Truth or Dare
Rafa menggulung-gulung asal mie ayam miliknya dengan sumpit. Pandangannya lurus ke arah seseorang di depannya, seolah sedang menghipnotis Rafa.
“truth or dare?” tanya Rafa polos.
“Iya,” ucap gadis di depannya itu, sambil tertawa.
Rafa kembali terpesona dengan tawa renyah gadis itu dan yang Rafa lakukan hanya mengangguk.
“Daripada abis makan langsung pulang, gue kan ga akan bisa sering ke sini lagi,” ekspresi gadis itu berubah dari tertawa renyah menjadi sedikit pias.
“Cie, yang udah mau lulus!” puji Rafa tulus.
“Cie, yang baru masuk SMA!” balas gadis itu tak mau kalah.
“Ah, sial! Lo tua sih!” jawab Rafa sewot kalau bahas masalah usia.
“Aish, tua – tua gini lo juga naksir kan sama gue?” pancing gadis itu.
“Cih, pede banget lo, neng!” ucap Rafa sambil memeletkan lidahnya pada gadis di depannya.
“Emang! Kenapa? tambah cinta ya? Udah ah, kapan mulai main truth or dare-nya,nih?” ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah mulai aja, pake pulpen aja nih buat pemutarnya?”
“Ya udah, mana pulpen lo?”
“Dih, ga modal! Kok, tumben lo ngajakin gue main kayak gini?” tanya Rafa curiga.
Selama ini mana pernah Rafa main truth or dare dengan gadis di depannya itu. Setiap bertemu pasti selalu bersitegang, beradu mulut, belum lagi kalau di sekolah gadis itu selalu sombong pada Rafa. Setiap berpas – pasan selalu pura – pura tidak liat, pura – pura tidak kenal. Hal itu yang terkadang membuat Rafa pupus harapan.
“Kan, tadi gue bilang biar bisa menghabiskan waktu! Ah, lemot nih! Udah kita mulai aja ya sekarang,” ucap gadi itu sambil memutar pulpen yang tadi diberikan oleh Rafa.
Pulpen itu berputar 360˚ beberapa kali, kemudian berhenti ke arah Rafa.
“Truth or dare nih?” tanya gadis itu tersenyum menyeringai membuat Rafa bingung memilih, takut salah pilih.
“Truth aja deh, neng!” ucap Rafa akhirnya.
“Yakin nih?” tanya gadis itu menggoda. Membuat Rafa bimbang lagi.
“Yakin!” ucap Raka tidak mau dianggap plin-plan.
“Oke. Kenapa lo sombong banget kalau ketemu gue di sekolah? Gak pernah nyapa, pura – pura ga liat. Kalau nyapa juga cuma ‘permisi, kak’ dan gak tau siapa yang sebenernya yang lo sapa. Gue atau temen – temen gue?” tanya gadis itu sambil mengambil potongan ayam dengan sumpitnya, membuat Rafa mati kutu.
“Ya, karena….” Mulut Rafa kelu untuk berbicara dan otaknya seperti tumpul mendengar pertanyaan itu. sepertinya dia salah mengambil keputusan. Dalam hati Rafa berjanji jika kena lagi dia akan memilih dare.
“Karena apa? gak boleh bohong loh!” ucap Maya memeletkan lidahnya dan telunjuk kanananya menarik kantung mata.
“Ya, karena lo sombong! Gue kecewa, pernah nyapa lo tapi lo ga nyapa balik, yaudah gue jadi males nyapa. Nyapa ke temen sebelah lo aja yang jelas – jelas nyapa balik,” ucap Rafa kembali mengaduk – aduk mie tanpa berani menatap ke arah gadis di depannya itu, berharap jawabannya tidak akan membuka rahasianya.
Rafa sudah tak peduli lagi pertanyaan – pertanyaan apa lagi yang akan ditanyakan gadis itu, Rafa tau betul gadis di depannya ini sering tidak puas dengan satu jawaban, dia akan terus memancing dan mengorek – ngorek sebuah jawaban hingga hatinya puas.
“oh, gitu. Maaf ya, kalau begitu. Udah kita lanjut lagi ya mainnya. Sekarang lo yang putar pulpennya,”
Rafa terkejut dengan perkataan gadis di depannya itu, tidak ada pertanyaan memancing, tidak ada nada penasaran. Dari gadis di depannya, hanya sebuah ucapan maaf. Rafa kemudian memutar kembali pulpen di hadapannya. Punpen itu bergerak 360˚ sebanyak tiga kali dan berhenti tepat ke arah Rafa.
“Hahahaha, bego! Lo kena lagi! Truth or dare, nih?” tanya gadis di depannya sambil terbaha – bahak.
“Dare!” jawab Rafa dengan pasti.
“Dare?” ucap gadis itu bertanya dengan kontak mata, “Kalau gitu coba lo ungkapin perasaan lo sama orang yang paling lo sayang, sekarang!” tantang gadis itu.
Lagi-lagi Rafa sepertinya salah memilih. Rafa terdiam, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Mengungkapkan pada gadis di depannya, atau mencari – cari sosok lain yang ia sayang. Stuck, gadis itu benar – benar membuat Rafa kerdil. Mau dare atau truth yang Rafa pilih tetap harus membuka sesuatu yang telah lama ia sembunyikan, ia kepung tanpa celah dipikiran dan hatinya.
“Hei, kok, diem sih? Gak punya orang yang disayang? Yaampun , lo batu? atau alien?” tanya gadis itu menyadarkan Rafa.
Sesuatu yang Rafa sembunyikan kini satu – satu mulai bercelah, sebisa mungkin ia merekatkan celah yang mulai membesar. Cukup sulit. “Oke, tunggu gue telepon dulu,” ceplos Rafa menemukan pencerahan. Kemudian merekatkan kembali celah yang mulai membesar itu. Ketenangan mulai menjalar pelan pada Rafa, saat nomor yang ia tuju bersuara. Suara orang yang paling ia sayangi yang kadang suka terlupakan. Suara yang bagaikan dewi penyelamat bagi introgerasi panjang dari gadis di depannya-suara mamanya.
***
Maya menatap bocah itu, tajam. Menunggu kepastian atas permainan truth or dare yang telah dia pikirkan kemarin. Sikap bocah itu tampak tidak tenang dengan semua pertanyaan dan tantangan yang telah Maya ajukan tetapi ucapan yang datar ketika menjawab dari bocah itu, membuat sensasi aneh pada Maya. ‘Hari ini harus selesai. Apapun yang terjadi!’ pikir Maya. Maya sudah kepalang tanggung menyukai bocah ingusan di depannya ini. Beda dua tahun bukan hal yang mudah, tapi berpura – pura tidak melihat keunikan dari bocah ini lebih sulit bagi Maya.
“Berarti sekarang gue lagi ya, yang putar?” ucap bocah itu memutar pulpen tanpa menunggu jawaban dari Maya.
Pulpen itu kembali berputar, kali ini hanya 470˚. Berhenti tepat ke arah Maya.
“Truth or dare?” tembak bocah itu, membuat Maya menghentikan aktifitas makannya seketika. Maya berpikir cukup lama. Maya memang sudah lama ingin memainkan permainan ini dengan bocah itu untuk mengetahui perasaan yang bocah itu punya terhadap Maya. Tapi Maya tidak pernah berpikir apa yang harus dia lakukan jika pulpen itu menunjuk ke arahnya.
“Truth,” jawab Maya akhirnya cari aman.
Bocah itu tersenyum, kemudian terdiam cukup lama seolah memikirkan sebuah pertanyaan yang akan sangat sulit untuk Maya jawab. Hal ini tentu membuat Maya, kalut setengah mati.
“Oh!” ucap bocah itu seolah mendapatkan sebuah ilham. “Setelah lo kenal gue, menurut lo gue orangnya kayak gimana sih?” tanya bocah itu sambil mengarahkan sumpit yang iya pegang ke arah Maya.
***
Rafa tidak tau apa yang baru saja dia lalukan. Pertanyaan itu tentu nantinya akan membuat sesuatu yang dia sembunyikan kembali bercelah atau mungkin akan terbongkar saat ini juga, Tapi sungguh dari lubuk hati Rafa yang terdalam sangat ingin mengajukan pertanyaan tersebut. Pikiran dan hati Rafa seolah tidak sejalan, saling bertentangan, tapi saat Rafa melihat ekpresi dan sorot mata gadis di depannya, dia tau hatinya yang benar.
“Hmm, dari sisi apa?” tanya gadis di depannya tidak paham.
“Dari sisi dan pikiran yang lo punya ke gue selama ini, semuanya tanpa ada pengecualian ya, neng!” ucap Rafa seketika. Rafa seolah kehilangan kendali. Mengapa sekarang Rafa menjadi pandai merangkain kata – kata yang cukup memancing? Ini seperti bukan diri Rafa yang sesungguhnya.
“Aneh, manja, kekanak – kanakan, suka meniru, pinter ngeles,” jawab gadis itu singkat.
Rafa terhenyak seketika, “Kenapa, lo bisa berpikir kayak gitu?” tanya Rafa seolah tidak terima dengan jawaban gadis di depannya. Tidak pernah dia menyangka kalau sifat – sifat buruk seperti itu yang ada di pikiran gadis di depannya itu.
“Ya, karena emang kayak gitu kenyataannya. Lo manja dan kekanak – kanakan karena lo suka curhat tentang hal – hal yang terjadi di sekitar lo, padahal waktu itu gue baru kenal lo dan lo selalu gak mau kalah sama gue. Lo aneh, karena kalau kita berdua doang, kita seolah kayak sahabat karib dari kecil, tapi kalau di depan orang – orang apalagi di depan temen – temen lo, lo seolah gak kenal gue. Lo suka meniru karena lo suka tanpa sadar pake kosakata – kosakata gue, di FB, twitter, blog, bahkan kehidupan sehari – hari lo. Lo pinter ngeles karena semua pertanyaan gue yang kadang memancing, bisa lo tepis dengan segala cara,” ucap gadis di depan Rafa panjang lebar.
***
Maya meyedot jus melon yang sedari tadi belum di minum setelah selesai menjawab pertanyaan bocah ingusan itu, seolah berusaha menenangkan perasaan. Maya tak mengerti kenapa sekarang jadi dia yang diintrogasi, mengapa bocah di depannya ini kini menjadi ahli memancing dan mengapa dia harus menjawab jujur pertanyaan yang memancing itu.
“Oh, gitu. Yaudah puter lagi aja pulpennya, ” jawab bocah itu datar.
Seketika Maya ingin sekali meledak menjerit memarahi bocah di depannya ini. Dari segala kejujuran yang Maya tuangkan hanya mendapat respon ‘oh,gitu’ rasanya sakit banget! Seolah selama ini memang Maya saja yang ke-GR-an. Maya saja yang gak tau diri, menyukai seseorang yang berbeda dua tahun dibawahnya.
Maya memutar pulpen yang dipegangnya, pandangannya lurus ke arah pulpen tak mampu menatap bocah itu, takut tangisnya pecah. Pulpen itu berputar kencang, kali ini berhenti tepat ke arah bocah itu.
“Truth or dare?” tanya Maya, masih tidak berani menatap mata bocah itu, sesuatu yang sering terjadi ketika Maya, tidak ingin sesuatu yang dia sembunyikan diketahui oleh lawan bicaranya.
***
Rafa melihat kejagalan pada gadis di depannya itu sejak ia meminta agar gadis itu memutar kembali pulpen yang kemudian berhenti kembali mengarah kepada padanya. Membuat Rafa bingung kembali, mau truth ataupun dare sepertinya sesuatu yang disembunyikannya akan terbongkar.
“Oke, truth,” jawab Rafa akhirnya.
“Kenapa tanya pertanyaan tadi ke gue? Kenapa lo punya sifat – sifat kayak yang gue sebutkan tadi?” tanya gadis itu meng-scatmatch Rafa seketika.
Kali ini sunggguh Rafa tidak tau harus menjawab dengan apalagi. Menjawab dengan rinci semua pertanyaan dari gadis di depannya itu atau kah sesingkat mungkin yang bisa ia jawab? Jika secara rinci kata – kata seperti apa yang harus ia keluarkan? Jika singkat kata – kata seperti apa pula yang harus ia katakan? Apakah ia harus mencari jawaban lain ntuk sesuatu yang ia sembunyikan atau kah menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang diajukan gadis itu dengan resiko semua yang ia sembunyikan terbongkar? Apakah gadis di depannya yang sedari tadi-setelah menghabiskan jus melon-menunduk itu memiliki sesuatu yang disembunyikan juga? Atau kah hanya Rafa sendiri yang menyembunyikan sesuatu?
“Hey, kok diem? Emang susah banget ya jawab pertanyaan itu? jawabnya harus jujur,ya!” tanya gadis itu mengagetkan Rafa dari pikiran panjangnya tadi.
Rafa memandang ke arah gadis di depannya itu dan pandangan mata gadis itu berputar ke sekeliling di depannya tanpa memandang ke arah Rafa. Sesuatu yang menurut Rafa tidak pernah terjadi, mengingat tingkat laku gadis itu yang selalu memandang tepat ke bola mata Rafa ketika sedang mencari jawaban yang gadis itu cari darinya.
***
“Mungkin karena lo telah mencuri hati gue,” jawab singkat bocah itu.
pandangan Maya yang tadi mengeliling, kini tepat tertuju pada bocah itu, mencari kebenaran jawaban dari bocah di depannya itu.