa yang sedang ibunya lakukan dengan lelaki itu, tapi ia masih bisa mendengar.
“Kamu mungkin bisa memiliki tubuhku. Tapi tidak dengan hatiku. Kamu jelas tahu hatiku hanya untuk Satria!” Gadis itu bergetar ketika ibunya menyebutkan nama ayahnya.
Pria tua itu tertawa, ”Kau juga berkata seperti itu dulu. Dulu kau bilang hatimu hanya untukku? Dasar perempuan jalang!” , ‘plak’ bunyi tamparan keras terdengar bersamaan dengan suara lelaki itu di telinga gadis itu.
Gadis itu sungguh ketakukan dan segera melarikan diri dari rumahnya.
“Saudari Nindy, coba berkata sedikit. Agar kasus ini cepat berakhir. Jawab saja apa yang menyebabkanmu melakukan pembunuhan terhadap saudari Winta?” ucap petugas introgasi lagi.
Gadis itu seakan tersadar dari ilusinya, namun ia masih belum mampu mengatakan apa-apa. Terlalu banyak kejadian yang dia lihat. Terlalu banyak tekanan yang gadis itu hadapi. Kematian temannya pun menjadi derita yang terelakkan bagi batinnya.
Gadis itu hanya menatap petugas itu tanpa berkedip. Matanya terus memandangi petugas itu sementara pikirannya kembali ke satu hari  yang lalu. Subuh itu, ia terbagun dalam keadaan memegang gergaji. Kepalanya terasa berat, namun bau anyir busuk memaksanya untuk bangun. Di sampingnya terdapat bagian-bagian tubuh tak berbusana berselimutkan darah pekat. Gadis itu dengan sigap menjauh. Sedetik kemudian gadis itu menyadari bajunya dipenuhi darah dan tangan kanannya masih memegang gergaji.
Gadis itu tidak mengetahui bagian-bagian tubuh siapa yang terdapat di sampingnya tadi, hingga ia melihat bagian kepala tanpa tubuh. Gadis itu menjerit kencang membangunkan burung-burung gereja yang sedang bertengger di batang pohon. Gadis itu menemukan wajah Winta teman dekatnya di sekolahnya yang sedang naik daun menjadi artis. Gadis itu kembali melihat tangan kanannya yang memegang gergaji. Pikirannya mejalar-jalar berusaha mengingat kejadian apa yang telah terjadi, namun tak ada satu pun hal yang mampu gadis itu ingat. Gadis itu kembali memandang gergaji besar di tangan kanannya. Tangan yang jarang sekali ia gunakan.
“Saudari Nindy!” petugas itu kembali mengajak gadis itu berbicara.
Gadis itu sedikit tersentak kembali kedunia nyata. Terdiam sesaat kemudian menjerit berulang kali “Saya kidal! Saya kidal! Saya kidal!”
**
                Bapak tua itu memasuki kamar rumahnya. Bapak tua itu melihat istrinya sudah tertidur, ia melihat sekilas meja di kamarnya. Bapak tua itu tersenyum, meskipun istrinya hanya makan setengah dari makan yang disajikan di meja tersebut, setidaknnya istrinya sempat terbangun tadi.
Bapak tua itu kemudian memasukkan obat anti depresi pada selang infus istrinya. Bapak tua itu tersenyum, mengelus lembut kepala istrinya yang masih tertidur, membuat rambut istrinya sedikit acak-acakan.
           “Tidur lah yang tenang sayang. Seperti kedua orang tuamu dulu yang memaksaku untuk menikahimu. Anak kita juga pasti sudah bahagia di surga karena mati demi kebahagianku. Dia anak yang berbakti sayang,” ucap bapak tua itu.
Bapak tua itu kemudian menambah dosis obat antidepresi pada istrinya.
                Bapak tua itu tersenyum puas keluar dari kamarnya. Kemenangan mutlak telah bapak tua itu miliki. Bapak tua itu kemudian menelpon seseorang. Kemudian tertawa bahagia setelah telepon dimatikan. Bapak tua itu memastikan kecelakaan mobil yang telah direncanakan sukses berhasil dilaksanakan bawahannya.
“Winta, Nindy, Satria dan sebentar lagi Selfi istri tercinta saya akan segera lenyap! Saya akan mendapatkan kebahagian seutuhnya!” ucap bapak tua itu pelan, tapi pasti.
***
            “Bagaimana? berhasil?” ucap seseorang wanita melalui telepon genggamnya.
           “Sudah berhasil. Kita hanya perlu memastikan Selfi akan mati besok!”
           “Lalu cinta kita akan bersemi kembali?” tanya wanita itu lagi.
           “Tentu, tentu sayang. Akan saya pastikan itu!”
           “Terima kasih, sayang. Aku kini mencintai kamu seutuhnya,” ucap wanita itu berbicara dengan manja.
      “Saya juga. Maaf membuat Satria mati dan membuat anak kesayanganmu menanggung semua penderitaan kita dulu. Maafkan saya,”
                “Tidak apa-apa, sayang. Dia pantas menerimanya! Bagaimana bisa anak tercintaku itu berteman akrab dengan anakmu dan Selfi. Tentu aku tidak setuju! Dan aku ingin anak tercintaku itu sadar apa yang telah dia lakukan!” ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Ah, kau begitu baik menghukum anakmu tanpa membunuhnya. Saya semakin sayang padamu.  Sayang, maaf saat itu, Saya sampai mengikat tangan dan kakimu,”
“Hei, bukankah sudah kubilang aku suka saat kau melakukan itu. Aku suka saat kau mampu menganiaya orang termasuk diriku. Aku suka saat kamu memotong satu persatu bagian tubuh anakmu dan Selfi itu. Hahaha. Ekspresi gadis itu begitu lugu saat mengetahui bahwa ayahnya yang akan memutilasi dirinya. Karena itu, mulai saat ini tetaplah di sisiku, tetaplah menganiaya orang lain bersamaku,” ucap wanita itu tersenyum puas, pengorbanan cintanya selama ini telah berhasiil.
“Baiklah, sayang. Saya cinta kamu! Love you…”

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar