Pernah tidak mendengar cerita bahwa jika ingin
ke Bandung bisa melalui puncak dan beristirahat sejenak di Puncak? Aku sering.
Tapi, kalau ingin pergi ke Puncak lalu iseng jalan-jalan ke Bandung kemudian
kembali lagi ke Puncak? Aku rasa jarang ada orang melalui rute itu tapi aku
melakukan hal itu.
Namanya Dika. He isn’t smart, he
isn’t handsome, he actually bad boy, but who knows, I think I’m in love with
him. Aku bisa bilang Dika buruk karena selain dikenal sebagai anak yang
aktif paskibra dia juga dikenal sebagai anak yang sering ketiduran di kelas,
belum lagi dia sering ketahuan merokok di kantin.
“Hei, ngelamunin apa hei? Dasar gadis
linglung. Hahaha,” ucap Dika selalu mengagetkanku.
Aku jatuh hati padanya sejak kelas satu SMP. Saat itu aku
rasa, aku rasa benar-benar jatuh hati padanya, bukan sekedar cinta monyet. Ah,
entahlah, rasanya setiap hari ingin bertemu dengannya, ingin menyapanya,
sayangnya kami beda kelas. Ya, Dika kakak kelasku. Satu ekskul paskibra
membuatku dekat dengannya. Ah, tapi siapa sih yang akan suka dengan gadis
berkulit kecoklatan terbakar matahari karena sering menggiring bendera. Belum
lagi jerawat dan rambut pendek yang mengiasi wajahku.
Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa jatuh hati pada Dika.
Padahal setiap ketemu, setiap ada kesempatan mengobrol kita selalu bertengkar.
Tapi anehnya kita selalu mau sekelompok saat latihan. Tak jarang keributan kami
berdua menjadi bahan tawaan anak-anak paskibra.
Aku tak pernah menganggap Dika sebagai cinta monyetku
walaupun ini pertama kalinya aku merasa jatuh hati. Sayangnya, kebersamaan kita
hanya satu tahun kurang, Dika lulus SMP dan siap melanjutkan ke sekolah
penerbangan. Tak ingin melepaskan harapan aku yang polos menyatakan perasaanku
pada Dika. Dika hanya tersenyum saat itu. Sejak saat itu Dika bagai ditelan
asa, hilang tanpa kabar. Aku bersusah payah untuk melupakannya.
Tahun berlalu dengan cepatnya. Kini aku telah berusia 18 tahun. Bodohnya aku masih saja sendiri menghabiskan masa SMP dan SMA untuk fokus belajar. Bohong kalau aku bilang aku masih ada perasaan dengan Dika. Berjalannya waktu menyadarkanku bahwa perasaanku lama-lama terkikis. Tak ada lagi hati untuk Dika namun tak pula kutemui seseorang yang baru. Ibarat kata setelah dari Puncak Aku melanjutkan perjalanan menuju Bandung melalui Cianjur tanpa bersinggah.
Tahun berlalu dengan cepatnya. Kini aku telah berusia 18 tahun. Bodohnya aku masih saja sendiri menghabiskan masa SMP dan SMA untuk fokus belajar. Bohong kalau aku bilang aku masih ada perasaan dengan Dika. Berjalannya waktu menyadarkanku bahwa perasaanku lama-lama terkikis. Tak ada lagi hati untuk Dika namun tak pula kutemui seseorang yang baru. Ibarat kata setelah dari Puncak Aku melanjutkan perjalanan menuju Bandung melalui Cianjur tanpa bersinggah.
*
Reuni kecil itu mempertemukanku kembali dengan Milly.
Banyak yang berubah darinya. Kini badannya tak hanya tinggi tapi juga berisi.
Pertemuan setelah hampir 8 tahun kubuka dengan sapaan khas. “Hai, gadis
linglung apa kabar?”
Aku tersenyum kecil,
mengingat betapa bodohnya aku dulu hanya mematung ketika Milly menyatakan
perasaannya padaku. Aku tak menyangka cintaku akan bersambut, bodohnya aku tak
pernah menyatakan perasaanku padanya. Pernyataan Milly kemudian menghilang
bagai asap dimakan waktu.
Reuni itu kembali mendekatkanku dengan Milly. Kami bahkan bertukar nomor. Entahlah aku seperti anak kecil yang medapatkan permen gulali. Aku merasa kembali ke jaman-jaman SMP dulu. Padahal saat meneruskan ke sekolah penerbangan aku sempat berpacaran beberapa kali. Namun perasaanku pada Milly belum terhapuskan sepertinya.
Aku mencari tahu segala hal tentang Milly. Apalagi yang media penguntit paling trend saat ini, selain media sosial. Mulai dari FB hingga instagram. Aku memulai penjelajahan dari FB. Aku selusuri segala album di profilnya. Banyak perubahan darinya mulai dari rambutnya yang cepak, panjang hingga akhirnya memutus untuk berhijab. Aku senyum-senyum sendiri melihat. Senyumku terhenti ketika medapatkan album berjudul “Bersama si Dede”.
Lebih dari 100 unggahan foto bersama seorang lelaki berwajah imut khas lelaki yang sedang berada dipasaran Indonesia. Lelaki seperti orang-orang korea, chinnese mungkin. Mungkin bedanyanya lelaki ini berwajah sedikit gelap khas orang pribumi. Ada salah satu foto di mana Milly memegang sebuah kotak bening di dalamnya berwara kuning, di tengahnya ada bintik-bintik putih berbentuk Gajah. Aku ingat sekali Milly sangat menyukai gajah. Di bagian kolom komentar foto itu, banyak yang berkomentar, kebanyakan bertanya ada hubungan apa antara Milly dan lelaki itu. Milly membalas komentar secara singkat. “ini kado Dimas ke gue..” Aku cukup cemburu dan kuputuskan menutup media sosial satu ini.
*
Kata orang masa SMA itu paling indah, tapi menurutku masa paling indah itu masa-masa kuliah. Aku jatuh hati lagi, ini untuk kedua kalinya aku jatuh hati. Aku tahu jatuh hati kali ini juga salah tapi entah mengapa hati tak bisa dilarang
Aku seperti kembali menemukan sosok Dika tapi lebih baik, mungkin. Namanya Dimas, dia manis, dia baik, di tampan, dia polos dan dia adik kelasku di kampus. Semakin polosnya kalau ditanya mau jadi apa setelah lulus nanti, dia bakal bilang akan menjadi Pendeta. Lucu, tapi itu yang kadang membuatku tak merasa nyaman dengannya, perbedaan keyakinan.
Banyak yang mempertanyakan hubungan kami, selain aneh karena kita bukan teman seangkatan, kami juga berbeda jurusan. Berteman dengan siapa saja boleh kan? Banyak teman yang mengingatkan tentang hubungan kami. Aku tau aku yang salah, jelas-jelas Dimas ingin jadi Pendeta berarti tidak ada harapan aku di hati dia. Tapi perihal hati siapa yang tahu.
Ada satu hal yang membuatku sulit melupakan Dimas. Dia pernah memberikan hadia ulang tahun padaku berupa mikroba berbentuk gajah. Iya, mikroba entah jenis apa, dia membentuk mikroba itu menjadi bentuk gajah dalam cawan petri yang berisi media agar. Aku syok ketika dia bilang untuk membuat itu dia menggunakan mikroba pantogen. Iya mikroba yang mampu menyebabkan penyakit bagi manusia. Tapi aku senang bukan main, karena itu hadiah itu berbentuk gajah, binatang kesukaanku sejak kecil.
Dua tahun dekat, dua tahun pula aku pulang-pergi rumah ke kampus diantar-jemput Dimas. Papa-mama yang awalnya antusias menyangka gadis sulungnya ini akhirnya punya pacar harus menelan kecewa ketika kukatakan bahwa Dimas hanya temanku dan kami berbeda keyakinan. Dua tahun, yang akhirnya berakhir menyakitkan. Dimas menyatakan perasaannya Missyel teman sekelasnya. Jujur aku merasa kecewa bukan karena aku tidak dipilih olehnya. Aku hanya merasa dikhianati oleh cita-citanya yang bukan untukku. Bukannya dia ingin menjadi Pendeta? Mengapa dia dengan mudahnya menyatakan perasaannya?
Sejak saat itu aku mulai menjauh dari Dimas, bagaimanapun aku tidak ingin mengganggu hubungannya dengan Missyel. Satu-persatu secara diam-diam teman-teman mulai menertawakanku. Menertawakan kebodohanku menaruh hati pada Dimas. Bohong jika aku tak terluka.
*
Melupakan sejenak
tentang lelaki yang banyak memenuhi album foto Milly, hubungan kami berdua semakin
dekat. Aku memang bertemu kembali dengannya, namun Milly yang dulu kukenal tak
lagi sama dengan Milly yang sekarang. Dia lebih dewasa, lebih sering tersenyum
dibanding tertawa lepas seperti dulu. Hmm, tambah sih hobi barunya, Milly jadi
suka mengombal. Setelah aku ke-GR-an setengah mati, dia akan bilang kalau itu
hanya bercanda.
Aku tak tahu seserius apa hubungan Milly dengan lelaki
itu. Milly tak pernah menceritakan sedikitpun tentang lelaki itu. Entahlah,
mungkin sama sepertiku yang tidak pernah bisa menceritakan bahwa aku sudah
bertungan. Sungguh aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini, begitupun
dengan calonku itu. Kami hanya terjebak perjodohan gila. Kami berdua akhirnya
memutuskan untuk mencoba, walau aku merasa aku dan calonku lebih seperti adik
dan kakak.
*
Aku bertemu lagi dengan Dika di reuni kecil, Jangan
berpikir aku akan jatuh hati lagi pada Dika. Aku benar-benar seperti menemukan
sosok yang baru aku kenal. Perasaanku dulu padanya telah sirna. Lagipula Dika
sudah punya pasangan, sudah tunangan. Oke untuk hal yang satu ini jelas aku,
mencari tahu kebenarannya. Tentu tanpa sepengetahuan Dika.
Waktu berjalan dengan
cepatnya. Mengubah hari demi hari tanpa kuminta. Banyak hal baru yang Dika
ceritakan padaku. Termasuk jadwal kerjanya yang mendalami rute penerbangan
Jawa-Sumatra. Perlahan aku mulai jatuh hati lagi padanya.
Dalam hitungan bulan
Dika mulai mempercayaiku. Dika mulai menceritakan bahwa dia sudah bertunangan
walau ia tidak pernah mencintai calonnya. Termasuk calonnyan itu. Tapi
lagi-lagi, siapa sih yang tahu tentang hati. Aku tidak mau kembali terjerumus
kepermasalahn yang sama. Aku tidak siap untuk terluka lagi.
Dugaanku benar. Pagi
ini Dika meneleponku. Dika menangis, hal yang tak pernah kudengan sebelumnya.
Dia bilang dia baru saja membatalkan pertunangannya. Ya tepatnya calonnya
membatalakan pertunanganya tanpa sebab. Dika menangis menyesali semua dan aku
terbebabani perasaan sakit hati yang Dika miliki.
*
Walaupun aku pernah
bilang aku tak pernah mencintai calonku tapi mendapatkan keputusan untuk
mengakhiri pertunangan itu sangat menyesakkan bagiku. Calonku menangis, dia
bilang dia ingin mengakhiri, dia bilang aku telah selingkuh, dia bilang dia
tidak bisa bertunangan terlebih harus menikah dengan lelaki yang mencintai
gadis lain.
Aku tertohok mendengar
perkataannya. Calonku menangis sejadi-jadinya melihat beberapa foto Milly
betengger di handphone-ku. Dia marah
dan memutuskan secara sepihak. Dan aku? Aku merasa berdosa telah menyakiti
hatinya. Walaupun dari awal jelas sekali kita berdua tak saling mencintai,
namun tanpa kusadari aku telah terlanjur sayang pada calonku. Membuatnya menangis
sangat menyakitkan. Bodohnya aku malah menangis tersedu-sedu menyatakan
semuanya pada Milly.
*
Sejak saat itu aku mulai berusaha menjauh dari Dika atau
Dika yang menjauh, entahlah aku tak tahu. Aku tahu aku salah bukan seperti ini
jika aku benar-benar menganggap Dika teman. Aku terluka, aku hanya tidak ingin
semakin terluka dan mendengar perkataan Dika saat itu cukup menyakinku bahwa
Dika memang mencintai tunangannya.
*
Aku sudah kembali dari keterpurukanku. Aku mulai menyibukkan
diri ke jadwal penerbanganku. Tak hanya penerbangan domestik penerbangan
mancanegara pun mulai kujabani. Aku hanya ingin membuang perasaan bersalahku
dan semua kejahatan yang telah kulakukan pada calonku. Atau lebih tepatnya
menenangkan diri.
Seakan
mengerti, Milly juga mulai menjauh dariku. Komunikasi singkat untuk sekedar
telepon atau sms tak lagi kulakukan. Jujur aku merindukannya. Merindukan segala
cerita-cerita konyol yang sering ia lakukan.
*
Tak ada hal sepesial ketika ku membuka mata hari ini.
matahari masih sama malu-malu untuk keluar karena mendung menutupinya. Udara
dingin karena hujan masih sama menjalar pelan-pelan dari ventilasi kamarkmu.
Aku membuka HP-ku, yang terkunci dengan pola. Aku mendapatkan beberapa rekaman
suara di line dari nomor takku kenal.
Aku mendengarkannya. Air mataku tiba-tiba saja menetes jatuh.
*
“Halo,gadis linglung belum bangun ya? Lagi
apa? Gue rindu lo nih. Gue sekarang di Sapporo, salju turun dengan derasnnya
loh di sini. Gue punya gombalan baru ke lo dengerin ya, gak boleh komentar, gak
boleh ketawa apalagi nangis. Dika Prananda jatuh hati dengan Milly Rainy. Eh,
jangan syok dulu. Belum selesai gombalannya. Hehehe. Siapa-siap ya Sabtu besok gue mau bawa papa-mamah gue buat ngelamar kamu. Udah siapa kann jadi pramugari
hati gue? Jangan nangis guling-guling ya! Dadah!”
‘Klik” bunyi suara rekaman yang telah kupersiapkan beberapa minggu lalu
terkirim ke chat Line milik Milly. Aku tahu ini gila. Entahlah, sepertinya aku
sedang merasakan euforia romantis dari kota Sapporo beberapa minggu lalu.
*
Aku segera keluar kamar dengan baju seadanya, ternyata Dika
dan keluarganya sudah di ruang tamu. Mata kami saling bertemu, mampus aku sudah
bisa berkilah untuk pergi.
“Heh! Gadis linglung mau lamaran kok bajunya seperti itu?
Mandi sana!”ucap Dika mendelik padaku.
Jadi benarkan kita bisa saja main ke Bandung dulu sebelum
menetap di Puncak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar