Ada yang berbeda dengan suasana
taman pagi ini. kubikel-kubikel dadakan
yang terbuat dari kertas karton tersusun rapi di sepanjang ruas jalan kanan dan
kiri. Banyak orang yang berlalu-lalang, entah berbaju bebas, entah menggunakan
batik. Beberapa diantara mereka bertanda khas di jari kelingking kirinya.
Beberapa sepeda berjejer di
sekeliling taman. Mia meletakkan sepedanya di sana. Ia melihat ke sekeliling
taman, mencari bilik bernomor 65. Statusnya yang pengangguran membuatnya memiliki
banyak waktu untuk sekadar bersantai di taman, namun terik matahari pukul
sembilan mulai menyerang. Mia memutuskan segera menemukan bilik tersebut dan
bergegas pulang.
Ada rasa nyeri saat bahu Mia bertubrukan dengan seseorang laki-laki. Ia
meringis pelan, namun tak ingin memperpanjang masalah.
“KAMU!” ucap laki-laki itu dengan suara lantang.
Mia hanya
menunduk tak berani menatap laki-laki itu. Sudah lama ia tak menetap di wilayah
ini, sehingga ia tak tahu persis seperti apa tingkah laku penduduk di sini.
Hanya kata maaf yang mampu Mia ucapkan.
“KAMU?” ucap laki-kali itu lagi.
Hening. Mia tak
berani mejawab, tak berani juga untuk pergi melangkah.
“Mia kan?” tanya laki-laki itu
lagi.
Merasa dikenali,
Mia lalu menegakan pandangannya mencari tahu siapa laki-laki di depannya itu.
Mia memandangi laki-laki itu. Laki-laki
itu berambut hitam legam dengan potongan sebahu, kaca matanya tak mampu
menutupi hidungnya yang mancung, alis matanya tebal, wajahnya putih, postur
tubuhnya yang bidang dan tinggi menaikkan nilai jual laki-laki itu. Mia kagum
sesaat menikmati ciptaan Tuhan di depannya itu. Mia berusaha mengenali siapa
laki-laki itu. Namun Mia benar-benar tak mengenalnya.
“Kamu Mia Sulistiani kan? Aku Iman, kamu ingat tidak?”
“Iman?” tanya Mia masih kebingungan dengan siapa laki-laki perfect di depannya itu.
“Iya, teman TK kamu. Sudah ingat?” ucap laki-laki itu tersenyum manis
menimbulkan lesung pipi yang tak tampak sedari tadi.
Mia terdiam. Keringatnya mengucur deras entah karena panas matahari yang
mulai menyengat atau karena hormon feromon laki-laki di depannya berhasil
menarik perhatian Mia. Mia diam-diam mengendusi bau tubuhnya. Pagi ini Mia
belum sempat mandi, hanya gosok gigi selama tiga menit yang menjadi andalannya menyambut
pagi.
“Kok diem? Beneran gak ingat ya sama aku? Kamu sudah nyoblos?” tanya
laki-laki itu karena tak juga mendapat respon dari Mia.
“Hehehe, iya belum. Aku nyoblos dulu ya!” ucap Mia kabar secepat kilat
tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu, apakah Mia masih mengingatnya.
Sebenarnya Mia masih ingin berlama-lama dengan laki-laki itu. Namun Mia
merasa malu, karena perlahan bau keringat di tubuhnya mulai menjalar. Apalagi
pagi ini Mia belum mandi. Malukan jika laki-laki itu benar teman TK-nya. Tak
beberapa lama Mia menemukan bilik nomor 65. Setelah sekian lama menunggu
akhirnya Mia mendapat giliran untuk mencoblos. Mia buru-buru keluar dari
kubikel penyoblosan dengan kelingking kiri bewarna keunguan.
“Mia!” panggil seseorang.
Merasa
terpanggil Mia mencari sosok si pemanggil. Beberapa saat kemudian Mia menemukan
Misyel teman bimbingan belajar SMP-nya dulu yang kebetulan juga merupakan teman
TK-nya Mia.
“Hai!” sapa Mia sambil
menghampiri Misyel. Rasa rindu mendadak timbul pada temannya yang satu ini.
sudah lama mereka berdua tak bertemu, mungkin ada hampir 7 Tahun.
“Kamu apa kabar Mi? Ih, sekarang kok kamu kurus banget sih? tipsnya
apa sih?” tanya Misyel sambil memegangi rambutnya yang sedari tadi tertiup
angin.
“Baik dong. Ini sukses jadi
pengangguran. Hehehe, kamu sendiri gimana, Syel?” tanya Mia tak kalah serius
menanggapi pertanyaan Misyel.
“Hahaha, mending lah ketimbang
aku masih jadi mahasiswa tua. Belum lulus aku mah. Eh, duduk di kursi taman itu
yuk! Kita ngobrol dulu,” ucap Misyel menarik lengan Mia, tanpa menunggu jawaban
dari Mia.
Obrolan panjang antara dua
sahabat lama ini mengalir begitu saja. Mia seolah lupa hari itu ia belum mandi.
Baru saja Mia ingin menanyakan perihal laki-laki yang ia temukan dan mengaku
bernama Iman pada Mia, Misyel sudah memanggil laki-laki itu.
“Iman, sini! Kita
ngobrol-ngobrol dulu. Laki-laki itu kemudian menghampiri Misyel dan duduk
diantara Misyel dan Mia. “Man, masih inget gak sama Mia, temen TK dulu?”
“Ingat dong, masa sih lupa? Tadi
aku sudah menyapa kok, iya kan, Mi?”
“Cie, yang udah sapa-menyapa.
Udah tidak marah lagi, Man dengan kelakukan Mia jaman dulu?” tanya Misyel
sambil tersenyum menyeringai. Misyel tau banyak tenang Iman. Maklum lah mereka
satu sekolah dari TK sampai SMA.
“Emang aku dulu ngapain?” tanya
Mia kebingungan. Mia benar-benar lupa dengan laki-laki yang duduk di
sampingnya. Umur Mia sudah beranjak 22 Tahun, dan TK? Bukan kah TK itu
berlangsung saat usia 4-5 tahun? Sudah hampir 17 tahun yang lalu! Mia
benar-benar lupa dengan laki-laki yang bernama Iman itu.
“Kamu dulu menginjak kelingking
kiriku, saat kita bersembunyi berdua di balik kolam renang ketika kita main
petak umpat. Ingat?”
“Hah?” Mia berusaha berpikir
keras. Memorinya sepertinya mulai tergali. Samar-samar Mia dapat mengingat
kejadian saat itu. “Iman yang nangis waktu itu? Yang abis itu ngadu ke mamahnya
pas pengajian di TK?” tanya Mia akhirnya. Rasa malu langsung menyergap,
mengingat tingkah laku konyolnya dulu pada laki-laki cinta pertamanya itu.
“Hahaha, Iya Mi, Iya! Kamu tau
gak sih? si Iman gak mau satu SD sama kamu. Setiap masuk SMP dan SMA juga dia
menghindari kamu. Sekolah SMA unggulan kan? Si Iman tuh sudah diterima di sana,
tapi pas tau ada kamu di sekolah itu dia langsung mau pindah ke sekolah swasta.
Jadi akhirnya Iman satu seolah lagi deh sama aku,” cerocos Misyel panjang
lebar.
Iman berusaha menutup mulut Misyel,
tapi usahanya percuma Misyel telah membebarkan semuanya. Iman jadi salah
tingkah sendiri menghadapi gadis di smping kirinya itu. Awalnya dulu memang
Iman sangat marah dengan gadis itu. Apalagi gadis tidak pernah meminta maaf
padanya. Lama-lama ia menjadi dendam dengan gadis bernama Mia itu. Segala hal ia lakukan untuk mencari tahu
tentang gadis itu. Bahkan ketika friendster ataupun facebook lagi booming-booming-nya ia diam-diam membuat
akun khusus dengan mengubah identitasnya. Hingga saat ini path bahkan instragam
pun ia follow tentunya dengan nama
samaran.
Perasaan kesal itu lama-lama berubah menjadi rasa penasaran. Apalagi kini
Mia telah berubah sangat jauh. Tubuh gumpal, pendek, kecil dan berwajah bulat
hilang entah kemana. Wajahnya berbentuk hati dan dipermanis dengan rambut
panjang dengan poni miringnya, tubuhnya tinggi menjulang dengan porsi tubuh
sedikit semok. Hari ini benar-benar hari pertama bagi Iman melihat sosok Mia
secara langsung, tanpa bersembunyi seperti yang sering ia lakukan. Apalagi Iman
benar-benar sudah lama tak bertemu Mia sejak Mia kuliah di luar kota.
“Ah, serius?” ucap Mia menanggapi perkataan Misyel. “Maaf, ya Man! Aku benar-benar
tidak maksud. Kamu tau kan dulu aku pemalu. Pulang-pulang aku nangis tau dulu. Abis
kamu marah sam aku sambil nangis-nangis. Aku merasa bersalah banget! Tapi aku
gak berani ngomong. Terus aku jadi tambah sedih karena kamu sampe bilang ke
mamah kamu. Terus sekarang aku udah lupa tentang masalah itu. Maaf ya Man,”
ucap Mia dengan perasaan bersalah.
Mia tentu ingat dengan jelas kejadian itu. Kejadian yang membuat
laki-laki yang ia taksir menangis kala itu. Keringat lagi-lagi mulai mengucur apalagi sengatan
matahari siang meningkat. Mia menyakini aroma tubuhnya yang tak mengenakkan
dapat tercium oleh laki-laki di samping kanannya. Apalagi jarak duduknya sangat
berdekatan. Aduh, rasanya Mia ingin segera kembali ke rumah!
“Hahaha, iya. Gak apa-apa itu kan masa lalu,” ucap Iman berusaha
tersenyum menutupi kecanggungannya.
Mia jadi senang
sendiri menerima perlakuan manis dari Iman. Obrolan mulai mengalir lagi sederas
aliran keringat Mia.
“Eh, pulang yuk. Bapak aku sudah
menunggu. Hari ini dia mau landing ke
London,” ucap Misyel kepada Mia dan Iman.
Tanpa babibu Mia menerima ajakanan Misyel dengan senang hati. Mereka bertiga siap untuk pulang ke rumah
masing-masing. Misyel berpisah dengan Mia dan Iman setelah keluar dari taman.
Rumahnya kini tak lagi berdekatan dengan rumah Iman seperti dulu sejak ia
pindah rumah. Mia dan Iman kemudian jalan berbarengan menuju gang rumahnya
masing-masing. Ada rasa canggung antara keduanya. Mereka berdua sibuk dengan
pikirannya masing-masing. Mia yang malu takut-takut ketauan belum mandi dan
Iman yang masih saja penasaran dengan Mia.
“Man,” pangging Mia tertahan.
Iman sedikit kaget mendengan suara Mia. Ia menengok ke arah Mia. Mia
kembali berbicara, “Aku duluan ya, ini gang rumah aku. Dah!” ucap Mia sambil tersenyu.
“Hati-hati di jalan ya, Man.”
Semakin sibuknya Iman, ia menjadi lupa sebenarnya rumahnya hanya berbeda
dua gang dari rumah Mia dan kebiasaan menatap Mia dari jauh sering ia lakukan
dari sudut gang ini. Iman kembali berjalan. Namun ada rasa gelisah
dipikirannya. Perasaan aneh yang selalu ia tahan hampir selama 17 tahun. Perasaan
yang selama ini selalu ia anggap sebagai rasa penasaran belaka.
Iman kemudian memutar balik arah, mencari dimana Mia berada. Ya, Iman
harus bisa tegas sama halnya ketika memili calon legislatif tadi. Sosok Mia
terlihat semakin mengecil. Iman kemudian mengejarnya. “Mia!” jerit Iman.
Mia kemudian
menengok ke arah belakang, mencari darimana asal suara itu berasal.
“Mia……..,” ucap Iman tak meneruskan kata-katanya.
“Kenapa, Man?” sedikit menjauh dari Iman. Ia benar-benar tak ingin bau
keteknya tercium.
“A, aku, boleh kan, minta.. nomor kamu? Boleh kan… dekat saja kamu? Boleh
kan….,”
Mia hanya mengangguk menanggapi
ekspresi Iman yang benar-benar manis.
Iman sangat senang dan tanpa sadar memeluk Mia. Keringat dibaju Mia
mulai menempel di baju Iman. Indera penciuman iman mulai mendapati bau tak
sedap.
“Mi, kok kayak ada bau tong sampah ya?” tanya Iman polos setelah melepas
pelukannya.
“Ehehehehe…,” tawa Mia menyeringis. “A, a, a.. aku, belum… belum, mandi
Man, hehehehe. Kayaknya itu bau keringat aku deh………,”ucap Mia masih tertawa
menyeringis karena malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar