Jumat, 18 Mei 2012

Perjalanan Hati


Sori nih jadi agak sedikit nyampah di blog ini. Secara, seharusnya ini entri bukan buat curhat. Terlalu banyak yang ingin saya tulis dan akhirnya stuck di jalan. Sebelum semuanya menjadi stuck saya coba nulis artikel ini aja deh yang sedikit rada curhat. Hehehe
Gak tau lagi dalam fase apa, entah manic entah depressive atau mungkin peralihan, hari Selasa hingga Rabu kemarin saya merasa sangat kecewa, kecewa terhadap sesuatu yang seharusnya gak perlu saya kecewain lagi. Kecewa dengan pertemanan yang pernah saya jalin dengan seseorang. Hari itu saya nangis, nangisin seseorang teman yang menurut saya berubah, dia masih di sini, masih bisa saya lihat, masih bisa saya ajak obrol tapi dia bukan lagi seorang teman yang pernah saya kenal dekat dulu. Mau dinangisin sampai kapan pun saya juga tau kok, dia gak akan kembali seperti dulu lagi, capek batin ada juga mikirin dia. Gak mau dipikirin aja sering kepikiran.
Sepertinya sifat menyendiri saya kalau sedang ada masalah sudah tidak mempan lagi. Saya benar-benar kalut saat itu. “Hello, hanya kehilangan 1 orang teman kenapa harus kalut?” mungkin karena fase peralihan sedang berlangsung atau mungkin juga saya tidak pernah bisa kehilangan, entah itu barang atau orang. Tiba-tiba aja diajakin menginap di rumah salah satu teman yang kebetulan adek kelas saya. Dari pada menyendiri dalam keterpurukan yang tidak jelas saya memilih untuk menginap di rumahnya. Hanya sedikit waktu yang berlalu di rumahnya tapi banyak cerita dan banyak pelajaran yang dapat saya ambil. Adik kelas saya bisa boleh dibilang lebih muda, tapi saya rasa pengetahuannya lebih luas dari pada saya.
 Pelajaran pertama yang bisa saya ambil adalah ketabahannya menghadapi kehilangan orang yang ia sayang, yaitu ayahnya. Kurang dari 2 tahun, ayahnya meninggal dunia, dia menceritakan seolah-olah itu sebuah kisah ringan yang dengan mudah dapat diceritakan kepada orang-orang. Saya liat ekpresi wajahnya, sedikit menunduk sesekali menggaruk-garuk kelopak matanya seolah sedang kelilipan, namun ada sedikit embun di ujung kelopaknya. Dari sana saya tau dia sedang menahan air matanya. Kalau saya mana mungkin menceritakan, cerita sedih seperti itu secara gamblang kepada orang lain dengan ekspresi wajah seolah-olah tidak pernah terjadi suatu fase yang menyakitkan hati. Oke-oke, saya juga suka cerita perasaan sedih saya kok, tapi ya gak ke semua orang paling dunia maya (lebih parah ya sebenarnya?) yang pasti saya gak berani menceritakan masalah pribadi saya yang menguras air mata ke orang lain secara langsung. Paling hanya lewat sms, pokoknya yang gak ketemu langsung. Bukan apa-apa saya takut air mata saya jatuh di depan orang lain.
Saya sedikit tersentak sebenarnya dengan sifat adek kelas saya yang masih terlihat tenang itu. Dia kehilangan panutan seorang ayah, namun masih bisa menceritakan sepenggal kisah tentang ayahnya dengan senyum sementara saya menangis gak karuan hanya karena kehilangan sosok seorang teman yang sebenarnya masih dapat saya jumpai. Hal kedua yang saya pelajari adalah membuat popcorn rasa caramel. Yihaaa, bisa lah ya nanti coba dibuat di rumah. :) buat adek kelas yang bawel, makasih ya sudah menampung saya malam itu yang sebenarnya sedang mengalami tahap fase peralihan.
Selepas saya pulang dari rumahnya, saya berberes kamar asrama dan mencuci baju. Pukul 10.15 WIB saya bergegas pulang ke rumah. Perjalanan 4 jam yang terbayang dibenak saya membuat saya mampir ke kios juice tidak tanggung-tanggung saya membeli 2 macam variasi juice untuk saya konsumsi pribadi. Setelah turun angkot di Cileunyi. Saya menunggu 5menit, belum ada juga kehadiran primajasa jurusan lebak bulus. 5 menit kemudian 1 bus lewat namun penuh. Saya kembali menunggu. 11 menit menunggu kembali ada 1 bus datang namun sama penuhnya  dengan yang tadi. tanpa sadar karena terik matahari yang begitu menyengat saya sudah melahap 1 juice dan siap melahap juice terakhir. 7 menit berikutnya bus kembali datang namun lebih penuh dari sebelum-sebelumnya. Ada apa sih? Kenapa busnya begitu penuh dan jarang datang? Biasanya dalam waktu 5 menit sekali akan ada bus jurusan lebak bulus yang singgah di Cileunyi. Saya sebenarnya sedikit panik mengingat saya ada jadwal kencan dengan ‘miss cantik’ jam 3 sore itu. saya takutnya pas saya datang si ‘miss cantik’ sudah pulang karena jatah pertemuan saya hari ini dengannya merupakan jatah lembur baginya.
            Ketika saya menunggu sambil duduk di halte. Datang seorang gadis yang wajahnya nampak familiar bagi saya. Entah karena dari tadi dia seliweran di depan saya atau memang pernah kenal sebelumya. Gadis itu memakai baju hitam celana dan hitam dengan ransel, khas anak kuliahan yang mau pulang ke rumah. Gadis itu duduk di samping saya. Dia sempat menawar harga tahu Sumedang yang dijual oleh seorang aa’ penjual yang memang sedang berteduh di halte, di samping gadis itu.
            “A’, harga tahunya berapa?”
            “2 ribu aja neng?” ujar si aa penjual.
            “Masih hangat gak a’?”
            “Wah, neng udah enggak, neng,” ujar si aa penjual lagi.
Hening. Dia melirik saya sekilas kemudia tersenyum. Saya tersenyum kembali. Ada suasana cangguh yang mulai cair. Kemudian gadis itu kembali mengamati tahu Sumedang itu.
            “A, beli satu deh,” ujar gadis itu, dia mengeluarkan selembar uang 2 ribu. Transaksi jual beli itu berlangsung singkat dan saya hanya mengamati kejadian itu.
            Gadis itu kembali tersenyum padaku. “Mau?” tawarnya pada saya.
Saya hanya tersenyum menggeleng. Kemudian dia mengunyah ringan tahu Sumedang yang dia beli. Kami sama-sama terdiam dalam benak masing-masing. Hingga kemudian dia menanyakan saya mau pulang ke arah mana.
            “Lebak bulus,”
            “Wah, sama dong aku juga di lebak bulus. Kok dari tadi penuh terus ya? Apa kita ke pull aja? Kalau di sini pasti penuh terus,” ucap gadis itu mencairkan pertahanan saya. Saya biasanya enggan mengobrol dengan orang yang tidak dikenal, namun kata-kata ‘kita’ yang diucapkan membuat saya merasa nyaman dan seolah sudah mengenalnya sangat lama.
            “Mmm, boleh aja. Kamu mau?” tanya saya masih sedikit ragu.
            “Boleh-boleh. Tunggu aku abisin tahunya dulu ya. Eh, rumah kamu di daerah mananya?”
Saya sempat bingung, biasanya kalau orang Jakarta menanyakan rumah saya, pasti mereka tidak mengetahui diman rumahs aya berada. “Dekat Ciputat, tau?” tanya saya. Alternatif nama daerah Ciputat selalu menjadi andalan saya jika ditanya dimana letak rumah saya.
“Oh, tau kok. Deket dong. aku di gaplek. Yuk, kita ke pull sekarang,” ajaknya. Kami kemudian menyebrang. Menuju angkot hijau yang menuju ke arah pull.
“Oh, di gaplek, rumah aku tepatnya di Pamulang. Kamu tau?” tanya saya lagi.
“Pamulang? Tau lah. SMA –nya dimana?”
“Moonzher, tau?”
“Owh, tau-tau. temen aku ada banyak di sana. Ilham tau, temennya Denis?” tanya nya antusias.
Say terdiam, sebenarnya saya tau wajah 2 orang yang disebut gadis itu, tapi saya rasa 2 orang itu tidak permah mengenal saya, karena saya an 2 orang itu tidak pernah bertegur sapa.
            “Iya,aku tau,” jawabku akhirnya. “Kamu SMA-nya dimana emang?”
            “Di Nipam,” jawabnya singkat.
            “Nipam? Ih, kenal Maula dong? Rai? Suraih?” kini gantian saya yang begitu antusias.
            “Aduh, gak tau. aku masa udah banyak lupa sama temen SMA. Parah ya, masa waktu itu ada yang nyapa aku “Okta!” terus gue bingung lupa sama dia. Hahaha, parah ya,” ujarnya nampak seolah-olah saya itu teman dekatnya. Sekilas saya merasa iri padanya. Dia bisa jujur pada orang lain tentang dirinya sementara saya tidak bisa. “Eh, iya nama kamu siapa? Aku Okta,”
            “Hani, eh, kamu dari fakultas apa?”
            “FISIP, kamu?”
            “FTIP,”
            “Eh, sori itu tuh fakultas apa?” tanyanya polos.
            “Teknik pertanian itu gitu deh,”
            “Oh, tau-tau. Eh, temen aku ada yang di sana kalau gak salah, tapi yang pangannya. Eh, kamu angkatan berapa gitu?”
            “Aku juga pangannya kok. Angkatan 2009. Kamu angkatan berapa?”
            “2008. Eh temen aku itu kalau gak salah 2009. Eh tapi 2010 deh, dia gak kuliah setahun dulu. Dinoy. Dipanggilnya kalau gak salah,” pantas saja tadi saya tanyain nama teman-teman saya yang di nipam dia tak kenal, beda angkatan dengan saya ternyata.
            “Waduh, gak tau ah gue. Eh, FISIP jurusan apa lo?” tanya saya keceplosan ngomong gue-lo.
            “Kebudayaan dan Antropologi,”
            “Hah? Serius? Kenal Devan sama Bacil dong?”
            “Kenal-kenal. Lo kenal mereka juga?”
            “Temen KKN gue, hahahaha,” ucap saya yang sudah tak menggunakan kata aku-kamu lagi, seolah tahap perkenalan saya dengan Okta sudah meningkat menjadi tahap persahabatan.
            Setelah menyebrang kemudian kami memasuki angkot kosong beberapa detik kemudian ada seorang gadis lainnya naik ke dalam angkot kemudian menhempaskan badannya dengan di kursi angkot menimbulkan bunyi  dari plastik hitam yang dibawanya. “Eh,” ucapnya sambil tersenyum. Gadis itu menggunakan baju garis putih hitam horizontal, membawa tas yang dikaitkannya diantara tangan dan ketiaknya. Tangan satunya lagi membawa bungkusan plastik hitam yang tadi menimbulkan bunyi.
            Okta mengajaknya mengobrol, aku tidak tau gadis itu siapa. Nampaknya adik kelasnya Okta. Sampai di pull suananya juga ternyata penuh.
Okta kemudian mengeluh. “Ya, allah ini di pull aja udah sepenuh ini. Jangan sampe gue balik ke rumah lagi,”
”Yah, ngapain gue bawa-bawa ginian kalau begitu? Berat-beratin aja kalau harus naik bus berdiri,” keluh gadis yang saya pikir adik kelasnya Okta itu.
Hampir 1 jam kami bertiga menunggu di pull membicarakan banyak hal seolah-olah kami ini teman lama yang berjumpa kembali. Kami bertiga bahkan merencanakan untuk naik bus jurusan Jakarta (turun di UKI) atau kampung rambutan dan  ngebolang ke Lebak Bulus jika bus jurusan Lebak Bulus masih tetap penuh. Letih kami menanti hampir 2 jam akhirnya memilih untuk pulang, berdiri, agar bisa segera sampai di rumah. Berbagai pose kami  lakoni agar bisa menurunkan tingkat kepegalan kami karena harus berdiri hampir 3 jam di bus. Okta sudah mendapatkan tempat duduk duluan saat ada penumpang yang turun di Bekasi. Sementara saya dan adik kelas Okta baru bisa duduk dengan nyaman di Pasar Rebo dimana sebagaian besar penumpang turun di sana.
 Ternyata gadis itu bukan adik kelasnya Okta, tapi gaya bicaranya Okta yang santai seolah-oleh membuat mereka berdua adalah teman dekat. Gadis itu bernama Salvi, anak Fapet 2010 yang rumahnya di Cileduk, isi plastic hitam yang dibawanya adalah lidi-lidian yang akan dia jual kepada temannya. Lidi-lidian yang dibawanya itu adalah hasil buatan dia dan kelima temannya di kampus. Jadilah kami, 3 orang yang baru saling kenal dari 3 jurusan yang berbeda, karakter yang berbeda dan umur yang berbeda dengan satu tujuan sama : pulang ke arah Lebak Bulus. Kami yang sangat berbeda ini bisa menyatu karena sebuah situasi bernama ‘penantian  bus Lebak Bulus’. Hehehe
Dari perjalanan waktu, 2 hari itu (Rabu-Kamis) seolah mengobati perih dan kecewa saya 2 hari sebelumnya. Banyak hal dan pelajaran yang dapat saya petik selama 2 hari itu, yaitu :
1.      gak selalu orang yang kita anggep temen itu adalah temen terbaik buat kita.
2.      Jangan pernah men-judge seseorang sebelum mengenalnya lebih dekat.
3.    Masih banyak orang yang menghadapi masalah yang lebih berat dari pada kita, jadi jangan terlalu sedih dan kecewa untuk suatu hal yang sebenarnya tak penting.
4.  Belajar mengiklaskan sesuatu itu memang sulit, tapi semua orang akan menghadapi suatu pelajaran yang bernama ‘keiklasan’.
5.  pertemenan itu bukan dinilai dari lama atau sebentarnya bertemenan tapi sebuah kepercayaan yang bisa di jaga oleh kedua belah pihak.
6. Jujur pada sendiri itu merupakan hal penting untuk belajar ilmu ikhlas.
Masih banyak lah, pokoknya pelajaran yang bisa diterima selama dua hari itu. Saya seperti naik tingkat menjadi seorang manusia yang lebih siap menghadapi pelajaran  ‘ilmu ikhlas’. :)
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar