Rasa
ini begitu menusuk. Lebih pedih dari rasa sakit yang seharusnya saya rasa. Ini
membuat saya merasa takdir yang tuhan buat untuk saya sudah sangat benar. Kamu,
sungguh masih kamu yang saya pikirkan di tengah ajal yang siap menerkam saat
saya lemah. Rindu ini seperti bagian dari terapi mempercepat kematian.
Mungkin
saya yang salah, saya yang jahat, saya yang memulai untuk membohongi dirimu.
Saya pula yang memaksamu untuk menjauh dari saya. Tapi apa benar, rasa yang
memang baru terpupuk itu telah hilang begitu saja? Bagaimana bisa semudah itu?
tolong ajari saya. Ajari saya untuk bisa membebaskanmu dari ilusi dunia maya
saya. Tolong ajari saya, semudah apa kamu bisa melupakan saya.
Kamu
tahu perasaan saya saat itu? Saat saya sadar telah mengagumimu, saat saya sadar
ada perasaan lain memasuki pintu hati ini? Sakit! Kelu! Getir! Saya harus
menolak perasaan itu, tapi hati saya seolah tak peduli, ikut menyeretmu dalam
kehidupan saya.
Kamu
tau perasaan saat kamu menerima perasaan saya? Sakit! Sakit, sangat sakit!
Sakit harus menerima kenyataan suatu saat saya harus menyakiti kamu lebih sakit
dari rasa sakit yang saya rasakan sekarang? Kenyataannya memang seperti itu
kan? Maaf, maaf, saya masih tidak bisa melupakanmu. Maaf, saya membohongimu.
Maaf saya tidak bisa jujur tentang diri saya sedari awal. Itu saya lakukan
supaya kamu tidak tersakiti meski saya sadar saat ini kamu lebih tersakiti.
Apa
kamu tau perasaan rindu yang saya pendam untukmu? Apa kamu tau tidak mendengar
suaramu, tidak mendapatkan kabar satu hari saja dari kamu terasa sangat
menyakitkan? Lebih sakit dari sakit yang saya punya. Saya selalu menjerit
setiap rasa sakit mulai menjalar perlahan dari paru – paru saya. Tapi mengapa
saya tidak bisa menjerit saat sakit yang saya rasakan ketika merindumu?
Memang
saya yang salah, tapi sungguh semua kebohongan itu saya yang buat, semua yang
kamu lihat terakhir kali, semua cerita yang kamu dengar itu semua tidak benar.
Semua hanya cerita yang sedang saya buat agar tidak terus - menerus
menyakitimu, walau saya tau kenyataannya saya akan melukaimu. Semoga kamu tahu semua ini saya lakukan demi
kamu. Agar kamu bisa memulai belajar hidup tanpa saya. Agar kamu tidak merasa
kehilangan saat saya pergi.
Kamu
tau? hari – hari saat menerima sebuah kenyataan yang tidak saya inginkan itu
sangat menyakitkan. Tapi melewati hari - hari itu, tanpa kamu ternyata lebih
menyakitkan. Sebenarnya saya tidak rela
membohongi kamu, saya tidak rela melepas kamu, bahkan sekedar dari ilusi maya
saya.
Saya
ingin bilang ‘saya sangat mencintaimu’. Saya tahu kata – kata itu nampak klise
dan saya tahu sebanyak apapun sekarang saya mengatakannya pada kamu, kamu tak
akan peduli. Saya tidak tahu apakah kamu begitu membenci saya, hingga hatimu
nampak mengeras seperti batu.
Sudah berkali – kali saya coba nyatakan
kembali rasa cinta saya terhadap kamu, rasa rindu terhadap kamu, lewat voice mail, email bahkan ribuan kalimat
itu lewat sms dan sedetik itu kemudian saya mencoba menghapusnya. Menghapus
kata– kata yang seharusnya bisa saya sampaikan, hanya karena saya tidak ingin
menyakiti perasaanmu lebih dalam lagi. Hanya karena tiga buah kata. Kangker
paru – paru.
****
Gadis
itu terdiam, memandangi sosok kaku di depanya. Sorot mata menghujat
memandanginya ketika ia hadir di sini. Gadis itu seolah tidak peduli, sama
seperti biasanya ia berusaha bersikap dan air matanya mengalir perlahan
kemudian menderas tanpa ia sadari. Sosok itu seolah membuka kenop pertahan yang
selama ini ia tidak ingin buka. Kini perasaan gadis itu pecah, hancur berkeping
– keeping. Sosok yang pernah menjadi kekasih hatinya bahkan hingga detik ini,
kini membujur kaku.
Gadis itu masih dapat mengingat saat sosok itu
meminta putus darinya. Tanpa penjelasan, tanpa alasan, hanya satu permintaan
tulus yang terpaksa gadis itu terima. Sejak hari itu, ego gadis itu lebih
tinggi dari perasaan yang ia miliki. Sejak saat itu gadis itu menutup mata
tentang sosok itu. Hanya karena gadis itu yakin, hanya karena gadis itu
percaya, hanya karena gadis itu mencintai sosok itu dengan tulus. Gadis itu
memilih untuk menepati permintaan sosok itu, memusnahkan semua perasaan yang ia
miliki terhadap sosok itu atau paling tidak menutup rapat perasaanya tanpa
celah sedikit pun. seolah ia tidak memiliki hati. Hanya karena permintaan sosok
yang ia cintai itu, permintaan yang selama ini tidak pernah ia ketahui, dan
baru saat ini ia ketahui. Permintaan yang ternyata agar gadis itu bisa melepas
kepergian sosok itu.
Gadis
itu menangis tanpa suara. Menyadari kebodohannya selama ini. Menyadari betapa egonya lebih tinggi. menyadari
permintaan yang sosok itu minta ternyata hanya menyakiti sosok itu. Tapi apa
sosok itu pernah tahu bagaimana rasanya melawan perasaan sendiri agar bisa
membuat orang yang tersayang bahagia? Sayangnya gadis itu tidak mampu bertanya
lagi sekarang, dan yang saya lakukan hanya menangis ketika melihat gadis itu
menangis di cermin. Ya, gadis itu adalah aku.
Ini kayanya lebih ke curhat ya han, bukannya cerpen?
BalasHapusheh! knp yg di komntarin yg ini ih,,, abis tema lagunya 'tahu bagaimana rasanya'.. hahhahaha
BalasHapus