“Eh, kayaknya gue gak jadi deh nikah umur 24
tahun. Ada yang mau ngelamar gue saat – saat ini juga boleh,” ucap Sita pada ku
tiba – tiba.
“Terus kenapa malah cerita sama gue?” tanyaku pura-pura tak peduli. Padahal
jujur saja pernyataannya yang tiba-tiba membuat degup jantungku berlari lebih
cepat. Untuk apa dia cerita padaku? Ini seperti sebuah kemenangan tersendiri
bagiku.
“Soalnya……”
Belum sempat Sita melanjutkan kalimatnya buru-buru ku kencangkan volume mp3 hp
dan memasangkan earphone yang
sedari tadi kucopot sebelah. Aku tau sebentar lagi Sita akan menggombal. Jangan
tanya apa rasanya digombalin Sita. Gombalan Sita yang hanya sekedar becanda
bisa membuatku GR setengah mati.
“Ih, Om, dengerin dong! Sita belum selesai ngomong nih!” ucap Sita langsung
menyambar earphone ku dan melepasnya secara paksa dari telingaku.
“Males ah, pasti mau ngegombal,” ucapku. Panggilang Om itu kadang juga
membuatku jengah. Om siapa? Emang aku ada hubungan darah sama ayah atau ibunya
apa? walau begitu kadang membuatku merasa sangat khusus. Atau jangan-jangan
selama ini dia juga sering berbicara begitu dengan semua cowok?
“Hahaha, tau aja! Pokoknya gue cuma pengen lo tau aja, kan lo mau nikah muda
juga.….” Sumpah lah jantungku makin kian berdetak lebih kencang, dengan
jawabanya. “Siapa tau bisa barengan nikahnya lo bersama calon istri yang belum
lo tau itu dengan gue bersama cowok yang mau ngelamar gue. Hahahahaha,” ah,
sial gue terpancing godaannya lagi. Pake mencibir pula! Dia tau betul aku
enggan pacaran dan ingin nikah muda. Sudah kamu menang sit, kamu menang! Boleh
kan kita udahan main kayak ginian. Bisa-bisa aku beneran jatuh cinta sama kamu,
jika kamu terus ngegombal dan memancingku kayak gini terus.
“Ya, ya ya terserah lo aja. Udah nih contoh tugas yang lo minta udah gue
masukin ke laptop lo. Lo ke kampus jam berapa?” ucapku, mulai sesegera mungkin
menyelesaikan makanan yang tadi ku pesan.
“Ini. Abis gue nyalin jurnal. Kenapa emang? eh iya, makasih ya. Akang baik
banget deh,” ucap Sita mengeluarkan senyum memikatnya.
Keinginannya sudah terpenuhi, baru manggil aku akang. Biasanya cuma
manggil om. Panggil nama saja kek sekalian.
“Iya, dek. Akang
duluan ya. Ada praktikum pagi nih,” ucapku menyelesaikan makan dan berdiri dari
meja makan yang sedari tadi kita berdua tempati. Sita tak bergeming. Tak
mendengar perkataanku atau memang pura-pura tak mendengar?
“Neng, akang pergi
duluan ya,” ucapku sekali lagi.
“Eh, iya – iya, om.
Lagi sibuk nyalin nih,” ucapnya tak menoleh.
“Tadi akang,
sekarang om lagi. Kebiasaaan deh?” ucapku memincingkan mata ke arahnya.
“Biarin aja suka-suka
gue dong, lo juga manggil gue ‘neng’ segala. Lo kan lebih tua, wajar gue
panggil om, wooo,” ucap Sita tak mau kalah, masih tetap sibuk dengan bukunya.
“Yaudah, yaudah
terserah lo. Gue pergi nih. Mau gak…..?” Ucapku memutuskan kalimat. Sadar apa
yang barusan ingin kukatakan.
“Mau apa?” tanya
kini berpaling ke arahku. Terlihat kejagalan dari mimik mukanya.
“Gak, gak ada kok.
Lo kenapa?” berusaha mengalihkan perhatian. Tadinya aku ingin mengajaknya ke
kampus bareng, toh kami satu kampus juga. Tapi apa boleh? Untuk apa? toh dia
juga tak meminta.
“Gak, kenapa – napa
kok. Emang gue kenapa?” tanya Sita, seperti orang menahan sakit.
“Muka lo kayak
orang kebelet. Yaudah ya, gue ke kampus duluan,” ucapku pergi begitu saja takut
dia masih menanyakan maksud perkataan ‘mau gak’ yang tadi ku utarakan.
*
‘Om, kenapa ya gue ngerasa lo ngejauh dari
gue. Apa perasaan gue doang?’ pertanyaan dari Sita itu mendarat begitu saja
lewat sms di HP ku.
Aku tentunya bingung harus menjawab apa. Apa tidak perlu kujawab seperti sms-sms
sebelumnya? Tapi rasanya hati ini tidak tega untuk melakukannya. Oke jujur
sebenarnya aku merasa kan hal lain pada Sita dan aku tidak mau hal itu
berkembang terlalu jauh. Karena itu ku pasang aksi sedikit menjauh. Kupikir
Sita tak akan begitu sadar. Tapi dari sms-nya kali ini, aku rasa dia
merasakannya.
Beberapa kali aku mengetik sms dan menghapusnya antara ingin to the poin pada nya, cerita
panjang-lebar atau hanya membalasnya dengan singkat. Berulang kali hingga yang
aku kirim hanya sms keangkuhanku : ‘perasaan
lo doang kali.’
‘Mmm, mungkin begitu ya om. Tapi om jahat banget
sms aku yg sebelumnya gak pernah dibales. Om, gue lagi panen strawberi, mau?’ sms dari Sita
masuk.
Aku binggung harus
menjawabnya. Hingga akhirnya 2 jam kemudian aku baru membalas smsnya. ‘Lagi gak ada pulsa. Waduh, asik nih. Mau dong
strawberi-nya besok di bawa ke kampus.’
Tak beberapa lama ada sms masuk dari sita lagi. ‘bagus deh kalau gitu. Eh, kalau strawberi mah udah di jual sama
orangtua ku. Kalau bibit strawberinya aja gimana?’
‘Boleh deh, jam 7 pagi ya di tempat biasa.’ Balasku singkat.
‘Yaudah,
oke. Tuh kan lo pasti bohongin gue. Sms lo mana pernah sesingkat itu. lo kenapa
sih? Marah sama gue?’ balas Sita lagi.
Ini nih yang
membuat ku jengah. Sita bukan seorang gadis yang mudah percaya dengan orang
lain. Pikirannya selalu menjalar kemana – mana dan kadang selalu benar.
Bodohnya, aku tak pernah bisa menang darinya. Akhirnya ku balas sms-nya dengan
sejujur mungkin.
**
Esoknya saat ku
datangi kafe dekat kostan tempat kami berdua sering bertemu, Sita sudah duduk
di meja. Jantungku kini berdetak lebih kencang kuakui ada perasaan lain dan ini
bukan perasaan sebagai teman ataupun sebagai senior dan junior. Rasanya ingin
kembali ke kostan. Tapi sosokku kini sudah tertangkap basah oleh padangannya.
Mau tak mau aku menghampiri mejanya. Ku pandangi wajahnya. Sama seperti
terakhir kali aku melihanya. Wajah orang menahan sakit dengan wajah putih
pucat.
“Ini, bibitnya,”
ucapnya cepat kemudian menutup separuh lebih mukanya dengan tisu mengalihkan
pikiran ku tentang wajahnya yang pucat tadi.
“Makasih ya. Eh, lo
kenapa pake tutup muka pake tisu gitu? “
“Haha, kan lo
bilang lo risih liat gue,” ucapnya kini tidak lagi menutup mukanya dengan tisu
tapi lebih membenamkan mukanya di atas meja, salah satu tanganya memegang
bagian tubuhnya entah dada, entah leher. Membuatku fokus kembali dengan
pikirian sebelumnya.
“Ya, gak gitu juga
kali neng. Lo kenapa neng? Lo sakit?”
“Sssssss, fuuuuh,
sss, gak kok. Sss, gue baik – baik aja, sss,” ucap Sita-sedikit aneh-berusaha
menyakin kan ku kalau dia gak kenapa – napa.
“Serius, lo gak apa
– apa?”
“Ssss, gak kok.
Biasa penyakit, sss, bulanan kambuh, sss. Bentar lagi ssss, juga,sss, gak apa –
apa, sss’” ucap Sita masih dengan posisi yang sama tanpa memandangku.
“Yaudah gue balik
ke kosan ya kalau gitu,” ujarku melirik jam tangan karena harus segera belajar.
Jam 10 nanti ada UAS.
***
Tak pernah ada
kabar tentang Sita lagi. Apalagi sekarang libur semester genap, 2 bulan liburan
kali ini kusibukkan dengan PKL. Tidak ada lagi sms meminta bantuan kepadaku
dari Sita. Benar - benar lost contact. Aku sungguh merindukannya. Tapi
bukan kah hal ini yang aku mau untuk menetralkan perasaanku padanya? Tapi
kenapa ini begitu sangat sulit bagiku? Aku memandangi bibit strawberi.
Awalnya aku tidak
pernah mengerti cara bercocok tanam. Tadinya aku mau menanyakan cara merawat
bibit strawberi itu pada Sita. Tapi sengaja ku tahan, takut memperpanjang
pembicaraaku dengan Sita. Alternatif cepat ku-searching cara perawatannya
di internet. Kemudian secara perlahan sulurnya mulai tumbuh. Hingga pot kecil
yang ku punya tak mampu lagi menampung bibit strawberi tersebut. Jangan ditanya
rasanya, ini sungguh menyenangkan bagiku. Hal ini nampak seperti menanam
perasaanku pada Sita detik demi detik hingga berkembang dengan pesat. Aduh! Apa
sih yang aku pikirkan, kenapa cinta-cintaan terus? Lalu kenapa Sita terus yang
terbayang?
Sekarang baru juga
1 bulan lebih tapi daun-daun pada bibit strawberi mulai menguning perlahan tapi
pasti seperti medekati kematian. Tapi bukankah itu bagus berarti seperti
cintaku pada Sita yang semakin hari semakin padam? Tidak! Tidak seperti itu!
Bibit strawberi itu adalah tanaman yang perlu hidup dan diperjuangkan, bukan
perasaan hati!
Jujur aku jenuh di
sini tanpa Sita. Aku rindu, sangat rindu, dengan banyolannya, gombalannya,
senyumnya. Bukan karena tempat PKL yang tidak nyaman, mungkin juga karena aku
PKL di daerah baru yang notabene lebih panas dari pada-Jakarta-tempatku
tinggal. Oke, ini mungkin gila tapi tanganku menuju nomor kontak Sita dan
meng-sms-nya.
‘Sit,kok bibit strawberi yang lo kasih itu sekarang
mulai layu ya? Diapain ya bagusnya biar gak mati?’
Aku sedikit deng-degan menunggu balasannya. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 35
menit, 45 menit, 1 jam, 2 jam, aku terus melirik jam dinding tapi tetap belum
berbalas. Oke-oke aku juga dulu suka menunda membalas smsnya. Jadi wajar kan
kalau 2 jam juga belum di balas? Hingga aku tertidur dan bangun keesokan
harinya sms masih juga tak berbalas.
*
Apa Sita marah padaku? Sudah ketiga kalinya aku meng-sms nya selama 2 minggu
ini tapi tetap tidak dibalas. Apa perasaan Sita juga seperti ini saat aku tak
membalas smsnya? Apa Sita sedanng membalas dendam padaku dengan mengacuhkan ku?
*
Oke ini sudah
kelewatan, Sita tak kunjung membalas. Padahal hari ini aku sudah harus kembali
ke rumah karena masa-masa PKL ku sudah selesai. Aku keluar dari kamar untuk menyiram
tanaman strawberi dan betapa kagetnya aku ketika tanaman itu kini benar-benar
kering kerontan. Mati. Anehnya, dadaku sesak melihat pemandangan ini. Padahal
kematian tanaman itu kan wajar. Mengapa aku merasa tidak bisa menerima kematian
tanaman strawberi ini? Kenapa hatiku terasa begitu sakit?
Aku bergegas
mengambil HP. Ini sudah tak dapat dibiarkan lagi. Aku harus menelepon Sita. Hal
yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Belum sempat aku memecet tombol call. 1 pesan baru masuk ke HP ku.
Dari Ahmed. Ada apa ya? tumben ada jarkoman kuliah. sekarang kan masih libur.
Kubuka dan ku baca sms singkatnya.
‘Innalillahi wa innalillahi rojiun. Telah berpulang
kerahmatullah. Saudari/rekan kita/adik kelas kita Sita Raninya Prasetya pagi
tadi. Di mohon doanya dan diberikan keiklasan bagi keluarga dan rekan-rekan
yang ditinggalkan.’
Aku terdiam. Ini
tidak mungkin! Air mataku jatuh. Pasti aku salah baca. Kembali kubaca ulang
nama almarhum. Tetap sama.
******
Masih tidak
menerima dengan kenyataan hari ini aku datang ke rumah Sita. Rumah yang pernah
dalam benakku akan menjadi saksi bisu, aku melamar Sita 1 tahun lagi. Kini
menjadi saksi bisu bahwa hingga detik ini aku mencintainya. Aku tidak pernah
tau Sita menganggapku apa, tapi tadi Ahmed menitipkan ku sebuah buku diari
milik Sita. Anehnya aku diperkenankan untuk membaca, bahkan menyimpannya.
15 November
Ih, seniorku yang satu ini kocak banget deh. Komdis tapi
mukannya imut.
23 November
Ih, ternyata senior yang satu ini orang baik banget. Mau
aja lagi aku panggil om.
1 Desember
Ah, om lucu banget sih! Gak mau di panggil om tapi sok-sokan
manggil aku neng. Ah, jadi merasa khusus nih.
24 Desember
Naha aku jadi suka sms-an gini sih sama si om? Aneh. Kan
aku minta tolongnya udahan?
29 Desember
Waduh, ini kenapa aku jadi suka ngegombal gini sih?
Kebanyakan nonton OVJ nih. Tapi reaksi si om kalau digombalin lucu juga. J
3 Januari
Liburan tetep weh sms-an sama om. Bisa-bisa jatuh cinta
nih. Eh, liat fb om sebentar lagi ulang tahun nih. Kasih apa ya?
13 Januari
Kasih apa, kasih apa? aduh binggung harus kah aku
kasih suprisse atau atau kasih kado aja? Atau gak kasih apa-apa?
ulang tahunya teh besok. Apa kasih manisan strawberi aja ya? Bisi suka. Hahaha.
teu modal pisan.
14 Januari
Gak ada yang spesial. Biasa aja. Yaudahlah. Kasih kadonya
juga teu niat mereun.
29 Januari
Naha, akhir0akhir ini teh dada sering nyeri. Apa lagi
setiap deg-degan atau lagi sedih. Eh, tapi ini teh wajarkan yah?
26 Februari
Lama teu nulis ti mari. Damang? Aku teh teu damang ceunah,
Angina pectoris? What? It’s me? L
23 Maret
Ulang tahun juga akhirnya. 19 tahun juga. Hehe. Tahun depan
masih hidup gak ya? Ada yang special gak ya dari om?
26 April
Kangen sama om, naha sms ke om teu
membalas? L eh, apa aku udah jatuh cinta ya sama om? Emang boleh
gitu? Inget usia, neng!
30 April
Mamah mulai curiga ada yang gak beres denganku. Ya tuhan,
apa aku masih bisa menyembunyikannya? Aku teu ingin mama-papah sedih.
24 Mei
Asik, ternyata om gak marah sama aku. J tapi om mau menjauh. Kenapa ya?
Boleh aku berpikiran om suka sama aku? Hehehe. besok ketemu om., kasih
bibit strawberi, hore! Aduh, nyesek – nyesek. Gak boleh kayak gini! Kenapa ya
tiap seneng dikit aja nyeri banget ini dada.. J
18 Juni
Kangen. L Beneran atulah dia
menjauh tea, teu ada kabar. L kangen berat
sama Om, tapi aku bisa apa? om kan yang mau menjauh teh? Masa aku yang
kegatelan menghubungi duluan? aduh, lagi2 nyeri kalau keinget om.
27 Juni
Oke, mama papa akhirnya tau! L unstable angina. Parah ceunah
katanya. Hari ini kata mama ada sms dari Om. Tapi aku masih belum boleh
bergerak banyak jadi sulit bales sms om.
30 Juni
Check up yang aneh. Naha aku harus nginep segala?
4 Juli
Om sms aku lagi, untuk yang ke 3 kalinya dengan pertanyaan
yang hampir sama kata mamah. Aku ingin membalas, tapi mama mencegah takut aku
nangis ceunah. Kalau aku terlalu sedih/senang bisa bahaya. Hahaha. Penyakit
yang aneh. Mama akhirnya tau om itu orang yang aku taksir. J
10 Juli
Capek ah, penyakitnya gak asik! Gak boleh seneng, gak boleh
sedih, ga boleh stress, gak boleh banyak pikiran. Sekalian aja gak boleh
hidup! L Tinggal di
rumah sakit itu membosankan. Ngelarang semua hal kayak gitu, sama aja buat aku
stress. Gak boleh mikir banyak sama aja buat aku down. Om kangen sama
kamu, kangen banget!
11 Juli
Haduh akhirnya aku terbangun setelah pingsan nulis di sini
kemarin. Om, kangen om, gak tau kenapa aku ngerasa aku gak akan lama lagi. Om,
tentang sms pertanyaan mu itu, mana bisa strawberi tumbuh di daerah panas
seperti itu. itu seperti merawatnya menjelang kematian. Om, aku mau deh jadi
bibit strawberi itu. biar bisa dirawat sama kamu sebelum mati. #eaa Aku
ngegombal tea. Aku pengen ngegombal ke om. Mmm, mungkin juga tananaman
strawberinya Layu verticillium atau mungkin
terjangkit Tetranychus sp-Tarsonemus sp. Haha. baru ambil mata kuliah
botani semester kemarin, nih.
18 Juli
Sakit. Gak kuat om. L
24 Juli
Om, kangen. Om, pengen ketemu om. tapi kalau ketemu om,
akunya udah gak ada di sini lagi kayaknya. L
25 Juli
Om, sekarang aku udah pasrah. Mana mungkin aku berharap om
melamarku ya? Duh, pikiranku udah mau mati aja, malah mikir kemana. - mana.
Sumpahlah gak kuat om. L
*******
Keterangan:
· Naha:
Kenapa
· Weh:
saja
· Teu
: gak
· Bisi
: takutnya
· Ceunah:
kayaknya
· Mereun:
kayaknya
· Ti
mari : di sini
· Damang:
sehat