Rabu, 05 Oktober 2011

Bubur Makanan Orang Sakit?



            Apakah benar bubur merupakan makanan orang sakit? Hampir semua orang sakit atau yang sedang dalam tahap pemulihan dari suatu penyakit, makanannya adalah bubur. Cobalah lihat di rumah sakit – rumah sakit terdekat anda atau saat anda sakit, makanan utama yang disajikan sehari-hari adalah bubur atau makanan lembut yang lainnya. Hal ini hampir dilakukan oleh rumah sakit mana pun karena presepsi – presepsi kebanyakan orang, jika memakan makanan yang lembut akan membantu lambung dan usus untuk mencerna makanan. Akan tetapi apakah semua hal yang dilakukan ini adalah benar?
Pada dasarnya makanan yang baik dikonsumsi ketika seorang pasien sakit adalah makan makanan seperti orang normal layaknya. Kenapa demikian? Karena makanan – makan lembek seperti bubur tidak dapat dicerna dengan baik di dalam lambung dan usus. Hal ini terjadi karena tidak banyak enzim – enzim dalam mulut yang tercampur dalam bubur karena stuktur bubur atau makan lain yang lunak membuat makanan tersebut dapat di telan tanpa dikunyah. Tapi apakah, lalu makanan-makanan normal dapat dikonsumsi bagi orang yang sedang sakit? Apabila makanan-makanan normal ini di konsumsi oleh orang yang sakit tanpa proses pengunyahan dengan baik maka yang akan terjadi adalah hal yang serupa dengan mengkonsumsi bubur. Dengan cara apakah makanan dapat dicerna dengan baik oleh seorang pasien?
Kunci utama agar proses pencernaan pada orang sakit dapat berjalan secara normal terletak pada cara mengunyah dan sebanyak berapa kali jumlah kunyahan yang dilakukan sebelum akhirnya masuk ke dalam kerongkongan. Pada orang normal makanan yang dimakan harus dikunyah sebanyak 32 kali. Meskipun terlihat sangat sepele hal ini sangat berpengaruh terhadap pencernaan makanan anda. Kenapa demikian? Karena pada saat anda mengunyah makanan di dalam mulut menggunakan gigi, kelenjar saliva yang banyak mengandung air liur akan terstimulasi dan menghasilkan enzim amylase/ptyalin yang kemudian tercampur dengan makan yang dikunyah tersebut serta mengubah amilum atau zat tepung pada makanan menjadi glukosa. Pengunyahan ini juga membantu proses pencernaan makanan karena enzim amylase/ptyalin bekerja hanya di permukaan partikel makanan, sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi pencernaan. Penghalusan makanan menggunakan enzim ini dalam konsistensi yang baik juga akan mencegah penolakan dari gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan makanan dari lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.
Untuk orang yang sedang sakit jumlah kunyahan perlu ditingkatkan sebanyak kurang lebih menjadi 70 kali. Hal ini bertujuan agar enzim – enzim pencernaan yang ada di mulut yang bercampur dengan makanan semakin banyak sehingga akan berikatan baik dengan cairan lambung dan air empedu yang dapat mempermudah proses pencernaan makanan. Pada dasarnya dinding usus manusia hanya dapat menyerap zat – zat makanan hingga sebesar 15 mikron (0,015mm), sehingga bila lebih besar dari ukuran itu maka zat - zat tersebut akan diekresi. Pembusukan ini lah yang juga akan menyusahkan dinding usus bekerja sehingga untuk membantunya memerlukan emzim di usus dalam jumlah cukup banyak.
Hal ini lah yang menjadi acuan bukan pada factor kelunakan pada makanan untuk mempermudah proses pencernaan makanan pada orang sakit. Hai ini jugalah yang menjelaskan mengapa orang sakit atau sedang dalam masa penyembuahan harus makan – makanan seperti layaknya orang normal karena kebanyak orang yang makan bubur hanya melakukan proses pengunyahan yang sedikit bahkan tidak sedikit orang sakit yang langsung menelan bubur tanpa dikunyah.

2 komentar:

  1. iya mba ya, tapi kenapa ya kebanyakan orang masih beranggapan bubur itu makanan orang sakit, trus ditambah lagi makanannya yang hambar2 gitu. kira2 boleh ga ya memakan makanan yang lebih berasa ketika pas kita dalam keadaan normal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, maaf mba lutfi baru dibalas..
      Kalau soal rasa mungkin ada hubungannya dengan indra perasa kita.. Biasanya lidah kita jd tidak bisa membaca rasa.. Sehingga jika kita ingin menghasilkan rasa mungkij kita akan menggunakan lebih dr batas maksimum yg biasa kita gunakan.. Perasa yg netral seperti garam saja jika berlebihan bisa memicu darah tinggi apa lagi jika yg kita gunakan mg dll~ hehe

      Hapus