Kamis, 28 November 2013

Sehari Tentang Cinta

09:10:47:32 15034320

Saya  berhasil menembuskan sinar gamma tepat ke jantungnya. Ada rasa sesak, menyadari bawa orang yang baru saja saya bunuh adalah diri saya sendiri di satu hari mendatang. Jadi satu hari mendatang saya akan segera mati? Tepat pukul 09:10:47:32? Baiklah, memang sebenarnya saya sudah sangat letih menjalani kehidupan. Semua terasa menjemukan. Liat lah betapa membosankannya, ketika kalian ingin memperoleh keturunan anak, kalian hanya perlu datang ke bank anak dan voila, dalam hitungan sepersepuluh detik kalian akan mengandung dan melahirkan anak kalian. Jadi apakah saat ini cinta masih diperlukan?
Tapi rasanya ini sangat menjemukan, saya sangat ingin merasakan jatuh cinta sebelum saya mati. Saya kemudian tersenyum kecil meyadari pikiran bodoh saya. Ya ya ya, saya rasa kalian juga sedang menertawakan saya. Cinta hanya topik bodoh yang sering dibicarakan oleh kaum-kaum fanatik akan pernikahan. Jadi apakah saya termasuk diantaranya? Saya hanya tak mengerti mengapa cinta tak lagi diminati oleh kalian? Saya hanya ingin tahu betapa beharganya saya bagi orang lain dengan cinta, itu saja, salah kah?

09:12 13122013
                Hujan perlahan, mederas membentur keras dinding jalan. Langit yang seharusnya terang kini bewarna kelabu, persis ketika matahari sore datang. Sayangnnya ini masih terlalu pagi untuk semua kekelabuan langit. Suara hujan menimbulkan bunyi keras di dalam bus yang kutumpangi. Ku pandangi sekali lagi sebuah undang berwarna putih silver.
Aku berusaha memejamkan mata. Berusaha membendung air mata yang siap terjun di pipiku. Sebentar lagi natal, sebentar lagi di waktu yang bersamaan Rico ulang tahun. Itu seharusnya akan menjadi momen membahagiakan bagi Rico. Aku pikir tahun ini aku bisa ikut hadir dalam kebahagiannya. Setidaknya itu yang kupikirkan 6 bulan yang lalu. Aku pikir jatuh hati itu sederhana.
Mungkin, kamu akan menertawakanku. Ya, aku tahu, aku tahu. Aku terlalu naif untuk mengharapkan cinta sederhana dari seseorang yang tak sederhana. Aku terlalu naif menyederhanakan perbedaan yang terlalu mencolok dari kepercayaanku dengannya. Padahal jelas aku tahu yang satu kepercayaan pun kadang tak mampu menyelesaikan permasalahan.
Sesak memang ternyata ketika Chintia-sahabat terdekat-yang mampu merebut hati mama Rico dan aku-seorang gadis yang tak pernah diharapkan menjadi bagian hidup Rico-harus pergi menjauh. Aku tau, aku terlalu naif. Aku tau, tapi apa kamu tahu, ada yang lebih menyakitkan dari semua rasa cinta yang pernah kurasakan? Itu adalah saat dimana ketika orang yang kamu percaya, kemudian perlahan tidak dapat lagi kamu percaya. Itu adalah saat melihat keluargamu hancur berantakan.
Air mataku mulai turun dari kelopak mata yang kututup rapat dengan paksa, percuma cairan tipis ini mampu menembus bulu mata pertahan terakhir. Aku benci cinta! aku benci jatuh hati! Itu hanya dusta!

09:10:47:45 15034320
                Saya kembali berhadapan dengan saya entah di dimensi waktu yang mana. Saya berusaha melarikan diri dengan pintu waktu. Hei, tenang saja saya berjanji saya tidak akan melakukan hal bodoh seperti saya di masa depan. Saya hanya ingin melarikan diri sejenak tanpa bermaksud menetap di masa lalu.
Hey, jangan menertawakan saya! Saya jelas masih ingat Ini adalah lini waktu dimana semua orang dapat menjelajahi tempat dalam hitungan seperdelapan detik, bahkan menjelajahi dimensi waktu, termasuk kembali ke masa lalu. Ini adalah masa dimana kita dapat merasakan tidur sangat cukup hanya dalam waktu seperempat detik. Semua berlangsung serba instan dan semua hal dapat dilakukan.
Saya tahu pasti Ini adalah masa dimana kejahatan antar sesama tak lagi terjadi. Ini masa dimana kebanyakan orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Waktu terasa begitu singkat untuk bertegur sama dengan orang lain. Kebanyakan manusia hanya dapat bertahan hidup selama tujuh hari. Ya, enam hari setelah dilahirkan maka mereka akan mengalami kelemahan fisik secara perlahan.
Semakin singkatnya waktu berlalu, kejahatan tak lagi dilakukan oleh sesama manusia. Kejahatan akan dilakukan oleh satu orang yang sama pada dimensi waktu yang berbeda. Kebanyakan manusia yang serakah memilih kembali ke masa lalu untuk terus dapat bertahan hidup. Sayangnya, untuk terus dapat tinggal di satu masa itu kalian jelas tahu, kalian harus dapat memusnahkan kalian di masa itu. Siapa yang menang dialah yang dapat bertahan hidup.
Satu-satunya hal bodoh yang saya lakukan adalah menekan kunci waktu lebih jauh, terlalu jauh sebelum saya lahir di dunia. Saya berusaha menutup kenop yang sudah terlanjur terbuka. Percuma saya terhisap masuk!

 09:15 13122013
                Ada guncangan kencang mengagetkanku. Guncangan apa itu? Aku tanpa sadar membuka mata dan air mataku membeludak keluar dengan derasnya. Bola mataku berpendar ke seluruh bagian bis mencari kejagalan yang baru saja terjadi. Semua penumpang dalam bis tampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Otakku kemudian berusaha memberi impuls untuk menutup mataku lagi, untuk menenangkan hatiku yang masih terluka. mataku siap mengeksekusi perintah dari otak namun kemudian terhenti ketika beradu tatapan dengan orang di sampingku.
                Siapa dia? Sedari tadi memejamkan mata kurasa tidak ada penumpang baru yang naik ke bis ini. Lalu siapa dia? Lelaki berpakaian aneh, semuanya serba bewarna coklat, lengkap dengan topi pawai seperti topi badut. Wajahnya seputih kapas, tingginya hanya sepundakku saat dia duduk di sampingku. dia menatap lekat pada jam tangan yang kugunakan. Beberapa detik kemudian mataku dan matanya kemudian saling beradu. 

09:15:03:49 13122013
                Saya terduduk di salas satu bangku di dalam kotak balok berukuran besar. Kursi yang saya duduki pun tak kalah besar. Saya rasa kotak balok ini bergerak, entah lah. Gelap menjalar di luar kotak balok ini. Air hujan mengguyur dengan derasnya. Sungguh fenomena yang jarang terjadi.
Ini dimana? Saya memandang menyeluruh. Ini tampak begitu asing? Saya terlempar ke dalam dimensi waktu mana kah? Gadis di sebelah saya terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja airmatanya jatuh tak henti-henti, saya perkirakan ia telah mengeluarkan air mata selama 1 menit lebih. Saya tak tahu pasti, penunjuk waktu yang merekat di kulit saya, rusak.
Saya memandangi gadis ini menyeluruh. ia mengelap air matanya perlahan-lahan. Kemudian memandang ke sekeliling begitu lama. Semua yang berada  dalam kotak balok ini seakan bergerak slow motion. Saya melihat benda tak kalah aneh di pergelangan tangan gadis itu. Saya rasa saya pernah melihat benda itu entah dimana.
Saya berusaha berpikir keras ketika mata kami kemudian saling beradu. Wajahnya mulai mengalami perubahan, tak ada lagi air mata di pipinya, alisnya mulai menyatu dan matanya mulai menyipit, sepertinya ia sedang berusaha meneliti saya. Aneh setelah hampir 3 menit mata kami beradu dan menimbulkan ketakutan sendiri dari saya-siapa yang tahu manusia di dimensi waktu ini senang memakan manusia lain, gadis ini tidak melakukan tindakan apapun selain memalingkan mukanya, tentunya dengan gerakan slow motion. Ah! Saya ingat, saya ingan benda yang melekat di lengan kirinya, itu jam tangan manusia abad 20-21 yang sering muncul di museum waktu.

09:18 13122013
                Aku menatapnya dengan lekat. Mata itu… hidung itu… bibir itu itu.. bentuk wajah itu, aku rasa aku sangat mengenalnya. Aku berusaha mengingat, nihil. Jantung mulai berdebar-debar, pandangan matanya yang hangat mampu membiusku. Aku berusaha memalingkan wajahku, menyadari kebodohanku menatap matanya selama beberapa menit ini. Pasti aku akan disangka perempuan maniak.

                Aku berasaha memejamkan mataku, menghilangkan segalanya. Percuma! Bayangan tentang Rico dan Chintia yang akan segera menikah memenuhi pikiranku. Mata itu! Bukankah itu mata elang milik Rico? Hidung mancung itu? Bukan kah itu Milik Rico? Dan bibir tipis dan bentuk wajah itu bukan kah milik Chintia? Aku segera membuka mata memastikan.

09:20:59:46 13122013
                Gadis itu kembali menatap saya, setelah matanya terpejam cukup lama. Ada getaran aneh menjalar di perut saya. Saya berusaha tersenyum. Hal yang tak pernah saya lakukan seumur hidup saya, selama enam hari ini. Tawa gadis itu pecah. Saya tak mengerti mengapa ia tiba-tiba tertawa. Bukankan sebelumnya ia menangis?

09:21 13122013
                Aku tak tahu mengapa aku bisa tertawa di depan orang asing. Senyumnya begitu aneh dan tampak takut-takut. Aku yakin kamu akan menyangka aku gadis gila, setelah aku menangis meruntuk dan membenci cinta, kini dengan mudahnya aku tertawa lepas dan memperkenalkan diriku pada orang asing.
                “Andin,” aku mengulurkan tanganku. Aku pasti sudah gila!
                “Ginda,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

19:22:21:46 13122013
                Saya rasa, saya tahu getaran apa yang menjalar diperut saya. Saya rasa ini cinta, persis film-film yang saya tonton dengan latar abad 21. Gadis itu bernama Andin.
“Tau gak aku merasa sudah sangat mengenalmu. Padahal kita baru mengenal beberapa jam. Kamu pasti berpikir kalau aku cewek gila,” ucapnya sambil tersenyum.
Saya pun membalasnya dengan tersenyum. Bagaimana bisa Andin bilang kita baru mengenal beberapa jam. Beberapa jam itu waktu yang berharga! Beberapa jam itu saya mampu tidur sebanyak 100 kali, saya mampu makan ribuan kali, saya mampu membaca jutaan kali, mampu menonton miliaran kali dan tentunya mampu membuang waktu dengan aktifitas yang menjemukan.
“Eh, sudah malam. Pulang yuk. Aku saja yang teraktir,” ucap Andin menyerup jus mangga yang ia pesan di salah satu cafe mall tempat kita menghabiskan waktu selama beberapa jam ini. Ia mengeluarkan sebuah kotak berisi kertas-kertas. Aku rasa ini yang dinamakan mata uang.
 Kamu dimana rumahnya?” tanya Andin pada saya setelah membayar.
“Saya?” ucap saya kebingungan.
Bagaimana mungkin saya bilang bahwa saya bukan manusia dari dimensi waktu ini? Bagaimana mungkin Andin mampu mempercayainya? Saya pun tak tahu saya sedang berada di daerah mana ini. Semua kegiatan yang kami lakukan hari ini, semua hal yang saya lihat hari ini terlihat begitu asing dan saya hanya mampu penasaran dan terus mengikuti alur waktu yang terjadi di sini.

19:25 13122013
                “Kok kamu malah diam sih Gin?” tanyaku merasa bersalah. Kebiasaan burukku terulang lagi, aku terlalu agresif! Membuat orang-orang yang berada di dekatku senang kemudian jengah karena keagresifanku.
                “Oh, hahaha, nanti saya dijemput saudara. Saya bukan orang sini,” ucapnya lagi-lagi sambil tersenyum. Senyum itu, persis dengan senyum yang dimiliki Rico.
                “Maaf ya Gin kalau aku nyebelin dan terlalu agresif,” ucapku spontan, aku tidak mau Ginda membenciku , sama seperti ketika ayah terlalu bersikap agresif kepada ibu.
                “Haha, enggak kok. Justru saya mau berterima kasih padamu untuk hari ini,” ucap Ginda mengelus rambutku.
                Aku terdiam menyadari sesuatu. Bukankah Ginda tingginya hanya sepundakku? Lalu mengapa sekarang Ginda mampu mengelus rambutku? Wajah Ginda juga terlihat semakin tegas. Ah mungkin tadi hanya perasaanku.

19:31:34:46 13122013
                Saya tanpa sadar mengelus rambut Andin pelan. Hari itu saya berpisah dengannya di depan gerbang mall. Andin pulang menggunakan kotak berbentuk oval, bertuliskan taxi, sementara saya masih terdiam di sini. Terlalu banyak yang Andin ajarkan saya banyak hal. Dia mengajarkan bagaimana cara tersenyum, bagaimana cara berbicara, bagaimana cara tertawa. Hal-hal yang tak pernah saya lakukan selama ini. Kalian jelas tahu kan komunikasi tak perlu dilakukan secara langsung? Kita hanya perlu menghubungkan otak kita dengan alat penerjemah yang akan melakukan segala macam komunikasi. Dia mengajarkan saya tentang cinta dan saya tak ingin kehilangannya. Namun apa yang mampu saya lakukan sekarang?

21:31 13122013
                Aku merebahkan tubuhku di kasur. Ayah dan ibu bertengkar lagi untuk kesekian kalinya entah untuk apa. Aku hanya tertawa, berusaha tak mempedulikan jeritan mereka, tapi ada sembilu luka  yang mengoyak-ngoyak hati ini. aku benci keluarga ini, aku benci kakak, aku benci ibu, aku benci ayah! Tapi hal yang menyakitkan adalah aku tak mampu hidup tanpa mereka, aku sayang mereka.
                Hal itu yang kadang mampu membuatku takut untuk jatuh hati. Aku tak mau terjebak dalam pernikan yang seperti neraka ini. Aku tak ingin anak-anakku kelak merasakan apa yang kurasakan. Kemudian Rico hadir memberikan sebuah harapan semu. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku sadar, secinta apapun Rico padaku, kita tak akan pernah bersatu.
                Lalu boleh kah sekarang aku menyimpan hatiku pada Ginda?

21:00: 54:12 13122013
                Saya masih terpaku di depan gerbang mall ini. Memikirkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi besok.  Besok pukul 09:10:47:32 saya akan segera meninggal karena usia, seperti yang diucapkan saya dari dimensi waktu 09:10:47:32 tanggal 15 bulan 03 tahun 4320. Kalian jelas tahu hal itu kan?
Apa yang harus saya lakukan? Tak ada yang harus saya singkirin di dimensi waktu ini. Saya bahkan tidak pernah hidup di dimensi waktu ini. Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup? Tak ada cara lain! Ini tentang hati, Andin harus tahu bahwa saya mencintainya. Harus!

14:30: 54:12 20122013
Sudah seminggu sejak pertemuan itu Ginda menghilang. Aku merindukannya, Tuhan. Entah sejak kapan aku sadar rasa ini tidak hanya sekedar rasa kagum. Aku mencintainya. Kamu pasti berpikir aku terlalu bodoh, karena bisa mencintai orang asing dalam hitungan hari.
Kamu harus tau aku banyak belajar dari Ginda. Aku belajar, bahwa cinta bukan soal waktu. Cinta adalah sebuah kepercayaan dan aku percaya Ginda juga mencintaiku. Meskipun dia tak pernah mengungkapkannya secara langsung.
                Aku mendatangi mall tempat aku dan Ginda menghabiskan waktu 7 hari yang lalu, untuk kesekian kalinya. Garis polisi masih dipasang di tempat kejadian perkara, tempat di mana aku dan Ginda berpisah. Tepat di tempat itu telah meninggal enam hari yang lalu, seorang kakek-kakek tanpa tanda pengenal. Baju yang dikenakanya sama persis dengan yang dipakai Ginda. Menurut kabar kematian kakek itu karena serangan jantung. Kabarnya  Surat itu bertuliskan kalimat singkat.

Andin, terima kasih telah mengajarkan saya tentang cinta selama sehari ini. Saya jatuh jatuh hati padamu. Maaf saya tak mampu mengucapkannya, Ginda


                 Ginda itu kah kamu?
                               







ide cerita : Akbar Anugrah
*obrolan tentang orang jaman dulu dengan di jaman sekarang*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar