Senin, 24 Oktober 2011

L'il Thing

ikut project-nya nulis buku 11project11days
tanggal 17 Oktober 2011

Lagu L’il thing Maliq d-essentials masih terngiang–ngiang dipikiranku dan tokoh utama lagu itu ya kamu! Kamu, kamu dan kamu, aku mungkin gila. Masih bisa aku ingat semua tentang kamu. Coba kamu tanya pasti aku mengingatnya.
Aku masih ingat saat pertama kali berkenalan sama kamu. Saat mati lampu total di asrama dan kamu dipaksa temanmu berkenalan dengan ku. Masih aku ingat ekspresi datarmu. Aku kira kamu komisi disiplin ospek jurusan, kemudian pikiranku luluh seketika saat kamu dengan polosnya memasukkan potato chip yang kamu pegang ke dalam mulutmu.
Kamu mau tanya apa lagi tentang kamu yang aku ketahui? Aku pasti ingat. Kamu suka main menang-kalah, tapi kamu gak mau kalah, kamu sering lupa makan nasi dan kelaparan di tengah malam, kamu gak suka nyapa orang paling parah cuma senyum, kamu suka buat cerpen yang tanpa sadar membuat aku jadi suka nulis kayak gini, kamu gak mau dipanggil mbak, teteh, kakak, uni, ayuk atau apapun dengan title lebih tua. Aku juga tahu kamu paling gak suka dipanggil ‘mbak’, “Gue bukan PRT!” katamu kalau aku panggil mbak. Tapi semakin kamu marah begitu, aku semakin senang memanggilmu dengan sebutan ‘mbak’. Entah kenapa rasanya aku tidak berani untuk sekedar memanggil namamu saja. Aneh ya? ‘You may thing I’m crazy when im look at you’, lagu L’il thing-nya Maliq d-essentials terngiang lagi dipikiranku.
            Aku pikir kamu akan menyerah saat aku panggil ‘mbak’ tapi bukan kamu ya namanya, kalau menyerah? Kamu malah manggil aku ‘kangmas’. Awalnya sih aku bingung menanggapi hal ini, tapi entah kenapa aku jadi ngerasa nyaman kamu panggil kangmas gitu. Walau hanya lewat sms dan saat ketemu kamu hanya memanggil namaku seperti orang lain biasanya.
            Bila saja kau tau yang kurasakan pada dirimu, sulit untukku katakan betapa aku suka dirimu. Uh setiap kali ku menatapmu kau memberi arti untukku. Setiap kali ku bersamamu Semua terasa indah bagiku dan ku tau, every l’il thing u do its feel so feels so good. Its doesn’t even have to be understood. Dan semua kata-kata itu sebenarnya ingin sekali kuungkapkan untukmu. Tapi mana mungkin aku berani. Bahkan untuk sekedar mengatakan, ‘bila saja kau tau yang kurasakan pada dirimu, sulitku katakan betapa aku suka dirimu.’
Kebiasaan kamu yang tidak pernah menyapa orang itu yang membuatku merasa hubungan kita ini tidak jelas. Karena saat ketemu kamu suka pura – pura tidak melihatku. Atau aku yang sebenarnya begitu?  I ain’t even can keep my cool. Hubungan kita seolah backstreet, tapi bahkan kita pacaran saja tidak. Itu yang kadang buat aku harus sadar kamu begitu jauh bagiku. Mungkinkah kau wanita untukku?
Mau cerita panjang lebar di sini kamu juga tidak akan tau. Mau sebanyak apapun kamu berusaha berpikir. Seberapa banyak pun kamu memancing perasaanku ke kamu. Aku tidak yakin kamu akan tau. Aku tidak yakin aku bisa menyatakan perasaan ini ke kamu. Kamu bahkan tidak pernah sedikit pun isyaratkan perasaan kamu yang sebenarnya ke aku. Setiap aku merasa aku punya harapan sedetik kemudian kamu mematikannya.
Aku tidak tau akhir cerita ini akan bagaimana. Aku hanya tidak bisa menyatakan perasaan ini ke kamu. Aku hanya takut jika aku mengatakan yang sebenarnya ke kamu semua akan berubah. Kamu akan menjauh. Aku ingin menyatakan peraaan ini saat aku sudah siap untuk meminangmu. Apa aku bisa? Apa kamu siap? Sementara kamu selalu bilang ingin menikah di usia minimal 24-25 tahun. Bagaimana mungkin aku bisa menyatakannya sekarang?
Kamu bahkan rela melepas keinginanku menikah muda hanya demi kamu, yang ingin menikah usia segitu? Kamu tau? Aku yang suka cerita ke teman dekatku kini bahkan tidak berani mencerikan tentang kamu ke mereka. kamu tau? Kamu bagai ilusi terindah yang aku punya. Tingkah laku kamu yang lucu sering membuatku tersenyum – senyum sendiri.
Jika aku menyatakannya sekarang, apa kamu sudah siap? Katakan pada ku, bila ada yang membuat kau ragukan aku. Isyaratkan aku, bila kau memang mau tuk menjadi milikku. Bila kah kau tau kusuka dirimu, isyaratkan aku, usahlah kau ragu. Bila kau tau isyaratkan aku, kusuka dirimu. Isyaratkan aku bila kau memang mau untuk menjadi milikmu. Kamu seorang gadis yang kenyataannya adalah senior aku, yang kenyataannya satu tahun lebih tua dibandingkan aku.
***
“Mbak, mana cerpen yang mbak suruh gue baca? Ini bukan cerpen yang panjang seperti biasanya kan? Males bacanya mbak kalau panjang” tanya kamu ke aku di kantin asrama.
“Ih, bukan ini flash fiction kok. Hanya  650 kata, coba lo baca. Gue butuh komentar nih,” kata ku mencoba menyembunyikan tawaku.
L’il thing? Ceritanya tentang apa nih?” tanya kamu sedikit ragu, membuat jantungku berdetak sedikit lebih kencang.
“Baca, aja sih. Nanti lo juga ngerti,” kataku berusaha senormal dan senetral mungkin. “Gue cabut dulu ya, ada kuliah,” kataku mau invisible secepat mungkin dari kamu. Mana mungkin aku bisa bilang flash fiction yang aku tulis itu tentang kamu. Tentang perasaan kamu yang tidak bisa kamu ungkapin ke aku. Ya, mungkin aku yang ke GR-an, tapi boleh kan kalau begitu?

Minggu, 23 Oktober 2011

Perasaan


Satu kata yang tak pernah terjawab..
Penuh makna tapi tak dimengerti..
Kadang berbaur jadi  satu..
Kadang pecah belah menurut keinginan pemiliknya..
Cinta, suka, benci, dengki, sayang, muak, kesal, rindu..
Perasaan yang berbaur menjadi satu membuat kemelut dibenak sang pemilik..
Perasaan aneh bergejolak dari sendi-sendi jantung, menyilet hembusan nafas..
Perasaan aneh pencampuran semua perasaan kini menghantuiku..
Dan aku terlalu takut untuk mengatakan bahwaku telah berteman dengannya..
Otakku mulai bpikir..
Adakah prasaan netral yang akan selalu abadi di hati?!
Dulu rasanya takkan sanggup untuk melepas seseorang yang pernah dimiliki..
Kini saat dia hadir rasa itu kian netral..
Dan rasaku kian melayang pergi merindukan seseorang yang tak pernah kumiliki bahkan dalam bunga tidurku..
Tapi hati ini seakan telah direbut diam-diam lewat banyolan khasnya.
Jika ini cinta,apakah aku bisa?
Jika ini suka,bisakah aku bersikap normal saat bersamanya?
Jika ini benci,kenapa mataku terus terpaku padanya?
Jika ini dengki,kenapa aku terus  berpikir untuk membalas semua celaannya dengan senyum?
Jika ini sayang, bisakah aku terus menyayanginya hingga ragaku terhempas?
Jika ini muak, kenapa aku terus menunggu celaanya?
Jika ini rindu, mengapa aku sangat enggan untuk bertegur sapa dengannya?
Smua perasaan itu menyatu dalam otakku..
Menyilet-nyilet nadiku,menampar pipiku,mengukir tajam tepat dijantungku, mengerik kasar tulang-tulang yang menegakkan tubuhku, merusak sistem indraku, meracuni syarafku..
Dan saat ini aku msh terpaku di sini entah sampai kapan..








Saat Raih Jatuh Cinta

dibuat saat SAT tingkat 1


“Ya, ampun pokoknya ya Din,dia lucu banget! Rambutnya kayak detectif conan. Aaaaa, pokoknya gue ngefans,” ucap Raih histeris tentang gebetan barunya ke Dina.
“Iya, aja deh gue ya, gue kan gak tau,” kata Dina menjawab kehisterisannya Raih.
“Ah, elo mah gak asik ah. Temen lagi bahagia gini juga. Makanya kan waktu itu gue udah ajakin ikut event-nya majalah Gogirl, lo nya gak mau. Salah siapa? Gue yakin kalau lo liat pasti lo juga naksir Din,” tambah Raih masih histeris. kebetulan Raih ikut jadi panitianya.
“Iya, lagi aja deh gue, hehehehe. Abisnya lo tuh ya, tiap apa juga yang judulnya ‘cowok’ dibilang imutlah, kerenlah,dll deh! Tapi entar lo jadiannya sama orang lain yang gak pernah lo certain ke gue,wuuu,” kata Dina sambil menggeplak kepala Raih pelan.
“Ih, Dina, jahat!  Ya, abis gimana Din, dia lucu banget! Gue naksir sama dia pokoknya! Lagian emang sekarang gue belum punya gebetan,”
“Makanya tunjukin ke gue dan lo harus beneran jadian sama dia, emang namanya siapa sih?”
“Tuh, kan jadi lo yang gak sabaran! Tenang dulu Din, ada yang bikin gue berharap banget sama dia. Namanya Rio dan dia satu universitas sama kita! Ahahahaha. Seneng! Masih paut – pautan lagi ilmunya sama fakultas kita. Anak 2008, Din. Ayo tebak fakultas apa?”
“Gak, tau,” jawab Dina masih gak begitu tertarik.
“Anak, fakultas sebelah Din! jadi kemungkinan buat ngeliat dia di kampus masih ada. Kan gedung kita masih ada yang barengan! Ahahahaha, gue senang, senang,” ucap Raih masih histeris sambil megang – megang pipi.
“Iya, udah semangat ya, Awas yah, kalau enggak jadian!”
***
“Rai, lo ikutan acaranya Gogirl ya?” Tanya Malik teman satu jurusan Raih saat berpas-pasan.
“Iya, kok tau?” iya, ada foto – foto lo dan anak – anak yang jadi panitia di event-nya majalah gogirl itu, di home FB gue. Temen gue kan juga ada yang ikutan,”
“Oh, ya siapa? Siapa tau gue kenal,”
“Rio,”
“Hah, Rio fakultas sebelah? Kenal dari mana lo?” Tanya Raih menahan segala kehisterisannya di depan Malik.
“Iya, anak 2008. Dia kakak kelas gue waktu SMA terus kost-kostan gue sama dia emang deket. Lo kenal Raih? Cie, kok mukanya jadi merah – merah gitu?”
“Ih, siapa yang muka merah? Iya, gue kenal lah!” ucap Raih berusaha nutupin semuanya. Takut ketauan sama Malik. Bisa berabe!
“Tuh, kan salting. Asik. Bilangin ah ke Rio lo naksir sama dia. Asik. Asik! Tar gue salamin, oke! Dadah, Raih,” ucap Malik langsung ngeluyur ninggalin Raih yang masih tercengang dan setelah sadar Raih hanya berharap Malik cuma bercanda.
Malam harinya ada acara pembubaran event-nya majalah Gogirl itu atau bisa juga dibilang after party setelah suksesnya acara yang telah berlangsung kemarin. Berarti mau gak mau Raih bakal ketemu sama Rio dan seperti cewek– cewek lainnya kalau naksir cowok pasti inginnya deket – deket cowok itu. Itulah yang dilakukan Raih, membicarakan segala macam hal yang tak penting yang membuat Raih lebih senang karena dia bisa pulang bareng sama Rio, walau pun cuma naik taxi itupun bareng –bareng dengan panitia lain yang searah arah pulangnya, namun membuat kesan yang mendalam di hati Raih.
Segala macam topik telah dibahas oleh Raih dan Rio saat pulang dari teman – teman panitia masih ada dalam taxi sampai tinggal mereka berdua, bertiga tentunya dengan pak supirnya. Tanpa sadar Raih membahas tentang Malik seakan - akan Raih tidak mau kehilangan pembicaraan
“Eh, kak, lo kenal Malik?” tanpa sadar Raih bertanya seperti itu.
“Iya lah deket banget gue. Udah kakak – adek banget deh. Kenapa lo kenal?” tanya Rio.
“Iya, dia temen sejurusan gue malah,”
“Oh!”seru Rio seperti mengingat sesuatu.
“Kenapa gitu?” tanya Raih binggung.
 “Iya – iya berarti emang lo satu fakultas sama dia ya? Gue baru sadar. hahaha,” tawa Rio pecah begitu saja.
“Iya lah kan dia temen sejurusan gue!” Raih menjawab masih dengan polosnyasedikit binggung dengan ekspresi tawa dari Rio.
“Oh, berarti yang titip salam ke Malik buat gue itu, lo dong? Kalian satu angkatan kan berarti?” tanya Rio polos.
“Heh?” tanya Raih mulai ngerti arah pembahasannya ke mana.
“Iya, dia sms gw tadi siang gini ‘Eh,om, lo dapat salam dari anak fakultas gue, yang satu angakatan sama gue, hahahaha. Selamat yak, ihiy, bakal dapat PJ nih, gue.’ berarti lo kan orangnya? Apa ada yang lain?” tanya Rio masih dengan polosnya.
“Iiiiiiiiiiiih, jadi Malik beneran ngasih tau lo, kak? Ah, asal banget sih si Malik!” ucap Raih merah padam dan malu. “Salah paham tuh kak si Malik!” ucap Raih, berusaha menahan malu.
 “Emang yang benernya gimana?”
“Gini nih pertamanya dia nanya gue ikutan event-nya majalah Gogirl terus gue bilang 'iya' terus dia bilang temennya ada yang ikutan. Gue tanya lah, siapa? Terus dia nyebutin nama lo terus dia cerita deh tentang lo. Terus dia tiba – tiba bilang ‘Cie, kok mukanya jadi merah – merah gitu?’ terus dia dengan seenak udelnya bilang gini ‘Tuh, kan salting. Asik. Bilangin ah ke Rio lo naksir sama dia. Asik. Asik! Tar gue salamin, oke! Dadah, Raih,’dan pergi meninggalkan gue gitu aja,” curhat Raih sambil berusaha menurunkan rasa malunya.
“Wahahaha, parah – parah! Emang tu anak otaknya rada sarap. Oh gitu toh? Gue kirain beneran loh! Sayang ya,” kata Rio sambil ketawa cekikikan.
“Kok, jadi ‘sayang ya?’ sih, kak?” tanya Raih bingung.
“Iya, lah sayang! Kan sebenernya gue suka sama lo, walaupun gue gak mau pacaran dulu sekarang,”

Selasa, 11 Oktober 2011

Permintaan



Rasa ini begitu menusuk. Lebih pedih dari rasa sakit yang seharusnya saya rasa. Ini membuat saya merasa takdir yang tuhan buat untuk saya sudah sangat benar. Kamu, sungguh masih kamu yang saya pikirkan di tengah ajal yang siap menerkam saat saya lemah. Rindu ini seperti bagian dari terapi mempercepat kematian.
Mungkin saya yang salah, saya yang jahat, saya yang memulai untuk membohongi dirimu. Saya pula yang memaksamu untuk menjauh dari saya. Tapi apa benar, rasa yang memang baru terpupuk itu telah hilang begitu saja? Bagaimana bisa semudah itu? tolong ajari saya. Ajari saya untuk bisa membebaskanmu dari ilusi dunia maya saya. Tolong ajari saya, semudah apa kamu bisa melupakan saya.
Kamu tahu perasaan saya saat itu? Saat saya sadar telah mengagumimu, saat saya sadar ada perasaan lain memasuki pintu hati ini? Sakit! Kelu! Getir! Saya harus menolak perasaan itu, tapi hati saya seolah tak peduli, ikut menyeretmu dalam kehidupan saya.
Kamu tau perasaan saat kamu menerima perasaan saya? Sakit! Sakit, sangat sakit! Sakit harus menerima kenyataan suatu saat saya harus menyakiti kamu lebih sakit dari rasa sakit yang saya rasakan sekarang? Kenyataannya memang seperti itu kan? Maaf, maaf, saya masih tidak bisa melupakanmu. Maaf, saya membohongimu. Maaf saya tidak bisa jujur tentang diri saya sedari awal. Itu saya lakukan supaya kamu tidak tersakiti meski saya sadar saat ini kamu lebih tersakiti.
Apa kamu tau perasaan rindu yang saya pendam untukmu? Apa kamu tau tidak mendengar suaramu, tidak mendapatkan kabar satu hari saja dari kamu terasa sangat menyakitkan? Lebih sakit dari sakit yang saya punya. Saya selalu menjerit setiap rasa sakit mulai menjalar perlahan dari paru – paru saya. Tapi mengapa saya tidak bisa menjerit saat sakit yang saya rasakan ketika merindumu?
Memang saya yang salah, tapi sungguh semua kebohongan itu saya yang buat, semua yang kamu lihat terakhir kali, semua cerita yang kamu dengar itu semua tidak benar. Semua hanya cerita yang sedang saya buat agar tidak terus - menerus menyakitimu, walau saya tau kenyataannya saya akan melukaimu.  Semoga kamu tahu semua ini saya lakukan demi kamu. Agar kamu bisa memulai belajar hidup tanpa saya. Agar kamu tidak merasa kehilangan saat saya pergi.
Kamu tau? hari – hari saat menerima sebuah kenyataan yang tidak saya inginkan itu sangat menyakitkan. Tapi melewati hari - hari itu, tanpa kamu ternyata lebih menyakitkan.   Sebenarnya saya tidak rela membohongi kamu, saya tidak rela melepas kamu, bahkan sekedar dari ilusi maya saya.
Saya ingin bilang ‘saya sangat mencintaimu’. Saya tahu kata – kata itu nampak klise dan saya tahu sebanyak apapun sekarang saya mengatakannya pada kamu, kamu tak akan peduli. Saya tidak tahu apakah kamu begitu membenci saya, hingga hatimu nampak mengeras seperti batu.
 Sudah berkali – kali saya coba nyatakan kembali rasa cinta saya terhadap kamu, rasa rindu terhadap kamu, lewat voice mail, email bahkan ribuan kalimat itu lewat sms dan sedetik itu kemudian saya mencoba menghapusnya. Menghapus kata– kata yang seharusnya bisa saya sampaikan, hanya karena saya tidak ingin menyakiti perasaanmu lebih dalam lagi. Hanya karena tiga buah kata. Kangker paru – paru.
****
Gadis itu terdiam, memandangi sosok kaku di depanya. Sorot mata menghujat memandanginya ketika ia hadir di sini. Gadis itu seolah tidak peduli, sama seperti biasanya ia berusaha bersikap dan air matanya mengalir perlahan kemudian menderas tanpa ia sadari. Sosok itu seolah membuka kenop pertahan yang selama ini ia tidak ingin buka. Kini perasaan gadis itu pecah, hancur berkeping – keeping. Sosok yang pernah menjadi kekasih hatinya bahkan hingga detik ini, kini membujur kaku.
 Gadis itu masih dapat mengingat saat sosok itu meminta putus darinya. Tanpa penjelasan, tanpa alasan, hanya satu permintaan tulus yang terpaksa gadis itu terima. Sejak hari itu, ego gadis itu lebih tinggi dari perasaan yang ia miliki. Sejak saat itu gadis itu menutup mata tentang sosok itu. Hanya karena gadis itu yakin, hanya karena gadis itu percaya, hanya karena gadis itu mencintai sosok itu dengan tulus. Gadis itu memilih untuk menepati permintaan sosok itu, memusnahkan semua perasaan yang ia miliki terhadap sosok itu atau paling tidak menutup rapat perasaanya tanpa celah sedikit pun. seolah ia tidak memiliki hati. Hanya karena permintaan sosok yang ia cintai itu, permintaan yang selama ini tidak pernah ia ketahui, dan baru saat ini ia ketahui. Permintaan yang ternyata agar gadis itu bisa melepas kepergian sosok itu.
Gadis itu menangis tanpa suara. Menyadari kebodohannya selama ini. Menyadari  betapa egonya lebih tinggi. menyadari permintaan yang sosok itu minta ternyata hanya menyakiti sosok itu. Tapi apa sosok itu pernah tahu bagaimana rasanya melawan perasaan sendiri agar bisa membuat orang yang tersayang bahagia? Sayangnya gadis itu tidak mampu bertanya lagi sekarang, dan yang saya lakukan hanya menangis ketika melihat gadis itu menangis di cermin. Ya, gadis itu adalah aku.


Rabu, 05 Oktober 2011

Bubur Makanan Orang Sakit?



            Apakah benar bubur merupakan makanan orang sakit? Hampir semua orang sakit atau yang sedang dalam tahap pemulihan dari suatu penyakit, makanannya adalah bubur. Cobalah lihat di rumah sakit – rumah sakit terdekat anda atau saat anda sakit, makanan utama yang disajikan sehari-hari adalah bubur atau makanan lembut yang lainnya. Hal ini hampir dilakukan oleh rumah sakit mana pun karena presepsi – presepsi kebanyakan orang, jika memakan makanan yang lembut akan membantu lambung dan usus untuk mencerna makanan. Akan tetapi apakah semua hal yang dilakukan ini adalah benar?
Pada dasarnya makanan yang baik dikonsumsi ketika seorang pasien sakit adalah makan makanan seperti orang normal layaknya. Kenapa demikian? Karena makanan – makan lembek seperti bubur tidak dapat dicerna dengan baik di dalam lambung dan usus. Hal ini terjadi karena tidak banyak enzim – enzim dalam mulut yang tercampur dalam bubur karena stuktur bubur atau makan lain yang lunak membuat makanan tersebut dapat di telan tanpa dikunyah. Tapi apakah, lalu makanan-makanan normal dapat dikonsumsi bagi orang yang sedang sakit? Apabila makanan-makanan normal ini di konsumsi oleh orang yang sakit tanpa proses pengunyahan dengan baik maka yang akan terjadi adalah hal yang serupa dengan mengkonsumsi bubur. Dengan cara apakah makanan dapat dicerna dengan baik oleh seorang pasien?
Kunci utama agar proses pencernaan pada orang sakit dapat berjalan secara normal terletak pada cara mengunyah dan sebanyak berapa kali jumlah kunyahan yang dilakukan sebelum akhirnya masuk ke dalam kerongkongan. Pada orang normal makanan yang dimakan harus dikunyah sebanyak 32 kali. Meskipun terlihat sangat sepele hal ini sangat berpengaruh terhadap pencernaan makanan anda. Kenapa demikian? Karena pada saat anda mengunyah makanan di dalam mulut menggunakan gigi, kelenjar saliva yang banyak mengandung air liur akan terstimulasi dan menghasilkan enzim amylase/ptyalin yang kemudian tercampur dengan makan yang dikunyah tersebut serta mengubah amilum atau zat tepung pada makanan menjadi glukosa. Pengunyahan ini juga membantu proses pencernaan makanan karena enzim amylase/ptyalin bekerja hanya di permukaan partikel makanan, sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi pencernaan. Penghalusan makanan menggunakan enzim ini dalam konsistensi yang baik juga akan mencegah penolakan dari gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan makanan dari lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.
Untuk orang yang sedang sakit jumlah kunyahan perlu ditingkatkan sebanyak kurang lebih menjadi 70 kali. Hal ini bertujuan agar enzim – enzim pencernaan yang ada di mulut yang bercampur dengan makanan semakin banyak sehingga akan berikatan baik dengan cairan lambung dan air empedu yang dapat mempermudah proses pencernaan makanan. Pada dasarnya dinding usus manusia hanya dapat menyerap zat – zat makanan hingga sebesar 15 mikron (0,015mm), sehingga bila lebih besar dari ukuran itu maka zat - zat tersebut akan diekresi. Pembusukan ini lah yang juga akan menyusahkan dinding usus bekerja sehingga untuk membantunya memerlukan emzim di usus dalam jumlah cukup banyak.
Hal ini lah yang menjadi acuan bukan pada factor kelunakan pada makanan untuk mempermudah proses pencernaan makanan pada orang sakit. Hai ini jugalah yang menjelaskan mengapa orang sakit atau sedang dalam masa penyembuahan harus makan – makanan seperti layaknya orang normal karena kebanyak orang yang makan bubur hanya melakukan proses pengunyahan yang sedikit bahkan tidak sedikit orang sakit yang langsung menelan bubur tanpa dikunyah.

Tepi Pantai Malam Hari

on Monday, October 11, 2010 at 10:16pm via facebook


tepi ini kadang bimbang, mudah terhanyut tapi mudah usang...
tepi ini kadang termangu kala yg lain mulai mendarat..
tepi ini kadang kesepian,tapi kala menghanyut ingin menepi kembali..
tepi ini kadang merindukan bintang yg jauh dari pandangan,,
tepi ini kadang merasa bersalah menolak cinta sang bintang kala sedang mendekati bumi..
tapi sungguh tepi tak sanggup melihat bulan menangis..
tapi sungguh tepi kehilangan bintang sepenuhnya..
tapi sungguh tepi bimbang terhanyut dan mudah usang saat ini..
tapi sungguh tepi  membutuhkan bintang saat ini..
hari ini..
detik ini..
malam ini..
di sini..
walau hanya ilusi maya..
ingin tepi mengatakan rindu yang sama dengan bulan pada bintang yang padam..



*puisi satu - satunya yang di commnet sma pak djoko loekito nih.. :) di bilang bagus,, 
gak tau deh harus seneng atau gimana,,
soalnya ini puisi dibuat pas lagi ngerasa kehilangan temen udah pergi..*

Saat Lisan Tak Terucap


 Tuesday, January 11, 2011 Via facebook


Banyak banget pepatan atau orang bilang kalau ‘mulutmu harimaumu’..
Atau dengan kata lain kita harus bisa jaga omongan supaya g naykitin perasaan orang lain..
Tapi tau gak sih?
Ada satu hal yang lebih parah dari pada sebuah ucapan menurut saya..
Yaitu saat anda tidak melakukan percakapan apapun atau saat anda diam..
Saat anda ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya ingin anda ungkapkan tapi tak dapat terucap..
Dimana rasa keegoisan, sayang, keangkuhan dan ketakutan menyerang,,
Misalnya nih ya,saat anda akan prgi atau meninggalin orang yang anda sayang, dimana anda akan susah untuk bertemu orang yang anda sayang itu, atau bahkan tidak akan bisa balik lagi..
Intinya gak akan pernah bisa bertemu dengan orang yang anda sayang lagi..
Mungkin anda akan memilih untuk pergi tanpa memberi  tau orang yang anda sayang itu karena tidak ingin menyakiti perasaan orang yang anda sayang tersebut..

Tapi apa benar itu akan lebih baik?
apa orang yang anda sayang itu akan lebih bahagia dengan cara seperti itu?
Apa orang yang anda sayang itu tidak akan menganggap anda jahat dan kejam?
Apa orang yang anda sayang itu tidak akan membenci anda kalau anda melakukan hal itu?

Atau saat anda kesal dengan temen anda, dan anda memilih mendiamkan teman anda tersebut bahkan menjahuinya tanpa memberitahu sebabnya..
Apa teman anda itu sadar sebenarnya?
Apa teman anda itu gak akan sedih karena anda menjahuinya?

Apa teman anda tidak akan tersakiti?

 Atau saat anda tidak bisa menyatakan cinta atau perasaan sayang pada orang yang anda cintai dan anda sayangi..
Apa orang tersebut akan tau?
Apa orang tersebut akan mengerti jalan pikiran anda?
Mungkin saja kan orang tersebut juga memiliki perasaan yang sama dengan anda..
Dan bukan kah itu suatu hal yang sama menyakitkan nya juga?
Dan masih banyak lagi contoh contoh lainnya..

Saat itulah anda terbawa perasaan dan terhanyut dengan rasa egois, ketakutan, keangkuhan dan sedikit rasa sayang..
Takut kehilangan, takut melepas, takut gagal, egois dan angkuh hanya demi menyatakan sejujurnya dan takut menyakiti orang yang anda sayang..
Dimana sebenarnya ini lebih menyakitkan bagi anda dan orang yang anda sayang dibanding ketika anda jujur kepada orang yang anda sayang,,
Karena anda tidak berani berucap, karena keegoisan anda menyuruh anda menutup mulut,,
Mengunci rapat perasaan sakit yang mungkin anda derita sebenarnya..

Kalau saya adalah orang yang anda sayangi itu mungkin saya akan merasakan kecewa luar dalam..
Lebih baik saya mengetahui hal yang sesujurnya daripada anda hanya diam dan membiarkan saya dalam pikiran – pikiran buruk tentang anda..
berpikir seberapa jahatnya anda..seberapa anda membenci saya dan seberapa tak berharganya saya karena anda tak berbicara, karena anda memdiamkan saya,,

Saat – saat diam itu lah yang lebih menyakitkan menurut saya dibandingkan ucapan – ucapan kasar yang diucapkan orang  lain kepada saya..
Karena ucapan – ucapan itu mungkin akan sakit tapi akan menghilang seiring berjalannya waktu,,
Tapi sungguh saat kata – kata yang seharusnya terucap tapi malah tak terucap itu lebih sakit dibandiangkan dengan ucapan – ucapan yang menyakitkan…

Karena itu saya rasa tidak ada salahnya untuk mengungkapakan perasaan hati anda kepada orang yang anda sayang dibandingkan anda hanya diam dan membiarkan orang yang anda sayang itu larut dalam pikirannya sendiri..

Gizi Terapan

Oleh Hanifati Laili Mazaya
Mahasiswa UNPAD jurusan Teknoligi Pangan
Alamat: Pamulang
Cara Memeperlambat Penuaan
Pada dasarnya semua manusia akan mengalami penuaan. Pernah kah terpikir mengapa hal ini terjadi? Apakah memang penuaan akan terjadi dengan sendirinya tanpa sebab yang jelas? Tentu saja hal itu tidak benar. Penuaan pada manusia di pengaruhi oleh HGH (Human Growth Hormone). HGH adalah suatu hormon yang yang diproduksi oleh tubuh manusia pada Kelenjar Pituitari yang terletak di dasar otak. Hormon ini memegang peranan penting untuk proses pertumbuhan, terutama pertambahan tinggi bagi anak-anak. Pada usia dewasa, HGH akan memberikan energi, kekuatan, daya tahan tubuh, menambah massa otot, mengurangi deposit lemak dalam tubuh dan memperkuat tulang serta persendian karena HGH memiliki peranan penting untuk mematabolisme Protein, lemak dan karbohidrat.
 Secara normal kadar HGH dalam tubuh akan meningkat pada usia pubertas dan mengalami puncaknya pada usia 20 tahun hingga 28 tahun  kemudian akan menurun secara perlahan saat usia 30 tahun sekitar 24% setiap dasawarsa dengan semakin bertambahnya usia. Ini lah yang menyebabkan penuaan yaitu, penurunan HGH menyebabkan Keriput, rambut mulai memutih, kurang bertenaga, menurunnya fungsi seksual, penumpukan lemak dalam tubuh, penyakit kardiovaskular, osteoporosis dan banyak hal lainnya.  HGH pada dasarnya dapat dirangsang pertumbuhannya oleh empat asam amino utama yaitu, L-Arginine, L-Omithine, L-Glutamine dan L-Lysine. Kita secara alami bisa mendapatkan ke empat macam asam amino tersebut dari makan yang mengandung gizi yang tepat.
HGH Juga dapat diperoleh dengan cara menyuntikkan HGH kedalam tubuh melalui darah akan tetapi harganya mahal dan harus dilakukan secara berkesinambungan, hormon yang disuntikkan ini juga mengakibatkan malasnya pabrik HGH (kelenjar Pituitari) di dalam otak manusia untuk megeluarkanHGH alaminya. Cara lainnya yang lebih murah dapat dilakukan dengan menggunakan bionutrik/bio spray yang disemprotkan dibawah lidah atau mengkonsumsi  bioyoung (berupa suplemen tablet) yang bekerja dengan cara merangsang  IGF I. IGF I adalah Insulin-like Growth Factor I, merupakan suatu zat yang berfungsi sebagai mediasi kerja HGH, konsentrasinya dalam tubuh mencerminkan kadar konsentrasi HGH yang beredar dalam sirkulasi. Sayangnya, hal ini kurang efisien karena pada dasarnya HGH adalah suatu molekul peptida yang akan hancur oleh asam lambung maka pemberian suplementasi HGH melalui oral ini kurang efektif dan memerlukan waktu lama.
            Pemberian HGH juga ternyata memiliki efek samping diantaranya sakit kepala (karena tekanan intra kranial yang meningkat), nyeri pada pergelangan tangan (Carpal Tunnel Syndrome), cairan yang tertahan dalam tubuh dan menyebabkan hipertensi dan terkadang juga efek samping yang cukup serius diantaranya Diabetes dan resiko keganasan (terutama pada beberapa orang yang memiliki keturunan secara genetik).
 Menurut Dosen Gizi Terapan di Jurusan Teknologi Industri Pangan, Universitas Padjadjaran, Mahani SP.,M.Si,  cara terbaik untuk memeperlambat penuaan tanpa efeksamping yang nyata serta tanpa memerlukan biaya mahal adalah mengkonsumsi makan-makanan yang dapat merangsang HGH. Makanan-makanan yang dapat merangsang HGH adalah makan yang mengandung empat asama amino penting berupa L-Arginine, L-Omithine, L-Glutamine dan L-Lysine. Contoh makan yang mengandung asam amino tersebut adalah kacang kedelai. Yang perlu diingat kandungan antara keempat asam amino tersebut haruslah seimbang karena jika salah satunya dari ke empat asam amino tersebut berlebih atau kurang maka kandungan maksimal yang dapat disintesis tubuh menjadi HGH adalah kandungan yang paling sedikit secara keseluruhan.

Truth or Dare

Truth or Dare
Rafa menggulung-gulung asal mie ayam miliknya dengan sumpit. Pandangannya lurus ke arah seseorang di depannya, seolah sedang menghipnotis Rafa.
truth or dare?” tanya Rafa polos.
“Iya,” ucap gadis di depannya itu, sambil tertawa.
Rafa kembali terpesona dengan tawa renyah gadis itu dan yang Rafa lakukan hanya mengangguk.
“Daripada abis makan langsung pulang, gue kan ga akan  bisa sering ke sini lagi,” ekspresi gadis itu berubah dari tertawa renyah menjadi sedikit pias.
“Cie, yang udah mau lulus!” puji Rafa tulus.
“Cie, yang baru masuk SMA!” balas gadis itu tak mau kalah.
“Ah, sial! Lo tua sih!” jawab Rafa sewot kalau bahas masalah usia.
“Aish, tua –  tua gini lo juga naksir kan sama gue?” pancing gadis itu.
“Cih, pede banget lo, neng!” ucap Rafa sambil memeletkan lidahnya pada gadis di depannya.
“Emang! Kenapa? tambah cinta ya? Udah ah, kapan mulai main truth or dare-nya,nih?” ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah mulai aja, pake pulpen aja nih buat pemutarnya?”
“Ya udah, mana pulpen lo?”
“Dih, ga modal! Kok, tumben lo ngajakin gue main kayak gini?” tanya Rafa curiga.
Selama ini mana pernah Rafa main truth or dare dengan gadis di depannya itu. Setiap bertemu pasti selalu bersitegang, beradu mulut, belum lagi kalau di sekolah gadis itu selalu sombong pada Rafa. Setiap berpas – pasan selalu pura – pura tidak liat, pura – pura tidak kenal. Hal itu yang terkadang membuat Rafa pupus harapan.
“Kan, tadi gue bilang biar bisa menghabiskan waktu! Ah, lemot nih! Udah kita mulai aja ya sekarang,” ucap gadi itu sambil memutar pulpen yang tadi diberikan oleh Rafa.
Pulpen itu berputar 360˚ beberapa kali, kemudian berhenti ke arah Rafa.
Truth or dare nih?” tanya gadis itu tersenyum menyeringai membuat Rafa bingung memilih, takut salah pilih.
Truth aja deh, neng!” ucap Rafa akhirnya.
“Yakin nih?” tanya gadis itu menggoda. Membuat Rafa bimbang lagi.
“Yakin!” ucap Raka tidak mau dianggap plin-plan.
“Oke. Kenapa lo sombong banget kalau ketemu gue di sekolah? Gak pernah nyapa, pura – pura ga liat. Kalau nyapa juga cuma ‘permisi, kak’ dan gak tau siapa yang sebenernya yang lo sapa. Gue atau temen – temen gue?” tanya gadis itu sambil mengambil potongan ayam dengan sumpitnya, membuat Rafa mati kutu.
“Ya, karena….” Mulut Rafa kelu untuk berbicara dan otaknya seperti tumpul mendengar pertanyaan itu. sepertinya dia salah mengambil keputusan. Dalam hati Rafa berjanji jika kena lagi dia akan memilih dare.
“Karena apa? gak boleh bohong loh!” ucap Maya memeletkan lidahnya dan telunjuk kanananya menarik kantung mata.
“Ya, karena lo sombong! Gue kecewa, pernah nyapa lo tapi lo ga nyapa balik, yaudah gue jadi males nyapa. Nyapa ke temen sebelah lo  aja yang jelas – jelas nyapa balik,” ucap Rafa kembali mengaduk – aduk mie tanpa berani menatap ke arah gadis di depannya itu, berharap jawabannya tidak akan membuka rahasianya.
Rafa sudah tak peduli lagi pertanyaan – pertanyaan apa lagi yang akan ditanyakan gadis itu, Rafa tau betul gadis di depannya ini sering tidak puas dengan satu jawaban, dia akan terus memancing dan mengorek – ngorek sebuah jawaban hingga hatinya puas.
“oh, gitu. Maaf ya, kalau begitu. Udah kita lanjut lagi ya mainnya. Sekarang lo yang putar pulpennya,”
Rafa terkejut dengan perkataan gadis di depannya itu, tidak ada pertanyaan memancing, tidak ada nada penasaran. Dari gadis di depannya, hanya sebuah ucapan maaf.  Rafa kemudian memutar kembali pulpen di hadapannya.  Punpen itu bergerak 360˚ sebanyak tiga kali dan berhenti tepat ke arah Rafa.
“Hahahaha, bego! Lo kena lagi! Truth or dare, nih?” tanya gadis di depannya sambil terbaha – bahak.
      “Dare!” jawab Rafa dengan pasti.
Dare?” ucap gadis itu bertanya dengan kontak mata, “Kalau gitu coba lo ungkapin perasaan lo sama orang yang paling lo sayang, sekarang!” tantang gadis itu.
 Lagi-lagi Rafa sepertinya salah memilih. Rafa terdiam, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Mengungkapkan pada gadis di depannya, atau mencari – cari sosok lain yang ia sayang. Stuck, gadis itu benar – benar membuat Rafa kerdil. Mau dare atau truth yang Rafa pilih tetap harus membuka sesuatu yang telah lama ia sembunyikan, ia kepung tanpa celah dipikiran dan hatinya.
“Hei, kok, diem sih? Gak punya orang yang disayang? Yaampun , lo batu? atau alien?” tanya gadis itu menyadarkan Rafa.
Sesuatu yang Rafa sembunyikan kini satu – satu mulai bercelah, sebisa mungkin ia merekatkan celah yang mulai membesar. Cukup sulit.  “Oke, tunggu gue telepon dulu,” ceplos Rafa menemukan pencerahan. Kemudian merekatkan kembali celah yang mulai membesar itu. Ketenangan mulai menjalar pelan pada Rafa, saat nomor yang ia tuju bersuara. Suara orang yang paling ia sayangi yang kadang suka terlupakan. Suara yang bagaikan dewi penyelamat bagi introgerasi panjang dari gadis di depannya-suara mamanya.
***
Maya menatap bocah itu, tajam. Menunggu kepastian atas permainan truth or dare yang telah dia pikirkan kemarin. Sikap bocah itu tampak tidak tenang dengan semua pertanyaan dan tantangan yang telah Maya ajukan tetapi ucapan yang datar ketika menjawab dari bocah itu, membuat sensasi aneh pada Maya. ‘Hari ini harus selesai. Apapun yang terjadi!’ pikir Maya. Maya sudah kepalang tanggung menyukai bocah ingusan di depannya ini. Beda dua tahun bukan hal yang mudah, tapi berpura – pura tidak melihat keunikan dari bocah ini lebih sulit bagi Maya.
“Berarti sekarang gue lagi ya, yang putar?” ucap bocah itu memutar pulpen tanpa menunggu jawaban dari Maya.
Pulpen itu kembali  berputar, kali ini hanya 470˚. Berhenti tepat ke arah Maya.
Truth or dare?” tembak bocah itu, membuat Maya menghentikan aktifitas makannya seketika. Maya berpikir cukup lama. Maya memang sudah lama ingin memainkan permainan ini dengan bocah itu untuk mengetahui perasaan yang bocah itu punya terhadap Maya. Tapi Maya tidak pernah berpikir apa yang harus dia lakukan jika pulpen itu menunjuk ke arahnya.
Truth,” jawab Maya akhirnya cari aman.
Bocah itu tersenyum, kemudian terdiam cukup lama seolah memikirkan sebuah pertanyaan yang akan sangat sulit untuk Maya jawab. Hal ini tentu membuat Maya, kalut setengah mati.
“Oh!” ucap bocah itu seolah mendapatkan sebuah ilham. “Setelah lo kenal gue, menurut lo gue orangnya kayak gimana sih?” tanya bocah itu sambil mengarahkan sumpit yang iya pegang ke arah Maya.
***
Rafa tidak tau apa yang baru saja dia lalukan. Pertanyaan itu tentu nantinya akan membuat sesuatu yang dia sembunyikan kembali bercelah atau mungkin akan terbongkar saat ini juga, Tapi sungguh dari lubuk hati Rafa yang terdalam sangat ingin mengajukan pertanyaan tersebut. Pikiran dan hati Rafa seolah tidak sejalan, saling bertentangan, tapi saat Rafa melihat ekpresi dan sorot mata gadis di depannya, dia tau hatinya yang benar.
“Hmm, dari sisi apa?” tanya gadis di depannya tidak paham.
“Dari sisi dan pikiran yang lo punya ke gue selama ini, semuanya tanpa ada pengecualian ya, neng!” ucap Rafa seketika. Rafa seolah kehilangan kendali. Mengapa sekarang Rafa menjadi pandai merangkain kata – kata yang cukup memancing? Ini seperti bukan diri Rafa yang sesungguhnya.
“Aneh, manja, kekanak – kanakan, suka meniru, pinter ngeles,” jawab gadis itu singkat.
Rafa terhenyak seketika, “Kenapa, lo bisa berpikir kayak gitu?” tanya Rafa seolah tidak terima dengan jawaban gadis di depannya. Tidak pernah dia menyangka kalau  sifat – sifat buruk seperti itu yang ada di pikiran gadis di depannya itu.
“Ya, karena emang kayak gitu kenyataannya. Lo manja dan kekanak – kanakan karena lo suka curhat tentang hal – hal yang terjadi di sekitar lo, padahal waktu itu gue baru kenal lo dan lo selalu gak mau kalah sama gue. Lo aneh, karena kalau kita berdua doang, kita seolah kayak sahabat karib dari kecil, tapi kalau di depan orang – orang apalagi di depan temen – temen lo, lo seolah gak kenal gue.  Lo suka meniru karena lo suka tanpa sadar pake kosakata – kosakata gue, di FB, twitter, blog, bahkan kehidupan sehari – hari lo. Lo pinter ngeles karena semua pertanyaan gue yang kadang memancing, bisa lo tepis dengan segala cara,” ucap gadis di depan Rafa panjang lebar.
***
Maya meyedot jus melon yang sedari tadi belum di minum setelah selesai menjawab pertanyaan bocah ingusan itu, seolah berusaha menenangkan perasaan. Maya tak mengerti kenapa sekarang jadi dia yang diintrogasi, mengapa bocah di depannya ini kini menjadi ahli memancing dan  mengapa dia harus menjawab jujur pertanyaan yang memancing itu.
“Oh, gitu. Yaudah puter lagi aja pulpennya, ” jawab bocah itu datar.
Seketika Maya ingin sekali meledak menjerit memarahi bocah di depannya ini. Dari segala kejujuran yang Maya tuangkan hanya mendapat respon ‘oh,gitu’ rasanya sakit banget! Seolah selama ini memang Maya saja yang ke-GR-an. Maya saja yang gak tau diri, menyukai seseorang yang berbeda dua tahun dibawahnya.
Maya memutar pulpen yang dipegangnya, pandangannya lurus ke arah pulpen tak mampu menatap bocah itu, takut tangisnya pecah. Pulpen itu berputar kencang, kali ini berhenti tepat ke arah bocah itu.
Truth or dare?” tanya Maya, masih tidak berani menatap mata bocah itu, sesuatu yang sering terjadi ketika Maya, tidak ingin sesuatu yang dia sembunyikan diketahui oleh lawan bicaranya.
***
Rafa melihat kejagalan pada gadis di depannya itu sejak ia meminta agar gadis itu memutar kembali pulpen yang kemudian berhenti kembali mengarah kepada padanya. Membuat Rafa bingung kembali, mau truth ataupun dare sepertinya sesuatu yang disembunyikannya akan terbongkar.
“Oke, truth,” jawab Rafa akhirnya.
“Kenapa tanya pertanyaan tadi ke gue? Kenapa lo punya sifat – sifat kayak yang gue sebutkan tadi?” tanya gadis itu meng-scatmatch  Rafa seketika.
Kali ini sunggguh Rafa tidak tau harus menjawab dengan apalagi. Menjawab dengan rinci semua pertanyaan dari gadis di depannya itu atau kah sesingkat mungkin yang bisa ia jawab? Jika secara rinci kata – kata seperti apa yang harus ia keluarkan? Jika singkat kata – kata seperti apa pula yang harus ia katakan? Apakah ia harus mencari jawaban lain ntuk sesuatu yang ia sembunyikan atau kah  menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang diajukan gadis itu dengan resiko semua yang ia sembunyikan terbongkar? Apakah gadis di depannya yang sedari tadi-setelah menghabiskan jus melon-menunduk itu memiliki sesuatu yang disembunyikan juga? Atau kah hanya Rafa sendiri yang menyembunyikan sesuatu?
“Hey, kok diem? Emang susah banget ya jawab pertanyaan itu? jawabnya harus jujur,ya!” tanya gadis itu  mengagetkan Rafa dari pikiran panjangnya tadi.
Rafa memandang ke arah gadis di depannya itu dan pandangan mata gadis itu  berputar ke sekeliling di depannya tanpa memandang ke arah Rafa. Sesuatu yang menurut Rafa tidak pernah terjadi, mengingat tingkat laku gadis itu yang selalu memandang tepat ke bola mata Rafa ketika sedang mencari jawaban yang gadis itu cari darinya.
***
“Mungkin karena lo telah mencuri hati gue,” jawab singkat bocah itu.
pandangan Maya yang tadi mengeliling, kini tepat tertuju pada bocah itu, mencari kebenaran jawaban  dari bocah di depannya itu.