Selasa, 13 Oktober 2015

MERINDUMU

Merindumu adalah penyakit yang harus aku lawan.
bukan lagi seperih luka di paru-paru kanan.
ini tidak perih kawan...!
cuma cukup sesekali menyesakkan dada, setiap teringat.

dalam doa kusebut namamu,
hingga aku lupa, doa ini milik siapa..
hingga aku lupa, melewati batas perjanjian yang dulu kubuat pada diri ini..
hingga aku lupa, keangkuhanku melenyapkan semuanya..

pada bagian mana lagi harus ku hapus air mata?
nyatanya hanya dosa yang teringat,
kamu masih hal manis yang menyakitkanku..
karena pada akhirnya aku menyakiti mereka yang menyanyangiku, tanpa sepengetahuan mereka.

merindumu masih hal terberat
antara ingin kugenggam erat hingga terluka atau kubuang agar rasa perih ini terasa saat ini...    



Kamis, 13 Agustus 2015

NAFSU

Aku tak ngerti mengapa banyak wanita di luar sana yang posesif. Ya ampun pria dan wanita jalan berduaan aja, wajar kali. Gak tiba-tiba kalian nge-cap mereka sepasang kekasih kan? Dan plis, aku benar-benar pusing, jika Ana sibuk menghasutku untuk cemburu pada Akbar. Semua itu hanya nafsu!
Ayolah, Akbar dan aku hanya teman biasa. Jika Akbar sesekali bilang cinta padaku, wajar kan? Itu kan hak dia, toh semua orang berhak mencintai seseorang selama tidak menganggu yang lain. Jika Akbar pada akhirnya menjanjikanku akan melamarku di hadapan orang tuaku juga hak dia kan? Toh, sampai saat ini Akbar juga belum berani membawa seserahan.
Banyak yang bilang aku tidak mencintai Akbar, aku hanya mencari nama dalam sebuah ikatan saja. Tapi plis, aku dan Akbar saja tidak pernah membuat komitmen apapun. Aku hanya bilang jika kamu memang serius datang lah ke rumah untuk berkenalan dengan orang tuaku. Jadi apa aku sekarang boleh cemburu melihat Akbar foto berdua dengan gadis berbikini di Pantai Losari, sehabis dinas beberapa minggu yang lalu?
Ah, mereka tidak pernah tau saja, kadang ada perasaan teriris ketika Akbar jalan-jalan sehabis dinas keluar kota. Entah perasaan teriris karena iri melihat Akbar bisa jalan-jalan atau teriris karena pada kenyataannya Akbar selalu didampingi sekertarisnya saat pergi dinas. Hey, iya aku juga sekertaris Akbar, tapi kan aku khusus di dalam lapangan. Mana pernah Akbar mengajakku pergi dinas. Katanya takut aku sakit. Demi apapun juga, aku bukan gadis penyakitan dan meskipun begini aku pernah menjajaki kakiku di Rinjani. So, siapa yang sekarang masih menganggapku lemah? 
                “Ketika uang dan nafsu tidak lagi memburu, maka tidak adalagi yang perlu kamu takutkan,” aku selalu mengingat kata-kata ayahku ini. Hal itu yang selalu kuyakini dalam mengambil sikap hidup di kota besar.
***
“Min, kamu pulang sama siapa malam ini? Aku rindu kamu, Min,” Akbar memanggilku ketika aku akan beranjak pulang.
“Aku juga kangen....,” Aku tersenyum dan melanjutkan ucapanku  “Aku pulang sama Ardi, udah jemput di bawah, dia,”
“Kamu gak bisa bilang kamu jadinya pulang sama aku?” tanya Akbar sedikit memelas. Ada kilatan cemburu di bola matanya.
“Aku udah janji duluan sama Ardi. Kamu tau kan aku gak suka ingkar janji?” aku kembali menegaskan.
Aku kemudian mengambil tas kerjaku dan turun ke bawah tanpa melihat Akbar sedikitpun. Aku tau Akbar sangat cemburu, terlebih ketika aku pulang dijemput oleh Ardi, yang kebetulan juga pernah berjanji untuk melamarku. Hey, kalian mau bilang aku wanita gampangan? Aku tak seperti itu! Mereka saja yang tak berani melamarku. Mereka saja yang menebar janji. Biasalah sifat dasar lelaki, menebar janji untuk melampiaskan nafsu. Sama halnya dengan  wanita, yang bernafsu untuk bisa hidup enak di masa depan. 
Ana sering memperingatiku untuk tidak bermain api dengan Akbar dan Ardi. Aku hanya tersenyum enggan menanggapi. Tak perlu Akbar jelaskan, tak perlu Ana sampai berseru, aku tau pasti Akbar cemburu, karena aku pun juga begitu. Aku  pun sangat cemburu pada Akbar. Cemburu itu nafsu, dan sama halnya dengan cemburu aku sangat bernafsu untuk membuat Akbar cemburu membabi buta. Aku ingin Akbar hancur! Bukan, ini bukan karena aku cemburu melihat Akbar foto berdua dengan wanita lain di Losari. Aku cemburu karena kasih sayang ibuku tercurah penuh pada Akbar. Karena ibu tega meninggalkan ayah demi lelaki kaya-ayah dari Akbar. Karena pada dasarnya wanita selalu bernafsu ingin hidup enak di masa depan.   


Selasa, 07 Juli 2015

Menjadi Orang yang Serba Tahu





Siapa bilang enak menjadi orang yang serba tahu? Kamu, ingin? Bodoh! Kamu pikir enak menjadi orang yang serba tahu.  Jika aku bisa memilih aku lebih ingin menjadi manusia bodoh sepertimu. Hey, kenapa diam? Kecewa dengan perkataan saya? Tidak kan? Orang bodoh mana tahu rasanya kecewa. Ya kan?

Orang bodoh itu lebih tentram dan tenang. Ya kan? Kamu pernah terluka karena dihujat gurumu? Ah, paling-paling kamu hanya terluka, lalu besok lupa. Kalau saya? Saya tentu akan kecewa jika saya dihujat oleh guru disekolah. Setidaknya saya akan buktikan padanya bahwa yang saya ketahui benar, apapun caranya. Iya dong, wong saya  ini orang yang serba tahu.

Menjadi orang yang serba tahu itu tidak enak kawan. Bahkan kamu harus pura-pura bodoh untuk dihargai dan dihormati. Apa? Kamu bingung dengan perkataan saya? Oke, saya buat lebih sederhana lagi. Setidaknya saya harus mensejajarkan pola pikir saya dengan kamu dengan melakukan hal itu,  saya telah berpura-pura menjadi bodoh. Saya benar kan?

                Kamu tau mengapa Susi keluar dari sekolah beberapa bulan yang lalu? Kamu pasti tidak tahu kan? Apa, kamu tahu? Iya benar Susi dikeluarkan karena hamil di luar nikah, tapi apa kamu tau mengapa Susi bisa hamil? Tidak kan? Susi hamil karena tindakan asusila Pak Damar. Iya tentu saja, kepala seolah yang paling kita kagum-kagumi itu. Kamu pasti tak tahu bukan? Seperti itulah, saya yang serbatahu perlu berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa agar saya terlindung. Kamu pasti bertanya dalam hati, tahu dari mana saya? Jangan-jangan itu saya lakukan agar dibilah pintar. Tidak! Itu tidak benar, saya tahu itu karena sebelum Susi saya juga korbannya. Makanya sore ini saya masih di sini.
photo available at : http://minalarvaixh.blogspot.com/

                Kenapa kamu memandangku seperti itu? Sudah kukatakan kan saya ini serba tahu? Saya tak sebodoh Susi untuk melaporkan kejadian itu pada orang tuanya dan ibu saya tidak sebodoh orang tua Susi yang mau nemerima uang suap itu. Ibu saya tentunya lebih bodoh lagi karena tidak tahu anaknya sudah tak perawan. Hahaha.

                Hey, percayalah menjadi seseorang yang serba tahu itu tidak enak. Saya lebih memilih ingin tidak tahu sama sekali. Karena menjadi seseorang yang serba tahu itu melelahkan, memuakan dan saya benci menjadi orang yang serba tahu. Percayalah...

Kamu tahu rasanya saat kamu tahu ternyata ibu kandungmu selingkuh dengan  lelaki lain? Kamu tahu perasaannya, saat kamu bahkan bukan pihak pertama yang dikhianati? Kamu tahu, namun kamu tak mampu mengatakan kebenarannya pada ayahmu sendiri.  Percayalah saya benci menjadi orang yang serba tahu. Terlebih saya tahu, bahwa orang yang menjadi selingkuhan ibu adalah orang yang meniduri saya pertama kali, orang yang melakukan tindakan asusila di sekolah ini pada saya.

Saya sebagai orang yang serba tahu sudah seharusnya menutup rapat semua ini. Menelan pilu semua pengkhianatan ini dan tentunya menelan banyak pil penggugur kehamilan. Menjadi orang yang serba tau itu menyakitkan! Camkan itu! Belum lepas dari keterpurukan saya juga harus menyakini semua masalah akan selesai begitu saja, meyakini saya akan mampu berdiri bangkit. Masih kah kamu mau sekarang menjadi yang serba tahu?

photo available at http://herbamss.blogspot.com



Hey, mengapa diam? Kamu tak perlu menangisi diri saya yang telah rusak ini. Saya hadir di sini bukan untuk mendongengkanmu. Saya di sini untuk memberi tahukanmu bahwa menjadi seseorang yang serba tau itu menjijikan!

Hari ini, ya, hari ini saya akan memberitahukanmu, bahwa saya telah merancang sebuah pembunuhan pada lelaki biadap itu. Ya,  iapa lagi jika bukan Pak Damar. Hari ini saya akan merayunya ke laboratorium kimia, seperti dia dulu yang telah merayu. Lalu diam-diam akan saya beri dia kopi berisi alkohol 96% hingga mulutnya yang jahanam itu berbusa. Sisa alkohol 96% sebanyak 5 liter itu akan saya tumpahkan ke lantai, biar besok ada berita kebakaran yang menelan 1 korban jiwa di sekolah kita. Hahaha.


Sekarang semuanya terserah kamu. Kamu mau menjadi orang yang serba tahu, atau tetap menjadi bodoh seperti sekarang? Saya tak peduli.

Senin, 06 Juli 2015

DIAM


Mencintaimu adalah sebuah hak yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Terlalu banyak luka, hingga aku menyerah pada sekutu-sekutumu itu. Aku tak pernah peduli ketika orang lain memandangku rendah karena tak pernah jatuh hati pada sekutumu. Bukan kan jatuh hati itu adalah hak asasi seseorang terhadap apapun dan siapapun itu?

                Sekutumu mengenalku sebagai lelaki cool penuh misteri dan kamu? Kamu mengenalku seutuhnya. Termasuk, pada siapa aku jatuh hati, sebelum bertemu denganmu. Kamu hanya menahan tertawa jika para sekutumu mengodaku genit. Kamu hanya tersenyum ketika kunyatakan tentang rasa yang aku miliki. Katamu, “Mencintai seseorang adalah hak semua orang. Tak ada yang berhak menghalangi, begitupun  orang yang kamu cintai. Tapi yang perlu kamu ingat, Tuhan, juga mencintaimu. Tega kah kau mengecewakan kebijakan yang telah ditetapkan sedari dulu?” Aku kala itu hanya terdiam, menyalahkan perasaanku, menyalahkan diriku yang seorang lelaki. Sejak itu entah mengapa ada rasa membuncah, dihatiku untukmu.
***

photo available at : http://ersa-saefulloh.blogspot.com/
                Tak banyak yang saya tau tentang hati seseorang, begitupun dengan rasa dihati yang saya miliki. Semua orang mengagumi, kepiawananmu, kemapananmu dan tentunya ketampananmu. Kamu hanya tersenyum manis ketika semua wanita memujimu. Saya? Kadang saya cemburu, kadang tak peduli. Menerima kenyataan bahwa saya tak akan bisa memilikimu tanpa pernah menyatakan perasaan lebih menyakitkan dibanding harus mengatakan perasaan ini langsung padamu. Hei, saya mohon, jika memang kamu dihadirkan dalam hari-hari saya  bukan sebagai pemeran utama, setidaknya saya mohon, kamu harus jadi peran utama dalam  hari-hari gadis lain.



 ***

                Kamu menangis. Aku sakit, bingung harus berkata apa. Katamu, wanita tak suka ditanya. Lalu kupeluk saja dirimu kala itu. Ada sensasi luar biasa yang tak pernah aku rasakan pada wanita manapun. Rasa sakitmu seolah berpindah ke hatiku. Memberi rasa sesak disela-sela nafasku.
***

Katamu mencintai tak perlu ditunjukkan. Biar saja hati yang rasa, hingga suatu saat rasa itu hilang. Hingga tidak perlu ada yang tersakiti dari jatuh hati yang tak wajar. diam adalah jawaban yang tepat, katamu. Saya terluka saat itu, sakit, tak bisa kah perasaan ini saya sampaikan padamu, hingga tak perlu ada yang disembunyikan lagi, hingga saya bisa tenang karena tak ada yang perlu disembunyikan lagi?

Saya menangis entah untuk apa dan kamu memelukku erat entah untuk apa. Kita diam dalam dunia masing-masing. Sibuk dengan spekulasi yang hanya ada dalam imaji saya. Saya tak pernah tau dan saya ingin tahu apa yang kamu pikirkan namun saya tak tahu.
available at : http://vanpagai.blogspot.com/2011/05/



***

“Rin, aku besok dimutasi ke Surabaya,” kataku ragu. Ada rasa kehilangan menghampiri. Mungkin kah ini hanya perasaan sesaat? Bukan kah aku telah mengenyakkan hati padamu dan pada sekutumu? Bukankah, aku sempat jatuh hati pada seorang lelaki?
“Ya. Aku tau, Har. Baik-baiklah kau di sana. Cari seorang gadis untuk dicintai, Har. Ya?”
“Jangan kamu minta aku melakukan hal-hal yang aneh. Katamu kamu paling tahu aku?” aku berusaha mencari tahu. Mencari tahu kepastian, yang tentunya sangat kuketahui. Mana mungkin kamu ada hati denganku, yang kau tahu mencintai seorang lelaki.
“Karena itu, Har, cintai seorang gadis. Agar aku bisa tenang,”
“Tenang untuk apa?” aku yang tak tenang mendengar pernyataanmu. Tidak tahu kah hatiku kini telah memilihmu?
“Tenang, bahwa kamu  telah mencintai Tuhan.”   
***

Akhirnya waktu itu datang juga, waktu dimana pernah saya bayangkan sebelumnya, bahwa kita akan berpisah. Kamu bilang perasaan harus disimpan rapat-rapat agar tidak ada yang kecewa, hingga nantinya ada waktu dimana saya akan yakin hati ini memang milik orang tersebut. Ada yang ingin kusampaikan, bahwa meski kini saya masih dalam kebimbangan, saya akan melangkah maju. Melangkah untuk menikah dengan seseorang yang ibu bilang bisa membahagiakan saya.

“Suatu saat kamu bisa menyakinkan itu Rin, aku mencintai Tuhan Rin. Sungguh! Dengan atau tanpa perasaanku yang uncontrol ini. Rin, mungkin aku akan merindukanmu,”
“Har. Jarak Surabaya-Jakaeta tak terlalu jauh untukmu datang ke pernikahan saya nanti kan?”
“Kamu? Akan menikah?” ada jeda saat kamu bertanya pada saya.
“Iya, Har, dengan seseorang yang ibu jodohkan  ke saya,”
“Tentu. Have fun, Rin,”
***

Setahun berlalu dan tak ada kabar lagi dirimu. Sempat kamu kirimkan undangan pernikahan padaku. Namun kala itu aku sedang sibuk persiapan beasiswa S2 ke Belanda. Tak pernah kudengar kabar lagi darimu sejak saat itu. Mungkin saat ini kamu sedang hamil tua atau sedang menimang bayimu yang masih berusia hitungan hari. Esok pagi, aku akan pulang ke Jakarta, mengambil beberapa pekan di sana, untuk liburan semester.
***

Setelah pernikahan yang gagal. Saya membangkitkan diri kembali. Mengais-ngais tumpukan luka yang saya sembunyikan. Memang awalnya saya tak punya perasaan yang lebih pada calon saya itu, tapi bukan kah seorang gadis harus bisa mencintai calon suaminya? Itu saya lakukan sebisa mungkin. Hingga pada kenyataannya saya tahu, calon saya tak pernah memiliki hati sedikitpun untuk saya. Lalu untuk apa pernikahan digelar? Untuk apa mengikat dua hati yang tak bisa diikat?
Grup line kantor ramai berbunyi dan saya malas untuk membukanya. Paling masalah kantor yang tak bisa diselesaikan. Namun hingga 2 jam lebih grup itu tak juga berhenti berbunyi. Akhirnya saya buka. Terkejut saya, saat tahu kamu kembali ke sini. Ada rasa sesak yang menyeruak. Ada rindu yang tak tertahan.
***

“Kamu pulang, Har?” katamu di line personal.
“Iya,”
“Sudah memenuhi permintaan saya tahun lalu?” tanyamu to the poin.
“Tentang seorang gadis?” tanyaku ragu. Satu tahun sudah bisa menyakinkanku bahwa hati ini milikmu dan bisa menyakinkanku pula bahwa kamu bukan orang ditakdirkan untukku,
“Iya..”
“Rin, aku sedang di kafe tempat kita sering makan berdua dulu...” mengenang masa lalu yang tak akan bisa kita ulang lagi. Mengenang perasaan normal seorang lelaki pada seorang wanita
“Hei,jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Kamu sudah punya anak sekarang, Rin?” tanyaku lagi. Sungguh kali ini aku hanya ingin tahu. Aku tak akan sampai hati jika harus mengganggu hubungan orang lain.
“Anhar! Jangan mengalihkan pembicaraan. Saya serius bertanya,”

“Aku  serius, Rin. Aku masih menunggumu di sini. Lalu ingin bicarakan tentang Rindu...” kali ini aku lupa bahwa kenyataannya saya tidak ingin merusak kebahagianmu, tapi bolehkan aku meraih kebagiaanku? Kebahagianku bahwa kali ini aku bisa normal, yaitu mencintaimu?








*tribute to pecinta sesama jenis. saya gak nyalahin perasaan kalian, itu hak kalian, tapi inget harus sayang sama Tuhan ya, soalnya Tuhan juga sayang kalian. :D *

Selasa, 17 Februari 2015

SADAR

Sejenak saya sadar.
Bahwa benar katamu, cinta tak harus memiliki.
Sejenak saya sadar.
Waktu dan jarak tak mampu menghapus cinta.
Sejenak saya sadar.
Saya hanya orang asing bagimu.
Sejenak saya sadar.
Saya hanya orang baru yang menyerang cintamu.
Sejenak saya sadar.
Saya hanya orang sesaat yang kamu butuhkan.
Sejenak saya sadar.
Apa yang kamu ucapkan adalah serius bahwa semua kata-katamu tak ada yang serius.
Sejenak saya sadar.
Ternyata saya telah jatuh hati padamu.
Sejenak saya sadar.
Saya tan berhak mengganggu kebahagianmu dengannya..
140215~dalam kemelut rapuh