Kamis, 14 Desember 2017

Hilang

[11/3  19.00] Kantor   : Aku hamil mas.
[11/3  21.00 ] Bos       : Anak siapa?
[11/3  21.01] Kantor   : Anak km, mas! Siapa lg?
[11/3  21.10] Bos        : Kita aborsi!
[11/3  21.10] Kantor   : KM GILA, MAS!
[11/3  21.11] Bos        : Jadi mau kamu apa?
[11/3  21.12] Kantor   : Km tggung jwb. Nikahin aku! aku g mau aborsi.
[11/3  21.13] Bos        : Oke.
[11/3  21.13] Bos        : Puas kamu?
[11/3  21.14] Bos        : Kita bicarakan besok ya syg, di tempat biasanya. Aku kangen kamu.
[11/3  21.15] Kantor   :  y, mas. :*
*

 [19/7  17.00] My lovely         : Mas, adek mau tanya.
[19/7  17.05] My mine            : tanya apa, dek?
[19/7  17.05] My lovely          : org yg dksh nama *kantor* itu siapa mas?
[19/7  17.06] My mine            : Ya, orang kantorku lah dek.
[19/7  17.06] My mine            : Kamu sudah balik kantor belum?
[19/7  17.06] My mine            : Ayla sudah makan belum?
Panggilan suara tak terjawab pada 17.06
Panggilan suara tak terjwab pada 17.07
Panggilan suara tak terjwab pada 17.08
*

[22/7  17.00] My Sweet Heart            : Dah makan belum, sayang?
[22/7  17.07] Bintang Kecil    : Blm Bun, msh djln..
[23/7  19.07] Bintang Kecil    : Bun, rmh hr ini ramai.. Bunda dmn?
[24/7  97.07] Bintang Kecil    : Bun, plg y. Ayla rindu bunda..
[25/7  19.07] Bintang Kecil    : Bun, Tante Ana dtg, tmn bunda ktny..
[26/7  19.07] Bintang Kecil    : Bun, Tante Ana kurus tp knp perutny buncit, bun?
[27/7 19.07] Bintang Kecil     : Bunda plg, Dong!
[28/7 19.07] Bintang Kecil     : Bunda mrh y sm Ayla?
[29/7 19.07] Bintang Kecil     : Bunda Ayla capek..
[29/7 19.08] Bintang Kecil     :  Rmh kita stiap hr byk org yg dtg..
[31/7 19.07] Bintang Kecil     : Bun, Ayla Rindu Bunda. L
[01/8 19.07] Bintang Kecil     : Bun, kt Ayah, mulai hr ini Tante Ana tnggal di rmh.
[05/8 19.07] Bintang Kecil     : Bun, Tante Ana skrg tinggal di kmr Ayah.
[05/8 19.07] Bintang Kecil     :  Bunda kpn plg?
[10/8 19.07] Bintang Kecil     : Bun, mknan bwtn Tante Ana g enak. Asin!
[28/8 19.07] Bintang Kecil     : Bun, Ayla g mu mkn!
[03/9 19.07] Bintang Kecil     : Bunda, Tante Ana bawa pisau!
*

[03/9  19.00] Kantor   : Mas ykin?
[03/9  19.01] Bos        : Sayang, aku kan hanya minta kamu ajarin Ayla potong buah.
[03/9  19.02] Kantor   : ok, mas.
[03/9  19.02] Bos        : 5 sendok garam sudah kamu masukkan dalam makanan Ayla kan?
[03/9  19.06] Kantor   : Mau smp kpn Ayla dksh grm? Kasian mas.
[03/9  19.06] Bos        : Loh, sayang kamu kenapa sih?
[03/9  19.06] Bos        : Ini kan supaya Ayla pintar.
[03/9  19.06] Bos        :  Sudah ikuti saja kataku.
[03/9  19.08] Kantor   : ok, Mas.
*

[04/9  19.07] Bintang Kecil    : Bun, tnyta tante Ana ajarin Ayla ptg buah, kmrn.
[11/9  19.07] Bintang Kecil    : Bun, Ayla dgr suara Tante Ana mjerit dr kamar ayah.
[11/9  19.21] Bintang Kecil    : Bun, Ayla takut.
[11/9  19.22] Bintang Kecil    :  Bunda dmn?
*

 [11/9  17.07] Kantor : Mas! Barang apa yang ada di bawah lemari kita?
[11/9  17.10] Bos        : bekas kanvas mobil, Irma sayang.
[11/9  17.13] Kantor   : Tunggu……. Irma meninggal karena kanvas ini?
[11/9  17.13] Bos        : Gak
[11/9  17.14] Kantor   : Mas, Irma kclakaan krn rem blong kn?
Panggilan suara tak terjawab pada 17.14
[11/9  17.13] Bos        : Aku lagi di jalan. Nanti pulang kita bicarakan.
*

[11/9  20.00] My Sweet Heart  : Ayla sayang, sudah pernah belajar potong buah kan?
[11/9  20.00] My Sweet Heart  : Bantu ayah potong buah tante Ana, sekarang!
[11/9  20.07] Bintang Kecil      : Bun, Ayla udh ptg buah Tante Ana.
[11/9  20.07] Bintang Kecil      :  Lucu ya bentuknya seperti melon. hha
[11/9  20.08] Bintang Kecil      : Isinya ky boneka bayi,  bun. hehe
***

Kamis, 22 Juni 2017

PHP

PHP, sebuah singkatan yang populer dikalangan anak muda. PHP sendiri adalah singkatan dari pemberi harapan palsu. Beberapa ada yang megubahnya dengan penerima harapan palsu. Siapa yang mau diberi harapan palsu, coba acungkan tangan? Pasti tidak ada yang mau.

                Dulu saya juga begitu. Saat ini? Saya ingin menjadi penerima harapan palsu itu. Jujur saya tidak takut untuk mendapatkan harapan palsu itu. Kenapa? Ya karena saya mau bahagia. Siapa yang tak mau bahagia? Bukankah semua orang akan melakukan apapun agar bahagia? Tidak apa-apa, meskipun sekadar harapan palsu setidaknya saya bisa bahagia.




                Beberapa minggu ini orang-orang yang saya kagumi mulai berguguran. Kamu tau Yena Zein? Atau Jupe? mereka meningga dunia. Lalu kamu tau perasaan saya ketika itu? Bukankah beberapa hari sebelumnya Yana Zein dikabarkan telah sembuh? Atau Jupe di tahun 2015 yang sehat? Lalu mengapa pada akhirnya penyakit itu mengambil nyawa mereka?

                Jika Tuhan yang MAHA memberikan harapan palsu pada hambanya, lalu mengapa saya harus takut diberikan harapan palsu dari hambanya? Jika saya masih diberikan harapan palsu untuk sembuh tentu akan saya ambil kesempatan itu. Kamu pikir enak, terdiam rumah pesakitan sementara otakmu ingin melakukan ini dan itu?  

Semenjak saat itu doa saya cukup panjang. Tak lagi doa untuk kesembuhan. Cukup doa untuk penerima harapan palsu

“Jika kesembuhan itu hanya harapan palsu, tolong berikan saya barang sejenak. Setidaknya agar saya rasakan kebahagiaan seperti orang lainnya. Setidaknya agar orang-orang yang saya sayang tak uring-uringan mendoakan saya siang-malam. Setidaknya, biar mereka tau saya ini wanita tangguh. Setidaknya saya ingin dianggap berharga sebelum menjelang……………”
Malam ini, Izinkan saya menjadi penerima harapan palsu ketika dokter memberikan surat medis bahwa minggu depan adalah kemotrapi saya yang terakhir. Kali ini saya Ikhlas menjadi penerima harapan palsu. Bukan kah kenyataannya memang jelas semua manusia akan menuju kematian?


*****

*Teruntuk teman-teman yang sedang menunggu harapan palsu untuk sembuh. Terus berjuang,ya! karena Tuhan Maha Baik* J

Selasa, 20 Juni 2017

SAYA


Dulu saya disegani banyak orang. Tak ada satu pun orang yang mau berurusan dengan saya. Jangan kan orang miskin, orang kaya saja ogah berurusan dengan saya. Kenapa kamu tertawa? Ah, saya tau dalam hati kamu sedang menertawakan saya, menganggap saya murahan.

Saya terlahir dari di dunia atas dasar ketidakadilan. Mereka bilang jika kejahatan dan ketidakadilan muncul bertemu saja dengan saya, maka masalah akan beres. Bagaimana? Kamu masih mau berurusan dengan saya?

Tapi sepertinya jaman telah berubah. Sekarang siapa yang tak ingin berurusan dengan saya? Jika dulu orang miskin pun memohon-mohon untuk tidak berurusan dengan saya. Sekarang orang miskin bahkan orang kaya senang sekali berurusan dengan saya. Mereka tak segan-segan  play victim untuk mendapatkan massa dan suara. Semurah itukah jati diri saya untuk diobral pada jaman ini?

Kamu tau banyak massa menentang jika orang-orang kaya itu harus tinggal bersama saya. Prosesnya akan panjang dan bertele-tele, tanpa ujung. Lalu seperti menjadi korban mereka akan tinggal bersama saya kurang  dari satu tahun. Lalu diam-diam pergi meninggalkan saya. Hei, tau apa mereka yang datang dan pergi tentang perasaan saya?

Hei, kamu tau? Sekarang bukan hanya orang-orang kaya yang senang berurusan bahkan tinggal dengan saya. Sebut saja si artis itu, atau pemerintah daerah itu, oh atau atau juga tokoh agama itu. Mereka seolah-olah berlomba untuk bertemu dan tinggal bersama saya.

Kesal rasanya! Dikira saya ini murahan apa, mau berurusan dengan semua kalangan? Harga berurusan dengan saya mahal tau! Jangan mentang-mentang tinggal dengan saya dikasih makan gratis, dikasih tempat tinggal gratis. Kamu pikir menghidupi orang-orang untuk tinggal bersama saya itu mudah? Sekarang kamu masih anggap saya murahan?!

Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
photo available at okezone.com
Ah, kamu lagi-lagi hanya diam melihat segepok uang itu. Masih mau kamu bermain dengan uang-uang itu? Tak apa-apa! Ambil lah uang itu sebanyak-banyaknya. Agar jika ketahuan semakin lama kamu akan tinggal dengan saya. Kebetulan saya sepertinya tertarik denganmu. Iya, memangnya siapa lagi yang akan tertarik dengan orang jahat kecuali saya si Lembaga Pemasyarakatan?




Selasa, 13 Juni 2017

Mengkilaskan Rindu


Walaupun sedang tidak puasa, tapi menemani yang sahur seperti sebuah keharusan tersendiri. Bagiku semacam upah yang harus diberikan karena telah menemani di rumah sakit. Tak semua orang yang mampu mau menemani pasien rumah sakit. Hanya abang yang telah lama terpisah kini rela menghabiskan waktunya menemaniku.

Puasa kali ini tentunya berbeda dari tahun lalu. Dulu sejujurnya ada rasa iri ketika kamu bilang sudah subuh atau sudah magrib. Padahal dulu aku sudah subuh duluan dan belum juga magrib. Maklum tahun lalu aku di Aceh.

Entah lah saya tiba-tiba kepikiran kamu lagi. Mungkin dari semua rasa ketakutan, selama ini saya selalu berlindung di balik besarnya tubuhmu. Ah, aku merindukan dekapanmu yang erat, menguatkanku untuk bertahan. Aku merindukan senyummu saat kamu mendengarkanku bercerita tentang kerasnya hidup, tentang ketidakadilan-ketidakadilan orang lain yang tak bisaku bela.

Pagi ini dia mengingatkanku untuk subuh. Seseorang yang diam-diam menggantikan sosokmu tanpa kusadari. Seorang lelaki soleh. Seorang lelaki sempurna impian semua wanita. Aku pun harus tau diri siapa aku, bukan karena fisikku tentunya. Ah, semua orang juga tau aku wanita cantik dan berkelas. Si aktifis di generasi millennia.

Tapi kamu tau kan aku seperti apa? Wanita berpenyakit kanker kolong. Sekarang siapa yang sudi menerimaku? Kamu bahkan meninggalkanku!

Seolah kamu tak mampu menafkahiku, kamu menjual kepercayaanku kepada lelaki yang kamu bilang adalah temanmu. Kusebut lelaki itu paman, sambil berusaha menghormatinya. Tidak, sampai ternyata dia lelaki tak beretika yang menjualku pada germo. Kamu tau aku telah tumbuh menjadi wanita tangguh melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, hingga tahun lalu sempat ku menetap di Aceh.

Saat ini sel-sel kanker telah menempel erat. Sempat ku tak percaya Tuhan, ketika pelan-pelan sel itu menjalar keseluruh tubuh. Tapi ternyata aku hanya terlalu takut untuk memaafkan diriku yang jahanam ini. Sampai suatu hari kutemukan dia seorang sahabat berbagi duka, setelah kau menghilang.

            Sudah hari ke lima kemo hanya ada abang yang menemani, serta dia dari jauh di seberang pulau kecil di ujung jawa, Pulau Bawean. Katanya di sana sudah Subuh, padahal di sini kata abang masih imsyak. Di sana bagaimana? Sudah masuk waktu subuh kah kamu?

Hei aku merindukanmu, tau! Aku ingin sekali memanggilmu Ayah. Tapi abang benci kamu! Abang benci kamu yang membuangku dan abang dulu. Kata abang kamu tak pantas dipanggil ayah. Yah, aku rindu. Ayah, bahagia kan bersama keluarga ayah yang baru? di Jogja sudah waktu subuh kah?

Ayah, aku rindu ayah. Ingin sekali aku menganggu keluarga bahagia ayah di sana. Ingin sekali aku menelepon ayah hingga ayah berkali-kali ganti nomor telepon seperti dulu. Yah, aku ingin bahagia! Lalu kata abang aku hanya cukup mengiklaskan rindu, mendekatkan diri  pada Tuhuan dan menerima lelaki di Pulau Bawean itu. Benarkah seperti itu yah?



*Nadia masih terdiam berbicara dalam hati. Mengiklaskan rindunya pada ayah. Mengiklaskan sakit yang menggerogoti tubuhnya*

Senin, 03 April 2017

KAU

Aku hanya ingin istirahat sejenak dari penatnya jenuh pikiran.
Ku kira hal yang terbaik adalah bersama kau.
Salah! Jenuhku ternyata kau.
Terlalu berambisi,
Ekspektasi tak sesuai.
Memicu benci yang tak berkesudahan.
Aku letih mencintai dengan kebencian.
Tau kah kau?
Rasanya ingin menjerit,
Ingin memaki,
Ingin terjun dari ketinggian tak bertepi,
Ingin mencabik daging tubuh ini,
Atau sekedar memutuskan leher,
Agar letih ini hilang,
Agar tak lagi memikirkan luka,

Sejujurnya aku rindu,
Kau bercerita konyol saat orang rumah geger melihat perubahanmu.
Kau menangis melepasku tuk sekadar mengabdi merajut mimpi kecil.
Kau membangunkanku pagi hari,
Kau mengucapkan suatu saat akan datang ke rumah,
Kau memberi percakapan singkat di pagi hari, penuh semangat.
Kau menjadi imam kecil saat beribadah.
Kau memberikan waktu tuk mendengar keluh.
Kau menenangkanku, saat ku menonton mereka saling bergunjing.
Kau menemaniku mengelilingi kota kelahiranmu.


Tapi....
Benci, amarah, kesal, kecewa, terluka menyatu.
Menghidupi sisa-sisa emosi yang terbakar.
Apakah ke rinduanku hanya hayalan semu?
Aku benci kau!
Kau terlalu............
Bahkan aku tak sanggup untuk sekedar menulisnya dalam kata.
Terlalu menyakitkan,
Terlalu menyesakkan,
Terlalu mengiris luka,
Terlalu mengoyak paru-paru untuk sekadar bernafas sejenak,
Terlalu mempermainkan Tuhan.

Katakan!
Apa yang harus aku lakukan, jika pada akhirnya hingga detik ini aku tak mampu berdamai dengan diri sendiri?

Sudah jangan terlalu banyak dipikirkan!
Kau tak akan pernah tau rasanya menjadi aku
Pun sebaliknya,
Aku tak pernah tau rasanya menjadi kau!

Minggu, 02 April 2017

Cara Mencintai Dia

“Nana!” ucap seseorang memanggilku. Aku mencari suara orang yang menyebut namaku.  Ah,dia! Rasanya senang sekali aku dikunjungi lagi olehnya. Tenang, tenang, jangan sampai dia tau aku menunggunya sedari kemarin.
“Na, ini lukisan untukmu,” ucapnya sambil memberikan sketsa wajahku. Entah ini sketsa yang keberapa. Dan aku harus membalas sketsa ini, setidaknya ini adalah cara untuk memupuk rasa.
Bukannyak begitu banyak cara mencintai seseorang? Ada yang bahkan mengorbankan kehidupan masa depan, menyakiti diri sendiri hanya untuk mencintai seseorang. Tidak jarang pula dengan cara menyakiti orang yang dicintainya, agar mereka tidak pergi atau hanya untuk sekadar menunjukkan singgasana bahwa ialah yang berkuasa. Kau mungkin tersenyum membaca sepenggal kalimat panjangku, meng-iyakan  sebagian kata-kataku.
Dulu, sering kutemukan diriku kebingungan berada di suatu tempat. Sebuah penyakit yang menyebabkan aku terdistraksi akan suatu ingatan. Aku tak tau itu penyakit apa, aku bahkan tak pernah ingin memeriksakannya ke dokter.
“Itu al zeimer, Na!” ucap dia penuh keyakinan dipertemuan ke dua kami. Kala itu aku hanya tertawa. Bagaimana bisa penyakit orang tua itu menghampiri diriku yang bahkan belum genap 20 tahun? Sejak hari itu kuputuskan untuk mulai menyukainya yang kemudian semakin lama semakin berkembang menjadi perasaan sayang lalu cinta.
                Ah,lagi-lagi aku menghayalkan dirinya. Laki-laki sebayaku yang dipertemukan dalam minat jurusan yang sama di kampus,  Seni rupa. Berbeda dengan ku yang sering  melukis abstrak hanya untuk mengeskpresikan warna, karena dengan warna aku dapat mengingat berbagai macam hal yang aku lupa, sementara dia lebih sering melukis wajah dengan rangkaian kata-kata mutiara di akhir goresannya. Aku masih ingat saat dia menanyakan “Gimana? Bagus tidak? Buat kekasihku,”
Sungguh aku terpukau dengan lukisannya terlebih rantaian kata singkat di ujung kanvas sebagai pemanis. Tanpa sadar air mataku jatuh. Apakah ini karena aku terpukau? Atau karena saat itu aku menyadari bahwa dirinya tak dapat kumiliki seutuhnya? Mulai saat itu, entah mengapa pertemuan kami berdua selalu didominasi olehnya tentang kekasih hatinya. Setiap dia bercerita, setiap itu pula aku mulai belajar untuk melupakan segala hal. Seharusnya ini sangat mudah bagiku yang sering melupa.
Sayangnya melupakannya sungguh hal yang sulit. Jika sesekali dia akan berkunjung ke rumahku menemaniku melukis atau hanya sekadar melihatku, membuatku merasa diperhatikan. Sesuatu yang selama ini jarang kudapatkan, bahkan dari kedua orang tuaku.          
Bukannya begitu banyak cara mencintai seseorang?
Aku mau ia bahagia karena mencintaiku. Hei, tenanglah! Aku tak akan melakukan hal bodoh dengan  memilih untuk tersakiti dan menyakitinya. Aku tak mau! Tapi bagaimana pun aku harus mendapatkan hatinya. Bagaimana pun! Termasuk mendekatkan diri pada kekasihnya dan membuatnya percaya bahwa aku memang memiliki penyakit al-zeimer seperti yang selalu dia katakan dulu.

Pelan-pelan, aku akan mengikis perasaan yang ia punya pada kekasihnya. Pelan-pelan pula aku akan membuat kekasihnya cemburu. Dengan satu cara yang pasti! Mengajak ia bermalam di rumahku hanya untuk membantuku melukis kenangan yang mungkin menurutnya, esok akan kulupa. Sekarang kau bisa menduga kan permainan manisku berakhir seperti apa? 

Rabu, 01 Februari 2017

Kamu yang Aku Benci

Kamu memelukku erat, menyisakan rindu cukup berat. Tak adalagi gempalan lemak saat kamu memelukku. “Kamu, datang?”  tanyamu padaku.

‘Aku benci kamu!!!’ Itu yang jelas aku utarakan dalam media sosial manapun. Cukup sudah pengkhianatan yang kamu lakukan padaku. Setiap kuingat hanya ada dahi yang menyerengit, hidung dan pipi yang memerah serta mata yang sembab di wajahku.  Aku benci kamu! Enyah kau dari kenangan masa laluku!

Butir-butir nasi menempel dipipimu. Sebagian berserakan di meja makan. Kamu terbatuk-batuk sambil berusahamenelan makanan. Apa makan di kantin ini juga kamu anggap tak enak?

Masih teringat dalam kenangan saat kau menghardikku  karena aku tak bisa memasak. Cih, lagakmu bagai orang yang pintar memasak! Padahal setiap hari kumakan masakanmu rasanya tak enak. Jika aku tidak bisa memasak mengapa kamu hanya menghardikku dan mencemoohku? Bukan seharusnya kamu mengajarkanku?  Oh ya, aku lupa, kamu juga tak bisa masak.

Kamu terbatuk-batuk memuntahkan makananmu, mengeluarkan cairan kuning yang membaluri nasi yang telah lumat.

Aku mulai membencimu. Tak ada lagi cinta yang kupunya padamu. Semua menguap. Aku juga masih ingat ketika kamu menyepelekanku dan lebih memilih dia. Bukan kah cinta harus adil? Lalu mengapa kamu membagi-bagi padanya? Lantas, kau semakin menjauh dariku, semakin menuju padanya.  Kau jadikan dia sebagai permata dan aku sebagai pembantu yang sering kau suruh-suruh.

Kamu mengelus tanganku, kemudian memegangku erat. Meminta maaf, matamu mengeluarkan derasnya anak sungai. Kamu bilang benci Tuhan. Kamu tak ingin mengingat Tuhan.Tuhan jahat dan tak adil.

Belum puas kamu mengkhianatiku. kamu pun mulai mengkhianati Tuhan, menyembah setan melalui sajen. Belum sembuh rasa sakit ini, kau tinggalkan kami. Kabur tanpa izin. Meninggalkan banyak hutang yang tak pernah aku tahu. Jangan kamu tanya lagi apa aku menganggapmu ada! Pernah merasa memilikimu adalah kesalahan besarku.

Dia datang bersama Papah, menangis melihat keadaanmu. Ah, aku benci melihat matamu yang berbinar-binar melihat mereka hadir. Tak lama hembusan nafasmu tak lagi terdengar.

Bertahun-tahun menghilang, kutemukan kabar terbaru tentangmu dari orang lain. Menurutmu aku akan peduli?! Jangan harap! Aku bukan Tuhan yang maha pengampun! Aku benci kamu! Titik!

Kamu pergi meninggalkan berbagai pertanyaan dalam benakku. Air mataku tak berhenti mengalir. Buku harianmu cukup menjelaskan berbagai hal. Betapa kau ingin mencintaiku. Betapa tak pernah ada pembagian yang tak adil antara aku dan dia. Betapa kau letih menghadapi kenyataan pahit, kanker tulang  yang bersemanyam dalam tubuhmu. Betapa kamu tak ingin papah tahun hal ini. Betapa kamu ingin mati dan melupakan Tuhan. Betapa setan terlihat lebih menguatkan dibandingkan Tuhan. Ya, Tuhan, Tolong ampuni segala dosa mama. Maafkan aku yang pernah membenci mama.