Bulir
– bulir air mata ini masih jatuh. Raya tak pernah tau apa rasa yang sedang
dialami. Hatinya sakit seperti disayat tapi ia hanya diam membisu. Raganya
disini tapi seperti tak bernyawa. Belum, belum semuanya ia ceritakan suatu
rahasia yang selalu tersimpan di hatinya yang terdalam. Dan Raya tak tau
rahasia apa yang harus diungkapkan karena sampai saat ini pun Raya tak tau rasa
apa yang tersimpan dalam hatinya itu.
“Iko,
iko tunggu!”
“Iko,
mau nginep di sini!”
“Iko,
bunda jahat!”
“Iko,
nanti kalau udah gede Aya mau nikah sama Andi, Iko jadi saksinya yah!”
“Iko,
Aya sayang sama Iko! Iko jangan pernah ninggalin Aya, ya!”
***
“Na,Tih, Sya, Ko, Ndi, Dit, sebel!
Aya gak mau pindah rumah. Mau di sini aja, sama kalian. Huhuhu. Mau main sama
kalian aja. huhuhu”
“Dasar cengeng lo, Ya! Lo juga
pindah rumah tetep di sini-sini juga. Tinggal jalan 10 menitan juga udah
nyampe! Oh, iya, kan lo gendut! Gue lupa Ya, pasti lo butuh energi lebih buat
gerak!”
“Hahahaha,”
tawa ku, Adit, Sasya dan juga Ina.
“Andi!!! Jahat banget sih, lo sama
gue! Ko, Andi jahat! Marahin Andi, Ko!”
“Iya, sini gue marahin. Andi gimana
sih! Sama calon istri gak boleh kayak gitu!”
“Iko…! Kok jadi calon istri – calon
istri- an sih?” ucap Aya mengelak dengan manjanya dan hal itu yang membuat
kadang aku kesal dengan Aya. Kadang aku ingin seperti Aya yang selalu bermanja
– manjaan sama Iko. Aduh pikiranku ini! Masih kecil kayak gini tapi udah mikir
cinta – cintaan melulu. Apa aku normal?
“Dasar, aya. Seharusnya kan yang
manja aku bukan kamu. Aku kan yang paling kecil. Hehehehe. Mas Andi mbok ya
jangan jailin Aya melulu toh. Kasian kan Mas Iko kewalahan ngurus kalian berdua
yang selalu aja ribut melulu,” ucap Sasya sodara kandung Andi dan juga sodara
sepupunya Iko.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar