Lagu L’il thing Maliq d-essentials masih terngiang–ngiang dipikiranku dan tokoh utama lagu itu ya kamu! Kamu, kamu dan kamu, aku mungkin gila. Masih bisa aku ingat semua tentang kamu. Coba kamu tanya pasti aku mengingatnya.
Aku masih ingat
saat pertama kali berkenalan sama kamu. Saat mati lampu total di asrama dan
kamu dipaksa temanmu berkenalan dengan ku. Masih aku ingat ekspresi datarmu.
Aku kira kamu komisi disiplin ospek jurusan, kemudian pikiranku luluh seketika
saat kamu dengan polosnya memasukkan potato
chip yang kamu pegang ke dalam mulutmu.
Kamu mau
tanya apa lagi tentang kamu yang aku ketahui? Aku pasti ingat. Kamu suka main
menang-kalah, tapi kamu gak mau kalah, kamu sering lupa makan nasi dan
kelaparan di tengah malam, kamu gak suka nyapa orang paling parah cuma senyum, kamu
suka buat cerpen yang tanpa sadar membuat aku jadi suka nulis kayak gini, kamu
gak mau dipanggil mbak, teteh, kakak, uni, ayuk atau apapun dengan title lebih tua. Aku juga tahu kamu
paling gak suka dipanggil ‘mbak’, “Gue bukan PRT!” katamu kalau aku panggil
mbak. Tapi semakin kamu marah begitu, aku semakin senang memanggilmu dengan
sebutan ‘mbak’. Entah kenapa rasanya aku tidak berani untuk sekedar memanggil
namamu saja. Aneh ya? ‘You may thing I’m
crazy when im look at you’, lagu L’il
thing-nya Maliq d-essentials terngiang lagi dipikiranku.
Aku pikir kamu akan menyerah saat aku panggil ‘mbak’ tapi
bukan kamu ya namanya, kalau menyerah? Kamu malah manggil aku ‘kangmas’. Awalnya
sih aku bingung menanggapi hal ini, tapi entah kenapa aku jadi ngerasa nyaman
kamu panggil kangmas gitu. Walau hanya lewat sms dan saat ketemu kamu hanya
memanggil namaku seperti orang lain biasanya.
Bila saja kau tau yang kurasakan pada
dirimu, sulit untukku katakan betapa aku suka dirimu. Uh setiap
kali ku menatapmu kau memberi arti untukku. Setiap kali ku bersamamu Semua
terasa indah bagiku dan ku tau, every l’il thing u do its feel so feels so good. Its doesn’t even have to be understood. Dan semua kata-kata itu sebenarnya ingin sekali kuungkapkan
untukmu. Tapi mana mungkin aku berani. Bahkan untuk sekedar mengatakan, ‘bila
saja kau tau yang kurasakan pada dirimu, sulitku katakan betapa aku suka
dirimu.’
Kebiasaan
kamu yang tidak pernah menyapa orang itu yang membuatku merasa hubungan kita
ini tidak jelas. Karena saat ketemu kamu suka pura – pura tidak melihatku. Atau
aku yang sebenarnya begitu? I ain’t even can keep my cool. Hubungan kita seolah backstreet,
tapi bahkan kita pacaran saja tidak. Itu yang kadang buat aku harus sadar kamu
begitu jauh bagiku. Mungkinkah kau wanita untukku?
Mau cerita
panjang lebar di sini kamu juga tidak akan tau. Mau sebanyak apapun kamu
berusaha berpikir. Seberapa banyak pun kamu memancing perasaanku ke kamu. Aku tidak
yakin kamu akan tau. Aku tidak yakin aku bisa menyatakan perasaan ini ke kamu.
Kamu bahkan tidak pernah sedikit pun isyaratkan perasaan kamu yang sebenarnya
ke aku. Setiap aku merasa aku punya harapan sedetik kemudian kamu mematikannya.
Aku tidak
tau akhir cerita ini akan bagaimana. Aku hanya tidak bisa menyatakan perasaan
ini ke kamu. Aku hanya takut jika aku mengatakan yang sebenarnya ke kamu semua
akan berubah. Kamu akan menjauh. Aku ingin menyatakan peraaan ini saat aku
sudah siap untuk meminangmu. Apa aku bisa? Apa kamu siap? Sementara kamu selalu
bilang ingin menikah di usia minimal 24-25 tahun. Bagaimana mungkin aku bisa
menyatakannya sekarang?
Kamu bahkan
rela melepas keinginanku menikah muda hanya demi kamu, yang ingin menikah usia
segitu? Kamu tau? Aku yang suka cerita ke teman dekatku kini bahkan tidak berani
mencerikan tentang kamu ke mereka. kamu tau? Kamu bagai ilusi terindah yang aku
punya. Tingkah laku kamu yang lucu sering membuatku tersenyum – senyum sendiri.
Jika aku
menyatakannya sekarang, apa kamu sudah siap? Katakan pada ku, bila
ada yang membuat kau ragukan aku. Isyaratkan aku, bila kau memang mau tuk menjadi
milikku. Bila kah kau tau kusuka dirimu, isyaratkan aku, usahlah kau ragu. Bila
kau tau isyaratkan aku, kusuka dirimu. Isyaratkan aku bila kau memang mau untuk
menjadi milikmu. Kamu seorang gadis yang
kenyataannya adalah senior aku, yang kenyataannya satu tahun lebih tua
dibandingkan aku.
***
“Mbak, mana
cerpen yang mbak suruh gue baca? Ini bukan cerpen yang panjang seperti biasanya
kan? Males bacanya mbak kalau panjang” tanya kamu ke aku di kantin asrama.
“Ih, bukan
ini flash fiction kok. Hanya 650 kata, coba lo baca. Gue butuh komentar
nih,” kata ku mencoba menyembunyikan tawaku.
“L’il thing? Ceritanya tentang apa nih?”
tanya kamu sedikit ragu, membuat jantungku berdetak sedikit lebih kencang.
“Baca, aja
sih. Nanti lo juga ngerti,” kataku berusaha senormal dan senetral mungkin. “Gue
cabut dulu ya, ada kuliah,” kataku mau invisible
secepat mungkin dari kamu. Mana mungkin aku bisa bilang flash fiction yang aku tulis itu tentang kamu. Tentang perasaan
kamu yang tidak bisa kamu ungkapin ke aku. Ya, mungkin aku yang ke GR-an, tapi
boleh kan kalau begitu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar