Hujan kembali
menggunyur ini sudah yang kebeberapa kalinya terjadi akhir-akhir ini. Kala hujan
kembali mengguyur kamu akan dengan sigap menggajak saya bertepi. Melindungi
saya dan yang lainnya dari hujan deras, tak jarang kamu melupakan dirinya
sendiri yang kedinginan diguyur hujan. Kamu selalu berkata, “Tenang, kita akan
aman di sini. Bersabarlah.”
Jika ada seseorang
yang harus saya cintai, haruslah kamu seorang. Kamu layaknya seorang ibu yang
menemani anaknya makan dan bagai seorang teman akrab yang selalu menemani saya
bermain, bahkan saat kondisinya sedang tidak baik. Sempat saya memergokimu
batuk terkokol-kokol kemudian mengeluarkan suatu cairan bewarna merah dari
mulutmu. Entah cairan apa, cairan itu nampak sama seperti saat bapak
mengorbankan dirinya.
Kata orang, saya
dan beberapa yang lainnya berada di sini hanya untuk menunggu kematian. Bukan
kah kita semua akan mati nantinya? Lalu apa yang perlu ditakut kan? Kata orang
pula, kamu adalah orang pertama yang harus dipertanyakan dan dipersalahkan saat
saya dan yang lainnya mati. Mungkin saya satu-satunya yang tak percaya akan hal
itu, mana mungkin seseorang yang dapat
berkata seperti ini “Tenang,kita
akan aman di sini. Bersabarlah.” adalah orang yang dipersalahkan atas kematian
saya dan yang lainnya.
“Hey, dimana
teman-teman mu yang lain? Kita harus segera pulang sebelum hujan kembali
mengguyur,”ujarmu.
Saya hanya
terdiam, menatap bias matamu. Sungguh saya mencintaimu. Kemudian saya
mengikutimu dari belakang enggan mengusikmu jika berada di sampingmu. Sesekali
saya memanggil yang lainnya untuk segera pulang. Selama perjalanan pulang hanya
kamu lah yang satu-satunya yang saya khawatirkan. Bajumu masih basah terkena
hujan tadi karena melindungi kami dari hujan deras. Saya memandangimu dari
belakang tampak begitu menyedihkan. Bajumu
nampak lusuh bercampur dengan tanah merah akibat rintikan hujan yang memantul
dari tanah. Badanmu semakin kurus, layaknya orang-orangan sawah di dekat kami
biasa tinggal. Saya mencintaimu apa adanya. Bukan hanya karena sekedar rasa iba
karena kamu sering bermalam ditempat kami yang dingin.
***
Saya
terjaga ketika ada sentuhan halus menyentuh tubuh. Ingin saya buka mata mencari
tau siapa yang malam-malam seperti masih terjaga dan mengelus saya. Namun hal
ini enggan saya lakukan, ketika ada setetes cairan membasahi tubuh ini.
“Mbul,
maafin aku ya. Aku sayang mbul,” ujar seseorang sambil kembali mengelus tubuhku
lembut. Dari suaranya saya tau itu adalah kamu.
Jika boleh saya juga ingin menyuarakan hal
yang sama denganmu, tapi apakah mungkin kamu bisa mendengar jeritan hati saya?
Mengapa harus meminta maaf untuk menyayangi saya? Tidak pantaskah saya
disayangi olehmu?
“Mbul,
maafin aku. Besok kamu diminta pak RT, dan aku tak bisa berbuat apa-apa,bul.
Aku hanya seorang gembala,” ujarmu kembali menangis kembali.
Saya
membuka mata, tak tahan karena semakin banyak tetes air yang membasahi tubuh
saya, sama banyaknya ketika hujan membasahi tubuh ini. Kamu menangis, berusaha
menahan air mata, tapi semakin menahan air matamu semakin banyak keluar. Tak
pernah saya melihatmu seperti ini. Kamu seorang wanita yang tegar. Lalu mengapa
kamu menangis hari ini?
“Eh,
mbul bangun,” ucapmu sesegera mungkin menghapus air mata. Kemudian memeluku
saya erat. Tak pernah saya dipeluk erat seperti ini olehmu, kecuali ketika
hujan datang memburu.
“Mbul,
aku sayang mbul. Aku gak mau kehilangan mbul. Tapi besok ada selamatan di rumah
pak RT dan dia memintamu. Aku tak bisa apa-apa mbul, kamu dan yang lainnya itu
miliknya. Dan aku hanya seorang gembala,” ujarmu menangis masih terus memeluk
saya.
Ini
kah giliran saya? Giliran saya menghadap yang Maha Kuasa? Jika memang esok hari
untuk saya. Maka saya harus siap. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya
bukan semua mahluk cintaan tuhan nantinya akan mati? Lalu hal apa yang harus ditakutkan untuk menghadapi kematian? Seharusnya tak ada, tapi saat memandangmu
saya tau, satu hal yang saya takutkan adalah kamu. Bukan takut karena
kehilanganmu, tapi takut karena mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan keadaanmu
yang semakin hari semakin terlihat ringkih. Saya sayang kamu, itu adalah
kata-kata yang tak mampu kamu dengar.
Sudah dari turun
temurun saya tahu, bahwa saya dan lainnya adalah sejenis mahluk yang diciptakan
untuk membantu manusia. Meski banyak diantara kami merasa hal ini tidak adil
tapi bapak dulu selalu bilang. “Sudah
menjadi kebanggaan bagi mahluk seperti kamu dapat membantu manusia. Apalagi jika
itu adalah saat perayaan kurban dimana ribuan diantara kami dikurban untuk
sesuatu yang suci. Maka berbahagialah jika kamu akan mati seperti itu. dan jika
kamu tidak mati dalam keadaan seperti itu kamu harus tetap bersyukur setidaknya
kamu sudah dapat membantu manusia.bukan kah kita semua mahluk tuhan diciptakan
untuk seling membantu dan melengkapi” karena itu saya rela jika harus mati
demi membantu manusia. Ya, saya hanya mahluk tuhan yang sering disebut kambing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar