Rabu, 28 Desember 2011

strawberry is you




            “Eh, kayaknya gue gak jadi deh nikah umur 24 tahun. Ada yang mau ngelamar gue saat – saat ini juga boleh,” ucap Sita pada ku tiba – tiba.
            “Terus kenapa malah cerita sama gue?” tanyaku pura-pura tak peduli. Padahal jujur saja pernyataannya yang tiba-tiba membuat degup jantungku berlari lebih cepat. Untuk apa dia cerita padaku? Ini seperti sebuah kemenangan tersendiri bagiku.
            “Soalnya……”
            Belum sempat Sita melanjutkan kalimatnya buru-buru ku kencangkan volume mp3 hp dan memasangkan earphone yang sedari tadi kucopot sebelah. Aku tau sebentar lagi Sita akan menggombal. Jangan tanya apa rasanya digombalin Sita. Gombalan Sita yang hanya sekedar becanda bisa membuatku GR setengah mati.
            “Ih, Om, dengerin dong! Sita belum selesai ngomong nih!” ucap Sita langsung menyambar earphone ku dan melepasnya secara paksa dari telingaku.
            “Males ah, pasti mau ngegombal,” ucapku. Panggilang Om itu kadang juga membuatku jengah. Om siapa? Emang aku ada hubungan darah sama ayah atau ibunya apa? walau begitu kadang membuatku merasa sangat khusus. Atau jangan-jangan selama ini dia juga sering berbicara begitu dengan semua cowok?
            “Hahaha, tau aja! Pokoknya gue cuma pengen lo tau aja, kan lo mau nikah muda juga.….” Sumpah lah jantungku makin kian berdetak lebih kencang, dengan jawabanya. “Siapa tau bisa barengan nikahnya lo bersama calon istri yang belum lo tau itu dengan gue bersama cowok yang mau ngelamar gue. Hahahahaha,” ah, sial gue terpancing godaannya lagi. Pake mencibir pula! Dia tau betul aku enggan pacaran dan ingin nikah muda. Sudah kamu menang sit, kamu menang! Boleh kan kita udahan main kayak ginian. Bisa-bisa aku beneran jatuh cinta sama kamu, jika kamu terus ngegombal dan memancingku kayak gini terus.
            “Ya, ya ya terserah lo aja. Udah nih contoh tugas yang lo minta udah gue masukin ke laptop lo. Lo ke kampus jam berapa?” ucapku, mulai sesegera mungkin menyelesaikan makanan yang tadi ku pesan.
            “Ini. Abis gue nyalin jurnal. Kenapa emang? eh iya, makasih ya. Akang baik banget deh,” ucap Sita mengeluarkan senyum memikatnya.
            Keinginannya sudah terpenuhi, baru manggil aku akang. Biasanya cuma manggil om. Panggil nama saja kek sekalian.
“Iya, dek. Akang duluan ya. Ada praktikum pagi nih,” ucapku menyelesaikan makan dan berdiri dari meja makan yang sedari tadi kita berdua tempati.  Sita tak bergeming. Tak mendengar perkataanku atau memang pura-pura tak mendengar?
“Neng, akang pergi duluan ya,” ucapku sekali lagi.
“Eh, iya – iya, om. Lagi sibuk nyalin nih,” ucapnya tak menoleh.
“Tadi akang, sekarang om lagi. Kebiasaaan deh?” ucapku memincingkan mata ke arahnya.
“Biarin aja suka-suka gue dong, lo juga manggil gue ‘neng’ segala. Lo kan lebih tua, wajar gue panggil om, wooo,” ucap Sita tak mau kalah, masih tetap sibuk dengan bukunya.
“Yaudah, yaudah terserah lo. Gue pergi nih. Mau gak…..?” Ucapku memutuskan kalimat. Sadar apa yang barusan ingin kukatakan.
“Mau apa?” tanya kini berpaling ke arahku. Terlihat kejagalan dari mimik mukanya.
“Gak, gak ada kok. Lo kenapa?” berusaha mengalihkan perhatian. Tadinya aku ingin mengajaknya ke kampus bareng, toh kami satu kampus juga. Tapi apa boleh? Untuk apa? toh dia juga tak meminta.
“Gak, kenapa – napa kok. Emang gue kenapa?” tanya Sita, seperti orang menahan sakit.
“Muka lo kayak orang kebelet. Yaudah ya, gue ke kampus duluan,” ucapku pergi begitu saja takut dia masih menanyakan maksud perkataan ‘mau gak’ yang tadi ku utarakan.
*                                                                       
                ‘Om, kenapa ya gue ngerasa lo ngejauh dari gue. Apa perasaan gue doang?’ pertanyaan dari Sita itu mendarat begitu saja lewat sms di HP ku.
            Aku tentunya bingung harus menjawab apa. Apa tidak perlu kujawab seperti sms-sms sebelumnya? Tapi rasanya hati ini tidak tega untuk melakukannya. Oke jujur sebenarnya  aku merasa kan hal lain pada Sita dan aku tidak mau hal itu berkembang terlalu jauh. Karena itu ku pasang aksi sedikit menjauh. Kupikir Sita tak akan begitu sadar. Tapi dari sms-nya kali ini, aku rasa dia merasakannya.
            Beberapa kali aku mengetik sms dan menghapusnya antara ingin to the poin pada nya, cerita panjang-lebar atau hanya membalasnya dengan singkat. Berulang kali hingga yang aku kirim hanya sms keangkuhanku : ‘perasaan lo doang kali.’
            ‘Mmm, mungkin begitu ya om. Tapi om jahat banget sms aku yg sebelumnya gak pernah dibales. Om, gue lagi panen strawberi, mau?’ sms dari Sita masuk.
Aku binggung harus menjawabnya. Hingga akhirnya 2 jam kemudian aku baru membalas smsnya. ‘Lagi gak ada pulsa. Waduh, asik nih. Mau dong strawberi-nya besok di bawa ke kampus.
            Tak beberapa lama ada sms masuk dari sita lagi. ‘bagus deh kalau gitu. Eh, kalau strawberi mah udah di jual sama orangtua ku. Kalau bibit strawberinya aja gimana?’
            ‘Boleh deh, jam 7 pagi ya di tempat biasa.’ Balasku singkat.
            ‘Yaudah, oke. Tuh kan lo pasti bohongin gue. Sms lo mana pernah sesingkat itu. lo kenapa sih? Marah sama gue?’ balas Sita lagi.
 Ini nih yang membuat ku jengah. Sita bukan seorang gadis yang mudah percaya dengan orang lain. Pikirannya selalu menjalar kemana – mana dan kadang selalu benar. Bodohnya, aku tak pernah bisa menang darinya. Akhirnya ku balas sms-nya dengan sejujur mungkin.
**
Esoknya saat ku datangi kafe dekat kostan tempat kami berdua sering bertemu, Sita sudah duduk di meja. Jantungku kini berdetak lebih kencang kuakui ada perasaan lain dan ini bukan perasaan sebagai teman ataupun sebagai senior dan junior. Rasanya ingin kembali ke kostan. Tapi sosokku kini sudah tertangkap basah oleh padangannya. Mau tak mau aku menghampiri mejanya. Ku pandangi wajahnya. Sama seperti terakhir kali aku melihanya. Wajah orang menahan sakit dengan wajah putih pucat.
“Ini, bibitnya,” ucapnya cepat kemudian menutup separuh lebih mukanya dengan tisu mengalihkan pikiran ku tentang wajahnya yang pucat tadi.
“Makasih ya. Eh, lo kenapa pake tutup muka pake tisu gitu? “
“Haha, kan lo bilang lo risih liat gue,” ucapnya kini tidak lagi menutup mukanya dengan tisu tapi lebih membenamkan mukanya di atas meja, salah satu tanganya  memegang bagian tubuhnya entah dada, entah leher. Membuatku fokus kembali dengan pikirian sebelumnya.
“Ya, gak gitu juga kali neng. Lo kenapa neng?  Lo sakit?”
“Sssssss, fuuuuh, sss, gak kok. Sss, gue baik – baik aja, sss,” ucap Sita-sedikit aneh-berusaha menyakin kan ku kalau dia gak kenapa – napa.
“Serius, lo gak apa – apa?”
“Ssss, gak kok. Biasa penyakit, sss, bulanan kambuh, sss. Bentar lagi ssss, juga,sss, gak apa – apa, sss’” ucap Sita masih dengan posisi yang sama tanpa memandangku.
“Yaudah gue balik ke kosan ya kalau gitu,” ujarku melirik jam tangan karena harus segera belajar. Jam 10 nanti ada UAS.
***
Tak pernah ada kabar tentang Sita lagi. Apalagi sekarang libur semester genap, 2 bulan liburan kali ini kusibukkan dengan PKL. Tidak ada lagi sms meminta bantuan kepadaku dari Sita. Benar - benar lost contact. Aku sungguh merindukannya. Tapi bukan kah hal ini yang aku mau untuk menetralkan perasaanku padanya? Tapi kenapa ini begitu sangat sulit bagiku? Aku memandangi bibit strawberi.
Awalnya aku tidak pernah mengerti cara bercocok tanam. Tadinya aku mau menanyakan cara merawat bibit strawberi itu pada Sita. Tapi sengaja ku tahan, takut memperpanjang pembicaraaku dengan Sita. Alternatif cepat ku-searching cara perawatannya di internet. Kemudian secara perlahan sulurnya mulai tumbuh. Hingga pot kecil yang ku punya tak mampu lagi menampung bibit strawberi tersebut. Jangan ditanya rasanya, ini sungguh menyenangkan bagiku. Hal ini nampak seperti  menanam perasaanku pada Sita detik demi detik hingga berkembang dengan pesat. Aduh! Apa sih yang aku pikirkan, kenapa cinta-cintaan terus? Lalu kenapa Sita terus yang terbayang?
Sekarang baru juga 1 bulan lebih tapi daun-daun pada bibit strawberi mulai menguning perlahan tapi pasti seperti medekati kematian. Tapi bukankah itu bagus berarti seperti cintaku pada Sita yang semakin hari semakin padam? Tidak! Tidak seperti itu! Bibit strawberi itu adalah tanaman yang perlu hidup dan diperjuangkan, bukan perasaan hati!
Jujur aku jenuh di sini tanpa Sita. Aku rindu, sangat rindu, dengan banyolannya, gombalannya, senyumnya. Bukan karena tempat PKL yang tidak nyaman, mungkin juga karena aku PKL di daerah baru yang notabene lebih panas dari pada-Jakarta-tempatku tinggal. Oke, ini mungkin gila tapi tanganku menuju nomor kontak Sita dan meng-sms-nya.
‘Sit,kok bibit strawberi yang lo kasih itu sekarang mulai layu ya? Diapain ya bagusnya biar gak mati?’
            Aku sedikit deng-degan menunggu balasannya. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 35 menit, 45 menit, 1 jam, 2 jam, aku terus melirik jam dinding tapi tetap belum berbalas. Oke-oke aku juga dulu suka menunda membalas smsnya. Jadi wajar kan kalau 2 jam juga belum di balas? Hingga aku tertidur dan bangun keesokan harinya sms masih juga tak berbalas.
*
            Apa Sita marah padaku? Sudah ketiga kalinya aku meng-sms nya selama 2 minggu ini tapi tetap tidak dibalas. Apa perasaan Sita juga seperti ini saat aku tak membalas smsnya? Apa Sita sedanng membalas dendam padaku dengan mengacuhkan ku?
*

Oke ini sudah kelewatan, Sita tak kunjung membalas. Padahal hari ini aku sudah harus kembali ke rumah karena masa-masa PKL ku sudah selesai. Aku keluar dari kamar untuk menyiram tanaman strawberi dan betapa kagetnya aku ketika tanaman itu kini benar-benar kering kerontan. Mati. Anehnya, dadaku sesak melihat pemandangan ini. Padahal kematian tanaman itu kan wajar. Mengapa aku merasa tidak bisa menerima kematian tanaman strawberi ini? Kenapa hatiku terasa begitu sakit?
Aku bergegas mengambil HP. Ini sudah tak dapat dibiarkan lagi. Aku harus menelepon Sita. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Belum sempat aku memecet tombol call. 1 pesan baru masuk ke HP ku. Dari Ahmed. Ada apa ya? tumben ada jarkoman kuliah. sekarang kan masih libur. Kubuka dan ku baca sms singkatnya.
‘Innalillahi wa innalillahi rojiun. Telah berpulang kerahmatullah. Saudari/rekan kita/adik kelas kita Sita Raninya Prasetya pagi tadi. Di mohon doanya dan diberikan keiklasan bagi keluarga dan rekan-rekan yang ditinggalkan.’
Aku terdiam. Ini tidak mungkin! Air mataku jatuh. Pasti aku salah baca. Kembali kubaca ulang nama almarhum. Tetap sama.
******
 Masih tidak menerima dengan kenyataan hari ini aku datang ke rumah Sita. Rumah yang pernah dalam benakku akan menjadi saksi bisu, aku melamar Sita 1 tahun lagi. Kini menjadi saksi bisu bahwa hingga detik ini aku mencintainya. Aku tidak pernah tau Sita menganggapku apa, tapi tadi Ahmed menitipkan ku sebuah buku diari milik Sita. Anehnya aku diperkenankan untuk membaca, bahkan menyimpannya.
15 November
Ih, seniorku yang satu ini kocak banget deh. Komdis tapi mukannya imut.
23 November
Ih, ternyata senior yang satu ini orang baik banget. Mau aja lagi aku panggil om.
1 Desember
Ah, om lucu banget sih! Gak mau di panggil om tapi sok-sokan manggil aku neng. Ah, jadi merasa khusus nih.
24 Desember
Naha aku jadi suka sms-an gini sih sama si om? Aneh. Kan aku minta tolongnya udahan?
29 Desember
Waduh, ini kenapa aku jadi suka ngegombal gini sih? Kebanyakan nonton OVJ nih. Tapi reaksi si om kalau digombalin lucu juga. J
 3 Januari
Liburan tetep weh sms-an sama om. Bisa-bisa jatuh cinta nih. Eh, liat fb om sebentar lagi ulang tahun nih. Kasih apa ya?
13 Januari
Kasih apa, kasih apa? aduh binggung harus kah aku kasih suprisse atau atau kasih kado aja? Atau gak kasih apa-apa? ulang tahunya teh besok. Apa kasih manisan strawberi aja ya? Bisi suka. Hahaha. teu modal pisan.
14 Januari
Gak ada yang spesial. Biasa aja. Yaudahlah. Kasih kadonya juga teu niat mereun.
29 Januari
Naha, akhir0akhir ini teh dada sering nyeri. Apa lagi setiap deg-degan atau lagi sedih. Eh, tapi ini teh wajarkan yah?
26 Februari
Lama teu nulis ti mari. Damang? Aku teh teu damang ceunah, Angina pectoris? What? It’s me? L
23 Maret
Ulang tahun juga akhirnya. 19 tahun juga. Hehe. Tahun depan masih hidup gak ya? Ada yang special gak ya dari om?
26 April
Kangen sama om, naha sms ke om  teu membalas? L eh, apa aku udah jatuh cinta ya sama om? Emang boleh gitu? Inget usia, neng!
30 April
Mamah mulai curiga ada yang gak beres denganku. Ya tuhan, apa aku masih bisa menyembunyikannya? Aku teu ingin mama-papah sedih.
24 Mei
Asik, ternyata om gak marah sama aku. J tapi om mau menjauh. Kenapa ya? Boleh aku berpikiran om suka sama aku? Hehehe.  besok ketemu om., kasih bibit strawberi, hore! Aduh, nyesek – nyesek. Gak boleh kayak gini! Kenapa ya tiap seneng dikit aja nyeri banget ini dada.. J
18 Juni
Kangen. L Beneran atulah dia menjauh tea, teu ada kabar. L kangen berat sama Om, tapi aku bisa apa? om kan yang mau menjauh teh? Masa aku yang kegatelan menghubungi duluan? aduh, lagi2 nyeri kalau keinget om.
27 Juni
Oke, mama papa akhirnya tau! L unstable angina. Parah ceunah katanya. Hari ini kata mama ada sms dari Om. Tapi aku masih belum boleh bergerak banyak jadi sulit bales sms om.
30 Juni
Check up yang aneh. Naha aku harus nginep segala?
4 Juli
Om sms aku lagi, untuk yang ke 3 kalinya dengan pertanyaan yang hampir sama kata mamah. Aku ingin membalas, tapi mama mencegah takut aku nangis ceunah. Kalau aku terlalu sedih/senang bisa bahaya. Hahaha. Penyakit yang aneh. Mama akhirnya tau om itu orang yang aku taksir. J
10 Juli
Capek ah, penyakitnya gak asik! Gak boleh seneng, gak boleh sedih, ga boleh stress, gak boleh banyak pikiran. Sekalian aja gak boleh hidup! L Tinggal di rumah sakit itu membosankan. Ngelarang semua hal kayak gitu, sama aja buat aku stress. Gak boleh mikir banyak sama aja buat aku down. Om kangen sama kamu, kangen banget!
11 Juli
Haduh akhirnya aku terbangun setelah pingsan nulis di sini kemarin. Om, kangen om, gak tau kenapa aku ngerasa aku gak akan lama lagi. Om, tentang sms pertanyaan mu itu, mana bisa strawberi tumbuh di daerah panas seperti itu. itu seperti merawatnya menjelang kematian. Om, aku mau deh jadi bibit strawberi itu. biar bisa dirawat sama kamu sebelum mati. #eaa Aku ngegombal tea. Aku pengen ngegombal ke om. Mmm, mungkin juga tananaman strawberinya Layu verticillium atau mungkin terjangkit Tetranychus sp-Tarsonemus sp. Haha. baru ambil mata kuliah botani semester kemarin, nih.
18 Juli
Sakit. Gak kuat om. L
24 Juli
Om, kangen. Om, pengen ketemu om. tapi kalau ketemu om, akunya udah gak ada di sini lagi kayaknya. L
25 Juli
Om, sekarang aku udah pasrah. Mana mungkin aku berharap om melamarku ya? Duh, pikiranku udah mau mati aja, malah mikir kemana. - mana. Sumpahlah gak kuat om. L
*******

 Keterangan:

·         Naha: Kenapa
·         Weh: saja
·         Teu : gak
·         Bisi : takutnya
·         Ceunah: kayaknya
·         Mereun: kayaknya
·         Ti mari : di sini
·         Damang: sehat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar