Jumat, 22 Agustus 2014

Sebeku Udara Subuh Ini


Udara subuh ini begitu dingin. Angin sepoi-sepoi mengibarkan kemeja yang kukenakan. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun suasana di sini sudah cukup ramai. Beberapa truk berisi sayur dan buah-buahan segar, hilir mudik. Tak jarang truk berisi daging hasil laut dari lepas pantai juga lewat.
                Aroma busuk percampuran dari air sisa pencucian, sayur yang telah layu daging yang telah berkapang dan lalat yang mengerumuni ayam-ayam, bersatupadu.  Aroma ini semilir menusuk indera penciumanku. Membuatku sedikit pusing, lupa bahwa dulu hampir setiap saat kucium aroma ini.
                Aku berusaha berkeliling dari satu sudut ke sudut lainnya. Mencari dengan susah payah, seseorang yang mungkin masih dapat aku kenali. Aku ragu, terlalu lama aku tak melihatmu. Masihkan aku dapat mengenalimu? Mungkin saja wajahmu telah berkeriput, mungkin saja kulitmu telah menghitam, mungkin saja rambutmu telah memutih, mungkin  sorot matamu telah meredup. Masihkah aku dapat mengenalimu, sedang fisikku telah berubah banyak?
                Beberapa orang yang sibuk bekerja, beberapa kali memandang ke arahku. Satu diantaranya memandangku dengan wajah penuh tanya, yang lainnya memandangku dengan hina. Mungkin mereka  terheran-heran dengan penampilanku yang cukup mencolok di pasar induk ini.
                Aku kembali mencari sosoknya. Melihat sekitaran pasar induk ini mengingatkan ku akan masa lalu yang sudah lama ku hapus dari memori. Namun seperti tombol restore, memori itu kembali muncul satu persatu. Teringat samar saat orang itu lebih memilihmu dibandingkan aku. Sungguh aku terluka. terlebih kau cantik,  dan aku tidak apa-apanya dibandingkan dirimu. Hari itu aku terluka, hari itu aku begitu membenci pasar induk ini, hari itu aroma busuk yang selalu kuabaikan tercium sangat menyengat.
                Aku benci. Benci semuanya tentang pasar ini, tentang kemacetan di jalan utama pasar ini, benci kamu dan sangat membenci orang itu. Rasa cintaku pada orang itu hilang seketika saat itu. Aku tau ini terlalu berlebih, mengingat dulu usiaku pun belum genap 10 tahun. Cara terampuh menyembunyikan kebencian adalah melupakan segalanya, membangun podasi egoistis yang tinggi, membuktikan aku dapat sukses tanpa kehadiran kamu ataupun orang itu.  
                Sekarang di sinilah aku berada. Mengenang masa kecil kita. menertawakan kebencianku yang belum lekang hingga saat ini. Namun ternyata aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu.
                “Rahmat?” tanya wanita tua yang menghampiriku. “Kau, kah itu Rahmat?” tanya wanita tua itu lagi. Dia menundukkan badannya berusaha memelukku erat. Aku  hanya terdiam. Penjagaku berusaha melepaskan pelukan wanita itu. Aku memberi isyarat pada penjagaku.
Aroma pasar ini melekat erat pada bajunya yang lusuh. Wanita tua ini melepaskan pelukannya menyadari kesalahannya yang memelukku tiba-tiba. Ia tampak lusuh, rambut putihnya sesekali tertiup angin. Keriput menghiasi seluruh bagian tubuhnya,  
                “Rahmat, ini aku Euis...” ucap wanita tua itu.
Euis?! Ini kah kamu Euis? Orang yang sedari tadi kucari? Orang yang kubenci selama berpuluh-puluh tahun ini? aku kembali mengamatinya lekat-lekat menyadari masih ada sosok wajahku pada wanita tua ini.
Wanita tua ini menitikkan air matanya tanpa sadar.
“Rahmat, kamu kemana saja? Aku selalu merindukanmu. Aku selalu menantikan kehadiranmu. Menanyakan keberadaanmu pada ibu. Rahmat percaya lah setiap malam ibu selalu menangis melihatku begitu merindukanmu. Akhirnya kamu datang Rahmat. Ibu sudah lama meninggal…” ucap wanita tua itu menggantung.
Dada ini terasa sesak mendapat pernyataan bahwa orang itu, orang sangat aku benci telah meninggal. Masih ada dendam yang tak tersampaikan masih ada pertanyaan yang ingin kutanyakan, dan ini sangatlah mustahil.
“Rahmat, sebelum meninggal ibu selalu bilang aku harus menemukanmu. Dia melakukan semua ini demi kebaikanmu, karena kamu anak lelaki, karena dulu kamu sering sakit-sakitan dan ibu hanya ingin melihatmu bahagia bersama keluarga yang dapat membuatmu bahagia.“
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata apa-apa. Setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya aku menemukanmu kembali. Menemukan kembaranku yang dulu pernah kuanggap tak ada. Hati ini mencelos. Apakah  selama ini aku yang terlalu egois?
“Rahmat kamu kenapa? Kenapa kamu sekarang berada dikursi roda?”
“Aku…” aku hanya terdiam kelu, menyadari masih adakah hak-ku untuk menceritakan semuanya dan meminta tolong padanya?
“Rahmat?” tanya Euis sekali lagi.
“Aku sakit Euis. Leukimia. Sudah beberapa tahun belakangan ini. Dan aku… Dan aku… Aku..  butuh donor sumsum tulang belakangmu. Itu pun jika kamu mengizinkannya,” ucapku terbata-bata, tembok keegoisanmu runtuh seketika.
“Apapun, Rahmat. Apapun! Menyetujui semua keinginanmu juga salah satu permintaan terakhir dari ibu….”
Air mata ini jatuh seketika. Menyadari betapa bodohnya aku begitu membenci orang itu. Orang yang ingin kuhapus dari memori ingatanku, orang yang jelas-jelas telah mencampakkanku dulu, orang yang  dulu merawatku dengan sungguh-sungguh, orang yang begitu besar cintanya padaku, orang yang telah kusia-siakan selama ini. ibu.
Bu, Rahmat rindu ibu.



1 komentar: