Rabu, 20 November 2013

About Savory


Aku tinggal di sebuah perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya. Bukan, aku bukan salah satu dari mereka. Aku hanya seorang pembantu baru yang tinggal di sana.  Aku terpaksa harus bekerja karena rumahku di kampung habis terbakar. Satu-satunya yang tersisa hanyalah hutang orang tuaku dan sebagai anak tunggal aku harus menanggung hutang itu.

Di ujung rumah tempatku bekerja, terdapat rumah yang yang besar dan sangat megah. Namun sayangnya kemegahan itu tak berarti apa-apa, karena rumah itu banyak ditakuti orang-orang. Sesekali pada malam hari sering terdengar jeritan, tangisan dan permintaan tolong dari seseorang, yang aku rasa adalah seorang wanita. Kebanyak warga berpikir bahwa penghuni rumah itu sering bertengkar dan tuan pemilik rumah itu sering menganiaya istrinya.

Aku heran dengan warga di perumahan ini, mereka seakan tak peduli dengan suara-suara jeritan itu. Mereka lebih memilih untuk diam, menganggap jeritan dan tangisan minta tolong itu sebagai angin lalu. Mungkin orang-orang yang bermalam di perumahan ini selain warga setempat akan menganggap bahwa itu adalah rumah hantu. Rumah berlantai tiga itu nampak suram dengan hanya menyalakan lampu di teras luar, di sudut kanan lantai dua, dan sudut kiri lantai tiga rumah tersebut.

Setiap hari akan ada seorang wanita yang keluar dari rumah itu. Aku rasa ia adalah nyonya pemilik rumah itu. Sepertinya penghuni rumah itu tidak memiliki pembantu. Ia sering keluar untuk membeli sayur-sayuran di pasar. Aku rasa ia cantik, rambut hitam bergelombangnya panjang sepinggang. Tapi entah lah, ia sering menutupi wajahnya menggunakan topi anyaman khas petani-petani di kampungku, sehingga aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Ia juga selalu menggunakan baju lengan panjang dan rok yang menutupi seluruh permukaannya kakinya. Aku curiga ia sengaja menutupi seluruh bagian tubuhnya yang sering dianiaya.
                                                                 *
Asap tipis mengepul, dan menjalar ke dapur tempatku sedang memasak. Aku melihat ke sekeliling, ini bukan asap yang berasal dari masakanku. Aku yakin sekali. Asap ini membuatku sesak, mengingatkan peristiwa naas yang terjadi pada keluargaku dulu. Tidak! Jangan-jangan telah terjadi kebakaran di sini. Aku berlari ke arah luar. Kulihat orang-orang sudah berkumpul di ujung rumah megah itu.

Aku mendekat ke arah rumah megah itu. Bau asap pekat semakin tercium. Aku rasa asap tadi berasal dari rumah megah itu. Api menjalar dari jendela lantai dua rumah itu. Aku berlari menembus kerumuman warga yang hanya melihat. Kakiku seperti kehilangan kendali. Melakukan suatu hal yang dulu pernah kulakukan. Kepulan asap mulai merusak indera penciumanku, namun kakiku tak berhenti melangkah.

Aku berusaha mendorong, pintu utama rumah itu. Tak bisa, terkunci rapat. Kali ini aku coba tubrukan tubuhku ke pintu itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Nihil. Air mataku mulai berjatuhan entah karena kepulan asap atau sisa penyesalan yang dulu tak dapat kulakukan. Aku tidak tahu apa yang membuatku terhipnotis untuk dapat membuka pintu itu.

Aku berusaha mendobrak pintu utama itu untuk yang kesekian kalinya. Bahu kiri yang kugunakan untuk mendobrak sudah mati rasa. Ya Tuhan, aku mohon, selamatkan keluarga ini! Beberap menit kemudian pintu rumah itu berhasil aku dobrak. Mataku menatap ke sekeliling, mencari seseorang yang masih terkurung di dalam rumah ini. Pemadam kebakaran belum juga datang.

Aku berlari menuju arah api yang datang. Dari lantai dua kudengar suara orang yang terbatuk-batuk.
“Tolong, uhuk, uhuk,tolong!” rintih seseorang di salah satu kamar di lantai dua.
“Ada orang di dalam?” jeritku berusaha membuka pintu kamar itu. Terkunci! Pintu itu tidak bisa terbuka.
“I.. iya. To… long-tolong, tolong buka kan. A… anakku, anakku,” ucap seseorang tertatih-tatih.
“Nyonya Kinarsih kah di sana?’ tanyaku menyebut nama nyonya pemilik rumah megah ini.
“Hah, hah, hah.  Iya. Tolong. Buka. Tolong,” ucapnya dari dalam kamar.

Aku berusaha mendobrak pintu itu. Sakit! Sakit sekali. Tapi aku rasa melihat orang yang kita sayangi meninggal di hadapan kita itu lebih menyakitkan. Aku tidak mau Nyonya kinarsih merasakan hal itu. Aku harus menolong Nyonya Kinarsih dan anak-anaknya. Aku tidak ingin kisah tragis yang melenyapkan nyawa orang tuaku terulang lagi.

 Aku masih berusaha terus mendobrak, semua tubuhku seakan mati rasa, aku mulai sulit bernafas. Aku lemah, lemah sekali. Tapi aku harus bertahan, hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Aku melihat kedua anak Nyonya Kinarsih tergeletak dipangkuan Nyonya Kinarsih.

“Nyonya Kinarsih!” ucapku menguncang-guncang tubuhnya, berusaha membangunkannya.
Aku melihat ada lelehan air mata di pelupuk matanya. Ia memelukku erat, “Terima kasih,” ucapnya pelan.

Aku berusaha membawanya keluar bersama anak-anaknya, sebelum oksigen-oksigen di ruangan ini habis. Hah, hah, hah, hah, hah, Aku berhasil keluar, aku berhasil keluar! Aku berhasil menyuplai kembali oksigen ke organ pernafasanku.
***

Setelah kejadian itu, majikanku bilang, aku pingsan selama sehari. Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan Nyonya Kinarsih. Kata majikanku Tuan Kinarsih tewas di tempat tak terselamatkan. Meninggalkan beberapa rasa syukur dari para warga yang tidak suka mendengar keributan di rumah itu. Rumah yang besar dan megah itu luluh lantah oleh api, hanya tersisa lantai satu yang berhasil diselamatkan karena akhirnya pemadam kebakaran datang.

                Nyonya Kinarsih meminta bantuan majikanku agar aku bisa bekerja dengan Nyonya Kinarsih di malam hari. Awalnya majikanku tidak menyetujuinya. Namun setelah dibujuk oleh Nyonya Kinarsih akhirnya majikanku memperbolehkanku kerja di rumah Nyonya Kinarsih. Aku akan mulai bekerja dari jam 4 sore hingga pagi menjelang pagi setiap harinya. Hari ini aku genap sebulan bekerja di rumah Nyonya Kinarsih.

                “Jumiyati, bisa bantu saya?” ucap Nyonya Kinarsih memanggilku dari salah satu kamar tamu yang sekarang dijadikan kamarnya beserta anak-anaknya.
                “Iya Nyonya,” ucapku masuk ke dalam kamar. Anak Nyonya Kinarsih sudah tertidur pulas di tempat tidur.
                “Jumiyati sudah berulang kali, saya bilang. Panggil saja saya Maya,” ucapnya kembali megingatkanku untuk kesekian kalinya. Aku tau, tapi aku selalu merasa sungkan untuk memanggil nama aslinya.
                “Ini saya hadiahkan kamu sepaket peralatan make-up, untukmu. Dan ini ada gaun, coba kamu kenakan, pasti sangat cantik,” ucapnya sambil tersenyum manis.
                Aku tampak ragu untuk menerima semua hal itu, ini terlalu berlebih. Terlebih aku tak terbiasa menggunakan make-up apalagi gaun panjang bewarna putih.
                “Ini terimalah. Coba kenakan sekarang,” ucapnya mengelus rambutku. Seperti yang dulu sering ibu lakukan padaku saat memberikan hadiah. Ah, aku merindukan ibu.
                “Tapi?” tanyaku masih ragu.
                “Sudah, pakai saja lah,” ucapnya lagi.

                Aku seperti terhipnotis dan segera mengganti bajuku dengan gausn yang diberikan Nyonya Kinarsih. Sepaket perlatan make-up pun ku pakai seadanya. Aku tidak begitu mengerti cara memakainya. Jadi yang aku gunakan hanya bedak di dalam kotak itu.

                “Wah, kamu cantik, sekali Jumiati. Sini kamu duduk di meja rias, biar saya dandankan agar terlihat lebih cantik,” ucap Nyonya Kinarsih menuntunku menuju meja riasnya.
                “Nah, hal pertama yang akan membuatmu cantik adalah pewarna bibir bewarna merah darah,” ucap Nyonya Kinarsih mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Beberapa detik kemudian dia menancapkannya di tengkukku.
                “Aaaahg, Hah, Hah,” ucapku seketika menahan nyeri yang timbul dari tengkukku. Aku sesak nafas.
                “Hahahahahahaha, kamu cantik Jumiati, Kamu cantik! Karena itu aku ingin memakanmu dalam keadaan cantik. Agar kecantikanku terlihat sempurna! Hahahaha,” tawanya.

                Aku berusaha kabur, tapi aku mulai kehilangan kendali. Aku semakin sulit untuk bernafas.
                “Jumiati-Jumiati. Hahaha. Silahkan saja kamu menjerit dan pergi. Kamar ini sudah saya kunci. Lagipula semakin banyak kamu berkeringat savor-mu akan semakin enak untuk di kunyah dan ditelan!" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar