Sori
nih jadi agak sedikit nyampah di blog ini. Secara, seharusnya ini entri bukan
buat curhat. Terlalu banyak yang ingin saya tulis dan akhirnya stuck di jalan. Sebelum semuanya
menjadi stuck saya coba nulis artikel ini aja deh yang sedikit rada curhat. Hehehe
Gak
tau lagi dalam fase apa, entah manic entah depressive atau mungkin peralihan, hari
Selasa hingga Rabu kemarin saya merasa sangat kecewa, kecewa terhadap sesuatu
yang seharusnya gak perlu saya kecewain lagi. Kecewa dengan pertemanan yang
pernah saya jalin dengan seseorang. Hari itu saya nangis, nangisin seseorang teman
yang menurut saya berubah, dia masih di sini, masih bisa saya lihat, masih bisa
saya ajak obrol tapi dia bukan lagi seorang teman yang pernah saya kenal dekat
dulu. Mau dinangisin sampai kapan pun saya juga tau kok, dia gak akan kembali
seperti dulu lagi, capek batin ada juga mikirin dia. Gak mau dipikirin aja
sering kepikiran.
Sepertinya
sifat menyendiri saya kalau sedang ada masalah sudah tidak mempan lagi. Saya benar-benar
kalut saat itu. “Hello, hanya kehilangan 1 orang teman kenapa harus kalut?”
mungkin karena fase peralihan sedang berlangsung atau mungkin juga saya tidak
pernah bisa kehilangan, entah itu barang atau orang. Tiba-tiba aja diajakin
menginap di rumah salah satu teman yang kebetulan adek kelas saya. Dari pada
menyendiri dalam keterpurukan yang tidak jelas saya memilih untuk menginap di
rumahnya. Hanya sedikit waktu yang berlalu di rumahnya tapi banyak cerita dan
banyak pelajaran yang dapat saya ambil. Adik kelas saya bisa boleh dibilang
lebih muda, tapi saya rasa pengetahuannya lebih luas dari pada saya.
Pelajaran pertama yang bisa saya ambil adalah
ketabahannya menghadapi kehilangan orang yang ia sayang, yaitu ayahnya. Kurang dari
2 tahun, ayahnya meninggal dunia, dia menceritakan seolah-olah itu sebuah kisah
ringan yang dengan mudah dapat diceritakan kepada orang-orang. Saya liat
ekpresi wajahnya, sedikit menunduk sesekali menggaruk-garuk kelopak matanya
seolah sedang kelilipan, namun ada sedikit embun di ujung kelopaknya. Dari sana
saya tau dia sedang menahan air matanya. Kalau saya mana mungkin menceritakan,
cerita sedih seperti itu secara gamblang kepada orang lain dengan ekspresi
wajah seolah-olah tidak pernah terjadi suatu fase yang menyakitkan hati. Oke-oke,
saya juga suka cerita perasaan sedih saya kok, tapi ya gak ke semua orang paling
dunia maya (lebih parah ya sebenarnya?) yang pasti saya gak berani menceritakan
masalah pribadi saya yang menguras air mata ke orang lain secara langsung. Paling
hanya lewat sms, pokoknya yang gak ketemu langsung. Bukan apa-apa saya takut
air mata saya jatuh di depan orang lain.
Saya
sedikit tersentak sebenarnya dengan sifat adek kelas saya yang masih terlihat
tenang itu. Dia kehilangan panutan seorang ayah, namun masih bisa menceritakan
sepenggal kisah tentang ayahnya dengan senyum sementara saya menangis gak
karuan hanya karena kehilangan sosok seorang teman yang sebenarnya masih dapat
saya jumpai. Hal kedua yang saya pelajari adalah membuat popcorn rasa caramel. Yihaaa, bisa lah ya nanti coba dibuat di
rumah. :) buat adek kelas yang bawel, makasih ya sudah menampung saya malam itu yang
sebenarnya sedang mengalami tahap fase peralihan.
Selepas
saya pulang dari rumahnya, saya berberes kamar asrama dan mencuci baju. Pukul 10.15
WIB saya bergegas pulang ke rumah. Perjalanan 4 jam yang terbayang dibenak saya
membuat saya mampir ke kios juice
tidak tanggung-tanggung saya membeli 2 macam variasi juice untuk saya konsumsi pribadi. Setelah turun angkot di Cileunyi.
Saya menunggu 5menit, belum ada juga kehadiran primajasa jurusan lebak bulus. 5
menit kemudian 1 bus lewat namun penuh. Saya kembali menunggu. 11 menit
menunggu kembali ada 1 bus datang namun sama penuhnya dengan yang tadi. tanpa sadar karena terik
matahari yang begitu menyengat saya sudah melahap 1 juice dan siap melahap juice terakhir. 7 menit berikutnya bus
kembali datang namun lebih penuh dari sebelum-sebelumnya. Ada apa sih? Kenapa busnya
begitu penuh dan jarang datang? Biasanya dalam waktu 5 menit sekali akan ada
bus jurusan lebak bulus yang singgah di Cileunyi. Saya sebenarnya sedikit panik
mengingat saya ada jadwal kencan dengan ‘miss cantik’ jam 3 sore itu. saya
takutnya pas saya datang si ‘miss cantik’ sudah pulang karena jatah pertemuan
saya hari ini dengannya merupakan jatah lembur baginya.
Ketika saya menunggu sambil duduk di
halte. Datang seorang gadis yang wajahnya nampak familiar bagi saya. Entah karena
dari tadi dia seliweran di depan saya atau memang pernah kenal sebelumya. Gadis
itu memakai baju hitam celana dan hitam dengan ransel, khas anak kuliahan yang
mau pulang ke rumah. Gadis itu duduk di samping saya. Dia sempat menawar harga
tahu Sumedang yang dijual oleh seorang aa’ penjual yang memang sedang berteduh
di halte, di samping gadis itu.
“A’, harga tahunya berapa?”
“2 ribu aja neng?” ujar si aa
penjual.
“Masih hangat gak a’?”
“Wah, neng udah enggak, neng,” ujar
si aa penjual lagi.
Hening.
Dia melirik saya sekilas kemudia tersenyum. Saya tersenyum kembali. Ada suasana
cangguh yang mulai cair. Kemudian gadis itu kembali mengamati tahu Sumedang
itu.
“A, beli satu deh,” ujar gadis itu, dia
mengeluarkan selembar uang 2 ribu. Transaksi jual beli itu berlangsung singkat
dan saya hanya mengamati kejadian itu.
Gadis itu kembali tersenyum padaku. “Mau?”
tawarnya pada saya.
Saya
hanya tersenyum menggeleng. Kemudian dia mengunyah ringan tahu Sumedang yang
dia beli. Kami sama-sama terdiam dalam benak masing-masing. Hingga kemudian dia
menanyakan saya mau pulang ke arah mana.
“Lebak bulus,”
“Wah, sama dong aku juga di lebak
bulus. Kok dari tadi penuh terus ya? Apa kita ke pull aja? Kalau di sini pasti
penuh terus,” ucap gadis itu mencairkan pertahanan saya. Saya biasanya enggan
mengobrol dengan orang yang tidak dikenal, namun kata-kata ‘kita’ yang
diucapkan membuat saya merasa nyaman dan seolah sudah mengenalnya sangat lama.
“Mmm, boleh aja. Kamu mau?” tanya
saya masih sedikit ragu.
“Boleh-boleh. Tunggu aku abisin
tahunya dulu ya. Eh, rumah kamu di daerah mananya?”
Saya
sempat bingung, biasanya kalau orang Jakarta menanyakan rumah saya, pasti
mereka tidak mengetahui diman rumahs aya berada. “Dekat Ciputat, tau?” tanya
saya. Alternatif nama daerah Ciputat selalu menjadi andalan saya jika ditanya
dimana letak rumah saya.
“Oh,
tau kok. Deket dong. aku di gaplek. Yuk, kita ke pull sekarang,” ajaknya. Kami kemudian
menyebrang. Menuju angkot hijau yang menuju ke arah pull.
“Oh,
di gaplek, rumah aku tepatnya di Pamulang. Kamu tau?” tanya saya lagi.
“Pamulang?
Tau lah. SMA –nya dimana?”
“Moonzher,
tau?”
“Owh,
tau-tau. temen aku ada banyak di sana. Ilham tau, temennya Denis?” tanya nya
antusias.
Say
terdiam, sebenarnya saya tau wajah 2 orang yang disebut gadis itu, tapi saya
rasa 2 orang itu tidak permah mengenal saya, karena saya an 2 orang itu tidak
pernah bertegur sapa.
“Iya,aku tau,” jawabku akhirnya. “Kamu
SMA-nya dimana emang?”
“Di Nipam,” jawabnya singkat.
“Nipam? Ih, kenal Maula dong? Rai?
Suraih?” kini gantian saya yang begitu antusias.
“Aduh, gak tau. aku masa udah banyak
lupa sama temen SMA. Parah ya, masa waktu itu ada yang nyapa aku “Okta!” terus
gue bingung lupa sama dia. Hahaha, parah ya,” ujarnya nampak seolah-olah saya
itu teman dekatnya. Sekilas saya merasa iri padanya. Dia bisa jujur pada orang
lain tentang dirinya sementara saya tidak bisa. “Eh, iya nama kamu siapa? Aku Okta,”
“Hani, eh, kamu dari fakultas apa?”
“FISIP, kamu?”
“FTIP,”
“Eh, sori itu tuh fakultas apa?” tanyanya
polos.
“Teknik pertanian itu gitu deh,”
“Oh, tau-tau. Eh, temen aku ada yang
di sana kalau gak salah, tapi yang pangannya. Eh, kamu angkatan berapa gitu?”
“Aku juga pangannya kok. Angkatan 2009.
Kamu angkatan berapa?”
“2008. Eh temen aku itu kalau gak
salah 2009. Eh tapi 2010 deh, dia gak kuliah setahun dulu. Dinoy. Dipanggilnya
kalau gak salah,” pantas saja tadi saya tanyain nama teman-teman saya yang di
nipam dia tak kenal, beda angkatan dengan saya ternyata.
“Waduh, gak tau ah gue. Eh, FISIP
jurusan apa lo?” tanya saya keceplosan ngomong gue-lo.
“Kebudayaan dan Antropologi,”
“Hah? Serius? Kenal Devan sama Bacil
dong?”
“Kenal-kenal. Lo kenal mereka juga?”
“Temen KKN gue, hahahaha,” ucap saya
yang sudah tak menggunakan kata aku-kamu lagi, seolah tahap perkenalan saya
dengan Okta sudah meningkat menjadi tahap persahabatan.
Setelah menyebrang kemudian kami
memasuki angkot kosong beberapa detik kemudian ada seorang gadis lainnya naik
ke dalam angkot kemudian menhempaskan badannya dengan di kursi angkot
menimbulkan bunyi dari plastik hitam
yang dibawanya. “Eh,” ucapnya sambil tersenyum. Gadis itu menggunakan baju garis
putih hitam horizontal, membawa tas yang dikaitkannya diantara tangan dan
ketiaknya. Tangan satunya lagi membawa bungkusan plastik hitam yang tadi
menimbulkan bunyi.
Okta mengajaknya mengobrol, aku
tidak tau gadis itu siapa. Nampaknya adik kelasnya Okta. Sampai di pull
suananya juga ternyata penuh.
Okta
kemudian mengeluh. “Ya, allah ini di pull aja udah sepenuh ini. Jangan sampe
gue balik ke rumah lagi,”
”Yah,
ngapain gue bawa-bawa ginian kalau begitu? Berat-beratin aja kalau harus naik
bus berdiri,” keluh gadis yang saya pikir adik kelasnya Okta itu.
Hampir
1 jam kami bertiga menunggu di pull membicarakan banyak hal seolah-olah kami
ini teman lama yang berjumpa kembali. Kami bertiga bahkan merencanakan untuk
naik bus jurusan Jakarta (turun di UKI) atau kampung rambutan dan ngebolang ke Lebak Bulus jika bus jurusan
Lebak Bulus masih tetap penuh. Letih kami menanti hampir 2 jam akhirnya memilih
untuk pulang, berdiri, agar bisa segera sampai di rumah. Berbagai pose
kami lakoni agar bisa menurunkan tingkat
kepegalan kami karena harus berdiri hampir 3 jam di bus. Okta sudah mendapatkan
tempat duduk duluan saat ada penumpang yang turun di Bekasi. Sementara saya dan
adik kelas Okta baru bisa duduk dengan nyaman di Pasar Rebo dimana sebagaian
besar penumpang turun di sana.
Ternyata gadis itu bukan adik kelasnya Okta,
tapi gaya bicaranya Okta yang santai seolah-oleh membuat mereka berdua adalah
teman dekat. Gadis itu bernama Salvi, anak Fapet 2010 yang rumahnya di Cileduk,
isi plastic hitam yang dibawanya adalah lidi-lidian yang akan dia jual kepada
temannya. Lidi-lidian yang dibawanya itu adalah hasil buatan dia dan kelima
temannya di kampus. Jadilah kami, 3
orang yang baru saling kenal dari 3 jurusan yang berbeda, karakter yang berbeda
dan umur yang berbeda dengan satu tujuan sama : pulang ke arah Lebak Bulus. Kami
yang sangat berbeda ini bisa menyatu karena sebuah situasi bernama ‘penantian bus Lebak Bulus’. Hehehe
Dari
perjalanan waktu, 2 hari itu (Rabu-Kamis) seolah mengobati perih dan kecewa
saya 2 hari sebelumnya. Banyak hal dan pelajaran yang dapat saya petik selama 2
hari itu, yaitu :
1. gak
selalu orang yang kita anggep temen itu adalah temen terbaik buat kita.
2. Jangan
pernah men-judge seseorang sebelum
mengenalnya lebih dekat.
3. Masih
banyak orang yang menghadapi masalah yang lebih berat dari pada kita, jadi
jangan terlalu sedih dan kecewa untuk suatu hal yang sebenarnya tak penting.
4. Belajar
mengiklaskan sesuatu itu memang sulit, tapi semua orang akan menghadapi suatu
pelajaran yang bernama ‘keiklasan’.
5. pertemenan
itu bukan dinilai dari lama atau sebentarnya bertemenan tapi sebuah kepercayaan
yang bisa di jaga oleh kedua belah pihak.
6. Jujur pada sendiri itu merupakan hal penting untuk belajar ilmu ikhlas.
6. Jujur pada sendiri itu merupakan hal penting untuk belajar ilmu ikhlas.
Masih
banyak lah, pokoknya pelajaran yang bisa diterima selama dua hari itu. Saya seperti
naik tingkat menjadi seorang manusia yang lebih siap menghadapi pelajaran ‘ilmu ikhlas’. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar