Selasa, 07 Juli 2015

Menjadi Orang yang Serba Tahu





Siapa bilang enak menjadi orang yang serba tahu? Kamu, ingin? Bodoh! Kamu pikir enak menjadi orang yang serba tahu.  Jika aku bisa memilih aku lebih ingin menjadi manusia bodoh sepertimu. Hey, kenapa diam? Kecewa dengan perkataan saya? Tidak kan? Orang bodoh mana tahu rasanya kecewa. Ya kan?

Orang bodoh itu lebih tentram dan tenang. Ya kan? Kamu pernah terluka karena dihujat gurumu? Ah, paling-paling kamu hanya terluka, lalu besok lupa. Kalau saya? Saya tentu akan kecewa jika saya dihujat oleh guru disekolah. Setidaknya saya akan buktikan padanya bahwa yang saya ketahui benar, apapun caranya. Iya dong, wong saya  ini orang yang serba tahu.

Menjadi orang yang serba tahu itu tidak enak kawan. Bahkan kamu harus pura-pura bodoh untuk dihargai dan dihormati. Apa? Kamu bingung dengan perkataan saya? Oke, saya buat lebih sederhana lagi. Setidaknya saya harus mensejajarkan pola pikir saya dengan kamu dengan melakukan hal itu,  saya telah berpura-pura menjadi bodoh. Saya benar kan?

                Kamu tau mengapa Susi keluar dari sekolah beberapa bulan yang lalu? Kamu pasti tidak tahu kan? Apa, kamu tahu? Iya benar Susi dikeluarkan karena hamil di luar nikah, tapi apa kamu tau mengapa Susi bisa hamil? Tidak kan? Susi hamil karena tindakan asusila Pak Damar. Iya tentu saja, kepala seolah yang paling kita kagum-kagumi itu. Kamu pasti tak tahu bukan? Seperti itulah, saya yang serbatahu perlu berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa agar saya terlindung. Kamu pasti bertanya dalam hati, tahu dari mana saya? Jangan-jangan itu saya lakukan agar dibilah pintar. Tidak! Itu tidak benar, saya tahu itu karena sebelum Susi saya juga korbannya. Makanya sore ini saya masih di sini.
photo available at : http://minalarvaixh.blogspot.com/

                Kenapa kamu memandangku seperti itu? Sudah kukatakan kan saya ini serba tahu? Saya tak sebodoh Susi untuk melaporkan kejadian itu pada orang tuanya dan ibu saya tidak sebodoh orang tua Susi yang mau nemerima uang suap itu. Ibu saya tentunya lebih bodoh lagi karena tidak tahu anaknya sudah tak perawan. Hahaha.

                Hey, percayalah menjadi seseorang yang serba tahu itu tidak enak. Saya lebih memilih ingin tidak tahu sama sekali. Karena menjadi seseorang yang serba tahu itu melelahkan, memuakan dan saya benci menjadi orang yang serba tahu. Percayalah...

Kamu tahu rasanya saat kamu tahu ternyata ibu kandungmu selingkuh dengan  lelaki lain? Kamu tahu perasaannya, saat kamu bahkan bukan pihak pertama yang dikhianati? Kamu tahu, namun kamu tak mampu mengatakan kebenarannya pada ayahmu sendiri.  Percayalah saya benci menjadi orang yang serba tahu. Terlebih saya tahu, bahwa orang yang menjadi selingkuhan ibu adalah orang yang meniduri saya pertama kali, orang yang melakukan tindakan asusila di sekolah ini pada saya.

Saya sebagai orang yang serba tahu sudah seharusnya menutup rapat semua ini. Menelan pilu semua pengkhianatan ini dan tentunya menelan banyak pil penggugur kehamilan. Menjadi orang yang serba tau itu menyakitkan! Camkan itu! Belum lepas dari keterpurukan saya juga harus menyakini semua masalah akan selesai begitu saja, meyakini saya akan mampu berdiri bangkit. Masih kah kamu mau sekarang menjadi yang serba tahu?

photo available at http://herbamss.blogspot.com



Hey, mengapa diam? Kamu tak perlu menangisi diri saya yang telah rusak ini. Saya hadir di sini bukan untuk mendongengkanmu. Saya di sini untuk memberi tahukanmu bahwa menjadi seseorang yang serba tau itu menjijikan!

Hari ini, ya, hari ini saya akan memberitahukanmu, bahwa saya telah merancang sebuah pembunuhan pada lelaki biadap itu. Ya,  iapa lagi jika bukan Pak Damar. Hari ini saya akan merayunya ke laboratorium kimia, seperti dia dulu yang telah merayu. Lalu diam-diam akan saya beri dia kopi berisi alkohol 96% hingga mulutnya yang jahanam itu berbusa. Sisa alkohol 96% sebanyak 5 liter itu akan saya tumpahkan ke lantai, biar besok ada berita kebakaran yang menelan 1 korban jiwa di sekolah kita. Hahaha.


Sekarang semuanya terserah kamu. Kamu mau menjadi orang yang serba tahu, atau tetap menjadi bodoh seperti sekarang? Saya tak peduli.

2 komentar: