Hari ini saya termangu layu dalam
keheningan. Sudah beberapa kali! Ribuan kali bahkan. Atau memang saya si wanita
jalang? Si manusia tak tau diri? Jika tidak kenapa bahkan keluarga sendiri
memvonis bahwa saya tak beguna? Biang onar, pembuat masalah?
Saya tak tau apa itu arti teman
atau sahabat yang saya rasa kecewa, kepedihan,sakit dan luka. Berbagai topeng
terbentuk dalam kenangan. Menjadikan saya ahli menjilat, menyulap wajah,
membias kebohongan layaknya jalang. Tapi tahu kah engkau bahwa saya capek? Saya
muak? Saya benci. SAYA BENCI DIRI SAYA SENDIRI. Jadi jika anda membenci saya
itu wajar! Jadi jika anda muak melihat saya itu wajar! Jika anda menyangka saya
pengecut itu wajar! Karena selama ini saya selalu memakai topeng! Bersembunyi
dalam senyum bahagia, gelak tawa mempermalukan diri sendiri. Saya tau itu yang
terbaik, karena tawa bahagia dari anda lah yang terlintas, saat saya
mempermalukan diri sendiri.
Jika anda sayang saya, berarti anda
telah terjebak dalam permainan topeng saya. Saya tak sebaik yang anda
bayangkan! Saya tak semenarik yang terlihat, sekali lagi saya jelaskan saya
sedang memainkan topeng dikala bersama anda – anda semua. Saya bahkan sangat
mengerikan jika tidak memakai topeng, penuh dengan luka dan borok akan
kebencian tentang perasaan, yang sebenarnya lebih nista dari seorang psikopat
pun.
1-12-11
Kata – kata itu memenjarakan Andri
dalam kegalauan. Sudah seminggu Sena menghilang. Tak ada kabar. Ruyam
berkecambuk dalam pikirannya. Surat itu surat terakhir Sena yang diberikan sebelum
Sena menghilang. Tiada yang tau apa masalah Sena bahkan Andri sendiri yang merupakan
pacar Sena. Yang Andri tau Sena adalah seorang gadis yang energik, gelak tawa
selalu menghiasi harinya. Sena tak pernah marah akan kata – kata kasar teman –
temannya dikala sedang membicarakan fisik Sena yang terlalu datar di semua
bagian dengan tinggi yang menjulang. Lalu kenapa Sena sekarang menghilang?
Kenapa Sena menulis surat terakhir dengan keambiguan yang menyiratkan kebencian
pada semua orang itu?
Andri mengenal Sena 2 tahun yang
lalu. Pertemuan disaat Andri sedang pusing mencari seribu macam barang ospek.
Sena menyapanya dengan senyum mengembang. Disitulah awal Andri mulai mengenal
Sena dan jatuh cinta dengan Sena. Tak mudah tuk taklukkan hati Sena, beribu
bahasa dan gaya tubuh ditunjukkan bahwa Sena tak ingin diusik, bahwa Sena masih
ingin sendiri. Tapi entah kenapa ketulusan saat pernyataan cinta Andri dapat
meluluhkan Sena. Sena menerima cinta Andri, tapi memang tidak ada yang berubah
saat sebelum dan setelah mereka berdua pacaran. Sena masih dengan gelak tawanya
bersama teman – temannya meninggalkan sebuah pertanyaan yang kadang Andri ingin
tanyakan, ‘apakah Sena mencintainya?’
***
“Dri, udah ada kabar dari Sena? Gak
ada Sena semuanya terbengkalai Dri, gue binggung, dia sakit apa sih dri?” Tanya
Silvi teman sekelas Andri dan Sena.
“Belum, setiap gue ke rumahnya
selalu kosong, selalu sepi,” jawab Andri panik seketika dengan pertanyaan yang Silvi
tanyakan. teman sekelas Andri dan Sena.
“Sebenarnya Sena sakit gak sih,
dri?”
“Gue, gak tau, kenapa lo bisa mikir
dia sakit sih?” Tanya Andri harap – harap cemas.
“Karena….feeling gue gitu dri,”
***
Sil, gw gak bisa sil! Terserah
kalau lo mau benci gue! Ini, udah kelewatan.
Gue gak bisa! Yang suka itu lo buka gw! Kenapa gue yang harus terus
ngebohongin dia? Kenapa gue yang harus mencoba? Kenapa lo bukannya mencoba?
Kenapa lo harus terus mempermainkan dia? Itu cara lo? Dengan gue sebagai
alatnya? Gue sama dia manusia Sil! Bukan mainan!”
***
“Bau busuk yang aneh selalu tecium
disekitar rumah dianggap enteng oleh warga. Setelah pemilik rumah kembali baru
diketahui bahwa telah terjadi pembunuhan di rumah tersebut. Yang menjadi korban
adalah anak beserta pembantu pemilik rumah tersebut. Korban diperkirakan sudah
meninggal lebih dari 1 minggu,”
“Ah, acara TV makin gak bener aja
deh!”
“Acara, apa sih, vi, kok tentang
pembunuhan – pembunuhan gitu mama dengar barusan?” Tanya mama Silvi pada Silvi.
“Gak tau tuh mah, males nonton
pembunuhan – pembunuhan jadi aku matiin deh TV-nya. Hehe, mama mau nonton?”
***
“Please,
aku mohon! Aku gak bisa ngelanjutin hal ini. aku gak bisa! Bukan aku, tapi
kenapa harus aku? Please, lepasin aku! Please aku mohon,”
“
Maksud omongan kamu apa? Aku enggak ngerti,kenapa Sen?”
“Aku
harap kamu bisa ngerti setelah baca ini. Ada dua surat, satu tentang aku dan satu
tentang kita,”
***
Andri
Nampak geram. Marah kalut dan kesal dengan semua yang dia ketahui akhir ini.
Andri emosi, memecahkan semua barang didepannya, melempar memukul dan
menghancurkannya. Andri kecewa ternyata setelah hampir setengah tahun berlalu
Andri hanya menjadi mainan.
***
Belum
selesai keterkejutan Andri dengan surat dari Sena, Andri harus kembali
terkejut. Takut, cemas dan gelisah menyeruak. Andri berusaha menyadarkan diri
tapi Andri sadar semua itu kenyataan bukan mimpi! Andri, ingin menangis, ingin menguktuk
kejadian ini. Hanya satu kata yang terbesit ‘gue harus melarikan diri!’
***
“Ya,
Tuhan! Silvi ini bukannya rumahnya Sena? Itu Sena, Vi!” jerit mama Silvi ketika menyetel kembali TV yang baru
saja Silvi matikan.
“Yang,benar
mah? Gak mungkin! Kata Andri, Sena lagi sakit! Gak mungkin mah!” ucap silvi
sambil mengeluarkan air mata.
“Siapa
Andri itu, vi?”
“Pacarnya
Sena, mah. Minggu lalu dia bilang Sena lagi sakit. Udah seminggu Sena gak masuk
karena sakit,”
“Kamu
harus hati – hati sama dia, Nak. Kemungkinan yang melakukan pembunuhan terhadap
Sena dan pembantunya adalah Andri karena kejadian ini sudah lebih dari 1 minggu
kan?”
“Mama,
enggak boleh negative tinking dulu mah! Andri orangnya baik. Gak mungkin
membunuh orang,” ucap Silvi masih tersedu – sedu.
“Mama,
enggak berpikiran negatif, tapi coba kamu pikir dari TV tadi dinyatakan tidak
ada barang yang hilangkan mama hanya curiga. Sekarang lebih baik kita ke sana
dulu nenangin mama – papa-nya Sena,”
“Mah,
Silvi gak kuat! Silvi mau di rumah aja mah. Mah, ini pasti cuma kabar
boongan!’” jerit Silvi masih dengan ketidak percayaan dengan apa yang disiarkan
di TV.
***
Malam ini Silvi tersenyum. Usahanya
akhirnya barhasil. Permainannya kini lebih menjiwai bahkan! Tak pernah Silvi
merasakan permainan yang begitu menyenangkan, karena dia berhasil membuat
mainannya merasa sangat bersalah. Bahkan kini mainannya diduga sebagai tersangka
utama dalam permainan yang sedang ia susun ini. Teringat Silvi akan
percakapannya dengan Sena terakhir kalinya hingga akhirnya permainan ini dapat dimainkan
dengan begitu nyatanya.
“Ayolah
Sen! Ini kan cuma permainan. Dia gak akan kenapa – napa kok! Mumpung orang tua
kamu juga lagi gak ada di rumah. Dia pasti syok kalau ngeliat kamu ternyata
dalam kedaan naas penuh luka dan darah,”
“Sil,
tapi ini udah gak lucu! Lo pingin gue mati gitu?”
“Ya,
enggak lah kan cuma pura – pura tinggal tergeletak kaku terus pake darah –
darah dari pewarna merah dicampur dengan madu. Pasti hasilnya keren. Please
Sen, gue cuma pengen tau reaksinya dia. Gue pengen tau dia orangnya bertangung
jawab atau enggak.
“Sil, gw gak bisa sil! Terserah
kalau lo mau benci gue! Ini, udah kelewatan. Gue gak bisa! Yang suka itu lo
bukan gw! Kenapa gue yang harus terus ngebohongin dia? Kenapa gue yang harus
mencoba? Kenapa bukan lo yang mencoba? Kenapa lo harus terus mempermainkan dia?
Itu cara lo? Dengan gue sebagai alatnya? Gue sama dia manusia, Sil! Bukan
mainan!”
“Jadi lo gak mau bantuin gue? Kalau
bisa gue mau ngelakuin ini semua sendiri, Sen! Tapi orang yang Andri suka dan
sayang selamu ini itu lo, Sen! Bukan gue!”
“Itu karena lo gak berani
ngungkapinnya, Sil! Sil, gw capek, ini udah kesekian kalinya lo permainin dia!
Dan udah kesekian kalinya gue nurutin semua permainan lo! Gue gak pernah minta
dia buat suka sama gue, karena gue gak punya perasaan suka sama dia, sil. Dia sendiri
yang suka sama gue, sil! Gue gak mau lo terus mempermainkan dia dengan
permainan – permainan lo yang aneh! Sil, gue udah minta putus sama dia dan dia
udah tau semua permainan yang lo lakuin, tenang gue gak pernah nyebut – nyebut
nama lo, gue cuma bilang ini semua gue lakuin sendiri. Sil, gue sayang dia. Please,
tingkah laku lo seakan – akan kayak psiko…..Arrrgk, is,”
Kata – kata itu tidak pernah
selesai terucapkan. Emosi Silvi akhirnya yang menikam Sena dari belakang. Sena
jatuh terjerembab ke bawah bercucuran darah. Silvi tertawa. Jatuhnya Sena,
menimbulkan suara yang cukup keras untuk dapat di dengar pembantunya. Pembantu
Sena pun akhirnya menjadi pelengkap permainan yang Silvi buat.
Kini Silvi senang permainannya
berjalan dengan sempurna. Tak ada yang tau pelaku pembunuhan itu sebenarnya.
Hanya Andri yang diduga sebagai pelaku utama karena Andri orang yang masuk
terakhir ke rumah itu. Silvi senang karena ternyata Andri orang yang
bertanggung jawab walau sebenarnya bukan Andri yang melakukan pembunuhan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar