09:10:47:32 15034320
Saya berhasil menembuskan sinar gamma tepat ke
jantungnya. Ada rasa sesak, menyadari bawa orang yang baru saja saya bunuh
adalah diri saya sendiri di satu hari mendatang. Jadi satu hari mendatang saya
akan segera mati? Tepat pukul 09:10:47:32? Baiklah, memang sebenarnya saya
sudah sangat letih menjalani kehidupan. Semua terasa menjemukan. Liat lah
betapa membosankannya, ketika kalian ingin memperoleh keturunan anak, kalian
hanya perlu datang ke bank anak dan voila,
dalam hitungan sepersepuluh detik kalian akan mengandung dan melahirkan anak
kalian. Jadi apakah saat ini cinta masih diperlukan?
Tapi rasanya
ini sangat menjemukan, saya sangat ingin merasakan jatuh cinta sebelum saya
mati. Saya kemudian tersenyum kecil meyadari pikiran bodoh saya. Ya ya ya, saya
rasa kalian juga sedang menertawakan saya. Cinta hanya topik bodoh yang sering
dibicarakan oleh kaum-kaum fanatik akan pernikahan. Jadi apakah saya termasuk
diantaranya? Saya hanya tak mengerti mengapa cinta tak lagi diminati oleh
kalian? Saya hanya ingin tahu betapa beharganya saya bagi orang lain dengan
cinta, itu saja, salah kah?
09:12 13122013
Hujan
perlahan, mederas membentur keras dinding jalan. Langit yang seharusnya terang
kini bewarna kelabu, persis ketika matahari sore datang. Sayangnnya ini masih
terlalu pagi untuk semua kekelabuan langit. Suara hujan menimbulkan bunyi keras
di dalam bus yang kutumpangi. Ku pandangi sekali lagi sebuah undang berwarna
putih silver.
Aku berusaha
memejamkan mata. Berusaha membendung air mata yang siap terjun di pipiku.
Sebentar lagi natal, sebentar lagi di waktu yang bersamaan Rico ulang tahun.
Itu seharusnya akan menjadi momen membahagiakan bagi Rico. Aku pikir tahun ini
aku bisa ikut hadir dalam kebahagiannya. Setidaknya itu yang kupikirkan 6 bulan
yang lalu. Aku pikir jatuh hati itu sederhana.
Mungkin, kamu
akan menertawakanku. Ya, aku tahu, aku tahu. Aku terlalu naif untuk
mengharapkan cinta sederhana dari seseorang yang tak sederhana. Aku terlalu
naif menyederhanakan perbedaan yang terlalu mencolok dari kepercayaanku
dengannya. Padahal jelas aku tahu yang satu kepercayaan pun kadang tak mampu
menyelesaikan permasalahan.
Sesak memang
ternyata ketika Chintia-sahabat terdekat-yang mampu merebut hati mama Rico dan
aku-seorang gadis yang tak pernah diharapkan menjadi bagian hidup Rico-harus
pergi menjauh. Aku tau, aku terlalu naif. Aku tau, tapi apa kamu tahu, ada yang
lebih menyakitkan dari semua rasa cinta yang pernah kurasakan? Itu adalah saat
dimana ketika orang yang kamu percaya, kemudian perlahan tidak dapat lagi kamu
percaya. Itu adalah saat melihat keluargamu hancur berantakan.
Air mataku
mulai turun dari kelopak mata yang kututup rapat dengan paksa, percuma cairan
tipis ini mampu menembus bulu mata pertahan terakhir. Aku benci cinta! aku
benci jatuh hati! Itu hanya dusta!
09:10:47:45 15034320
Saya
kembali berhadapan dengan saya entah di dimensi waktu yang mana. Saya berusaha
melarikan diri dengan pintu waktu. Hei, tenang saja saya berjanji saya tidak
akan melakukan hal bodoh seperti saya di masa depan. Saya hanya ingin melarikan
diri sejenak tanpa bermaksud menetap di masa lalu.
Hey, jangan
menertawakan saya! Saya jelas masih ingat Ini adalah lini waktu dimana semua
orang dapat menjelajahi tempat dalam hitungan seperdelapan detik, bahkan
menjelajahi dimensi waktu, termasuk kembali ke masa lalu. Ini adalah masa
dimana kita dapat merasakan tidur sangat cukup hanya dalam waktu seperempat
detik. Semua berlangsung serba instan dan semua hal dapat dilakukan.
Saya tahu
pasti Ini adalah masa dimana kejahatan antar sesama tak lagi terjadi. Ini masa
dimana kebanyakan orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Waktu terasa
begitu singkat untuk bertegur sama dengan orang lain. Kebanyakan manusia hanya
dapat bertahan hidup selama tujuh hari. Ya, enam hari setelah dilahirkan maka
mereka akan mengalami kelemahan fisik secara perlahan.
Semakin
singkatnya waktu berlalu, kejahatan tak lagi dilakukan oleh sesama manusia.
Kejahatan akan dilakukan oleh satu orang yang sama pada dimensi waktu yang
berbeda. Kebanyakan manusia yang serakah memilih kembali ke masa lalu untuk
terus dapat bertahan hidup. Sayangnya, untuk terus dapat tinggal di satu masa
itu kalian jelas tahu, kalian harus dapat memusnahkan kalian di masa itu. Siapa
yang menang dialah yang dapat bertahan hidup.
Satu-satunya
hal bodoh yang saya lakukan adalah menekan kunci waktu lebih jauh, terlalu jauh
sebelum saya lahir di dunia. Saya berusaha menutup kenop yang sudah terlanjur
terbuka. Percuma saya terhisap masuk!
09:15 13122013
Ada
guncangan kencang mengagetkanku. Guncangan apa itu? Aku tanpa sadar membuka
mata dan air mataku membeludak keluar dengan derasnya. Bola mataku berpendar ke
seluruh bagian bis mencari kejagalan yang baru saja terjadi. Semua penumpang
dalam bis tampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Otakku kemudian berusaha
memberi impuls untuk menutup mataku lagi, untuk menenangkan hatiku yang masih
terluka. mataku siap mengeksekusi perintah dari otak namun kemudian terhenti
ketika beradu tatapan dengan orang di sampingku.
Siapa
dia? Sedari tadi memejamkan mata kurasa tidak ada penumpang baru yang naik ke
bis ini. Lalu siapa dia? Lelaki berpakaian aneh, semuanya serba bewarna coklat,
lengkap dengan topi pawai seperti topi badut. Wajahnya seputih kapas, tingginya
hanya sepundakku saat dia duduk di sampingku. dia menatap lekat pada jam tangan
yang kugunakan. Beberapa detik kemudian mataku dan matanya kemudian saling
beradu.
09:15:03:49 13122013
Saya
terduduk di salas satu bangku di dalam kotak balok berukuran besar. Kursi yang
saya duduki pun tak kalah besar. Saya rasa kotak balok ini bergerak, entah lah.
Gelap menjalar di luar kotak balok ini. Air hujan mengguyur dengan derasnya.
Sungguh fenomena yang jarang terjadi.
Ini dimana?
Saya memandang menyeluruh. Ini tampak begitu asing? Saya terlempar ke dalam dimensi
waktu mana kah? Gadis di sebelah saya terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja
airmatanya jatuh tak henti-henti, saya perkirakan ia telah mengeluarkan air
mata selama 1 menit lebih. Saya tak tahu pasti, penunjuk waktu yang merekat di
kulit saya, rusak.
Saya memandangi
gadis ini menyeluruh. ia mengelap air matanya perlahan-lahan. Kemudian
memandang ke sekeliling begitu lama. Semua yang berada dalam kotak balok ini seakan bergerak slow motion. Saya melihat benda tak
kalah aneh di pergelangan tangan gadis itu. Saya rasa saya pernah melihat benda
itu entah dimana.
Saya berusaha
berpikir keras ketika mata kami kemudian saling beradu. Wajahnya mulai
mengalami perubahan, tak ada lagi air mata di pipinya, alisnya mulai menyatu
dan matanya mulai menyipit, sepertinya ia sedang berusaha meneliti saya. Aneh setelah
hampir 3 menit mata kami beradu dan menimbulkan ketakutan sendiri dari
saya-siapa yang tahu manusia di dimensi waktu ini senang memakan manusia lain,
gadis ini tidak melakukan tindakan apapun selain memalingkan mukanya, tentunya
dengan gerakan slow motion. Ah! Saya
ingat, saya ingan benda yang melekat di lengan kirinya, itu jam tangan manusia
abad 20-21 yang sering muncul di museum waktu.
09:18 13122013
Aku
menatapnya dengan lekat. Mata itu… hidung itu… bibir itu itu.. bentuk wajah
itu, aku rasa aku sangat mengenalnya. Aku berusaha mengingat, nihil. Jantung
mulai berdebar-debar, pandangan matanya yang hangat mampu membiusku. Aku
berusaha memalingkan wajahku, menyadari kebodohanku menatap matanya selama
beberapa menit ini. Pasti aku akan disangka perempuan maniak.
Aku
berasaha memejamkan mataku, menghilangkan segalanya. Percuma! Bayangan tentang
Rico dan Chintia yang akan segera menikah memenuhi pikiranku. Mata itu!
Bukankah itu mata elang milik Rico? Hidung mancung itu? Bukan kah itu Milik
Rico? Dan bibir tipis dan bentuk wajah itu bukan kah milik Chintia? Aku segera
membuka mata memastikan.
09:20:59:46 13122013
Gadis
itu kembali menatap saya, setelah matanya terpejam cukup lama. Ada getaran aneh
menjalar di perut saya. Saya berusaha tersenyum. Hal yang tak pernah saya
lakukan seumur hidup saya, selama enam hari ini. Tawa gadis itu pecah. Saya tak
mengerti mengapa ia tiba-tiba tertawa. Bukankan sebelumnya ia menangis?
09:21 13122013
Aku
tak tahu mengapa aku bisa tertawa di depan orang asing. Senyumnya begitu aneh
dan tampak takut-takut. Aku yakin kamu akan menyangka aku gadis gila, setelah
aku menangis meruntuk dan membenci cinta, kini dengan mudahnya aku tertawa
lepas dan memperkenalkan diriku pada orang asing.
“Andin,”
aku mengulurkan tanganku. Aku pasti sudah gila!
“Ginda,”
ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
19:22:21:46 13122013
Saya
rasa, saya tahu getaran apa yang menjalar diperut saya. Saya rasa ini cinta,
persis film-film yang saya tonton dengan latar abad 21. Gadis itu bernama Andin.
“Tau gak aku
merasa sudah sangat mengenalmu. Padahal kita baru mengenal beberapa jam. Kamu
pasti berpikir kalau aku cewek gila,” ucapnya sambil tersenyum.
Saya pun
membalasnya dengan tersenyum. Bagaimana bisa Andin bilang kita baru mengenal
beberapa jam. Beberapa jam itu waktu yang berharga! Beberapa jam itu saya mampu
tidur sebanyak 100 kali, saya mampu makan ribuan kali, saya mampu membaca jutaan
kali, mampu menonton miliaran kali dan tentunya mampu membuang waktu dengan
aktifitas yang menjemukan.
“Eh, sudah
malam. Pulang yuk. Aku saja yang teraktir,” ucap Andin menyerup jus mangga yang
ia pesan di salah satu cafe mall tempat kita menghabiskan
waktu selama beberapa jam ini. Ia mengeluarkan sebuah kotak berisi
kertas-kertas. Aku rasa ini yang dinamakan mata uang.
Kamu dimana rumahnya?” tanya Andin pada saya
setelah membayar.
“Saya?” ucap
saya kebingungan.
Bagaimana
mungkin saya bilang bahwa saya bukan manusia dari dimensi waktu ini? Bagaimana
mungkin Andin mampu mempercayainya? Saya pun tak tahu saya sedang berada di
daerah mana ini. Semua kegiatan yang kami lakukan hari ini, semua hal yang saya
lihat hari ini terlihat begitu asing dan saya hanya mampu penasaran dan terus
mengikuti alur waktu yang terjadi di sini.
19:25 13122013
“Kok
kamu malah diam sih Gin?” tanyaku merasa bersalah. Kebiasaan burukku terulang
lagi, aku terlalu agresif! Membuat orang-orang yang berada di dekatku senang
kemudian jengah karena keagresifanku.
“Oh,
hahaha, nanti saya dijemput saudara. Saya bukan orang sini,” ucapnya lagi-lagi
sambil tersenyum. Senyum itu, persis dengan senyum yang dimiliki Rico.
“Maaf
ya Gin kalau aku nyebelin dan terlalu agresif,” ucapku spontan, aku tidak mau
Ginda membenciku , sama seperti ketika ayah terlalu bersikap agresif kepada
ibu.
“Haha,
enggak kok. Justru saya mau berterima kasih padamu untuk hari ini,” ucap Ginda
mengelus rambutku.
Aku
terdiam menyadari sesuatu. Bukankah Ginda tingginya hanya sepundakku? Lalu
mengapa sekarang Ginda mampu mengelus rambutku? Wajah Ginda juga terlihat
semakin tegas. Ah mungkin tadi hanya perasaanku.
19:31:34:46 13122013
Saya
tanpa sadar mengelus rambut Andin pelan. Hari itu saya berpisah dengannya di
depan gerbang mall. Andin pulang
menggunakan kotak berbentuk oval, bertuliskan taxi, sementara saya masih terdiam di sini. Terlalu banyak yang Andin
ajarkan saya banyak hal. Dia mengajarkan bagaimana cara tersenyum, bagaimana
cara berbicara, bagaimana cara tertawa. Hal-hal yang tak pernah saya lakukan
selama ini. Kalian jelas tahu kan komunikasi tak perlu dilakukan secara
langsung? Kita hanya perlu menghubungkan otak kita dengan alat penerjemah yang
akan melakukan segala macam komunikasi. Dia mengajarkan saya tentang cinta dan
saya tak ingin kehilangannya. Namun apa yang mampu saya lakukan sekarang?
21:31 13122013
Aku
merebahkan tubuhku di kasur. Ayah dan ibu bertengkar lagi untuk kesekian
kalinya entah untuk apa. Aku hanya tertawa, berusaha tak mempedulikan jeritan
mereka, tapi ada sembilu luka yang mengoyak-ngoyak
hati ini. aku benci keluarga ini, aku benci kakak, aku benci ibu, aku benci
ayah! Tapi hal yang menyakitkan adalah aku tak mampu hidup tanpa mereka, aku
sayang mereka.
Hal
itu yang kadang mampu membuatku takut untuk jatuh hati. Aku tak mau terjebak
dalam pernikan yang seperti neraka ini. Aku tak ingin anak-anakku kelak
merasakan apa yang kurasakan. Kemudian Rico hadir memberikan sebuah harapan
semu. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku sadar, secinta apapun Rico padaku,
kita tak akan pernah bersatu.
Lalu
boleh kah sekarang aku menyimpan hatiku pada Ginda?
21:00: 54:12 13122013
Saya masih
terpaku di depan gerbang mall ini.
Memikirkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi besok. Besok pukul 09:10:47:32 saya akan segera
meninggal karena usia, seperti yang diucapkan saya dari dimensi waktu
09:10:47:32 tanggal 15 bulan 03 tahun 4320. Kalian jelas tahu hal itu kan?
Apa yang harus
saya lakukan? Tak ada yang harus saya singkirin di dimensi waktu ini. Saya
bahkan tidak pernah hidup di dimensi waktu ini. Bagaimana cara saya bisa
bertahan hidup? Tak ada cara lain! Ini tentang hati, Andin harus tahu bahwa
saya mencintainya. Harus!
14:30: 54:12 20122013
Sudah seminggu
sejak pertemuan itu Ginda menghilang. Aku merindukannya, Tuhan. Entah sejak
kapan aku sadar rasa ini tidak hanya sekedar rasa kagum. Aku mencintainya. Kamu
pasti berpikir aku terlalu bodoh, karena bisa mencintai orang asing dalam
hitungan hari.
Kamu harus
tau aku banyak belajar dari Ginda. Aku belajar, bahwa cinta bukan soal waktu. Cinta
adalah sebuah kepercayaan dan aku percaya Ginda juga mencintaiku. Meskipun dia tak
pernah mengungkapkannya secara langsung.
Aku
mendatangi mall tempat aku dan Ginda menghabiskan waktu 7 hari yang lalu, untuk
kesekian kalinya. Garis polisi masih dipasang di tempat kejadian perkara,
tempat di mana aku dan Ginda berpisah. Tepat di tempat itu telah meninggal enam
hari yang lalu, seorang kakek-kakek tanpa tanda pengenal. Baju yang dikenakanya
sama persis dengan yang dipakai Ginda. Menurut kabar kematian kakek itu karena
serangan jantung. Kabarnya Surat itu
bertuliskan kalimat singkat.
Andin, terima kasih telah mengajarkan saya tentang cinta selama sehari
ini. Saya jatuh jatuh hati padamu. Maaf saya tak mampu mengucapkannya, Ginda
Ginda itu kah kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar