Selasa, 11 Oktober 2011

Permintaan



Rasa ini begitu menusuk. Lebih pedih dari rasa sakit yang seharusnya saya rasa. Ini membuat saya merasa takdir yang tuhan buat untuk saya sudah sangat benar. Kamu, sungguh masih kamu yang saya pikirkan di tengah ajal yang siap menerkam saat saya lemah. Rindu ini seperti bagian dari terapi mempercepat kematian.
Mungkin saya yang salah, saya yang jahat, saya yang memulai untuk membohongi dirimu. Saya pula yang memaksamu untuk menjauh dari saya. Tapi apa benar, rasa yang memang baru terpupuk itu telah hilang begitu saja? Bagaimana bisa semudah itu? tolong ajari saya. Ajari saya untuk bisa membebaskanmu dari ilusi dunia maya saya. Tolong ajari saya, semudah apa kamu bisa melupakan saya.
Kamu tahu perasaan saya saat itu? Saat saya sadar telah mengagumimu, saat saya sadar ada perasaan lain memasuki pintu hati ini? Sakit! Kelu! Getir! Saya harus menolak perasaan itu, tapi hati saya seolah tak peduli, ikut menyeretmu dalam kehidupan saya.
Kamu tau perasaan saat kamu menerima perasaan saya? Sakit! Sakit, sangat sakit! Sakit harus menerima kenyataan suatu saat saya harus menyakiti kamu lebih sakit dari rasa sakit yang saya rasakan sekarang? Kenyataannya memang seperti itu kan? Maaf, maaf, saya masih tidak bisa melupakanmu. Maaf, saya membohongimu. Maaf saya tidak bisa jujur tentang diri saya sedari awal. Itu saya lakukan supaya kamu tidak tersakiti meski saya sadar saat ini kamu lebih tersakiti.
Apa kamu tau perasaan rindu yang saya pendam untukmu? Apa kamu tau tidak mendengar suaramu, tidak mendapatkan kabar satu hari saja dari kamu terasa sangat menyakitkan? Lebih sakit dari sakit yang saya punya. Saya selalu menjerit setiap rasa sakit mulai menjalar perlahan dari paru – paru saya. Tapi mengapa saya tidak bisa menjerit saat sakit yang saya rasakan ketika merindumu?
Memang saya yang salah, tapi sungguh semua kebohongan itu saya yang buat, semua yang kamu lihat terakhir kali, semua cerita yang kamu dengar itu semua tidak benar. Semua hanya cerita yang sedang saya buat agar tidak terus - menerus menyakitimu, walau saya tau kenyataannya saya akan melukaimu.  Semoga kamu tahu semua ini saya lakukan demi kamu. Agar kamu bisa memulai belajar hidup tanpa saya. Agar kamu tidak merasa kehilangan saat saya pergi.
Kamu tau? hari – hari saat menerima sebuah kenyataan yang tidak saya inginkan itu sangat menyakitkan. Tapi melewati hari - hari itu, tanpa kamu ternyata lebih menyakitkan.   Sebenarnya saya tidak rela membohongi kamu, saya tidak rela melepas kamu, bahkan sekedar dari ilusi maya saya.
Saya ingin bilang ‘saya sangat mencintaimu’. Saya tahu kata – kata itu nampak klise dan saya tahu sebanyak apapun sekarang saya mengatakannya pada kamu, kamu tak akan peduli. Saya tidak tahu apakah kamu begitu membenci saya, hingga hatimu nampak mengeras seperti batu.
 Sudah berkali – kali saya coba nyatakan kembali rasa cinta saya terhadap kamu, rasa rindu terhadap kamu, lewat voice mail, email bahkan ribuan kalimat itu lewat sms dan sedetik itu kemudian saya mencoba menghapusnya. Menghapus kata– kata yang seharusnya bisa saya sampaikan, hanya karena saya tidak ingin menyakiti perasaanmu lebih dalam lagi. Hanya karena tiga buah kata. Kangker paru – paru.
****
Gadis itu terdiam, memandangi sosok kaku di depanya. Sorot mata menghujat memandanginya ketika ia hadir di sini. Gadis itu seolah tidak peduli, sama seperti biasanya ia berusaha bersikap dan air matanya mengalir perlahan kemudian menderas tanpa ia sadari. Sosok itu seolah membuka kenop pertahan yang selama ini ia tidak ingin buka. Kini perasaan gadis itu pecah, hancur berkeping – keeping. Sosok yang pernah menjadi kekasih hatinya bahkan hingga detik ini, kini membujur kaku.
 Gadis itu masih dapat mengingat saat sosok itu meminta putus darinya. Tanpa penjelasan, tanpa alasan, hanya satu permintaan tulus yang terpaksa gadis itu terima. Sejak hari itu, ego gadis itu lebih tinggi dari perasaan yang ia miliki. Sejak saat itu gadis itu menutup mata tentang sosok itu. Hanya karena gadis itu yakin, hanya karena gadis itu percaya, hanya karena gadis itu mencintai sosok itu dengan tulus. Gadis itu memilih untuk menepati permintaan sosok itu, memusnahkan semua perasaan yang ia miliki terhadap sosok itu atau paling tidak menutup rapat perasaanya tanpa celah sedikit pun. seolah ia tidak memiliki hati. Hanya karena permintaan sosok yang ia cintai itu, permintaan yang selama ini tidak pernah ia ketahui, dan baru saat ini ia ketahui. Permintaan yang ternyata agar gadis itu bisa melepas kepergian sosok itu.
Gadis itu menangis tanpa suara. Menyadari kebodohannya selama ini. Menyadari  betapa egonya lebih tinggi. menyadari permintaan yang sosok itu minta ternyata hanya menyakiti sosok itu. Tapi apa sosok itu pernah tahu bagaimana rasanya melawan perasaan sendiri agar bisa membuat orang yang tersayang bahagia? Sayangnya gadis itu tidak mampu bertanya lagi sekarang, dan yang saya lakukan hanya menangis ketika melihat gadis itu menangis di cermin. Ya, gadis itu adalah aku.


2 komentar:

  1. Ini kayanya lebih ke curhat ya han, bukannya cerpen?

    BalasHapus
  2. heh! knp yg di komntarin yg ini ih,,, abis tema lagunya 'tahu bagaimana rasanya'.. hahhahaha

    BalasHapus