Pasti pada tau kan ya apa yang terjadi hari Kamis kemarin? Setelah
malamnya tanggal 2 Mei kemarin arus listrik sempat padam karena Gardu Cinunuk kebakaran.
Kamisnya tanggal 3 Mei lampu kawasan Jatinangor hingga Ujung Berung kembali
padam dari siang sampai malam hari. Bahkan kawasan kampus UNPAD tak kunjung
menyala hingga detik ini.
Arus listrik yang padam membuat kehidupan sekitar Jatinangor
hingga Ujung Berung terlihat sangat depresi bahkan lumpuh total. Pencahayaan menjadi
hal yang langka hanya beberapa tempat yang ber-genset lah yang menunjukkan pencahayaan
layak. Penduduk terutama mahasiswa yang tinggal disekitar Jatinangor berburu
arus listrik di tempat-tempat ber-genset untuk menghidupkan benda-benda
elektronik yang mereka punya dari mulai HP,
laptop, I-phone, I-pod, tablet, android dan BB. Suasana bahkan sedikit terlihat
horor karena kebetulan padamnya lampu bertepatan dengan malam Jumat. Begitu lah
kiranya keadaan Jatinangor malam kemarin.
Padamnya arus listrik ini membuat
kericuhan tidak hanya pada malam hari bahkan siang hari. Berbagai tugas kuliah
terbengkalai, seperti salah seorang teman saya yang anak Farmasi harus rela
menunda penelitiannya karena listrik padam. Belum lagi jika ada yang harus
presentasi untuk usulan penelitian (UP) bisa dibayangkan betapa desperate-nya. Kuliah terpaksa diundur,
atau dipercepat karena suasana kelas yang tidak nyaman gelap, gerah dan pengap.
Efek samping terparahnya adalah ketika air ikut mati. hal ini
saya rasakan kemarin hingga siang tadi ketika arus listrik tak kunjung menyala
juga. Kebetulan saya tinggal di kawasan kampus UNPAD yang diperkirakan akan
mati total hingga 4-5 hari. Pagi tadi bahkan saya mandi menggunakan air galon
yang biasa saya gunakan untuk minum. Hari ini pun saya terpaksa menginap di
kost-an teman.
Jujur banyak tugas-tugas saya yang terbengkalai. Kegiatan harian
seperti mencuci baju pun harus saya undur. Saya sempat merasa sangat desperate menghadapi kenyataan ini. Padamnya
listik di Jatinangor membuat saya sadar akan satu hal ternyata selama ini tanpa
saya sadari saya sering sekali menghambur-hamburkan listrik hanya intuk hal-hal
yang tak jelas. Ternyata hidup tanpa arus listrik itu sangat sulit baik siang
maupun malam hari. Lalu bagaimana dengan
daerah-daerah pedalaman yang selama ini belum mendapatkan penerangan yang cukup? Kegiatan
apa yang mereka lakukan ketika malam mulai menyambut?
Sadar tidak sadar ternyata padamnya arus listrik membuat
hangatnya kebersamaan. Kantin ditempat saya tinggal pukul 8 malam biasanya
sudah sepi tapi malam kemarin hingga pukul 9 malam hingar-bingar keramaian
masih tercipta. Padahal penjual di kantin pun sudah tidak ada. Di tengah-tengah
kegelapan yang hanya bermandikan cahaya lilin tergurat canda tawa membahana. Ditambah
dengan ramainya beberapa orang yang bermain gitar. Berbeda dengan suasana di
kantin suasana di lantai 2 juga bisa dibilang cukup hangat. Beberapa anak sibuk
menyalakan lilin dan senter di sekitar pendopo lantai 2. Mereka sibuk
mengerjakan tugas. Dari awalnya tidak saling kenal hingga sibuk bercanda satu
sama lain. Duduk berdekatan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup dari lilin
dan senter yang dinyalakan dan dihidupkan.
Mungkin memang ketika arus listrik itu padam akan sangat
menghambat produktifitas dan keefisienan waktu. Akan ada banyak tugas dan
kegitan yang terbengkalai. Akantetapi ternyata dibalik semua itu terdapat
banyak hikmah kehidupan yang tercipta. Keakraban satu sama lain antara penghuni
kosan akan lebih terjalin. Jadi mengapa harus disesali jika arus listrik padam?
Bukan kejadian langka ini patutnya disyukuri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar