Aku tinggal di
sebuah perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya. Bukan, aku bukan salah satu
dari mereka. Aku hanya seorang pembantu baru yang tinggal di sana. Aku terpaksa harus bekerja karena rumahku di
kampung habis terbakar. Satu-satunya yang tersisa hanyalah hutang orang tuaku
dan sebagai anak tunggal aku harus menanggung hutang itu.
Di ujung rumah
tempatku bekerja, terdapat rumah yang yang besar dan sangat megah. Namun
sayangnya kemegahan itu tak berarti apa-apa, karena rumah itu banyak ditakuti
orang-orang. Sesekali pada malam hari sering terdengar jeritan, tangisan dan
permintaan tolong dari seseorang, yang aku rasa adalah seorang wanita. Kebanyak
warga berpikir bahwa penghuni rumah itu sering bertengkar dan tuan pemilik
rumah itu sering menganiaya istrinya.
Aku heran
dengan warga di perumahan ini, mereka seakan tak peduli dengan suara-suara
jeritan itu. Mereka lebih memilih untuk diam, menganggap jeritan dan tangisan
minta tolong itu sebagai angin lalu. Mungkin orang-orang yang bermalam di
perumahan ini selain warga setempat akan menganggap bahwa itu adalah rumah
hantu. Rumah berlantai tiga itu nampak suram dengan hanya menyalakan lampu di
teras luar, di sudut kanan lantai dua, dan sudut kiri lantai tiga rumah tersebut.
Setiap hari
akan ada seorang wanita yang keluar dari rumah itu. Aku rasa ia adalah nyonya
pemilik rumah itu. Sepertinya penghuni rumah itu tidak memiliki pembantu. Ia
sering keluar untuk membeli sayur-sayuran di pasar. Aku rasa ia cantik, rambut
hitam bergelombangnya panjang sepinggang. Tapi entah lah, ia sering menutupi
wajahnya menggunakan topi anyaman khas petani-petani di kampungku, sehingga aku
tak dapat melihatnya dengan jelas. Ia juga selalu menggunakan baju lengan
panjang dan rok yang menutupi seluruh permukaannya kakinya. Aku curiga ia
sengaja menutupi seluruh bagian tubuhnya yang sering dianiaya.
*
Asap tipis
mengepul, dan menjalar ke dapur tempatku sedang memasak. Aku melihat ke
sekeliling, ini bukan asap yang berasal dari masakanku. Aku yakin sekali. Asap
ini membuatku sesak, mengingatkan peristiwa naas yang terjadi pada keluargaku
dulu. Tidak! Jangan-jangan telah terjadi kebakaran di sini. Aku berlari ke arah
luar. Kulihat orang-orang sudah berkumpul di ujung rumah megah itu.
Aku mendekat
ke arah rumah megah itu. Bau asap pekat semakin tercium. Aku rasa asap tadi
berasal dari rumah megah itu. Api menjalar dari jendela lantai dua rumah itu. Aku
berlari menembus kerumuman warga yang hanya melihat. Kakiku seperti kehilangan
kendali. Melakukan suatu hal yang dulu pernah kulakukan. Kepulan asap mulai
merusak indera penciumanku, namun kakiku tak berhenti melangkah.
Aku berusaha
mendorong, pintu utama rumah itu. Tak bisa, terkunci rapat. Kali ini aku coba
tubrukan tubuhku ke pintu itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Nihil. Air
mataku mulai berjatuhan entah karena kepulan asap atau sisa penyesalan yang
dulu tak dapat kulakukan. Aku tidak tahu apa yang membuatku terhipnotis untuk dapat
membuka pintu itu.
Aku berusaha
mendobrak pintu utama itu untuk yang kesekian kalinya. Bahu kiri yang kugunakan
untuk mendobrak sudah mati rasa. Ya
Tuhan, aku mohon, selamatkan keluarga ini! Beberap menit kemudian pintu rumah
itu berhasil aku dobrak. Mataku menatap ke sekeliling, mencari seseorang yang
masih terkurung di dalam rumah ini. Pemadam kebakaran belum juga datang.
Aku berlari
menuju arah api yang datang. Dari lantai dua kudengar suara orang yang
terbatuk-batuk.
“Tolong, uhuk,
uhuk,tolong!” rintih seseorang di salah satu kamar di lantai dua.
“Ada orang di
dalam?” jeritku berusaha membuka pintu kamar itu. Terkunci! Pintu itu tidak
bisa terbuka.
“I.. iya. To… long-tolong,
tolong buka kan. A… anakku, anakku,” ucap seseorang tertatih-tatih.
“Nyonya
Kinarsih kah di sana?’ tanyaku menyebut nama nyonya pemilik rumah megah ini.
“Hah, hah,
hah. Iya. Tolong. Buka. Tolong,” ucapnya
dari dalam kamar.
Aku berusaha
mendobrak pintu itu. Sakit! Sakit sekali. Tapi aku rasa melihat orang yang kita
sayangi meninggal di hadapan kita itu lebih menyakitkan. Aku tidak mau Nyonya kinarsih
merasakan hal itu. Aku harus menolong Nyonya Kinarsih dan anak-anaknya. Aku tidak
ingin kisah tragis yang melenyapkan nyawa orang tuaku terulang lagi.
Aku masih berusaha terus mendobrak, semua
tubuhku seakan mati rasa, aku mulai sulit bernafas. Aku lemah, lemah sekali. Tapi
aku harus bertahan, hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Aku melihat kedua
anak Nyonya Kinarsih tergeletak dipangkuan Nyonya Kinarsih.
“Nyonya
Kinarsih!” ucapku menguncang-guncang tubuhnya, berusaha membangunkannya.
Aku melihat ada lelehan air mata
di pelupuk matanya. Ia memelukku erat, “Terima kasih,” ucapnya pelan.
Aku berusaha
membawanya keluar bersama anak-anaknya, sebelum oksigen-oksigen di ruangan ini
habis. Hah, hah, hah, hah, hah, Aku berhasil keluar, aku berhasil keluar! Aku berhasil
menyuplai kembali oksigen ke organ pernafasanku.
***
Setelah kejadian
itu, majikanku bilang, aku pingsan selama sehari. Aku tidak tahu lagi bagaimana
keadaan Nyonya Kinarsih. Kata majikanku Tuan Kinarsih tewas di tempat tak
terselamatkan. Meninggalkan beberapa rasa syukur dari para warga yang tidak suka mendengar keributan di rumah itu. Rumah yang besar dan megah itu luluh lantah oleh api, hanya tersisa lantai satu yang berhasil diselamatkan karena
akhirnya pemadam kebakaran datang.
Nyonya
Kinarsih meminta bantuan majikanku agar aku bisa bekerja dengan Nyonya Kinarsih
di malam hari. Awalnya majikanku tidak menyetujuinya. Namun setelah dibujuk
oleh Nyonya Kinarsih akhirnya majikanku memperbolehkanku kerja di rumah Nyonya
Kinarsih. Aku akan mulai bekerja dari jam 4 sore hingga pagi menjelang pagi
setiap harinya. Hari ini aku genap sebulan bekerja di rumah Nyonya Kinarsih.
“Jumiyati,
bisa bantu saya?” ucap Nyonya Kinarsih memanggilku dari salah satu kamar tamu
yang sekarang dijadikan kamarnya beserta anak-anaknya.
“Iya
Nyonya,” ucapku masuk ke dalam kamar. Anak Nyonya Kinarsih sudah tertidur pulas
di tempat tidur.
“Jumiyati
sudah berulang kali, saya bilang. Panggil saja saya Maya,” ucapnya kembali
megingatkanku untuk kesekian kalinya. Aku tau, tapi aku selalu merasa sungkan
untuk memanggil nama aslinya.
“Ini
saya hadiahkan kamu sepaket peralatan make-up, untukmu. Dan ini ada gaun, coba
kamu kenakan, pasti sangat cantik,” ucapnya sambil tersenyum manis.
Aku
tampak ragu untuk menerima semua hal itu, ini terlalu berlebih. Terlebih aku
tak terbiasa menggunakan make-up apalagi gaun panjang bewarna putih.
“Ini
terimalah. Coba kenakan sekarang,” ucapnya mengelus rambutku. Seperti yang dulu
sering ibu lakukan padaku saat memberikan hadiah. Ah, aku merindukan ibu.
“Tapi?”
tanyaku masih ragu.
“Sudah,
pakai saja lah,” ucapnya lagi.
Aku
seperti terhipnotis dan segera mengganti bajuku dengan gausn yang diberikan
Nyonya Kinarsih. Sepaket perlatan make-up
pun ku pakai seadanya. Aku tidak begitu mengerti cara memakainya. Jadi yang aku
gunakan hanya bedak di dalam kotak itu.
“Wah,
kamu cantik, sekali Jumiati. Sini kamu duduk di meja rias, biar saya dandankan
agar terlihat lebih cantik,” ucap Nyonya Kinarsih menuntunku menuju meja
riasnya.
“Nah,
hal pertama yang akan membuatmu cantik adalah pewarna bibir bewarna merah darah,”
ucap Nyonya Kinarsih mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Beberapa detik kemudian
dia menancapkannya di tengkukku.
“Aaaahg,
Hah, Hah,” ucapku seketika menahan nyeri yang timbul dari tengkukku. Aku sesak
nafas.
“Hahahahahahaha,
kamu cantik Jumiati, Kamu cantik! Karena itu aku ingin memakanmu dalam keadaan
cantik. Agar kecantikanku terlihat sempurna! Hahahaha,” tawanya.
Aku
berusaha kabur, tapi aku mulai kehilangan kendali. Aku semakin sulit untuk
bernafas.
“Jumiati-Jumiati.
Hahaha. Silahkan saja kamu menjerit dan pergi. Kamar ini sudah saya kunci. Lagipula
semakin banyak kamu berkeringat savor-mu
akan semakin enak untuk di kunyah dan ditelan!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar