Minggu, 10 November 2013

Cemburu


Nafas Dina memburu. Ada sengatan tajam menusuk pembuluh jantungnya. Menimbulkan efek jilatan api yang berpadu alkohol, menyengat kulit. Perih, menusuk, menjalar menjadi satu, ketika tusukan itu kembali dihujamkan ke pembuluh jantungnya. Perlahan indera perasanya mulai kehilangan arah. Getir semakin terasa, namun bukan perih. Dina kehilangan kendali!
Dina berusaha memijar-mijarkan padangan matanya. Memastikan semua baik-baik saja. Rimbunan pohon edelweiss, batu-batu kerikil, ranting-ranting pohon  semuanya mulai tampak bias.  Gelap mulai menyerang, namun ini bukan gelap malam yang biasa ia rasakan. Ada siluet putih yang kadang timbul di tepi gelap. Menimbulkan kekontrasan yang tajam.
***
Arga telah menanti kesempatan ini. Kesempatan langka yang tak mungkin menjadi kenyataan kalau saja keberuntungan tak datang. Arga mendapat tugas menilai kualitas tanah di salah satu pegunungan aktif yang baru saja meletus beberapa bulan yang lalu. Bukan, bukan ini keberuntungan Arga. Keberuntungannya adalah mendapat tim bersama Nita-seorang gadis manis dan kemayu namun memiliki keahlian handal dalam mejejaki gunung-yang sudah lama Arga Taksir.
Oh, ya tentunya tim ini tidak hanya berdua saja. Standar operasional perjalanan untuk menjejaki gunung memerlukan minimal tiga orang, pertama sebagai leader, kedua sebagai center dan ketiga sebagai sweeper. Sialnya, satu orang lainnya adalah seseorang yang kebetulan juga pernah dekat dengan Arga. Ya, ya, ya, apa mau dikata, Arga yang tampan mampu membuatnya layak sebagai don juan. Ibarat kata tinggal dipanah sedikit jadilah ia milik Arga seutuhnya. Sayangnya Arga tak melakukan itu dulu.
Selayaknya lelaki pada umumnya, pikiran nakal kadang sering mendatangi. Sudah keberapa kalinya dalam seminggu ini Arga memimpikan Nita saling berbagi rasa dalam kegelapan hutan yang syahdu. Beberapa kali pula Arga berusaha menghapus bayangan itu. Percuma, syahwat lebih menguasai dibanding batin. Pikiran cepatnya adalah mempersiapkan segala mimpinya dengan matang untuk menjadi kenyataan termasuk bagaimana caranya mengenyahkan pengganggu diantara dia dan Nita. Atau kalau perlu memanfaatkan pengganggu itu untuk membuat Nita cemburu, mungkin.
***
Sesekali Nita melirik dua orang di depannya. Entah mengapa ada rasa cemburu yang menelusup di rongga-rongga hatinya. Bagaimana mungkin tugasnya kali ini membawanya pada rasa cemburu yang dalam. Kalau saja ia tak digaji besar mana mungkin ia akan ikut perjalanan kali ini. Apalagi hatinya tampak dipermaikan seperti ini.
“Nit, enak tidak masakan saya?” ucap seseorang.
Pipi Nita merona seketika bagai reaksi titrasi asam-basa saat larutan asam ditambahkan fenolftalein menimbulkan warna merah muda selama tiga puluh detik.
“Iya, enak. Terima kasih Ini makanan yang lezat,” ucap Nita sambil tersenyum manis. “Nanti malam biar aku yang masak makan malam ya,” tambah Nita tak ingin kalah dalam hal memasak. Nita ingin orang itu tau bahwa ia ahli memasak.  
 “Hei, sudah-sudah jangan ngobrol terus. Segera packing ya, supaya nanti siang kita sudah bisa sampai puncak, ” ucap teman satu tim lainnya. Mengusik rasa senang yang membuncah dalam diri Nita.
Ya Tuhan, kenapa dia mengganggu saja? Apa baiknya ku enyahkan saja dia? Mengusik! Runtuk Nita dalam hati. Setan kecil mulai muncul dibenaknya. Siap melakukan hal buruk yang tak dapat dinalar.
“Eh, sampelnya jangan lupa dibawa ya Nit. Kamu yang bawa. Bisa kan?” tanya orang yang mampu membuat semburat merah di pipi Nita. Pertanyaan sederhana yang mampu membuat Nita merasa dipercayai dan diberi tanggungjawab lebih.
***
Berhasil. Arga yakin sekali upayanya kali ini berhasil. Ada wajah muram Nita, tiap kali Arga berdekatan dengan gadis pengganggu itu. Arga yakin seratus persen Nita mencemburui gadis pengganggu itu.
”Din, Webing kamu mana? Sini dipasangin biar kalian naiknya mudah,” Arga sengaja memberi perhatian lebih pada gadis pengganggu itu. Berusaha menguji Nita untuk yang kesekian kalinya. Memastikan bahwa ia tak salah tangkap, bahwa Nita juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Kembali kerencana awal. Malam ini nampaknya Arga bisa mengeksekusi hasratnya yang terpendam. Hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya mengenyahkan gadis pengganggu itu saat ia akan bercinta dengan Nita malam ini.
Ah, baiknya aku ajak saja gadis pengganggu itu menemaniku mencari kayu bakar atau apapun itu,lalu kusesatkan dia agar aku bisa bersama Nita. Atau biar kubius gadis  pengganggu itu supaya ia tertidur pulas lalu aku bisa puas dengan Nita. Ah, sudah begini aku ingin segera berjumpa dengan malam. Mereguk manisnya keperawanan. Itu pun jika Nita memang masih perawan. Pikiran-pikiran kotor Arga mulai bekeliaran. Mengganggu konsentrasinya.
***
Dina bingung ketika menghadapi sebuah tugas dimana ia harus bersama dengan Arga. Alih-alih profesional Dina menyetujui tugas yang akan ia emban. Ah, cinta lama, mungkinkah akan bersemi kembali? Bagaimanapun hati Dina pernah jatuh ke tangan Arga. Sebersikeras apapun Dina menepis rasa, nama Arga memang sempat mengisi harinya.
Rasa canggung melekat kuat pada Dina namun hal ini tak berlangsung lama. Arga datang bak pangeran berkuda putih yang siap menolong Dina saat letih ataupun lelah.  Dina berusaha memungkiri, takut-takut hanya sebatas gede rasa yang ia punya.
Tapi buktinya kali ini yang ditawarkan untuk mengikat tali webing di belakang Arga adalah Dina bukan wanita itu. Sudah jelas kali ini Dina yang menang. Bukan apa-apa, ada rasa khawatir pada Dina. Terlebih banyak kabar yang bilang bahwa Arga kini memiliki perasaan pada wanita itu. Bukan maksud hati mencemburui, toh Dina memang tak pernah memiliki hubungan lebih pada Arga. Dina hanya tidak ingin ada kejanggalan dari perjalan mereka bertiga kali ini.
***
Malam mulai menjelang. Pukul tiga sore tadi Arga dan timnya sampai di puncak. malam ini mereka bermalam di padang edelweiss. Langit bermandikan cahaya purnama. Bintang nampak malu-malu untuk muncul, apalagi sinar purnama mengalahkan cahayanya.
Malam ini cukup sepi pendaki. Bahkan hanya mereka bertiga yang bermalam di sana. Maklum  ini bukan musim liburan. Gunung ini juga bukan termasuk taman nasional yang acap kali dijelajahi para pendaki. Wajar jika Arga semakin ingin mengeksekusi hasratnya itu.
 Bukan pilihan pertama atau kedua yang ada dibenaknya tadi pagi, yang akhirnya mendominasi rencana malam ini. Ia memilih untuk melakukan kombinasi keduanya. Arga berencana untuk meminta gadis penggangu itu menemaninya mencari kayu bakar kemudian membiusnya di tengah perjalanan. Pagi harinya dengan tanpa dosa Arga dapat menjemput si gadis penggangu itu. Sementara Nita akan menunggu sendirian di dalam tenda. Alih-alih kedinginan Arga akan memulai semuanya. Memastikan bahwa semua hasrat dan syahwatnya dapat terpenuhi.
“Din, temenin cari kayu lagi, yuk!”  ucap Arga sambil berharap pancingannya kali ini berhasil. Sebelumnya sudah Arga siapkan obat bius. Di kantung celananya.
Pandangan gadis penganggu itu menatap Nita. Seolah meminta Izin pada Nita.
“Iya, udah gak apa-apa gue sendiri di sini juga gak apa-apa. Kasian tuh Din, siapa tau Arga pengen banget berduaan sama kamu. Belum puas kali dari tadi siang berduan sama kamu melulu,” ucap Nita beku dan kaku.
***
“Kamu marah sama saya, Nit?” tanya seseorang yang membuat pipi Nita memerah akhir-akhir ini.
“Yaelah, buat apa sih pakai marah-marah segala? Masa orang jatuh cinta dilarang?” tanya Nita Retoris.
Nita tau ucapan kali ini pasti membuatknya terdengar bahwa ia sangat cemburu. Ah, biarlah, biar dia tau bahwa aku memang mencintainya, mencemburuinya. Itu pun jika ia bisa berpikir seperti itu. Batin Nita berujar.
Jujur saja, ada rasa kebencian yang memuncak ketika Arga mengajak Dina mencari kayu. Alasan yang tak masuk akal! Untuk apa harus mencari kayu? Apa kayu yang sedari tadi ia kumpulkan tidak cukup? Untuk apa harus berbohong bilang saja jika ingin bercinta, melampiaskan nafsu setan.
Arga dan Dina tak juga kunjung kembali. Sudah setengah jam lebih mereka berdua pergi. Sudah begitu, Nita yakin sekali dengan pikirannya tadi. Mungkin saat ini mereka sedang memainkan aksi kamasutra. Ah, entahlah! Memikirkannya membuat Nita ngilu. Teriris pedang tajam. Ini kah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Kenapa harus selalu ia yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?
Nita melirik jam tangannya. Waktu berjalan terasa amat sangat lama. Rasa cemburu membuatnya ingin menyusul mereka berdua. Nita segera mengambil asal jaket tebal yang berada dalam tenda entah punya siapa. Nita buru-buru mengenakannya dan menyusul mereka berdua.
***
Arga sengaja membuat perjalanannya mencari kayu dengan gadis pengganggu itu nampak panjang dan membingungkan. Agar nanti  jika penggangu itu sadar setelah dibius, ia tak akan dapat segera kembali. Arga berpaling kebelakang siap membius, alih-alih membuka pembicaraan dengan gadis itu.
“Crat!” suara pisau tumpul beradu menusuk  daging. Sedetik kemudian Arga merasakan kesakitan di sekitar ginjalnya. Darah mulai mengalir seiring irisan daging yang dengan cepat digoreskan membentuk leter L.
Ada seseorang yang menusuk victorinox ke arah ginjal Arga. Gadis pengganggu yang sedari tadi bersama Arga menjerit histeris. Segera melarikan diri. Takut dia yang akan menjadi sasaran selanjutnya.
Pembunuh asing itu kemudian menusuk-nusukkan pisau di kaki kanan Arga, merasa belum puas dengan apa yang dia perbuat, membuat Arga tak mampu melarikan diri. Arga ambruk seketika.
***
Suara jeritan keras berkali-kali,  mengagetkan Nita. Nita segera menyusuri darimana arah suara berasal. Takut-takut hal buruk menimpa teman setim-nya. Nita melepas jaket tebalnya. Entah mengapa udara dingin yang berhembus di sekelilingnya tak mampu menyelusup ke sela-sela pori-pori kulit. Rasa gerah bahkan menghampirinya bersamaan dengan detak jantung yang terpacu.
 Nita mendapati seseorang dari kejauhan mendekat ke arahnya. Bunyi sepatu yang bergesekan dengan rumput dan ranting jalan semakin terdengar. Samar-samar Nita dapat melihat, orang itu adalah orang yang sedari ia tunggu. Orang yang mampu membuatnya cemburu membabi buta.
Nafas orang itu naik turun. Keringatnya terkucur deras. Mukanya pucat pasi. Orang itu ingin sekali berujar, tapi tampaknya suaranya tercekal habis.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Nita. Sisi keibuannya keluar, ia serta merta memeluk orang itu. Memberi sebuah ketenangan yang sederhana.
“Nit…. Nit…” ucap orang itu menggantung.
“Iya kenapa?”
“Ada pembunuh!” ucap orang itu mulai melonggarkan pelukan Nita.
Ada rasa takut yang menelusup ke rongga dada Nita. Bukan, bukan karena pembunuh, tapi karena takut Nita tak mampu lagi memeluknnya seerat ini.
***
Arga mulai kehabisan nafas. Rasa dingin mulai menyergap keseluruh tubuhnya. Ini tak boleh terjadi! Arga tidak ingin Nita menjadi korban selanjutnya. Arga ingin melindungi Nita bahkan jika ini memang waktu-waktu terakhirnya. Arga berusaha bangkit. Ia terseok-seok menelusuri jalan kembali ke tendanya.
            Dingin mulai menginhibisi seluruh tubuh Arga. Sesekali Arga ambruk, namun semangatnya mulai bangkit ketika melihat orang itu di persimpangan jalan sedang bersama Nita. Orang yang ia yakini telah menikamnya dari belakang.
***
Dina tak mampu berpikir jernih. Siapa? Siapa orang itu? Rasa takut menyelinap membuatnya berlarian tak tentu arah. Sesekali ia tersandung kerikil dan terjatuh. Tapi rasa takutnya membuat Dina bangkit kembali. Tak beberapa lama berlari, ada seseorang di seberang jalan yang gelap. Dina nampak mengenali orang itu. Dina beberapa kali berdoa, berharap orang yang ia lihat memanglah temannya.
Air mata Dina pecah, ia tak mampu mengucapkan apa yang baru saja ia saksikan. Kejadian itu begitu cepat. Membuat pikiran Dina pecah. Hanya kata ‘Ada pembunuh!’ yang mampu Dina ucapkan.
***
            “Mati kau Jahanam!” Arga menusukkan ranting tajam dari arah belakang tepat di jantung orang itu beberapa kali.
            “Arrrggggg!” Dina menjerit seketika.
            Hati Nita hancur seketika mendapati orang yang ia cintai mengeluarkan darah, mulai kehabisan nafas.
            “Biadap kau Ga!” ucap Nita membabi buta.
Nita  menusukkan lagi victorinox yang tadi ia gunakan untuk menghujam ginjal Arga, keseluruh bagian tubuh Arga yang mampu ia sentuh. Membuat Arga tak berkutik.
            Tak ada lagi yang mampu Arga lakukan. Hanya matanya yang mampu mengisyaratkan sebuah tanya. ‘kenapa?’
            “Bedebah kau Ga! Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Nita menjatuhkan air matanya.
            Pikiran Nita larut dan kalut, melihat orang yang ia cintainya mulai memucat seputih kapas.
            Tak ada jawaban dari Arga. Arga pun mulai kehilangan kesadaran. Siap direngkuh oleh malaikat pencabut nyawa.

            “Iya, aku yang menusukkan victorinox itu padamu Ga! Aku cemburu! Aku cemburu melihatnya bersamamu! Aku mencintainya, Ga! Dan kamu hanya mampu mengusik kedekatanku dengannya. Jadi yang bisa kulakukan adalah melenyapkanmu. Tapi kenapa kamu sekarang malah membunuhnya ga? Kenapa ga? Kenapa?” ucap Nita mengguncang-guncang tubuh Arga yang kini tak lagi bernyawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar