Apakah
benar bubur merupakan makanan orang sakit? Hampir semua orang sakit atau yang
sedang dalam tahap pemulihan dari suatu penyakit, makanannya adalah bubur. Cobalah
lihat di rumah sakit – rumah sakit terdekat anda atau saat anda sakit, makanan
utama yang disajikan sehari-hari adalah bubur atau makanan lembut yang lainnya.
Hal ini hampir dilakukan oleh rumah sakit mana pun karena presepsi – presepsi
kebanyakan orang, jika memakan makanan yang lembut akan membantu lambung dan usus
untuk mencerna makanan. Akan tetapi apakah semua hal yang dilakukan ini adalah
benar?
Pada dasarnya makanan yang baik dikonsumsi
ketika seorang pasien sakit adalah makan makanan seperti orang normal layaknya.
Kenapa demikian? Karena makanan – makan lembek seperti bubur tidak dapat
dicerna dengan baik di dalam lambung dan usus. Hal ini terjadi karena tidak
banyak enzim – enzim dalam mulut yang tercampur dalam bubur karena stuktur bubur
atau makan lain yang lunak membuat makanan tersebut dapat di telan tanpa
dikunyah. Tapi apakah, lalu makanan-makanan normal dapat dikonsumsi bagi orang
yang sedang sakit? Apabila makanan-makanan normal ini di konsumsi oleh orang
yang sakit tanpa proses pengunyahan dengan baik maka yang akan terjadi adalah
hal yang serupa dengan mengkonsumsi bubur. Dengan cara apakah makanan dapat
dicerna dengan baik oleh seorang pasien?
Kunci utama agar proses pencernaan pada orang
sakit dapat berjalan secara normal terletak pada cara mengunyah dan sebanyak
berapa kali jumlah kunyahan yang dilakukan sebelum akhirnya masuk ke dalam
kerongkongan. Pada orang normal makanan yang dimakan harus dikunyah sebanyak 32
kali. Meskipun terlihat sangat sepele hal ini sangat berpengaruh terhadap
pencernaan makanan anda. Kenapa demikian? Karena pada saat anda mengunyah
makanan di dalam mulut menggunakan gigi, kelenjar saliva yang banyak mengandung
air liur akan terstimulasi dan menghasilkan enzim amylase/ptyalin yang kemudian
tercampur dengan makan yang dikunyah tersebut serta mengubah amilum atau zat tepung pada makanan menjadi
glukosa. Pengunyahan ini juga membantu proses pencernaan
makanan karena enzim amylase/ptyalin bekerja hanya di permukaan partikel
makanan, sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan
yang dibongkar oleh sekresi pencernaan. Penghalusan makanan menggunakan enzim
ini dalam konsistensi yang baik juga akan mencegah penolakan dari
gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan makanan
dari lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.
Untuk
orang yang sedang sakit jumlah kunyahan perlu ditingkatkan sebanyak kurang
lebih menjadi 70 kali. Hal ini bertujuan agar enzim – enzim pencernaan yang ada
di mulut yang bercampur dengan makanan semakin banyak sehingga akan berikatan
baik dengan cairan lambung dan air empedu yang dapat mempermudah proses
pencernaan makanan. Pada dasarnya dinding usus manusia hanya dapat menyerap zat
– zat makanan hingga sebesar 15 mikron (0,015mm), sehingga bila lebih besar
dari ukuran itu maka zat - zat tersebut akan diekresi. Pembusukan ini lah yang
juga akan menyusahkan dinding usus bekerja sehingga untuk membantunya
memerlukan emzim di usus dalam jumlah cukup banyak.
Hal
ini lah yang menjadi acuan bukan pada factor kelunakan pada makanan untuk
mempermudah proses pencernaan makanan pada orang sakit. Hai ini jugalah yang
menjelaskan mengapa orang sakit atau sedang dalam masa penyembuahan harus makan
– makanan seperti layaknya orang normal karena kebanyak orang yang makan bubur
hanya melakukan proses pengunyahan yang sedikit bahkan tidak sedikit orang
sakit yang langsung menelan bubur tanpa dikunyah.
iya mba ya, tapi kenapa ya kebanyakan orang masih beranggapan bubur itu makanan orang sakit, trus ditambah lagi makanannya yang hambar2 gitu. kira2 boleh ga ya memakan makanan yang lebih berasa ketika pas kita dalam keadaan normal?
BalasHapusWah, maaf mba lutfi baru dibalas..
HapusKalau soal rasa mungkin ada hubungannya dengan indra perasa kita.. Biasanya lidah kita jd tidak bisa membaca rasa.. Sehingga jika kita ingin menghasilkan rasa mungkij kita akan menggunakan lebih dr batas maksimum yg biasa kita gunakan.. Perasa yg netral seperti garam saja jika berlebihan bisa memicu darah tinggi apa lagi jika yg kita gunakan mg dll~ hehe