Lagi – lagi kamu tersenyum malu-malu
padaku. Hal itu yang sedari tadi kamu
lakukan tanpa sadar. Aku tak mengerti, padahal
kamu sedang memainkan lagu stay
away-nya Laruku, tanganmu memetik gitar dengan serius matamu tertuju pada
gitar yang kamu petik. Tapi kamu sesekali
tersenyum padaku.
Suaramu, itu
jangan ditanya. Bukannya aku meremehkanmu, tapi suramu cukup bisa dibilang
sangat standar. Hei, kamu jangan marah dulu! Suramu memang pas-pasan tapi
petikan gitarmu tak kalah merdu dengan te-can kok. Eh, benarkan,
itu nama salah satu anggota Laruku yang kamu suka? Kamu kemudian memandangku
sekilas, tersenyum kemudian konsen dengan gitarmu lagi. Aku rasa ini memang hobimu
atau kebiasaanmu di waktu senggang seperti ini, bermain gitar sambil menyanyikan
beberapa lagu dari band kesukaanmu itu?
Aku tak ingin mengganggu konsentrasimu.
Jadi yang aku lakukan hanya memandangimu. Memandangimu tak akan membuatmu
merasa terganggu kan? Senyummu manis itu
yang aku tau. selebihnya aku tak yakin. Postur tubuhmu yang tinggi dan tegap
kadang memberikan kesan bahwa kamu seorang perwira dimataku. Wajahmu yang tirus
dan beningnya matamu membuatku jatuh hati padamu. Kecuali rambutmu itu. Mbok ya
dipotong toh mas. Kriwil-kriwil tidak rata jingkrak-jingkrakan tak tentu arah.
Membuatmu kadang terlihat kusam. Belum lagi warna coklat kehitaman rambutmu,
sekilas nampaknya kamu sangat mirip dengan salah satu personil band kesukaamu
itu. Pokoknya kalau aku gak kenal kamu aku tidak yakin mau berkenalan atau
menyapamu deh. Kalau dilihat sekilas kamu tuh kayak masteng. Kamu tau tau gak
masteng? Itu loh mas-mas tengil. Hahahhahaha.
Kamu kembali melirikku sekilas,
tersenyum sedikit canggung. Aneh, baru kali ini aku liat ada orang yang diejek
mas-mas tengil malah tersenyum canggung. Kamu tuh ada-ada aja deh! Bikin aku
semakin sadar kalau aku telah jatuh hati padamu. Ya, kamu satu-satunya pujaan
hatiku saat ini dan semoga untuk selamanya. Boleh kan?
“May, makan dulu, yuk!” suara seseorang
dari luar pintu. Ah, pasti Rani, dia tak tau apa kalau aku sekarang sedang
berdua denganmu. Kenapa dia harus mengganggu segala?
“Maya, lo
apa-apaan sih?” tanya Rani kini sudah berada disampingku. Yang apa-apaan tuh
Rani! Sejak kapan orang bisa masuk kamar orang lain tanpa izin si pemiliknya?
Aku bahkan menyuruhnya masuk.
“Apaan sih lo
Ran?” tanyaku merasa terusik, dan kamu masih asik menyenandungkan lagi laruku dari gitarmu.
“Maya, move on! Gak gini caranya. Lo bahkan gak
kenal sama dia!” ujar Rani menunjukmu yang sedang fokus memainkan gitar.
“Gue, yang kenal dia Ran, bukan lo.
Jadi jangan sok tau!”Berani sekali Maya itu, tau apa dia tentang kamu dan aku?
Aku sangat mengenalmu kok. Buktinya kamu masih beberapa kali tersenyum padaku
saat kamu sedang fokus memainkan gitar.
“May, dia udah gak ada. Gak gini cara lo untuk
menutupi rasa bersalah lo karena dia udah nolongin lo dari tabrakan itu. sadar
May, sadar! Lo bahkan gak kenal dia. Dia kebetulan satu fakultas aja sama kita.
May, gue yakin dengan cara lo yang kayak gini juga bakal ngeberatin dia di
dunia sana. jadi tolong May, jangan terus kayak gini. Berlaku aneh, dengan cara
mellhat dan mengulang-ulang video rekaman di salah satu posting-an yang asal dia buat itu, lo bisa sakit jiwa kalau kayak
gini terus,”
“Ran, dia Hero gue. Seharusnya lo ngerti dong!”aku
berusaha menahan air mataku ketika Rani memaksa aku menyadari 1hal yang
berusaha aku lupakan.
Rani
memelukku erat. “May, tolong baca Koran ini ini,”
Aku menerima
Koran yang diberikan Rani. Koran kadaluarsa 1 minggu yang lalu dengan Head lines : Tabrakan Maut, merengut seorang mahasiswa, Faisal 20 tahun.
Faisal itu kebetulan nama kamu. Orang
yang baru saja kupuja 1 minggu terakhir ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar