Selasa, 13 Juni 2017

Mengkilaskan Rindu


Walaupun sedang tidak puasa, tapi menemani yang sahur seperti sebuah keharusan tersendiri. Bagiku semacam upah yang harus diberikan karena telah menemani di rumah sakit. Tak semua orang yang mampu mau menemani pasien rumah sakit. Hanya abang yang telah lama terpisah kini rela menghabiskan waktunya menemaniku.

Puasa kali ini tentunya berbeda dari tahun lalu. Dulu sejujurnya ada rasa iri ketika kamu bilang sudah subuh atau sudah magrib. Padahal dulu aku sudah subuh duluan dan belum juga magrib. Maklum tahun lalu aku di Aceh.

Entah lah saya tiba-tiba kepikiran kamu lagi. Mungkin dari semua rasa ketakutan, selama ini saya selalu berlindung di balik besarnya tubuhmu. Ah, aku merindukan dekapanmu yang erat, menguatkanku untuk bertahan. Aku merindukan senyummu saat kamu mendengarkanku bercerita tentang kerasnya hidup, tentang ketidakadilan-ketidakadilan orang lain yang tak bisaku bela.

Pagi ini dia mengingatkanku untuk subuh. Seseorang yang diam-diam menggantikan sosokmu tanpa kusadari. Seorang lelaki soleh. Seorang lelaki sempurna impian semua wanita. Aku pun harus tau diri siapa aku, bukan karena fisikku tentunya. Ah, semua orang juga tau aku wanita cantik dan berkelas. Si aktifis di generasi millennia.

Tapi kamu tau kan aku seperti apa? Wanita berpenyakit kanker kolong. Sekarang siapa yang sudi menerimaku? Kamu bahkan meninggalkanku!

Seolah kamu tak mampu menafkahiku, kamu menjual kepercayaanku kepada lelaki yang kamu bilang adalah temanmu. Kusebut lelaki itu paman, sambil berusaha menghormatinya. Tidak, sampai ternyata dia lelaki tak beretika yang menjualku pada germo. Kamu tau aku telah tumbuh menjadi wanita tangguh melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, hingga tahun lalu sempat ku menetap di Aceh.

Saat ini sel-sel kanker telah menempel erat. Sempat ku tak percaya Tuhan, ketika pelan-pelan sel itu menjalar keseluruh tubuh. Tapi ternyata aku hanya terlalu takut untuk memaafkan diriku yang jahanam ini. Sampai suatu hari kutemukan dia seorang sahabat berbagi duka, setelah kau menghilang.

            Sudah hari ke lima kemo hanya ada abang yang menemani, serta dia dari jauh di seberang pulau kecil di ujung jawa, Pulau Bawean. Katanya di sana sudah Subuh, padahal di sini kata abang masih imsyak. Di sana bagaimana? Sudah masuk waktu subuh kah kamu?

Hei aku merindukanmu, tau! Aku ingin sekali memanggilmu Ayah. Tapi abang benci kamu! Abang benci kamu yang membuangku dan abang dulu. Kata abang kamu tak pantas dipanggil ayah. Yah, aku rindu. Ayah, bahagia kan bersama keluarga ayah yang baru? di Jogja sudah waktu subuh kah?

Ayah, aku rindu ayah. Ingin sekali aku menganggu keluarga bahagia ayah di sana. Ingin sekali aku menelepon ayah hingga ayah berkali-kali ganti nomor telepon seperti dulu. Yah, aku ingin bahagia! Lalu kata abang aku hanya cukup mengiklaskan rindu, mendekatkan diri  pada Tuhuan dan menerima lelaki di Pulau Bawean itu. Benarkah seperti itu yah?



*Nadia masih terdiam berbicara dalam hati. Mengiklaskan rindunya pada ayah. Mengiklaskan sakit yang menggerogoti tubuhnya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar