Senin, 06 Juli 2015

DIAM


Mencintaimu adalah sebuah hak yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Terlalu banyak luka, hingga aku menyerah pada sekutu-sekutumu itu. Aku tak pernah peduli ketika orang lain memandangku rendah karena tak pernah jatuh hati pada sekutumu. Bukan kan jatuh hati itu adalah hak asasi seseorang terhadap apapun dan siapapun itu?

                Sekutumu mengenalku sebagai lelaki cool penuh misteri dan kamu? Kamu mengenalku seutuhnya. Termasuk, pada siapa aku jatuh hati, sebelum bertemu denganmu. Kamu hanya menahan tertawa jika para sekutumu mengodaku genit. Kamu hanya tersenyum ketika kunyatakan tentang rasa yang aku miliki. Katamu, “Mencintai seseorang adalah hak semua orang. Tak ada yang berhak menghalangi, begitupun  orang yang kamu cintai. Tapi yang perlu kamu ingat, Tuhan, juga mencintaimu. Tega kah kau mengecewakan kebijakan yang telah ditetapkan sedari dulu?” Aku kala itu hanya terdiam, menyalahkan perasaanku, menyalahkan diriku yang seorang lelaki. Sejak itu entah mengapa ada rasa membuncah, dihatiku untukmu.
***

photo available at : http://ersa-saefulloh.blogspot.com/
                Tak banyak yang saya tau tentang hati seseorang, begitupun dengan rasa dihati yang saya miliki. Semua orang mengagumi, kepiawananmu, kemapananmu dan tentunya ketampananmu. Kamu hanya tersenyum manis ketika semua wanita memujimu. Saya? Kadang saya cemburu, kadang tak peduli. Menerima kenyataan bahwa saya tak akan bisa memilikimu tanpa pernah menyatakan perasaan lebih menyakitkan dibanding harus mengatakan perasaan ini langsung padamu. Hei, saya mohon, jika memang kamu dihadirkan dalam hari-hari saya  bukan sebagai pemeran utama, setidaknya saya mohon, kamu harus jadi peran utama dalam  hari-hari gadis lain.



 ***

                Kamu menangis. Aku sakit, bingung harus berkata apa. Katamu, wanita tak suka ditanya. Lalu kupeluk saja dirimu kala itu. Ada sensasi luar biasa yang tak pernah aku rasakan pada wanita manapun. Rasa sakitmu seolah berpindah ke hatiku. Memberi rasa sesak disela-sela nafasku.
***

Katamu mencintai tak perlu ditunjukkan. Biar saja hati yang rasa, hingga suatu saat rasa itu hilang. Hingga tidak perlu ada yang tersakiti dari jatuh hati yang tak wajar. diam adalah jawaban yang tepat, katamu. Saya terluka saat itu, sakit, tak bisa kah perasaan ini saya sampaikan padamu, hingga tak perlu ada yang disembunyikan lagi, hingga saya bisa tenang karena tak ada yang perlu disembunyikan lagi?

Saya menangis entah untuk apa dan kamu memelukku erat entah untuk apa. Kita diam dalam dunia masing-masing. Sibuk dengan spekulasi yang hanya ada dalam imaji saya. Saya tak pernah tau dan saya ingin tahu apa yang kamu pikirkan namun saya tak tahu.
available at : http://vanpagai.blogspot.com/2011/05/



***

“Rin, aku besok dimutasi ke Surabaya,” kataku ragu. Ada rasa kehilangan menghampiri. Mungkin kah ini hanya perasaan sesaat? Bukan kah aku telah mengenyakkan hati padamu dan pada sekutumu? Bukankah, aku sempat jatuh hati pada seorang lelaki?
“Ya. Aku tau, Har. Baik-baiklah kau di sana. Cari seorang gadis untuk dicintai, Har. Ya?”
“Jangan kamu minta aku melakukan hal-hal yang aneh. Katamu kamu paling tahu aku?” aku berusaha mencari tahu. Mencari tahu kepastian, yang tentunya sangat kuketahui. Mana mungkin kamu ada hati denganku, yang kau tahu mencintai seorang lelaki.
“Karena itu, Har, cintai seorang gadis. Agar aku bisa tenang,”
“Tenang untuk apa?” aku yang tak tenang mendengar pernyataanmu. Tidak tahu kah hatiku kini telah memilihmu?
“Tenang, bahwa kamu  telah mencintai Tuhan.”   
***

Akhirnya waktu itu datang juga, waktu dimana pernah saya bayangkan sebelumnya, bahwa kita akan berpisah. Kamu bilang perasaan harus disimpan rapat-rapat agar tidak ada yang kecewa, hingga nantinya ada waktu dimana saya akan yakin hati ini memang milik orang tersebut. Ada yang ingin kusampaikan, bahwa meski kini saya masih dalam kebimbangan, saya akan melangkah maju. Melangkah untuk menikah dengan seseorang yang ibu bilang bisa membahagiakan saya.

“Suatu saat kamu bisa menyakinkan itu Rin, aku mencintai Tuhan Rin. Sungguh! Dengan atau tanpa perasaanku yang uncontrol ini. Rin, mungkin aku akan merindukanmu,”
“Har. Jarak Surabaya-Jakaeta tak terlalu jauh untukmu datang ke pernikahan saya nanti kan?”
“Kamu? Akan menikah?” ada jeda saat kamu bertanya pada saya.
“Iya, Har, dengan seseorang yang ibu jodohkan  ke saya,”
“Tentu. Have fun, Rin,”
***

Setahun berlalu dan tak ada kabar lagi dirimu. Sempat kamu kirimkan undangan pernikahan padaku. Namun kala itu aku sedang sibuk persiapan beasiswa S2 ke Belanda. Tak pernah kudengar kabar lagi darimu sejak saat itu. Mungkin saat ini kamu sedang hamil tua atau sedang menimang bayimu yang masih berusia hitungan hari. Esok pagi, aku akan pulang ke Jakarta, mengambil beberapa pekan di sana, untuk liburan semester.
***

Setelah pernikahan yang gagal. Saya membangkitkan diri kembali. Mengais-ngais tumpukan luka yang saya sembunyikan. Memang awalnya saya tak punya perasaan yang lebih pada calon saya itu, tapi bukan kah seorang gadis harus bisa mencintai calon suaminya? Itu saya lakukan sebisa mungkin. Hingga pada kenyataannya saya tahu, calon saya tak pernah memiliki hati sedikitpun untuk saya. Lalu untuk apa pernikahan digelar? Untuk apa mengikat dua hati yang tak bisa diikat?
Grup line kantor ramai berbunyi dan saya malas untuk membukanya. Paling masalah kantor yang tak bisa diselesaikan. Namun hingga 2 jam lebih grup itu tak juga berhenti berbunyi. Akhirnya saya buka. Terkejut saya, saat tahu kamu kembali ke sini. Ada rasa sesak yang menyeruak. Ada rindu yang tak tertahan.
***

“Kamu pulang, Har?” katamu di line personal.
“Iya,”
“Sudah memenuhi permintaan saya tahun lalu?” tanyamu to the poin.
“Tentang seorang gadis?” tanyaku ragu. Satu tahun sudah bisa menyakinkanku bahwa hati ini milikmu dan bisa menyakinkanku pula bahwa kamu bukan orang ditakdirkan untukku,
“Iya..”
“Rin, aku sedang di kafe tempat kita sering makan berdua dulu...” mengenang masa lalu yang tak akan bisa kita ulang lagi. Mengenang perasaan normal seorang lelaki pada seorang wanita
“Hei,jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Kamu sudah punya anak sekarang, Rin?” tanyaku lagi. Sungguh kali ini aku hanya ingin tahu. Aku tak akan sampai hati jika harus mengganggu hubungan orang lain.
“Anhar! Jangan mengalihkan pembicaraan. Saya serius bertanya,”

“Aku  serius, Rin. Aku masih menunggumu di sini. Lalu ingin bicarakan tentang Rindu...” kali ini aku lupa bahwa kenyataannya saya tidak ingin merusak kebahagianmu, tapi bolehkan aku meraih kebagiaanku? Kebahagianku bahwa kali ini aku bisa normal, yaitu mencintaimu?








*tribute to pecinta sesama jenis. saya gak nyalahin perasaan kalian, itu hak kalian, tapi inget harus sayang sama Tuhan ya, soalnya Tuhan juga sayang kalian. :D *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar