Mencintaimu
adalah sebuah hak yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Terlalu banyak luka,
hingga aku menyerah pada sekutu-sekutumu itu. Aku tak pernah peduli ketika
orang lain memandangku rendah karena tak pernah jatuh hati pada sekutumu. Bukan
kan jatuh hati itu adalah hak asasi seseorang terhadap apapun dan siapapun itu?
Sekutumu
mengenalku sebagai lelaki cool penuh
misteri dan kamu? Kamu mengenalku seutuhnya. Termasuk, pada siapa aku jatuh
hati, sebelum bertemu denganmu. Kamu hanya menahan tertawa jika para sekutumu
mengodaku genit. Kamu hanya tersenyum ketika kunyatakan tentang rasa yang aku
miliki. Katamu, “Mencintai seseorang adalah hak semua orang. Tak ada yang berhak
menghalangi, begitupun orang yang kamu
cintai. Tapi yang perlu kamu ingat, Tuhan, juga mencintaimu. Tega kah kau
mengecewakan kebijakan yang telah ditetapkan sedari dulu?” Aku kala itu hanya
terdiam, menyalahkan perasaanku, menyalahkan diriku yang seorang lelaki. Sejak itu
entah mengapa ada rasa membuncah, dihatiku untukmu.
***
![]() |
| photo available at : http://ersa-saefulloh.blogspot.com/ |
Tak
banyak yang saya tau tentang hati seseorang, begitupun dengan rasa dihati yang
saya miliki. Semua orang mengagumi, kepiawananmu, kemapananmu dan tentunya ketampananmu.
Kamu hanya tersenyum manis ketika semua wanita memujimu. Saya? Kadang saya
cemburu, kadang tak peduli. Menerima kenyataan bahwa saya tak akan bisa
memilikimu tanpa pernah menyatakan perasaan lebih menyakitkan dibanding harus
mengatakan perasaan ini langsung padamu. Hei, saya mohon, jika memang kamu dihadirkan
dalam hari-hari saya bukan sebagai
pemeran utama, setidaknya saya mohon, kamu harus jadi peran utama dalam hari-hari gadis lain.
***
Kamu
menangis. Aku sakit, bingung harus berkata apa. Katamu, wanita tak suka ditanya.
Lalu kupeluk saja dirimu kala itu. Ada sensasi luar biasa yang tak pernah aku rasakan
pada wanita manapun. Rasa sakitmu seolah berpindah ke hatiku. Memberi rasa
sesak disela-sela nafasku.
***
Katamu mencintai
tak perlu ditunjukkan. Biar saja hati yang rasa, hingga suatu saat rasa itu
hilang. Hingga tidak perlu ada yang tersakiti dari jatuh hati yang tak wajar. diam
adalah jawaban yang tepat, katamu. Saya terluka saat itu, sakit, tak bisa kah
perasaan ini saya sampaikan padamu, hingga tak perlu ada yang disembunyikan
lagi, hingga saya bisa tenang karena tak ada yang perlu disembunyikan lagi?
Saya menangis
entah untuk apa dan kamu memelukku erat entah untuk apa. Kita diam dalam dunia
masing-masing. Sibuk dengan spekulasi yang hanya ada dalam imaji saya. Saya tak
pernah tau dan saya ingin tahu apa yang kamu pikirkan namun saya tak tahu.
![]() |
| available at : http://vanpagai.blogspot.com/2011/05/ |
***
“Rin, aku besok
dimutasi ke Surabaya,” kataku ragu. Ada rasa kehilangan menghampiri. Mungkin kah
ini hanya perasaan sesaat? Bukan kah aku telah mengenyakkan hati padamu dan
pada sekutumu? Bukankah, aku sempat jatuh hati pada seorang lelaki?
“Ya. Aku tau, Har.
Baik-baiklah kau di sana. Cari seorang gadis untuk dicintai, Har. Ya?”
“Jangan kamu minta
aku melakukan hal-hal yang aneh. Katamu kamu paling tahu aku?” aku berusaha
mencari tahu. Mencari tahu kepastian, yang tentunya sangat kuketahui. Mana mungkin
kamu ada hati denganku, yang kau tahu mencintai seorang lelaki.
“Karena itu, Har,
cintai seorang gadis. Agar aku bisa tenang,”
“Tenang untuk
apa?” aku yang tak tenang mendengar pernyataanmu. Tidak tahu kah hatiku kini
telah memilihmu?
“Tenang, bahwa
kamu telah mencintai Tuhan.”
***
Akhirnya waktu
itu datang juga, waktu dimana pernah saya bayangkan sebelumnya, bahwa kita akan
berpisah. Kamu bilang perasaan harus disimpan rapat-rapat agar tidak ada yang
kecewa, hingga nantinya ada waktu dimana saya akan yakin hati ini memang milik
orang tersebut. Ada yang ingin kusampaikan, bahwa meski kini saya masih dalam
kebimbangan, saya akan melangkah maju. Melangkah untuk menikah dengan seseorang
yang ibu bilang bisa membahagiakan saya.
“Suatu saat
kamu bisa menyakinkan itu Rin, aku mencintai Tuhan Rin. Sungguh! Dengan atau
tanpa perasaanku yang uncontrol ini. Rin,
mungkin aku akan merindukanmu,”
“Har. Jarak Surabaya-Jakaeta
tak terlalu jauh untukmu datang ke pernikahan saya nanti kan?”
“Kamu? Akan
menikah?” ada jeda saat kamu bertanya pada saya.
“Iya, Har,
dengan seseorang yang ibu jodohkan ke saya,”
“Tentu. Have fun, Rin,”
***
Setahun berlalu
dan tak ada kabar lagi dirimu. Sempat kamu kirimkan undangan pernikahan padaku.
Namun kala itu aku sedang sibuk persiapan beasiswa S2 ke Belanda. Tak pernah
kudengar kabar lagi darimu sejak saat itu. Mungkin saat ini kamu sedang hamil
tua atau sedang menimang bayimu yang masih berusia hitungan hari. Esok pagi,
aku akan pulang ke Jakarta, mengambil beberapa pekan di sana, untuk liburan
semester.
***
Setelah pernikahan
yang gagal. Saya membangkitkan diri kembali. Mengais-ngais tumpukan luka yang
saya sembunyikan. Memang awalnya saya tak punya perasaan yang lebih pada calon
saya itu, tapi bukan kah seorang gadis harus bisa mencintai calon suaminya? Itu
saya lakukan sebisa mungkin. Hingga pada kenyataannya saya tahu, calon saya tak
pernah memiliki hati sedikitpun untuk saya. Lalu untuk apa pernikahan digelar? Untuk
apa mengikat dua hati yang tak bisa diikat?
Grup line kantor ramai berbunyi dan saya
malas untuk membukanya. Paling masalah kantor yang tak bisa diselesaikan. Namun
hingga 2 jam lebih grup itu tak juga berhenti berbunyi. Akhirnya saya buka. Terkejut
saya, saat tahu kamu kembali ke sini. Ada rasa sesak yang menyeruak. Ada rindu
yang tak tertahan.
***
“Kamu pulang, Har?”
katamu di line personal.
“Iya,”
“Sudah
memenuhi permintaan saya tahun lalu?” tanyamu to the poin.
“Tentang seorang
gadis?” tanyaku ragu. Satu tahun sudah bisa menyakinkanku bahwa hati ini milikmu
dan bisa menyakinkanku pula bahwa kamu bukan orang ditakdirkan untukku,
“Iya..”
“Rin, aku
sedang di kafe tempat kita sering makan berdua dulu...” mengenang masa lalu yang tak akan bisa kita ulang lagi. Mengenang perasaan
normal seorang lelaki pada seorang wanita
“Hei,jangan
mengalihkan pembicaraan!”
“Kamu sudah
punya anak sekarang, Rin?” tanyaku lagi. Sungguh kali ini aku hanya ingin tahu.
Aku tak akan sampai hati jika harus mengganggu hubungan orang lain.
“Anhar! Jangan
mengalihkan pembicaraan. Saya serius bertanya,”
“Aku serius, Rin. Aku masih menunggumu di sini. Lalu
ingin bicarakan tentang Rindu...” kali ini aku lupa bahwa kenyataannya saya
tidak ingin merusak kebahagianmu, tapi bolehkan aku meraih kebagiaanku? Kebahagianku
bahwa kali ini aku bisa normal, yaitu mencintaimu?
*tribute to pecinta sesama jenis. saya gak nyalahin perasaan kalian, itu hak kalian, tapi inget harus sayang sama Tuhan ya, soalnya Tuhan juga sayang kalian. :D *


Tidak ada komentar:
Posting Komentar