Selasa, 20 Desember 2011

The Fault



Hari ini saya termangu layu dalam keheningan. Sudah beberapa kali! Ribuan kali bahkan. Atau memang saya si wanita jalang? Si manusia tak tau diri? Jika tidak kenapa bahkan keluarga sendiri memvonis bahwa saya tak beguna? Biang onar, pembuat masalah?
Saya tak tau apa itu arti teman atau sahabat yang saya rasa kecewa, kepedihan,sakit dan luka. Berbagai topeng terbentuk dalam kenangan. Menjadikan saya ahli menjilat, menyulap wajah, membias kebohongan layaknya jalang. Tapi tahu kah engkau bahwa saya capek? Saya muak? Saya benci. SAYA BENCI DIRI SAYA SENDIRI. Jadi jika anda membenci saya itu wajar! Jadi jika anda muak melihat saya itu wajar! Jika anda menyangka saya pengecut itu wajar! Karena selama ini saya selalu memakai topeng! Bersembunyi dalam senyum bahagia, gelak tawa mempermalukan diri sendiri. Saya tau itu yang terbaik, karena tawa bahagia dari anda lah yang terlintas, saat saya mempermalukan diri sendiri.
Jika anda sayang saya, berarti anda telah terjebak dalam permainan topeng saya. Saya tak sebaik yang anda bayangkan! Saya tak semenarik yang terlihat, sekali lagi saya jelaskan saya sedang memainkan topeng dikala bersama anda – anda semua. Saya bahkan sangat mengerikan jika tidak memakai topeng, penuh dengan luka dan borok akan kebencian tentang perasaan, yang sebenarnya lebih nista dari seorang psikopat pun.
1-12-11

Kata – kata itu memenjarakan Andri dalam kegalauan. Sudah seminggu Sena menghilang. Tak ada kabar. Ruyam berkecambuk dalam pikirannya. Surat itu surat terakhir Sena yang diberikan sebelum Sena menghilang. Tiada yang tau apa masalah Sena bahkan Andri sendiri yang merupakan pacar Sena. Yang Andri tau Sena adalah seorang gadis yang energik, gelak tawa selalu menghiasi harinya. Sena tak pernah marah akan kata – kata kasar teman – temannya dikala sedang membicarakan fisik Sena yang terlalu datar di semua bagian dengan tinggi yang menjulang. Lalu kenapa Sena sekarang menghilang? Kenapa Sena menulis surat terakhir dengan keambiguan yang menyiratkan kebencian pada semua orang itu?
Andri mengenal Sena 2 tahun yang lalu. Pertemuan disaat Andri sedang pusing mencari seribu macam barang ospek. Sena menyapanya dengan senyum mengembang. Disitulah awal Andri mulai mengenal Sena dan jatuh cinta dengan Sena. Tak mudah tuk taklukkan hati Sena, beribu bahasa dan gaya tubuh ditunjukkan bahwa Sena tak ingin diusik, bahwa Sena masih ingin sendiri. Tapi entah kenapa ketulusan saat pernyataan cinta Andri dapat meluluhkan Sena. Sena menerima cinta Andri, tapi memang tidak ada yang berubah saat sebelum dan setelah mereka berdua pacaran. Sena masih dengan gelak tawanya bersama teman – temannya meninggalkan sebuah pertanyaan yang kadang Andri ingin tanyakan, ‘apakah Sena mencintainya?’
***
“Dri, udah ada kabar dari Sena? Gak ada Sena semuanya terbengkalai Dri, gue binggung, dia sakit apa sih dri?” Tanya Silvi teman sekelas Andri dan Sena.
“Belum, setiap gue ke rumahnya selalu kosong, selalu sepi,” jawab Andri panik seketika dengan pertanyaan yang Silvi tanyakan. teman sekelas Andri dan Sena.
“Sebenarnya Sena sakit gak sih, dri?”
“Gue, gak tau, kenapa lo bisa mikir dia sakit sih?” Tanya Andri harap – harap cemas.
“Karena….feeling gue gitu dri,”

***
Sil, gw gak bisa sil! Terserah kalau lo mau benci gue! Ini, udah kelewatan.  Gue gak bisa! Yang suka itu lo buka gw! Kenapa gue yang harus terus ngebohongin dia? Kenapa gue yang harus mencoba? Kenapa lo bukannya mencoba? Kenapa lo harus terus mempermainkan dia? Itu cara lo? Dengan gue sebagai alatnya? Gue sama dia manusia Sil! Bukan mainan!”
***
“Bau busuk yang aneh selalu tecium disekitar rumah dianggap enteng oleh warga. Setelah pemilik rumah kembali baru diketahui bahwa telah terjadi pembunuhan di rumah tersebut. Yang menjadi korban adalah anak beserta pembantu pemilik rumah tersebut. Korban diperkirakan sudah meninggal lebih dari 1 minggu,”
“Ah, acara TV makin gak bener aja deh!”
“Acara, apa sih, vi, kok tentang pembunuhan – pembunuhan gitu mama dengar barusan?” Tanya mama Silvi pada Silvi.
“Gak tau tuh mah, males nonton pembunuhan – pembunuhan jadi aku matiin deh TV-nya. Hehe, mama mau nonton?”
***
            “Please, aku mohon! Aku gak bisa ngelanjutin hal ini. aku gak bisa! Bukan aku, tapi kenapa harus aku? Please, lepasin aku! Please aku mohon,”
            “ Maksud omongan kamu apa? Aku enggak ngerti,kenapa Sen?”
            “Aku harap kamu bisa ngerti setelah baca ini. Ada dua surat, satu tentang aku dan satu tentang kita,”
***
            Andri Nampak geram. Marah kalut dan kesal dengan semua yang dia ketahui akhir ini. Andri emosi, memecahkan semua barang didepannya, melempar memukul dan menghancurkannya. Andri kecewa ternyata setelah hampir setengah tahun berlalu Andri hanya menjadi mainan.
***
            Belum selesai keterkejutan Andri dengan surat dari Sena, Andri harus kembali terkejut. Takut, cemas dan gelisah menyeruak. Andri berusaha menyadarkan diri tapi Andri sadar semua itu kenyataan bukan mimpi!  Andri, ingin menangis, ingin menguktuk kejadian ini. Hanya satu kata yang terbesit ‘gue harus melarikan diri!’
***
            “Ya, Tuhan! Silvi ini bukannya rumahnya Sena? Itu Sena, Vi!” jerit mama  Silvi ketika menyetel kembali TV yang baru saja Silvi matikan.
            “Yang,benar mah? Gak mungkin! Kata Andri, Sena lagi sakit! Gak mungkin mah!” ucap silvi sambil mengeluarkan air mata.
            “Siapa Andri itu, vi?”
            “Pacarnya Sena, mah. Minggu lalu dia bilang Sena lagi sakit. Udah seminggu Sena gak masuk karena sakit,”
            “Kamu harus hati – hati sama dia, Nak. Kemungkinan yang melakukan pembunuhan terhadap Sena dan pembantunya adalah Andri karena kejadian ini sudah lebih dari 1 minggu kan?”
            “Mama, enggak boleh negative tinking dulu mah! Andri orangnya baik. Gak mungkin membunuh orang,” ucap Silvi masih tersedu – sedu.
            “Mama, enggak berpikiran negatif, tapi coba kamu pikir dari TV tadi dinyatakan tidak ada barang yang hilangkan mama hanya curiga. Sekarang lebih baik kita ke sana dulu nenangin mama – papa-nya Sena,”
            “Mah, Silvi gak kuat! Silvi mau di rumah aja mah. Mah, ini pasti cuma kabar boongan!’” jerit Silvi masih dengan ketidak percayaan dengan apa yang disiarkan di TV.
                                                                    ***
Malam ini Silvi tersenyum. Usahanya akhirnya barhasil. Permainannya kini lebih menjiwai bahkan! Tak pernah Silvi merasakan permainan yang begitu menyenangkan, karena dia berhasil membuat mainannya merasa sangat bersalah. Bahkan kini mainannya diduga sebagai tersangka utama dalam permainan yang sedang ia susun ini. Teringat Silvi akan percakapannya dengan Sena terakhir kalinya hingga akhirnya permainan ini dapat dimainkan dengan begitu nyatanya.
            “Ayolah Sen! Ini kan cuma permainan. Dia gak akan kenapa – napa kok! Mumpung orang tua kamu juga lagi gak ada di rumah. Dia pasti syok kalau ngeliat kamu ternyata dalam kedaan naas penuh luka dan darah,”
            “Sil, tapi ini udah gak lucu! Lo pingin gue mati gitu?”
            “Ya, enggak lah kan cuma pura – pura tinggal tergeletak kaku terus pake darah – darah dari pewarna merah dicampur dengan madu. Pasti hasilnya keren. Please Sen, gue cuma pengen tau reaksinya dia. Gue pengen tau dia orangnya bertangung jawab atau enggak.
“Sil, gw gak bisa sil! Terserah kalau lo mau benci gue! Ini, udah kelewatan. Gue gak bisa! Yang suka itu lo bukan gw! Kenapa gue yang harus terus ngebohongin dia? Kenapa gue yang harus mencoba? Kenapa bukan lo yang mencoba? Kenapa lo harus terus mempermainkan dia? Itu cara lo? Dengan gue sebagai alatnya? Gue sama dia manusia, Sil! Bukan mainan!”
“Jadi lo gak mau bantuin gue? Kalau bisa gue mau ngelakuin ini semua sendiri, Sen! Tapi orang yang Andri suka dan sayang selamu ini itu lo, Sen! Bukan gue!”
“Itu karena lo gak berani ngungkapinnya, Sil! Sil, gw capek, ini udah kesekian kalinya lo permainin dia! Dan udah kesekian kalinya gue nurutin semua permainan lo! Gue gak pernah minta dia buat suka sama gue, karena gue gak punya perasaan suka sama dia, sil. Dia sendiri yang suka sama gue, sil! Gue gak mau lo terus mempermainkan dia dengan permainan – permainan lo yang aneh! Sil, gue udah minta putus sama dia dan dia udah tau semua permainan yang lo lakuin, tenang gue gak pernah nyebut – nyebut nama lo, gue cuma bilang ini semua gue lakuin sendiri. Sil, gue sayang dia. Please, tingkah laku lo seakan – akan kayak psiko…..Arrrgk, is,”
Kata – kata itu tidak pernah selesai terucapkan. Emosi Silvi akhirnya yang menikam Sena dari belakang. Sena jatuh terjerembab ke bawah bercucuran darah. Silvi tertawa. Jatuhnya Sena, menimbulkan suara yang cukup keras untuk dapat di dengar pembantunya. Pembantu Sena pun akhirnya menjadi pelengkap permainan yang Silvi buat.
Kini Silvi senang permainannya berjalan dengan sempurna. Tak ada yang tau pelaku pembunuhan itu sebenarnya. Hanya Andri yang diduga sebagai pelaku utama karena Andri orang yang masuk terakhir ke rumah itu. Silvi senang karena ternyata Andri orang yang bertanggung jawab walau sebenarnya bukan Andri yang melakukan pembunuhan itu.




1/12/10, revisi 20/12/11
asrama padjdjaran 2, 10:44 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar