Senin, 24 Oktober 2011

L'il Thing

ikut project-nya nulis buku 11project11days
tanggal 17 Oktober 2011

Lagu L’il thing Maliq d-essentials masih terngiang–ngiang dipikiranku dan tokoh utama lagu itu ya kamu! Kamu, kamu dan kamu, aku mungkin gila. Masih bisa aku ingat semua tentang kamu. Coba kamu tanya pasti aku mengingatnya.
Aku masih ingat saat pertama kali berkenalan sama kamu. Saat mati lampu total di asrama dan kamu dipaksa temanmu berkenalan dengan ku. Masih aku ingat ekspresi datarmu. Aku kira kamu komisi disiplin ospek jurusan, kemudian pikiranku luluh seketika saat kamu dengan polosnya memasukkan potato chip yang kamu pegang ke dalam mulutmu.
Kamu mau tanya apa lagi tentang kamu yang aku ketahui? Aku pasti ingat. Kamu suka main menang-kalah, tapi kamu gak mau kalah, kamu sering lupa makan nasi dan kelaparan di tengah malam, kamu gak suka nyapa orang paling parah cuma senyum, kamu suka buat cerpen yang tanpa sadar membuat aku jadi suka nulis kayak gini, kamu gak mau dipanggil mbak, teteh, kakak, uni, ayuk atau apapun dengan title lebih tua. Aku juga tahu kamu paling gak suka dipanggil ‘mbak’, “Gue bukan PRT!” katamu kalau aku panggil mbak. Tapi semakin kamu marah begitu, aku semakin senang memanggilmu dengan sebutan ‘mbak’. Entah kenapa rasanya aku tidak berani untuk sekedar memanggil namamu saja. Aneh ya? ‘You may thing I’m crazy when im look at you’, lagu L’il thing-nya Maliq d-essentials terngiang lagi dipikiranku.
            Aku pikir kamu akan menyerah saat aku panggil ‘mbak’ tapi bukan kamu ya namanya, kalau menyerah? Kamu malah manggil aku ‘kangmas’. Awalnya sih aku bingung menanggapi hal ini, tapi entah kenapa aku jadi ngerasa nyaman kamu panggil kangmas gitu. Walau hanya lewat sms dan saat ketemu kamu hanya memanggil namaku seperti orang lain biasanya.
            Bila saja kau tau yang kurasakan pada dirimu, sulit untukku katakan betapa aku suka dirimu. Uh setiap kali ku menatapmu kau memberi arti untukku. Setiap kali ku bersamamu Semua terasa indah bagiku dan ku tau, every l’il thing u do its feel so feels so good. Its doesn’t even have to be understood. Dan semua kata-kata itu sebenarnya ingin sekali kuungkapkan untukmu. Tapi mana mungkin aku berani. Bahkan untuk sekedar mengatakan, ‘bila saja kau tau yang kurasakan pada dirimu, sulitku katakan betapa aku suka dirimu.’
Kebiasaan kamu yang tidak pernah menyapa orang itu yang membuatku merasa hubungan kita ini tidak jelas. Karena saat ketemu kamu suka pura – pura tidak melihatku. Atau aku yang sebenarnya begitu?  I ain’t even can keep my cool. Hubungan kita seolah backstreet, tapi bahkan kita pacaran saja tidak. Itu yang kadang buat aku harus sadar kamu begitu jauh bagiku. Mungkinkah kau wanita untukku?
Mau cerita panjang lebar di sini kamu juga tidak akan tau. Mau sebanyak apapun kamu berusaha berpikir. Seberapa banyak pun kamu memancing perasaanku ke kamu. Aku tidak yakin kamu akan tau. Aku tidak yakin aku bisa menyatakan perasaan ini ke kamu. Kamu bahkan tidak pernah sedikit pun isyaratkan perasaan kamu yang sebenarnya ke aku. Setiap aku merasa aku punya harapan sedetik kemudian kamu mematikannya.
Aku tidak tau akhir cerita ini akan bagaimana. Aku hanya tidak bisa menyatakan perasaan ini ke kamu. Aku hanya takut jika aku mengatakan yang sebenarnya ke kamu semua akan berubah. Kamu akan menjauh. Aku ingin menyatakan peraaan ini saat aku sudah siap untuk meminangmu. Apa aku bisa? Apa kamu siap? Sementara kamu selalu bilang ingin menikah di usia minimal 24-25 tahun. Bagaimana mungkin aku bisa menyatakannya sekarang?
Kamu bahkan rela melepas keinginanku menikah muda hanya demi kamu, yang ingin menikah usia segitu? Kamu tau? Aku yang suka cerita ke teman dekatku kini bahkan tidak berani mencerikan tentang kamu ke mereka. kamu tau? Kamu bagai ilusi terindah yang aku punya. Tingkah laku kamu yang lucu sering membuatku tersenyum – senyum sendiri.
Jika aku menyatakannya sekarang, apa kamu sudah siap? Katakan pada ku, bila ada yang membuat kau ragukan aku. Isyaratkan aku, bila kau memang mau tuk menjadi milikku. Bila kah kau tau kusuka dirimu, isyaratkan aku, usahlah kau ragu. Bila kau tau isyaratkan aku, kusuka dirimu. Isyaratkan aku bila kau memang mau untuk menjadi milikmu. Kamu seorang gadis yang kenyataannya adalah senior aku, yang kenyataannya satu tahun lebih tua dibandingkan aku.
***
“Mbak, mana cerpen yang mbak suruh gue baca? Ini bukan cerpen yang panjang seperti biasanya kan? Males bacanya mbak kalau panjang” tanya kamu ke aku di kantin asrama.
“Ih, bukan ini flash fiction kok. Hanya  650 kata, coba lo baca. Gue butuh komentar nih,” kata ku mencoba menyembunyikan tawaku.
L’il thing? Ceritanya tentang apa nih?” tanya kamu sedikit ragu, membuat jantungku berdetak sedikit lebih kencang.
“Baca, aja sih. Nanti lo juga ngerti,” kataku berusaha senormal dan senetral mungkin. “Gue cabut dulu ya, ada kuliah,” kataku mau invisible secepat mungkin dari kamu. Mana mungkin aku bisa bilang flash fiction yang aku tulis itu tentang kamu. Tentang perasaan kamu yang tidak bisa kamu ungkapin ke aku. Ya, mungkin aku yang ke GR-an, tapi boleh kan kalau begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar