Nafas Dina memburu. Ada sengatan tajam menusuk pembuluh jantungnya.
Menimbulkan efek jilatan api yang berpadu alkohol, menyengat kulit. Perih,
menusuk, menjalar menjadi satu, ketika tusukan itu kembali dihujamkan ke
pembuluh jantungnya. Perlahan indera perasanya mulai kehilangan arah. Getir
semakin terasa, namun bukan perih. Dina kehilangan kendali!
Dina berusaha memijar-mijarkan padangan matanya. Memastikan semua
baik-baik saja. Rimbunan pohon edelweiss, batu-batu kerikil, ranting-ranting
pohon semuanya mulai tampak bias. Gelap mulai menyerang, namun ini bukan gelap
malam yang biasa ia rasakan. Ada siluet putih yang kadang timbul di tepi gelap.
Menimbulkan kekontrasan yang tajam.
***
Arga telah menanti kesempatan ini. Kesempatan langka yang tak mungkin
menjadi kenyataan kalau saja keberuntungan tak datang. Arga mendapat tugas
menilai kualitas tanah di salah satu pegunungan aktif yang baru saja meletus
beberapa bulan yang lalu. Bukan, bukan ini keberuntungan Arga. Keberuntungannya
adalah mendapat tim bersama Nita-seorang gadis manis dan kemayu namun memiliki
keahlian handal dalam mejejaki gunung-yang sudah lama Arga Taksir.
Oh, ya tentunya tim ini tidak hanya berdua saja. Standar operasional
perjalanan untuk menjejaki gunung memerlukan minimal tiga orang, pertama
sebagai leader, kedua sebagai center dan ketiga sebagai sweeper. Sialnya, satu orang lainnya
adalah seseorang yang kebetulan juga pernah dekat dengan Arga. Ya, ya, ya, apa
mau dikata, Arga yang tampan mampu membuatnya layak sebagai don juan. Ibarat
kata tinggal dipanah sedikit jadilah ia milik Arga seutuhnya. Sayangnya Arga
tak melakukan itu dulu.
Selayaknya lelaki pada umumnya, pikiran nakal kadang sering mendatangi.
Sudah keberapa kalinya dalam seminggu ini Arga memimpikan Nita saling berbagi
rasa dalam kegelapan hutan yang syahdu. Beberapa kali pula Arga berusaha
menghapus bayangan itu. Percuma, syahwat lebih menguasai dibanding batin.
Pikiran cepatnya adalah mempersiapkan segala mimpinya dengan matang untuk
menjadi kenyataan termasuk bagaimana caranya mengenyahkan pengganggu diantara
dia dan Nita. Atau kalau perlu memanfaatkan pengganggu itu untuk membuat Nita
cemburu, mungkin.
***
Sesekali Nita melirik dua orang di depannya. Entah mengapa ada rasa cemburu
yang menelusup di rongga-rongga hatinya. Bagaimana mungkin tugasnya kali ini
membawanya pada rasa cemburu yang dalam. Kalau saja ia tak digaji besar mana
mungkin ia akan ikut perjalanan kali ini. Apalagi hatinya tampak dipermaikan
seperti ini.
“Nit, enak tidak masakan saya?” ucap seseorang.
Pipi Nita merona seketika bagai reaksi titrasi asam-basa saat larutan
asam ditambahkan fenolftalein menimbulkan warna merah muda selama tiga puluh
detik.
“Iya, enak. Terima kasih Ini makanan yang lezat,” ucap Nita sambil
tersenyum manis. “Nanti malam biar aku yang masak makan malam ya,” tambah Nita
tak ingin kalah dalam hal memasak. Nita ingin orang itu tau bahwa ia ahli
memasak.
“Hei, sudah-sudah jangan ngobrol
terus. Segera packing ya, supaya
nanti siang kita sudah bisa sampai puncak, ” ucap teman satu tim lainnya.
Mengusik rasa senang yang membuncah dalam diri Nita.
Ya Tuhan, kenapa dia mengganggu saja? Apa
baiknya ku enyahkan saja dia? Mengusik! Runtuk Nita dalam hati. Setan kecil mulai muncul dibenaknya. Siap
melakukan hal buruk yang tak dapat dinalar.
“Eh, sampelnya jangan lupa dibawa ya Nit. Kamu yang bawa. Bisa kan?”
tanya orang yang mampu membuat semburat merah di pipi Nita. Pertanyaan
sederhana yang mampu membuat Nita merasa dipercayai dan diberi tanggungjawab
lebih.
***
Berhasil. Arga yakin sekali upayanya kali ini berhasil. Ada wajah muram
Nita, tiap kali Arga berdekatan dengan gadis pengganggu itu. Arga yakin seratus
persen Nita mencemburui gadis pengganggu itu.
”Din, Webing kamu mana? Sini dipasangin biar kalian naiknya mudah,” Arga
sengaja memberi perhatian lebih pada gadis pengganggu itu. Berusaha menguji Nita
untuk yang kesekian kalinya. Memastikan bahwa ia tak salah tangkap, bahwa Nita
juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Kembali kerencana awal. Malam ini nampaknya Arga bisa mengeksekusi
hasratnya yang terpendam. Hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya
mengenyahkan gadis pengganggu itu saat ia akan bercinta dengan Nita malam ini.
Ah, baiknya aku ajak saja gadis pengganggu
itu menemaniku mencari kayu bakar atau apapun itu,lalu kusesatkan dia agar aku
bisa bersama Nita. Atau biar kubius gadis pengganggu itu supaya ia tertidur pulas lalu
aku bisa puas dengan Nita. Ah, sudah begini aku ingin segera berjumpa dengan
malam. Mereguk manisnya keperawanan. Itu pun jika Nita memang masih perawan. Pikiran-pikiran kotor Arga mulai bekeliaran.
Mengganggu konsentrasinya.
***
Dina bingung ketika menghadapi sebuah tugas dimana ia harus bersama
dengan Arga. Alih-alih profesional Dina menyetujui tugas yang akan ia emban.
Ah, cinta lama, mungkinkah akan bersemi kembali? Bagaimanapun hati Dina pernah
jatuh ke tangan Arga. Sebersikeras apapun Dina menepis rasa, nama Arga memang
sempat mengisi harinya.
Rasa canggung melekat kuat pada Dina namun hal ini tak berlangsung lama.
Arga datang bak pangeran berkuda putih yang siap menolong Dina saat letih
ataupun lelah. Dina berusaha memungkiri,
takut-takut hanya sebatas gede rasa yang ia punya.
Tapi buktinya kali ini yang ditawarkan untuk mengikat tali webing di belakang Arga adalah Dina
bukan wanita itu. Sudah jelas kali ini Dina yang menang. Bukan apa-apa, ada
rasa khawatir pada Dina. Terlebih banyak kabar yang bilang bahwa Arga kini
memiliki perasaan pada wanita itu. Bukan maksud hati mencemburui, toh Dina memang
tak pernah memiliki hubungan lebih pada Arga. Dina hanya tidak ingin ada kejanggalan
dari perjalan mereka bertiga kali ini.
***
Malam mulai menjelang. Pukul tiga sore tadi Arga dan timnya sampai di
puncak. malam ini mereka bermalam di padang edelweiss. Langit bermandikan
cahaya purnama. Bintang nampak malu-malu untuk muncul, apalagi sinar purnama
mengalahkan cahayanya.
Malam ini cukup sepi pendaki. Bahkan hanya mereka bertiga yang bermalam
di sana. Maklum ini bukan musim liburan.
Gunung ini juga bukan termasuk taman nasional yang acap kali dijelajahi para
pendaki. Wajar jika Arga semakin ingin mengeksekusi hasratnya itu.
Bukan pilihan pertama atau kedua
yang ada dibenaknya tadi pagi, yang akhirnya mendominasi rencana malam ini. Ia
memilih untuk melakukan kombinasi keduanya. Arga berencana untuk meminta gadis penggangu
itu menemaninya mencari kayu bakar kemudian membiusnya di tengah perjalanan.
Pagi harinya dengan tanpa dosa Arga dapat menjemput si gadis penggangu itu.
Sementara Nita akan menunggu sendirian di dalam tenda. Alih-alih kedinginan
Arga akan memulai semuanya. Memastikan bahwa semua hasrat dan syahwatnya dapat
terpenuhi.
“Din, temenin cari kayu lagi, yuk!”
ucap Arga sambil berharap pancingannya kali ini berhasil. Sebelumnya
sudah Arga siapkan obat bius. Di kantung celananya.
Pandangan gadis penganggu itu menatap Nita. Seolah meminta Izin pada
Nita.
“Iya, udah gak apa-apa gue sendiri di sini juga gak apa-apa. Kasian tuh
Din, siapa tau Arga pengen banget berduaan sama kamu. Belum puas kali dari tadi
siang berduan sama kamu melulu,” ucap Nita beku dan kaku.
***
“Kamu marah sama saya, Nit?” tanya seseorang yang membuat pipi Nita
memerah akhir-akhir ini.
“Yaelah, buat apa sih pakai marah-marah segala? Masa orang jatuh cinta
dilarang?” tanya Nita Retoris.
Nita tau ucapan kali ini pasti membuatknya terdengar bahwa ia sangat
cemburu. Ah, biarlah, biar dia tau bahwa
aku memang mencintainya, mencemburuinya. Itu pun jika ia bisa berpikir seperti
itu. Batin Nita berujar.
Jujur saja, ada rasa kebencian yang memuncak ketika Arga mengajak Dina
mencari kayu. Alasan yang tak masuk akal! Untuk apa harus mencari kayu? Apa
kayu yang sedari tadi ia kumpulkan tidak cukup? Untuk apa harus berbohong
bilang saja jika ingin bercinta, melampiaskan nafsu setan.
Arga dan Dina tak juga kunjung kembali. Sudah setengah jam lebih mereka
berdua pergi. Sudah begitu, Nita yakin sekali dengan pikirannya tadi. Mungkin
saat ini mereka sedang memainkan aksi kamasutra. Ah, entahlah! Memikirkannya
membuat Nita ngilu. Teriris pedang tajam. Ini kah rasanya cinta bertepuk
sebelah tangan? Kenapa harus selalu ia yang mengalami cinta bertepuk sebelah
tangan?
Nita melirik jam tangannya. Waktu berjalan terasa amat sangat lama. Rasa
cemburu membuatnya ingin menyusul mereka berdua. Nita segera mengambil asal jaket
tebal yang berada dalam tenda entah punya siapa. Nita buru-buru mengenakannya
dan menyusul mereka berdua.
***
Arga sengaja membuat perjalanannya mencari kayu dengan gadis pengganggu
itu nampak panjang dan membingungkan. Agar nanti jika penggangu itu sadar setelah dibius, ia
tak akan dapat segera kembali. Arga berpaling kebelakang siap membius,
alih-alih membuka pembicaraan dengan gadis itu.
“Crat!” suara pisau tumpul beradu menusuk daging. Sedetik kemudian Arga merasakan
kesakitan di sekitar ginjalnya. Darah mulai mengalir seiring irisan daging yang
dengan cepat digoreskan membentuk leter L.
Ada seseorang yang menusuk victorinox
ke arah ginjal Arga. Gadis pengganggu yang sedari tadi bersama Arga menjerit
histeris. Segera melarikan diri. Takut dia yang akan menjadi sasaran
selanjutnya.
Pembunuh asing itu kemudian menusuk-nusukkan pisau di kaki kanan Arga,
merasa belum puas dengan apa yang dia perbuat, membuat Arga tak mampu melarikan
diri. Arga ambruk seketika.
***
Suara jeritan keras berkali-kali, mengagetkan Nita. Nita segera menyusuri
darimana arah suara berasal. Takut-takut hal buruk menimpa teman setim-nya. Nita
melepas jaket tebalnya. Entah mengapa udara dingin yang berhembus di sekelilingnya
tak mampu menyelusup ke sela-sela pori-pori kulit. Rasa gerah bahkan
menghampirinya bersamaan dengan detak jantung yang terpacu.
Nita mendapati seseorang dari
kejauhan mendekat ke arahnya. Bunyi sepatu yang bergesekan dengan rumput dan
ranting jalan semakin terdengar. Samar-samar Nita dapat melihat, orang itu
adalah orang yang sedari ia tunggu. Orang yang mampu membuatnya cemburu membabi
buta.
Nafas orang itu naik turun. Keringatnya terkucur deras. Mukanya pucat
pasi. Orang itu ingin sekali berujar, tapi tampaknya suaranya tercekal habis.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Nita. Sisi keibuannya keluar, ia serta merta
memeluk orang itu. Memberi sebuah ketenangan yang sederhana.
“Nit…. Nit…” ucap orang itu menggantung.
“Iya kenapa?”
“Ada pembunuh!” ucap orang itu mulai melonggarkan pelukan Nita.
Ada rasa takut yang menelusup ke rongga dada Nita. Bukan, bukan karena
pembunuh, tapi karena takut Nita tak mampu lagi memeluknnya seerat ini.
***
Arga mulai kehabisan nafas. Rasa dingin mulai menyergap keseluruh
tubuhnya. Ini tak boleh terjadi! Arga tidak ingin Nita menjadi korban
selanjutnya. Arga ingin melindungi Nita bahkan jika ini memang waktu-waktu
terakhirnya. Arga berusaha bangkit. Ia terseok-seok menelusuri jalan kembali ke
tendanya.
Dingin mulai menginhibisi seluruh
tubuh Arga. Sesekali Arga ambruk, namun semangatnya mulai bangkit ketika
melihat orang itu di persimpangan jalan sedang bersama Nita. Orang yang ia
yakini telah menikamnya dari belakang.
***
Dina tak mampu berpikir jernih. Siapa? Siapa orang itu? Rasa takut
menyelinap membuatnya berlarian tak tentu arah. Sesekali ia tersandung kerikil
dan terjatuh. Tapi rasa takutnya membuat Dina bangkit kembali. Tak beberapa
lama berlari, ada seseorang di seberang jalan yang gelap. Dina nampak mengenali
orang itu. Dina beberapa kali berdoa, berharap orang yang ia lihat memanglah
temannya.
Air mata Dina pecah, ia tak mampu mengucapkan apa yang baru saja ia
saksikan. Kejadian itu begitu cepat. Membuat pikiran Dina pecah. Hanya kata ‘Ada pembunuh!’ yang mampu Dina ucapkan.
***
“Mati kau Jahanam!” Arga menusukkan
ranting tajam dari arah belakang tepat di jantung orang itu beberapa kali.
“Arrrggggg!” Dina menjerit seketika.
Hati Nita hancur seketika mendapati
orang yang ia cintai mengeluarkan darah, mulai kehabisan nafas.
“Biadap kau Ga!” ucap Nita membabi
buta.
Nita menusukkan lagi victorinox yang tadi ia
gunakan untuk menghujam ginjal Arga, keseluruh bagian tubuh Arga yang mampu ia
sentuh. Membuat Arga tak berkutik.
Tak ada lagi yang mampu Arga
lakukan. Hanya matanya yang mampu mengisyaratkan sebuah tanya. ‘kenapa?’
“Bedebah kau Ga! Kenapa? Kenapa kau
menatapku seperti itu?” tanya Nita menjatuhkan air matanya.
Pikiran Nita larut dan kalut,
melihat orang yang ia cintainya mulai memucat seputih kapas.
Tak ada jawaban dari Arga. Arga pun
mulai kehilangan kesadaran. Siap direngkuh oleh malaikat pencabut nyawa.
“Iya, aku yang menusukkan victorinox
itu padamu Ga! Aku cemburu! Aku cemburu melihatnya bersamamu! Aku mencintainya,
Ga! Dan kamu hanya mampu mengusik kedekatanku dengannya. Jadi yang bisa
kulakukan adalah melenyapkanmu. Tapi kenapa kamu sekarang malah membunuhnya ga?
Kenapa ga? Kenapa?” ucap Nita mengguncang-guncang tubuh Arga yang kini tak lagi
bernyawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar