Minggu, 29 April 2012

Selamat Tinggal, Itu Baik


Hujan kembali menggunyur ini sudah yang kebeberapa kalinya terjadi akhir-akhir ini. Kala hujan kembali mengguyur kamu akan dengan sigap menggajak saya bertepi. Melindungi saya dan yang lainnya dari hujan deras, tak jarang kamu melupakan dirinya sendiri yang kedinginan diguyur hujan. Kamu selalu berkata, “Tenang, kita akan aman di sini. Bersabarlah.”
Jika ada seseorang yang harus saya cintai, haruslah kamu seorang. Kamu layaknya seorang ibu yang menemani anaknya makan dan bagai seorang teman akrab yang selalu menemani saya bermain, bahkan saat kondisinya sedang tidak baik. Sempat saya memergokimu batuk terkokol-kokol kemudian mengeluarkan suatu cairan bewarna merah dari mulutmu. Entah cairan apa, cairan itu nampak sama seperti saat bapak mengorbankan dirinya.
Kata orang, saya dan beberapa yang lainnya berada di sini hanya untuk menunggu kematian. Bukan kah kita semua akan mati nantinya? Lalu apa yang perlu ditakut kan? Kata orang pula, kamu adalah orang pertama yang harus dipertanyakan dan dipersalahkan saat saya dan yang lainnya mati. Mungkin saya satu-satunya yang tak percaya akan hal itu, mana mungkin seseorang yang dapat  berkata seperti ini “Tenang,kita akan aman di sini. Bersabarlah.” adalah orang yang dipersalahkan atas kematian saya dan yang lainnya.
“Hey, dimana teman-teman mu yang lain? Kita harus segera pulang sebelum hujan kembali mengguyur,”ujarmu.
Saya hanya terdiam, menatap bias matamu. Sungguh saya mencintaimu. Kemudian saya mengikutimu dari belakang enggan mengusikmu jika berada di sampingmu. Sesekali saya memanggil yang lainnya untuk segera pulang. Selama perjalanan pulang hanya kamu lah yang satu-satunya yang saya khawatirkan. Bajumu masih basah terkena hujan tadi karena melindungi kami dari hujan deras. Saya memandangimu dari belakang tampak begitu menyedihkan.  Bajumu nampak lusuh bercampur dengan tanah merah akibat rintikan hujan yang memantul dari tanah. Badanmu semakin kurus, layaknya orang-orangan sawah di dekat kami biasa tinggal. Saya mencintaimu apa adanya. Bukan hanya karena sekedar rasa iba karena kamu sering bermalam ditempat kami yang dingin.
***
      Saya terjaga ketika ada sentuhan halus menyentuh tubuh. Ingin saya buka mata mencari tau siapa yang malam-malam seperti masih terjaga dan mengelus saya. Namun hal ini enggan saya lakukan, ketika ada setetes cairan membasahi tubuh ini.
      “Mbul, maafin aku ya. Aku sayang mbul,” ujar seseorang sambil kembali mengelus tubuhku lembut. Dari suaranya saya tau itu adalah kamu.
Jika boleh saya juga ingin menyuarakan hal yang sama denganmu, tapi apakah mungkin kamu bisa mendengar jeritan hati saya? Mengapa harus meminta maaf untuk menyayangi saya? Tidak pantaskah saya disayangi olehmu?
      “Mbul, maafin aku. Besok kamu diminta pak RT, dan aku tak bisa berbuat apa-apa,bul. Aku hanya seorang gembala,” ujarmu kembali menangis kembali.
      Saya membuka mata, tak tahan karena semakin banyak tetes air yang membasahi tubuh saya, sama banyaknya ketika hujan membasahi tubuh ini. Kamu menangis, berusaha menahan air mata, tapi semakin menahan air matamu semakin banyak keluar. Tak pernah saya melihatmu seperti ini. Kamu seorang wanita yang tegar. Lalu mengapa kamu menangis hari ini?
      “Eh, mbul bangun,” ucapmu sesegera mungkin menghapus air mata. Kemudian memeluku saya erat. Tak pernah saya dipeluk erat seperti ini olehmu, kecuali ketika hujan datang memburu.
      “Mbul, aku sayang mbul. Aku gak mau kehilangan mbul. Tapi besok ada selamatan di rumah pak RT dan dia memintamu. Aku tak bisa apa-apa mbul, kamu dan yang lainnya itu miliknya. Dan aku hanya seorang gembala,” ujarmu menangis masih terus memeluk saya.
      Ini kah giliran saya? Giliran saya menghadap yang Maha Kuasa? Jika memang esok hari untuk saya. Maka saya harus siap.  Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bukan semua mahluk cintaan tuhan nantinya akan mati? Lalu hal apa yang harus ditakutkan untuk menghadapi kematian? Seharusnya tak ada, tapi saat memandangmu saya tau, satu hal yang saya takutkan adalah kamu. Bukan takut karena kehilanganmu, tapi takut karena mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan keadaanmu yang semakin hari semakin terlihat ringkih. Saya sayang kamu, itu adalah kata-kata yang tak mampu kamu dengar.
Sudah dari turun temurun saya tahu, bahwa saya dan lainnya adalah sejenis mahluk yang diciptakan untuk membantu manusia. Meski banyak diantara kami merasa hal ini tidak adil tapi bapak dulu selalu bilang. “Sudah menjadi kebanggaan bagi mahluk seperti kamu dapat membantu manusia. Apalagi jika itu adalah saat perayaan kurban dimana ribuan diantara kami dikurban untuk sesuatu yang suci. Maka berbahagialah jika kamu akan mati seperti itu. dan jika kamu tidak mati dalam keadaan seperti itu kamu harus tetap bersyukur setidaknya kamu sudah dapat membantu manusia.bukan kah kita semua mahluk tuhan diciptakan untuk seling membantu dan melengkapi” karena itu saya rela jika harus mati demi membantu manusia. Ya, saya hanya mahluk tuhan yang sering disebut kambing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar