Walaupun sedang tidak puasa, tapi
menemani yang sahur seperti sebuah keharusan tersendiri. Bagiku semacam upah
yang harus diberikan karena telah menemani di rumah sakit. Tak semua orang yang
mampu mau menemani pasien rumah sakit. Hanya abang yang telah lama terpisah kini
rela menghabiskan waktunya menemaniku.
Puasa kali ini tentunya berbeda dari
tahun lalu. Dulu sejujurnya ada rasa iri ketika kamu bilang sudah subuh atau sudah
magrib. Padahal dulu aku sudah subuh duluan dan belum juga magrib. Maklum tahun
lalu aku di Aceh.
Entah lah saya tiba-tiba kepikiran
kamu lagi. Mungkin dari semua rasa ketakutan, selama ini saya selalu berlindung
di balik besarnya tubuhmu. Ah, aku merindukan dekapanmu yang erat, menguatkanku
untuk bertahan. Aku merindukan senyummu saat kamu mendengarkanku bercerita
tentang kerasnya hidup, tentang ketidakadilan-ketidakadilan orang lain yang tak
bisaku bela.
Pagi ini dia mengingatkanku untuk
subuh. Seseorang yang diam-diam menggantikan sosokmu tanpa kusadari. Seorang
lelaki soleh. Seorang lelaki sempurna impian semua wanita. Aku pun harus tau
diri siapa aku, bukan karena fisikku tentunya. Ah, semua orang juga tau aku
wanita cantik dan berkelas. Si aktifis di generasi millennia.
Tapi kamu tau kan aku seperti apa? Wanita
berpenyakit kanker kolong. Sekarang siapa yang sudi menerimaku? Kamu bahkan
meninggalkanku!
Seolah kamu tak mampu menafkahiku,
kamu menjual kepercayaanku kepada lelaki yang kamu bilang adalah temanmu. Kusebut
lelaki itu paman, sambil berusaha menghormatinya. Tidak, sampai ternyata dia
lelaki tak beretika yang menjualku pada germo. Kamu tau aku telah tumbuh
menjadi wanita tangguh melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, hingga
tahun lalu sempat ku menetap di Aceh.
Saat ini sel-sel kanker telah
menempel erat. Sempat ku tak percaya Tuhan, ketika pelan-pelan sel itu menjalar
keseluruh tubuh. Tapi ternyata aku hanya terlalu takut untuk memaafkan diriku
yang jahanam ini. Sampai suatu hari kutemukan dia seorang sahabat berbagi duka,
setelah kau menghilang.
Sudah hari ke lima kemo hanya ada
abang yang menemani, serta dia dari jauh di seberang pulau kecil di ujung jawa,
Pulau Bawean. Katanya di sana sudah Subuh, padahal di sini kata abang masih
imsyak. Di sana bagaimana? Sudah masuk waktu subuh kah kamu?
Hei aku merindukanmu, tau! Aku ingin
sekali memanggilmu Ayah. Tapi abang benci kamu! Abang benci kamu yang membuangku
dan abang dulu. Kata abang kamu tak pantas dipanggil ayah. Yah, aku rindu.
Ayah, bahagia kan bersama keluarga ayah yang baru? di Jogja sudah waktu subuh
kah?
Ayah, aku rindu ayah. Ingin sekali
aku menganggu keluarga bahagia ayah di sana. Ingin sekali aku menelepon ayah
hingga ayah berkali-kali ganti nomor telepon seperti dulu. Yah, aku ingin
bahagia! Lalu kata abang aku hanya cukup mengiklaskan rindu, mendekatkan
diri pada Tuhuan dan menerima lelaki di
Pulau Bawean itu. Benarkah seperti itu yah?
*Nadia masih terdiam
berbicara dalam hati. Mengiklaskan rindunya pada ayah. Mengiklaskan sakit yang
menggerogoti tubuhnya*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar