Aku tak ngerti
mengapa banyak wanita di luar sana yang posesif. Ya ampun pria dan wanita jalan
berduaan aja, wajar kali. Gak tiba-tiba kalian nge-cap mereka sepasang kekasih
kan? Dan plis, aku benar-benar
pusing, jika Ana sibuk menghasutku untuk cemburu pada Akbar. Semua itu hanya nafsu!
Ayolah, Akbar
dan aku hanya teman biasa. Jika Akbar sesekali bilang cinta padaku, wajar kan?
Itu kan hak dia, toh semua orang berhak mencintai seseorang selama tidak menganggu
yang lain. Jika Akbar pada akhirnya menjanjikanku akan melamarku di hadapan
orang tuaku juga hak dia kan? Toh, sampai saat ini Akbar juga belum berani
membawa seserahan.
Banyak yang
bilang aku tidak mencintai Akbar, aku hanya mencari nama dalam sebuah ikatan
saja. Tapi plis, aku dan Akbar saja tidak pernah membuat komitmen apapun. Aku
hanya bilang jika kamu memang serius datang lah ke rumah untuk berkenalan
dengan orang tuaku. Jadi apa aku sekarang boleh cemburu melihat Akbar foto
berdua dengan gadis berbikini di Pantai Losari, sehabis dinas beberapa minggu
yang lalu?
Ah, mereka
tidak pernah tau saja, kadang ada perasaan teriris ketika Akbar jalan-jalan
sehabis dinas keluar kota. Entah perasaan teriris karena iri melihat Akbar bisa
jalan-jalan atau teriris karena pada kenyataannya Akbar selalu didampingi
sekertarisnya saat pergi dinas. Hey, iya aku juga sekertaris Akbar, tapi kan
aku khusus di dalam lapangan. Mana pernah Akbar mengajakku pergi dinas. Katanya
takut aku sakit. Demi apapun juga, aku bukan gadis penyakitan dan meskipun begini
aku pernah menjajaki kakiku di Rinjani. So,
siapa yang sekarang masih menganggapku lemah?
“Ketika uang dan nafsu tidak lagi memburu,
maka tidak adalagi yang perlu kamu takutkan,” aku selalu mengingat
kata-kata ayahku ini. Hal itu yang selalu kuyakini dalam mengambil sikap hidup
di kota besar.
***
“Min, kamu
pulang sama siapa malam ini? Aku rindu kamu, Min,” Akbar memanggilku ketika aku
akan beranjak pulang.
“Aku juga
kangen....,” Aku tersenyum dan melanjutkan ucapanku “Aku pulang sama Ardi, udah jemput di bawah,
dia,”
“Kamu gak bisa
bilang kamu jadinya pulang sama aku?” tanya Akbar sedikit memelas. Ada kilatan
cemburu di bola matanya.
“Aku udah
janji duluan sama Ardi. Kamu tau kan aku gak suka ingkar janji?” aku kembali
menegaskan.
Aku kemudian
mengambil tas kerjaku dan turun ke bawah tanpa melihat Akbar sedikitpun. Aku tau
Akbar sangat cemburu, terlebih ketika aku pulang dijemput oleh Ardi, yang kebetulan
juga pernah berjanji untuk melamarku. Hey, kalian mau bilang aku wanita gampangan?
Aku tak seperti itu! Mereka saja yang tak berani melamarku. Mereka saja yang
menebar janji. Biasalah sifat dasar lelaki, menebar janji untuk melampiaskan
nafsu. Sama halnya dengan wanita, yang bernafsu
untuk bisa hidup enak di masa depan.
Ana sering
memperingatiku untuk tidak bermain api dengan Akbar dan Ardi. Aku hanya
tersenyum enggan menanggapi. Tak perlu Akbar jelaskan, tak perlu Ana sampai
berseru, aku tau pasti Akbar cemburu, karena aku pun juga begitu. Aku pun sangat cemburu pada Akbar. Cemburu itu
nafsu, dan sama halnya dengan cemburu aku sangat bernafsu untuk membuat Akbar
cemburu membabi buta. Aku ingin Akbar hancur! Bukan, ini bukan karena aku cemburu
melihat Akbar foto berdua dengan wanita lain di Losari. Aku cemburu karena
kasih sayang ibuku tercurah penuh pada Akbar. Karena ibu tega meninggalkan ayah
demi lelaki kaya-ayah dari Akbar. Karena pada dasarnya wanita selalu bernafsu ingin
hidup enak di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar