“Nana!” ucap seseorang memanggilku. Aku mencari suara orang yang menyebut namaku. Ah,dia! Rasanya senang sekali aku dikunjungi lagi olehnya. Tenang, tenang, jangan sampai dia tau aku menunggunya sedari kemarin.
“Na, ini lukisan untukmu,” ucapnya sambil memberikan sketsa wajahku. Entah ini sketsa yang keberapa. Dan aku harus membalas sketsa ini, setidaknya ini adalah cara untuk memupuk rasa.
Bukannyak begitu banyak cara mencintai seseorang? Ada yang bahkan mengorbankan kehidupan masa depan, menyakiti diri sendiri hanya untuk mencintai seseorang. Tidak jarang pula dengan cara menyakiti orang yang dicintainya, agar mereka tidak pergi atau hanya untuk sekadar menunjukkan singgasana bahwa ialah yang berkuasa. Kau mungkin tersenyum membaca sepenggal kalimat panjangku, meng-iyakan sebagian kata-kataku.
Dulu, sering kutemukan diriku kebingungan berada di suatu tempat. Sebuah penyakit yang menyebabkan aku terdistraksi akan suatu ingatan. Aku tak tau itu penyakit apa, aku bahkan tak pernah ingin memeriksakannya ke dokter.
“Itu al zeimer, Na!” ucap dia penuh keyakinan dipertemuan ke dua kami. Kala itu aku hanya tertawa. Bagaimana bisa penyakit orang tua itu menghampiri diriku yang bahkan belum genap 20 tahun? Sejak hari itu kuputuskan untuk mulai menyukainya yang kemudian semakin lama semakin berkembang menjadi perasaan sayang lalu cinta.
Ah,lagi-lagi aku menghayalkan dirinya. Laki-laki sebayaku yang dipertemukan dalam minat jurusan yang sama di kampus, Seni rupa. Berbeda dengan ku yang sering melukis abstrak hanya untuk mengeskpresikan warna, karena dengan warna aku dapat mengingat berbagai macam hal yang aku lupa, sementara dia lebih sering melukis wajah dengan rangkaian kata-kata mutiara di akhir goresannya. Aku masih ingat saat dia menanyakan “Gimana? Bagus tidak? Buat kekasihku,”
Sungguh aku terpukau dengan lukisannya terlebih rantaian kata singkat di ujung kanvas sebagai pemanis. Tanpa sadar air mataku jatuh. Apakah ini karena aku terpukau? Atau karena saat itu aku menyadari bahwa dirinya tak dapat kumiliki seutuhnya? Mulai saat itu, entah mengapa pertemuan kami berdua selalu didominasi olehnya tentang kekasih hatinya. Setiap dia bercerita, setiap itu pula aku mulai belajar untuk melupakan segala hal. Seharusnya ini sangat mudah bagiku yang sering melupa.
Sayangnya melupakannya sungguh hal yang sulit. Jika sesekali dia akan berkunjung ke rumahku menemaniku melukis atau hanya sekadar melihatku, membuatku merasa diperhatikan. Sesuatu yang selama ini jarang kudapatkan, bahkan dari kedua orang tuaku.
Bukannya begitu banyak cara mencintai seseorang?
Aku mau ia bahagia karena mencintaiku. Hei, tenanglah! Aku tak akan melakukan hal bodoh dengan memilih untuk tersakiti dan menyakitinya. Aku tak mau! Tapi bagaimana pun aku harus mendapatkan hatinya. Bagaimana pun! Termasuk mendekatkan diri pada kekasihnya dan membuatnya percaya bahwa aku memang memiliki penyakit al-zeimer seperti yang selalu dia katakan dulu.
Pelan-pelan, aku akan mengikis perasaan yang ia punya pada kekasihnya. Pelan-pelan pula aku akan membuat kekasihnya cemburu. Dengan satu cara yang pasti! Mengajak ia bermalam di rumahku hanya untuk membantuku melukis kenangan yang mungkin menurutnya, esok akan kulupa. Sekarang kau bisa menduga kan permainan manisku berakhir seperti apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar