Jumat, 04 Mei 2012

Keramahan di Balik Kegelapan



Pasti pada tau kan ya apa yang terjadi hari Kamis kemarin? Setelah malamnya tanggal 2 Mei kemarin arus listrik sempat padam karena Gardu Cinunuk kebakaran. Kamisnya tanggal 3 Mei lampu kawasan Jatinangor hingga Ujung Berung kembali padam dari siang sampai malam hari. Bahkan kawasan kampus UNPAD tak kunjung menyala hingga detik ini.
Arus listrik yang padam membuat kehidupan sekitar Jatinangor hingga Ujung Berung terlihat sangat depresi bahkan lumpuh total. Pencahayaan menjadi hal yang langka hanya beberapa tempat yang ber-genset lah yang menunjukkan pencahayaan layak. Penduduk terutama mahasiswa yang tinggal disekitar Jatinangor berburu arus listrik di tempat-tempat ber-genset untuk menghidupkan benda-benda elektronik yang mereka punya dari mulai HP, laptop, I-phone, I-pod, tablet, android dan BB. Suasana bahkan sedikit terlihat horor karena kebetulan padamnya lampu bertepatan dengan malam Jumat. Begitu lah kiranya keadaan Jatinangor malam kemarin.
          Padamnya arus listrik ini membuat kericuhan tidak hanya pada malam hari bahkan siang hari. Berbagai tugas kuliah terbengkalai, seperti salah seorang teman saya yang anak Farmasi harus rela menunda penelitiannya karena listrik padam. Belum lagi jika ada yang harus presentasi untuk usulan penelitian (UP) bisa dibayangkan betapa desperate-nya. Kuliah terpaksa diundur, atau dipercepat karena suasana kelas yang tidak nyaman gelap, gerah dan pengap.
Efek samping terparahnya adalah ketika air ikut mati. hal ini saya rasakan kemarin hingga siang tadi ketika arus listrik tak kunjung menyala juga. Kebetulan saya tinggal di kawasan kampus UNPAD yang diperkirakan akan mati total hingga 4-5 hari. Pagi tadi bahkan saya mandi menggunakan air galon yang biasa saya gunakan untuk minum. Hari ini pun saya terpaksa menginap di kost-an teman.
Jujur banyak tugas-tugas saya yang terbengkalai. Kegiatan harian seperti mencuci baju pun harus saya undur. Saya sempat merasa sangat desperate menghadapi kenyataan ini. Padamnya listik di Jatinangor membuat saya sadar akan satu hal ternyata selama ini tanpa saya sadari saya sering sekali menghambur-hamburkan listrik hanya intuk hal-hal yang tak jelas. Ternyata hidup tanpa arus listrik itu sangat sulit baik siang maupun malam hari. Lalu bagaimana dengan  daerah-daerah pedalaman yang selama  ini belum mendapatkan penerangan yang cukup? Kegiatan apa yang mereka lakukan ketika malam mulai menyambut?
Sadar tidak sadar ternyata padamnya arus listrik membuat hangatnya kebersamaan. Kantin ditempat saya tinggal pukul 8 malam biasanya sudah sepi tapi malam kemarin hingga pukul 9 malam hingar-bingar keramaian masih tercipta. Padahal penjual di kantin pun sudah tidak ada. Di tengah-tengah kegelapan yang hanya bermandikan cahaya lilin tergurat canda tawa membahana. Ditambah dengan ramainya beberapa orang yang bermain gitar. Berbeda dengan suasana di kantin suasana di lantai 2 juga bisa dibilang cukup hangat. Beberapa anak sibuk menyalakan lilin dan senter di sekitar pendopo lantai 2. Mereka sibuk mengerjakan tugas. Dari awalnya tidak saling kenal hingga sibuk bercanda satu sama lain. Duduk berdekatan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup dari lilin dan senter yang dinyalakan dan dihidupkan.
Mungkin memang ketika arus listrik itu padam akan sangat menghambat produktifitas dan keefisienan waktu. Akan ada banyak tugas dan kegitan yang terbengkalai. Akantetapi ternyata dibalik semua itu terdapat banyak hikmah kehidupan yang tercipta. Keakraban satu sama lain antara penghuni kosan akan lebih terjalin. Jadi mengapa harus disesali jika arus listrik padam? Bukan kejadian langka ini patutnya disyukuri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar