Senin, 07 Mei 2012

Pujaan Hati

Lagi – lagi kamu tersenyum malu-malu padaku.  Hal itu yang sedari tadi kamu lakukan tanpa sadar. Aku tak mengerti, padahal  kamu sedang memainkan lagu stay away-nya Laruku, tanganmu memetik gitar dengan serius matamu tertuju pada gitar yang kamu petik.  Tapi kamu sesekali tersenyum padaku.
          Suaramu, itu jangan ditanya. Bukannya aku meremehkanmu, tapi suramu cukup bisa dibilang sangat standar. Hei, kamu jangan marah dulu! Suramu memang pas-pasan tapi petikan gitarmu tak kalah merdu dengan te-can kok. Eh, benarkan, itu nama salah satu anggota Laruku yang kamu suka? Kamu kemudian memandangku sekilas, tersenyum kemudian konsen dengan gitarmu lagi. Aku rasa ini memang hobimu atau kebiasaanmu di waktu senggang seperti ini, bermain gitar sambil menyanyikan beberapa lagu dari band kesukaanmu itu?
Aku tak ingin mengganggu konsentrasimu. Jadi yang aku lakukan hanya memandangimu. Memandangimu tak akan membuatmu merasa terganggu kan?  Senyummu manis itu yang aku tau. selebihnya aku tak yakin. Postur tubuhmu yang tinggi dan tegap kadang memberikan kesan bahwa kamu seorang perwira dimataku. Wajahmu yang tirus dan beningnya matamu membuatku jatuh hati padamu. Kecuali rambutmu itu. Mbok ya dipotong toh mas. Kriwil-kriwil tidak rata jingkrak-jingkrakan tak tentu arah. Membuatmu kadang terlihat kusam. Belum lagi warna coklat kehitaman rambutmu, sekilas nampaknya kamu sangat mirip dengan salah satu personil band kesukaamu itu. Pokoknya kalau aku gak kenal kamu aku tidak yakin mau berkenalan atau menyapamu deh. Kalau dilihat sekilas kamu tuh kayak masteng. Kamu tau tau gak masteng? Itu loh mas-mas tengil. Hahahhahaha.
Kamu kembali melirikku sekilas, tersenyum sedikit canggung. Aneh, baru kali ini aku liat ada orang yang diejek mas-mas tengil malah tersenyum canggung. Kamu tuh ada-ada aja deh! Bikin aku semakin sadar kalau aku telah jatuh hati padamu. Ya, kamu satu-satunya pujaan hatiku saat ini dan semoga untuk selamanya. Boleh kan?
“May, makan dulu, yuk!” suara seseorang dari luar pintu. Ah, pasti Rani, dia tak tau apa kalau aku sekarang sedang berdua denganmu. Kenapa dia harus mengganggu segala?
          “Maya, lo apa-apaan sih?” tanya Rani kini sudah berada disampingku. Yang apa-apaan tuh Rani! Sejak kapan orang bisa masuk kamar orang lain tanpa izin si pemiliknya? Aku bahkan menyuruhnya masuk.
          “Apaan sih lo Ran?” tanyaku merasa terusik, dan kamu masih asik menyenandungkan  lagi laruku dari gitarmu.
          “Maya, move on! Gak gini caranya. Lo bahkan gak kenal sama dia!” ujar Rani menunjukmu yang sedang fokus memainkan gitar.
“Gue, yang kenal dia Ran, bukan lo. Jadi jangan sok tau!”Berani sekali Maya itu, tau apa dia tentang kamu dan aku? Aku sangat mengenalmu kok. Buktinya kamu masih beberapa kali tersenyum padaku saat kamu sedang fokus memainkan gitar.
           “May, dia udah gak ada. Gak gini cara lo untuk menutupi rasa bersalah lo karena dia udah nolongin lo dari tabrakan itu. sadar May, sadar! Lo bahkan gak kenal dia. Dia kebetulan satu fakultas aja sama kita. May, gue yakin dengan cara lo yang kayak gini juga bakal ngeberatin dia di dunia sana. jadi tolong May, jangan terus kayak gini. Berlaku aneh, dengan cara mellhat dan mengulang-ulang video rekaman di salah satu posting-an yang asal dia buat itu, lo bisa sakit jiwa kalau kayak gini terus,”
          “Ran, dia Hero gue. Seharusnya lo ngerti dong!”aku berusaha menahan air mataku ketika Rani memaksa aku menyadari 1hal yang berusaha aku lupakan.
          Rani memelukku erat. “May, tolong baca Koran ini ini,”
          Aku menerima Koran yang diberikan Rani. Koran kadaluarsa 1 minggu yang lalu dengan Head lines : Tabrakan Maut, merengut seorang mahasiswa, Faisal 20 tahun.
        Faisal itu kebetulan nama kamu. Orang yang baru saja kupuja 1 minggu terakhir ini.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar