Udara subuh ini begitu dingin. Angin
sepoi-sepoi mengibarkan kemeja yang kukenakan. Waktu masih menunjukkan pukul tiga
dini hari. Namun suasana di sini sudah cukup ramai. Beberapa truk berisi sayur
dan buah-buahan segar, hilir mudik. Tak jarang truk berisi daging hasil laut dari
lepas pantai juga lewat.
Aroma
busuk percampuran dari air sisa pencucian, sayur yang telah layu daging yang
telah berkapang dan lalat yang mengerumuni ayam-ayam, bersatupadu. Aroma ini semilir menusuk indera penciumanku. Membuatku
sedikit pusing, lupa bahwa dulu hampir setiap saat kucium aroma ini.
Aku
berusaha berkeliling dari satu sudut ke sudut lainnya. Mencari dengan susah
payah, seseorang yang mungkin masih dapat aku kenali. Aku ragu, terlalu lama aku
tak melihatmu. Masihkan aku dapat mengenalimu? Mungkin saja wajahmu telah
berkeriput, mungkin saja kulitmu telah menghitam, mungkin saja rambutmu telah
memutih, mungkin sorot matamu telah
meredup. Masihkah aku dapat mengenalimu, sedang fisikku telah berubah banyak?
Beberapa
orang yang sibuk bekerja, beberapa kali memandang ke arahku. Satu diantaranya
memandangku dengan wajah penuh tanya, yang lainnya memandangku dengan hina. Mungkin
mereka terheran-heran dengan penampilanku
yang cukup mencolok di pasar induk ini.
Aku
kembali mencari sosoknya. Melihat sekitaran pasar induk ini mengingatkan ku
akan masa lalu yang sudah lama ku hapus dari memori. Namun seperti tombol restore, memori itu kembali muncul satu
persatu. Teringat samar saat orang itu lebih memilihmu dibandingkan aku. Sungguh
aku terluka. terlebih kau cantik, dan
aku tidak apa-apanya dibandingkan dirimu. Hari itu aku terluka, hari itu aku
begitu membenci pasar induk ini, hari itu aroma busuk yang selalu kuabaikan
tercium sangat menyengat.
Aku
benci. Benci semuanya tentang pasar ini, tentang kemacetan di jalan utama pasar
ini, benci kamu dan sangat membenci orang itu. Rasa cintaku pada orang itu
hilang seketika saat itu. Aku tau ini terlalu berlebih, mengingat dulu usiaku pun
belum genap 10 tahun. Cara terampuh menyembunyikan kebencian adalah melupakan
segalanya, membangun podasi egoistis yang tinggi, membuktikan aku dapat sukses
tanpa kehadiran kamu ataupun orang itu.
Sekarang
di sinilah aku berada. Mengenang masa kecil kita. menertawakan kebencianku yang
belum lekang hingga saat ini. Namun ternyata aku membutuhkanmu, sangat
membutuhkanmu.
“Rahmat?”
tanya wanita tua yang menghampiriku. “Kau, kah itu Rahmat?” tanya wanita tua
itu lagi. Dia menundukkan badannya berusaha memelukku erat. Aku hanya terdiam. Penjagaku berusaha melepaskan
pelukan wanita itu. Aku memberi isyarat pada penjagaku.
Aroma pasar
ini melekat erat pada bajunya yang lusuh. Wanita tua ini melepaskan pelukannya
menyadari kesalahannya yang memelukku tiba-tiba. Ia tampak lusuh, rambut
putihnya sesekali tertiup angin. Keriput menghiasi seluruh bagian tubuhnya,
“Rahmat,
ini aku Euis...” ucap wanita tua itu.
Euis?! Ini kah kamu Euis? Orang yang sedari
tadi kucari? Orang yang kubenci selama berpuluh-puluh tahun ini? aku kembali
mengamatinya lekat-lekat menyadari masih ada sosok wajahku pada wanita tua ini.
Wanita tua ini
menitikkan air matanya tanpa sadar.
“Rahmat, kamu
kemana saja? Aku selalu merindukanmu. Aku selalu menantikan kehadiranmu. Menanyakan
keberadaanmu pada ibu. Rahmat percaya lah setiap malam ibu selalu menangis
melihatku begitu merindukanmu. Akhirnya kamu datang Rahmat. Ibu sudah lama
meninggal…” ucap wanita tua itu menggantung.
Dada ini
terasa sesak mendapat pernyataan bahwa orang itu, orang sangat aku benci telah meninggal.
Masih ada dendam yang tak tersampaikan masih ada pertanyaan yang ingin
kutanyakan, dan ini sangatlah mustahil.
“Rahmat,
sebelum meninggal ibu selalu bilang aku harus menemukanmu. Dia melakukan semua
ini demi kebaikanmu, karena kamu anak lelaki, karena dulu kamu sering
sakit-sakitan dan ibu hanya ingin melihatmu bahagia bersama keluarga yang dapat
membuatmu bahagia.“
Aku hanya
mengangguk, tak mampu berkata apa-apa. Setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya
aku menemukanmu kembali. Menemukan kembaranku yang dulu pernah kuanggap tak
ada. Hati ini mencelos. Apakah selama
ini aku yang terlalu egois?
“Rahmat kamu
kenapa? Kenapa kamu sekarang berada dikursi roda?”
“Aku…” aku
hanya terdiam kelu, menyadari masih adakah hak-ku untuk menceritakan semuanya
dan meminta tolong padanya?
“Rahmat?”
tanya Euis sekali lagi.
“Aku sakit Euis.
Leukimia. Sudah beberapa tahun belakangan ini. Dan aku… Dan aku… Aku.. butuh donor sumsum tulang belakangmu. Itu pun
jika kamu mengizinkannya,” ucapku terbata-bata, tembok keegoisanmu runtuh
seketika.
“Apapun, Rahmat.
Apapun! Menyetujui semua keinginanmu juga salah satu permintaan terakhir dari
ibu….”
Air mata ini
jatuh seketika. Menyadari betapa bodohnya aku begitu membenci orang itu. Orang yang
ingin kuhapus dari memori ingatanku, orang yang jelas-jelas telah mencampakkanku
dulu, orang yang dulu merawatku dengan
sungguh-sungguh, orang yang begitu besar cintanya padaku, orang yang telah
kusia-siakan selama ini. ibu.
Bu, Rahmat rindu ibu.
:)
BalasHapus