Sabtu, 30 November 2013

Puncak-Bandung-Puncak

Pernah tidak mendengar cerita bahwa jika ingin ke Bandung bisa melalui puncak dan beristirahat sejenak di Puncak? Aku sering. Tapi, kalau ingin pergi ke Puncak lalu iseng jalan-jalan ke Bandung kemudian kembali lagi ke Puncak? Aku rasa jarang ada orang melalui rute itu tapi aku melakukan hal itu.
            Namanya Dika. He isn’t smart, he isn’t handsome, he actually bad boy, but who knows, I think I’m in love with him. Aku bisa bilang Dika buruk karena selain dikenal sebagai anak yang aktif paskibra dia juga dikenal sebagai anak yang sering ketiduran di kelas, belum lagi dia sering ketahuan merokok di kantin.
“Hei, ngelamunin apa hei? Dasar gadis linglung. Hahaha,” ucap Dika selalu mengagetkanku.
Aku jatuh hati padanya sejak kelas satu SMP. Saat itu aku rasa, aku rasa benar-benar jatuh hati padanya, bukan sekedar cinta monyet. Ah, entahlah, rasanya setiap hari ingin bertemu dengannya, ingin menyapanya, sayangnya kami beda kelas. Ya, Dika kakak kelasku. Satu ekskul paskibra membuatku dekat dengannya. Ah, tapi siapa sih yang akan suka dengan gadis berkulit kecoklatan terbakar matahari karena sering menggiring bendera. Belum lagi jerawat dan rambut pendek yang mengiasi wajahku.
Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa jatuh hati pada Dika. Padahal setiap ketemu, setiap ada kesempatan mengobrol kita selalu bertengkar. Tapi anehnya kita selalu mau sekelompok saat latihan. Tak jarang keributan kami berdua menjadi bahan tawaan anak-anak paskibra.
Aku tak pernah menganggap Dika sebagai cinta monyetku walaupun ini pertama kalinya aku merasa jatuh hati. Sayangnya, kebersamaan kita hanya satu tahun kurang, Dika lulus SMP dan siap melanjutkan ke sekolah penerbangan. Tak ingin melepaskan harapan aku yang polos menyatakan perasaanku pada Dika. Dika hanya tersenyum saat itu. Sejak saat itu Dika bagai ditelan asa, hilang tanpa kabar. Aku bersusah payah untuk melupakannya.
Tahun berlalu dengan cepatnya. Kini aku telah berusia 18 tahun. Bodohnya aku masih saja sendiri menghabiskan masa SMP dan SMA untuk fokus belajar. Bohong kalau aku bilang aku masih ada perasaan dengan Dika. Berjalannya waktu menyadarkanku bahwa perasaanku lama-lama terkikis. Tak ada lagi hati untuk Dika namun tak pula kutemui seseorang yang baru. Ibarat kata setelah dari Puncak Aku melanjutkan perjalanan menuju Bandung melalui Cianjur tanpa bersinggah.
*
Reuni kecil itu mempertemukanku kembali dengan Milly. Banyak yang berubah darinya. Kini badannya tak hanya tinggi tapi juga berisi. Pertemuan setelah hampir 8 tahun kubuka dengan sapaan khas. “Hai, gadis linglung apa kabar?”
            Aku tersenyum kecil, mengingat betapa bodohnya aku dulu hanya mematung ketika Milly menyatakan perasaannya padaku. Aku tak menyangka cintaku akan bersambut, bodohnya aku tak pernah menyatakan perasaanku padanya. Pernyataan Milly kemudian menghilang bagai asap dimakan waktu.
Reuni itu kembali mendekatkanku dengan Milly. Kami bahkan bertukar nomor. Entahlah aku seperti anak kecil yang medapatkan permen gulali. Aku merasa kembali ke jaman-jaman SMP dulu. Padahal saat meneruskan ke sekolah penerbangan aku sempat berpacaran beberapa kali. Namun perasaanku pada Milly belum terhapuskan sepertinya.
Aku mencari tahu segala hal tentang Milly. Apalagi yang media penguntit paling trend saat ini, selain media sosial. Mulai dari FB hingga instagram. Aku memulai penjelajahan dari FB. Aku selusuri segala album di profilnya. Banyak perubahan darinya mulai dari rambutnya yang cepak, panjang hingga akhirnya memutus untuk berhijab. Aku senyum-senyum sendiri melihat. Senyumku terhenti ketika medapatkan album berjudul “Bersama si Dede”.
Lebih dari 100 unggahan foto bersama seorang lelaki berwajah imut khas lelaki yang sedang berada dipasaran Indonesia. Lelaki seperti orang-orang korea, chinnese mungkin. Mungkin bedanyanya lelaki ini berwajah sedikit gelap khas orang pribumi. Ada salah satu foto di mana Milly memegang sebuah kotak bening di dalamnya berwara kuning, di tengahnya ada bintik-bintik putih berbentuk Gajah. Aku ingat sekali Milly sangat menyukai gajah. Di bagian kolom komentar foto itu, banyak yang berkomentar, kebanyakan bertanya ada hubungan apa antara Milly dan lelaki itu. Milly membalas komentar secara singkat. “ini kado Dimas ke gue..” Aku cukup cemburu dan kuputuskan menutup media sosial satu ini.

*
Kata orang masa SMA itu paling indah, tapi menurutku masa paling indah itu masa-masa kuliah. Aku jatuh hati lagi, ini untuk kedua kalinya aku jatuh hati. Aku tahu jatuh hati kali ini juga salah tapi entah mengapa hati tak bisa dilarang
            Aku seperti kembali menemukan sosok Dika tapi lebih baik, mungkin. Namanya Dimas, dia manis, dia baik, di tampan, dia polos dan dia adik kelasku di kampus. Semakin polosnya kalau ditanya mau jadi apa setelah lulus nanti, dia bakal bilang akan menjadi Pendeta. Lucu, tapi itu yang kadang membuatku tak merasa nyaman dengannya, perbedaan keyakinan.
            Banyak yang mempertanyakan hubungan kami, selain aneh karena kita bukan teman seangkatan, kami juga berbeda jurusan. Berteman dengan siapa saja boleh kan? Banyak teman yang mengingatkan tentang hubungan kami. Aku tau aku yang salah, jelas-jelas Dimas ingin jadi Pendeta berarti tidak ada harapan aku di hati dia. Tapi perihal hati siapa yang tahu.
            Ada satu hal yang membuatku sulit melupakan Dimas. Dia pernah memberikan hadia ulang tahun padaku berupa mikroba berbentuk gajah. Iya, mikroba entah jenis apa, dia membentuk mikroba itu menjadi bentuk gajah dalam cawan petri yang berisi media agar. Aku syok ketika dia bilang untuk membuat itu dia menggunakan mikroba pantogen. Iya mikroba yang mampu menyebabkan penyakit bagi manusia.  Tapi aku senang bukan main, karena itu hadiah itu berbentuk gajah, binatang kesukaanku sejak kecil.
            Dua tahun dekat, dua tahun pula aku pulang-pergi rumah ke kampus diantar-jemput Dimas. Papa-mama yang awalnya antusias menyangka gadis sulungnya ini akhirnya punya pacar harus menelan kecewa ketika kukatakan bahwa Dimas hanya temanku dan kami berbeda keyakinan. Dua tahun, yang akhirnya berakhir menyakitkan. Dimas menyatakan perasaannya Missyel teman sekelasnya. Jujur aku merasa kecewa bukan karena aku tidak dipilih olehnya. Aku hanya merasa dikhianati oleh cita-citanya yang bukan untukku. Bukannya dia ingin menjadi Pendeta? Mengapa dia dengan mudahnya menyatakan perasaannya?
            Sejak saat itu aku mulai menjauh dari Dimas, bagaimanapun aku tidak ingin mengganggu hubungannya dengan Missyel. Satu-persatu secara diam-diam teman-teman mulai menertawakanku. Menertawakan kebodohanku menaruh hati pada Dimas. Bohong jika aku tak terluka.
*

            Melupakan sejenak tentang lelaki yang banyak memenuhi album foto Milly, hubungan kami berdua semakin dekat. Aku memang bertemu kembali dengannya, namun Milly yang dulu kukenal tak lagi sama dengan Milly yang sekarang. Dia lebih dewasa, lebih sering tersenyum dibanding tertawa lepas seperti dulu. Hmm, tambah sih hobi barunya, Milly jadi suka mengombal. Setelah aku ke-GR-an setengah mati, dia akan bilang kalau itu hanya bercanda.
Aku tak tahu seserius apa hubungan Milly dengan lelaki itu. Milly tak pernah menceritakan sedikitpun tentang lelaki itu. Entahlah, mungkin sama sepertiku yang tidak pernah bisa menceritakan bahwa aku sudah bertungan. Sungguh aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini, begitupun dengan calonku itu. Kami hanya terjebak perjodohan gila. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk mencoba, walau aku merasa aku dan calonku lebih seperti adik dan kakak.
*
Aku bertemu lagi dengan Dika di reuni kecil, Jangan berpikir aku akan jatuh hati lagi pada Dika. Aku benar-benar seperti menemukan sosok yang baru aku kenal. Perasaanku dulu padanya telah sirna. Lagipula Dika sudah punya pasangan, sudah tunangan. Oke untuk hal yang satu ini jelas aku, mencari tahu kebenarannya. Tentu tanpa sepengetahuan Dika.
            Waktu berjalan dengan cepatnya. Mengubah hari demi hari tanpa kuminta. Banyak hal baru yang Dika ceritakan padaku. Termasuk jadwal kerjanya yang mendalami rute penerbangan Jawa-Sumatra. Perlahan aku mulai jatuh hati lagi padanya.
            Dalam hitungan bulan Dika mulai mempercayaiku. Dika mulai menceritakan bahwa dia sudah bertunangan walau ia tidak pernah mencintai calonnya. Termasuk calonnyan itu. Tapi lagi-lagi, siapa sih yang tahu tentang hati. Aku tidak mau kembali terjerumus kepermasalahn yang sama. Aku tidak siap untuk terluka lagi.
            Dugaanku benar. Pagi ini Dika meneleponku. Dika menangis, hal yang tak pernah kudengan sebelumnya. Dia bilang dia baru saja membatalkan pertunangannya. Ya tepatnya calonnya membatalakan pertunanganya tanpa sebab. Dika menangis menyesali semua dan aku terbebabani perasaan sakit hati yang Dika miliki.
*
            Walaupun aku pernah bilang aku tak pernah mencintai calonku tapi mendapatkan keputusan untuk mengakhiri pertunangan itu sangat menyesakkan bagiku. Calonku menangis, dia bilang dia ingin mengakhiri, dia bilang aku telah selingkuh, dia bilang dia tidak bisa bertunangan terlebih harus menikah dengan lelaki yang mencintai gadis lain.
            Aku tertohok mendengar perkataannya. Calonku menangis sejadi-jadinya melihat beberapa foto Milly betengger di handphone-ku. Dia marah dan memutuskan secara sepihak. Dan aku? Aku merasa berdosa telah menyakiti hatinya. Walaupun dari awal jelas sekali kita berdua tak saling mencintai, namun tanpa kusadari aku telah terlanjur sayang pada calonku. Membuatnya menangis sangat menyakitkan. Bodohnya aku malah menangis tersedu-sedu menyatakan semuanya pada Milly.
*
Sejak saat itu aku mulai berusaha menjauh dari Dika atau Dika yang menjauh, entahlah aku tak tahu. Aku tahu aku salah bukan seperti ini jika aku benar-benar menganggap Dika teman. Aku terluka, aku hanya tidak ingin semakin terluka dan mendengar perkataan Dika saat itu cukup menyakinku bahwa Dika memang mencintai tunangannya.
*
Aku sudah kembali dari keterpurukanku. Aku mulai menyibukkan diri ke jadwal penerbanganku. Tak hanya penerbangan domestik penerbangan mancanegara pun mulai kujabani. Aku hanya ingin membuang perasaan bersalahku dan semua kejahatan yang telah kulakukan pada calonku. Atau lebih tepatnya menenangkan diri.
            Seakan mengerti, Milly juga mulai menjauh dariku. Komunikasi singkat untuk sekedar telepon atau sms tak lagi kulakukan. Jujur aku merindukannya. Merindukan segala cerita-cerita konyol yang sering ia lakukan.
*
Tak ada hal sepesial ketika ku membuka mata hari ini. matahari masih sama malu-malu untuk keluar karena mendung menutupinya. Udara dingin karena hujan masih sama menjalar pelan-pelan dari ventilasi kamarkmu. Aku membuka HP-ku, yang terkunci dengan pola. Aku mendapatkan beberapa rekaman suara di line  dari nomor takku kenal. Aku mendengarkannya. Air mataku tiba-tiba saja menetes jatuh.
*
“Halo,gadis linglung belum bangun ya? Lagi apa? Gue rindu lo nih. Gue sekarang di Sapporo, salju turun dengan derasnnya loh di sini. Gue punya gombalan baru ke lo dengerin ya, gak boleh komentar, gak boleh ketawa apalagi nangis. Dika Prananda jatuh hati dengan Milly Rainy. Eh, jangan syok dulu. Belum selesai gombalannya. Hehehe. Siapa-siap ya Sabtu besok gue mau bawa papa-mamah gue buat ngelamar kamu. Udah siapa kann jadi pramugari hati gue? Jangan nangis guling-guling ya! Dadah!”

‘Klik” bunyi suara rekaman yang telah kupersiapkan beberapa minggu lalu terkirim ke chat Line milik Milly. Aku tahu ini gila. Entahlah, sepertinya aku sedang merasakan euforia romantis dari kota Sapporo beberapa minggu lalu.
*
Aku segera keluar kamar dengan baju seadanya, ternyata Dika dan keluarganya sudah di ruang tamu. Mata kami saling bertemu, mampus aku sudah bisa berkilah untuk pergi.
“Heh! Gadis linglung mau lamaran kok bajunya seperti itu? Mandi sana!”ucap Dika mendelik padaku. 


Jadi benarkan kita bisa saja main ke Bandung dulu sebelum menetap di Puncak?

Kamis, 28 November 2013

Sehari Tentang Cinta

09:10:47:32 15034320

Saya  berhasil menembuskan sinar gamma tepat ke jantungnya. Ada rasa sesak, menyadari bawa orang yang baru saja saya bunuh adalah diri saya sendiri di satu hari mendatang. Jadi satu hari mendatang saya akan segera mati? Tepat pukul 09:10:47:32? Baiklah, memang sebenarnya saya sudah sangat letih menjalani kehidupan. Semua terasa menjemukan. Liat lah betapa membosankannya, ketika kalian ingin memperoleh keturunan anak, kalian hanya perlu datang ke bank anak dan voila, dalam hitungan sepersepuluh detik kalian akan mengandung dan melahirkan anak kalian. Jadi apakah saat ini cinta masih diperlukan?
Tapi rasanya ini sangat menjemukan, saya sangat ingin merasakan jatuh cinta sebelum saya mati. Saya kemudian tersenyum kecil meyadari pikiran bodoh saya. Ya ya ya, saya rasa kalian juga sedang menertawakan saya. Cinta hanya topik bodoh yang sering dibicarakan oleh kaum-kaum fanatik akan pernikahan. Jadi apakah saya termasuk diantaranya? Saya hanya tak mengerti mengapa cinta tak lagi diminati oleh kalian? Saya hanya ingin tahu betapa beharganya saya bagi orang lain dengan cinta, itu saja, salah kah?

09:12 13122013
                Hujan perlahan, mederas membentur keras dinding jalan. Langit yang seharusnya terang kini bewarna kelabu, persis ketika matahari sore datang. Sayangnnya ini masih terlalu pagi untuk semua kekelabuan langit. Suara hujan menimbulkan bunyi keras di dalam bus yang kutumpangi. Ku pandangi sekali lagi sebuah undang berwarna putih silver.
Aku berusaha memejamkan mata. Berusaha membendung air mata yang siap terjun di pipiku. Sebentar lagi natal, sebentar lagi di waktu yang bersamaan Rico ulang tahun. Itu seharusnya akan menjadi momen membahagiakan bagi Rico. Aku pikir tahun ini aku bisa ikut hadir dalam kebahagiannya. Setidaknya itu yang kupikirkan 6 bulan yang lalu. Aku pikir jatuh hati itu sederhana.
Mungkin, kamu akan menertawakanku. Ya, aku tahu, aku tahu. Aku terlalu naif untuk mengharapkan cinta sederhana dari seseorang yang tak sederhana. Aku terlalu naif menyederhanakan perbedaan yang terlalu mencolok dari kepercayaanku dengannya. Padahal jelas aku tahu yang satu kepercayaan pun kadang tak mampu menyelesaikan permasalahan.
Sesak memang ternyata ketika Chintia-sahabat terdekat-yang mampu merebut hati mama Rico dan aku-seorang gadis yang tak pernah diharapkan menjadi bagian hidup Rico-harus pergi menjauh. Aku tau, aku terlalu naif. Aku tau, tapi apa kamu tahu, ada yang lebih menyakitkan dari semua rasa cinta yang pernah kurasakan? Itu adalah saat dimana ketika orang yang kamu percaya, kemudian perlahan tidak dapat lagi kamu percaya. Itu adalah saat melihat keluargamu hancur berantakan.
Air mataku mulai turun dari kelopak mata yang kututup rapat dengan paksa, percuma cairan tipis ini mampu menembus bulu mata pertahan terakhir. Aku benci cinta! aku benci jatuh hati! Itu hanya dusta!

09:10:47:45 15034320
                Saya kembali berhadapan dengan saya entah di dimensi waktu yang mana. Saya berusaha melarikan diri dengan pintu waktu. Hei, tenang saja saya berjanji saya tidak akan melakukan hal bodoh seperti saya di masa depan. Saya hanya ingin melarikan diri sejenak tanpa bermaksud menetap di masa lalu.
Hey, jangan menertawakan saya! Saya jelas masih ingat Ini adalah lini waktu dimana semua orang dapat menjelajahi tempat dalam hitungan seperdelapan detik, bahkan menjelajahi dimensi waktu, termasuk kembali ke masa lalu. Ini adalah masa dimana kita dapat merasakan tidur sangat cukup hanya dalam waktu seperempat detik. Semua berlangsung serba instan dan semua hal dapat dilakukan.
Saya tahu pasti Ini adalah masa dimana kejahatan antar sesama tak lagi terjadi. Ini masa dimana kebanyakan orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Waktu terasa begitu singkat untuk bertegur sama dengan orang lain. Kebanyakan manusia hanya dapat bertahan hidup selama tujuh hari. Ya, enam hari setelah dilahirkan maka mereka akan mengalami kelemahan fisik secara perlahan.
Semakin singkatnya waktu berlalu, kejahatan tak lagi dilakukan oleh sesama manusia. Kejahatan akan dilakukan oleh satu orang yang sama pada dimensi waktu yang berbeda. Kebanyakan manusia yang serakah memilih kembali ke masa lalu untuk terus dapat bertahan hidup. Sayangnya, untuk terus dapat tinggal di satu masa itu kalian jelas tahu, kalian harus dapat memusnahkan kalian di masa itu. Siapa yang menang dialah yang dapat bertahan hidup.
Satu-satunya hal bodoh yang saya lakukan adalah menekan kunci waktu lebih jauh, terlalu jauh sebelum saya lahir di dunia. Saya berusaha menutup kenop yang sudah terlanjur terbuka. Percuma saya terhisap masuk!

 09:15 13122013
                Ada guncangan kencang mengagetkanku. Guncangan apa itu? Aku tanpa sadar membuka mata dan air mataku membeludak keluar dengan derasnya. Bola mataku berpendar ke seluruh bagian bis mencari kejagalan yang baru saja terjadi. Semua penumpang dalam bis tampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Otakku kemudian berusaha memberi impuls untuk menutup mataku lagi, untuk menenangkan hatiku yang masih terluka. mataku siap mengeksekusi perintah dari otak namun kemudian terhenti ketika beradu tatapan dengan orang di sampingku.
                Siapa dia? Sedari tadi memejamkan mata kurasa tidak ada penumpang baru yang naik ke bis ini. Lalu siapa dia? Lelaki berpakaian aneh, semuanya serba bewarna coklat, lengkap dengan topi pawai seperti topi badut. Wajahnya seputih kapas, tingginya hanya sepundakku saat dia duduk di sampingku. dia menatap lekat pada jam tangan yang kugunakan. Beberapa detik kemudian mataku dan matanya kemudian saling beradu. 

09:15:03:49 13122013
                Saya terduduk di salas satu bangku di dalam kotak balok berukuran besar. Kursi yang saya duduki pun tak kalah besar. Saya rasa kotak balok ini bergerak, entah lah. Gelap menjalar di luar kotak balok ini. Air hujan mengguyur dengan derasnya. Sungguh fenomena yang jarang terjadi.
Ini dimana? Saya memandang menyeluruh. Ini tampak begitu asing? Saya terlempar ke dalam dimensi waktu mana kah? Gadis di sebelah saya terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja airmatanya jatuh tak henti-henti, saya perkirakan ia telah mengeluarkan air mata selama 1 menit lebih. Saya tak tahu pasti, penunjuk waktu yang merekat di kulit saya, rusak.
Saya memandangi gadis ini menyeluruh. ia mengelap air matanya perlahan-lahan. Kemudian memandang ke sekeliling begitu lama. Semua yang berada  dalam kotak balok ini seakan bergerak slow motion. Saya melihat benda tak kalah aneh di pergelangan tangan gadis itu. Saya rasa saya pernah melihat benda itu entah dimana.
Saya berusaha berpikir keras ketika mata kami kemudian saling beradu. Wajahnya mulai mengalami perubahan, tak ada lagi air mata di pipinya, alisnya mulai menyatu dan matanya mulai menyipit, sepertinya ia sedang berusaha meneliti saya. Aneh setelah hampir 3 menit mata kami beradu dan menimbulkan ketakutan sendiri dari saya-siapa yang tahu manusia di dimensi waktu ini senang memakan manusia lain, gadis ini tidak melakukan tindakan apapun selain memalingkan mukanya, tentunya dengan gerakan slow motion. Ah! Saya ingat, saya ingan benda yang melekat di lengan kirinya, itu jam tangan manusia abad 20-21 yang sering muncul di museum waktu.

09:18 13122013
                Aku menatapnya dengan lekat. Mata itu… hidung itu… bibir itu itu.. bentuk wajah itu, aku rasa aku sangat mengenalnya. Aku berusaha mengingat, nihil. Jantung mulai berdebar-debar, pandangan matanya yang hangat mampu membiusku. Aku berusaha memalingkan wajahku, menyadari kebodohanku menatap matanya selama beberapa menit ini. Pasti aku akan disangka perempuan maniak.

                Aku berasaha memejamkan mataku, menghilangkan segalanya. Percuma! Bayangan tentang Rico dan Chintia yang akan segera menikah memenuhi pikiranku. Mata itu! Bukankah itu mata elang milik Rico? Hidung mancung itu? Bukan kah itu Milik Rico? Dan bibir tipis dan bentuk wajah itu bukan kah milik Chintia? Aku segera membuka mata memastikan.

09:20:59:46 13122013
                Gadis itu kembali menatap saya, setelah matanya terpejam cukup lama. Ada getaran aneh menjalar di perut saya. Saya berusaha tersenyum. Hal yang tak pernah saya lakukan seumur hidup saya, selama enam hari ini. Tawa gadis itu pecah. Saya tak mengerti mengapa ia tiba-tiba tertawa. Bukankan sebelumnya ia menangis?

09:21 13122013
                Aku tak tahu mengapa aku bisa tertawa di depan orang asing. Senyumnya begitu aneh dan tampak takut-takut. Aku yakin kamu akan menyangka aku gadis gila, setelah aku menangis meruntuk dan membenci cinta, kini dengan mudahnya aku tertawa lepas dan memperkenalkan diriku pada orang asing.
                “Andin,” aku mengulurkan tanganku. Aku pasti sudah gila!
                “Ginda,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

19:22:21:46 13122013
                Saya rasa, saya tahu getaran apa yang menjalar diperut saya. Saya rasa ini cinta, persis film-film yang saya tonton dengan latar abad 21. Gadis itu bernama Andin.
“Tau gak aku merasa sudah sangat mengenalmu. Padahal kita baru mengenal beberapa jam. Kamu pasti berpikir kalau aku cewek gila,” ucapnya sambil tersenyum.
Saya pun membalasnya dengan tersenyum. Bagaimana bisa Andin bilang kita baru mengenal beberapa jam. Beberapa jam itu waktu yang berharga! Beberapa jam itu saya mampu tidur sebanyak 100 kali, saya mampu makan ribuan kali, saya mampu membaca jutaan kali, mampu menonton miliaran kali dan tentunya mampu membuang waktu dengan aktifitas yang menjemukan.
“Eh, sudah malam. Pulang yuk. Aku saja yang teraktir,” ucap Andin menyerup jus mangga yang ia pesan di salah satu cafe mall tempat kita menghabiskan waktu selama beberapa jam ini. Ia mengeluarkan sebuah kotak berisi kertas-kertas. Aku rasa ini yang dinamakan mata uang.
 Kamu dimana rumahnya?” tanya Andin pada saya setelah membayar.
“Saya?” ucap saya kebingungan.
Bagaimana mungkin saya bilang bahwa saya bukan manusia dari dimensi waktu ini? Bagaimana mungkin Andin mampu mempercayainya? Saya pun tak tahu saya sedang berada di daerah mana ini. Semua kegiatan yang kami lakukan hari ini, semua hal yang saya lihat hari ini terlihat begitu asing dan saya hanya mampu penasaran dan terus mengikuti alur waktu yang terjadi di sini.

19:25 13122013
                “Kok kamu malah diam sih Gin?” tanyaku merasa bersalah. Kebiasaan burukku terulang lagi, aku terlalu agresif! Membuat orang-orang yang berada di dekatku senang kemudian jengah karena keagresifanku.
                “Oh, hahaha, nanti saya dijemput saudara. Saya bukan orang sini,” ucapnya lagi-lagi sambil tersenyum. Senyum itu, persis dengan senyum yang dimiliki Rico.
                “Maaf ya Gin kalau aku nyebelin dan terlalu agresif,” ucapku spontan, aku tidak mau Ginda membenciku , sama seperti ketika ayah terlalu bersikap agresif kepada ibu.
                “Haha, enggak kok. Justru saya mau berterima kasih padamu untuk hari ini,” ucap Ginda mengelus rambutku.
                Aku terdiam menyadari sesuatu. Bukankah Ginda tingginya hanya sepundakku? Lalu mengapa sekarang Ginda mampu mengelus rambutku? Wajah Ginda juga terlihat semakin tegas. Ah mungkin tadi hanya perasaanku.

19:31:34:46 13122013
                Saya tanpa sadar mengelus rambut Andin pelan. Hari itu saya berpisah dengannya di depan gerbang mall. Andin pulang menggunakan kotak berbentuk oval, bertuliskan taxi, sementara saya masih terdiam di sini. Terlalu banyak yang Andin ajarkan saya banyak hal. Dia mengajarkan bagaimana cara tersenyum, bagaimana cara berbicara, bagaimana cara tertawa. Hal-hal yang tak pernah saya lakukan selama ini. Kalian jelas tahu kan komunikasi tak perlu dilakukan secara langsung? Kita hanya perlu menghubungkan otak kita dengan alat penerjemah yang akan melakukan segala macam komunikasi. Dia mengajarkan saya tentang cinta dan saya tak ingin kehilangannya. Namun apa yang mampu saya lakukan sekarang?

21:31 13122013
                Aku merebahkan tubuhku di kasur. Ayah dan ibu bertengkar lagi untuk kesekian kalinya entah untuk apa. Aku hanya tertawa, berusaha tak mempedulikan jeritan mereka, tapi ada sembilu luka  yang mengoyak-ngoyak hati ini. aku benci keluarga ini, aku benci kakak, aku benci ibu, aku benci ayah! Tapi hal yang menyakitkan adalah aku tak mampu hidup tanpa mereka, aku sayang mereka.
                Hal itu yang kadang mampu membuatku takut untuk jatuh hati. Aku tak mau terjebak dalam pernikan yang seperti neraka ini. Aku tak ingin anak-anakku kelak merasakan apa yang kurasakan. Kemudian Rico hadir memberikan sebuah harapan semu. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku sadar, secinta apapun Rico padaku, kita tak akan pernah bersatu.
                Lalu boleh kah sekarang aku menyimpan hatiku pada Ginda?

21:00: 54:12 13122013
                Saya masih terpaku di depan gerbang mall ini. Memikirkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi besok.  Besok pukul 09:10:47:32 saya akan segera meninggal karena usia, seperti yang diucapkan saya dari dimensi waktu 09:10:47:32 tanggal 15 bulan 03 tahun 4320. Kalian jelas tahu hal itu kan?
Apa yang harus saya lakukan? Tak ada yang harus saya singkirin di dimensi waktu ini. Saya bahkan tidak pernah hidup di dimensi waktu ini. Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup? Tak ada cara lain! Ini tentang hati, Andin harus tahu bahwa saya mencintainya. Harus!

14:30: 54:12 20122013
Sudah seminggu sejak pertemuan itu Ginda menghilang. Aku merindukannya, Tuhan. Entah sejak kapan aku sadar rasa ini tidak hanya sekedar rasa kagum. Aku mencintainya. Kamu pasti berpikir aku terlalu bodoh, karena bisa mencintai orang asing dalam hitungan hari.
Kamu harus tau aku banyak belajar dari Ginda. Aku belajar, bahwa cinta bukan soal waktu. Cinta adalah sebuah kepercayaan dan aku percaya Ginda juga mencintaiku. Meskipun dia tak pernah mengungkapkannya secara langsung.
                Aku mendatangi mall tempat aku dan Ginda menghabiskan waktu 7 hari yang lalu, untuk kesekian kalinya. Garis polisi masih dipasang di tempat kejadian perkara, tempat di mana aku dan Ginda berpisah. Tepat di tempat itu telah meninggal enam hari yang lalu, seorang kakek-kakek tanpa tanda pengenal. Baju yang dikenakanya sama persis dengan yang dipakai Ginda. Menurut kabar kematian kakek itu karena serangan jantung. Kabarnya  Surat itu bertuliskan kalimat singkat.

Andin, terima kasih telah mengajarkan saya tentang cinta selama sehari ini. Saya jatuh jatuh hati padamu. Maaf saya tak mampu mengucapkannya, Ginda


                 Ginda itu kah kamu?
                               







ide cerita : Akbar Anugrah
*obrolan tentang orang jaman dulu dengan di jaman sekarang*

Rabu, 20 November 2013

About Savory


Aku tinggal di sebuah perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya. Bukan, aku bukan salah satu dari mereka. Aku hanya seorang pembantu baru yang tinggal di sana.  Aku terpaksa harus bekerja karena rumahku di kampung habis terbakar. Satu-satunya yang tersisa hanyalah hutang orang tuaku dan sebagai anak tunggal aku harus menanggung hutang itu.

Di ujung rumah tempatku bekerja, terdapat rumah yang yang besar dan sangat megah. Namun sayangnya kemegahan itu tak berarti apa-apa, karena rumah itu banyak ditakuti orang-orang. Sesekali pada malam hari sering terdengar jeritan, tangisan dan permintaan tolong dari seseorang, yang aku rasa adalah seorang wanita. Kebanyak warga berpikir bahwa penghuni rumah itu sering bertengkar dan tuan pemilik rumah itu sering menganiaya istrinya.

Aku heran dengan warga di perumahan ini, mereka seakan tak peduli dengan suara-suara jeritan itu. Mereka lebih memilih untuk diam, menganggap jeritan dan tangisan minta tolong itu sebagai angin lalu. Mungkin orang-orang yang bermalam di perumahan ini selain warga setempat akan menganggap bahwa itu adalah rumah hantu. Rumah berlantai tiga itu nampak suram dengan hanya menyalakan lampu di teras luar, di sudut kanan lantai dua, dan sudut kiri lantai tiga rumah tersebut.

Setiap hari akan ada seorang wanita yang keluar dari rumah itu. Aku rasa ia adalah nyonya pemilik rumah itu. Sepertinya penghuni rumah itu tidak memiliki pembantu. Ia sering keluar untuk membeli sayur-sayuran di pasar. Aku rasa ia cantik, rambut hitam bergelombangnya panjang sepinggang. Tapi entah lah, ia sering menutupi wajahnya menggunakan topi anyaman khas petani-petani di kampungku, sehingga aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Ia juga selalu menggunakan baju lengan panjang dan rok yang menutupi seluruh permukaannya kakinya. Aku curiga ia sengaja menutupi seluruh bagian tubuhnya yang sering dianiaya.
                                                                 *
Asap tipis mengepul, dan menjalar ke dapur tempatku sedang memasak. Aku melihat ke sekeliling, ini bukan asap yang berasal dari masakanku. Aku yakin sekali. Asap ini membuatku sesak, mengingatkan peristiwa naas yang terjadi pada keluargaku dulu. Tidak! Jangan-jangan telah terjadi kebakaran di sini. Aku berlari ke arah luar. Kulihat orang-orang sudah berkumpul di ujung rumah megah itu.

Aku mendekat ke arah rumah megah itu. Bau asap pekat semakin tercium. Aku rasa asap tadi berasal dari rumah megah itu. Api menjalar dari jendela lantai dua rumah itu. Aku berlari menembus kerumuman warga yang hanya melihat. Kakiku seperti kehilangan kendali. Melakukan suatu hal yang dulu pernah kulakukan. Kepulan asap mulai merusak indera penciumanku, namun kakiku tak berhenti melangkah.

Aku berusaha mendorong, pintu utama rumah itu. Tak bisa, terkunci rapat. Kali ini aku coba tubrukan tubuhku ke pintu itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Nihil. Air mataku mulai berjatuhan entah karena kepulan asap atau sisa penyesalan yang dulu tak dapat kulakukan. Aku tidak tahu apa yang membuatku terhipnotis untuk dapat membuka pintu itu.

Aku berusaha mendobrak pintu utama itu untuk yang kesekian kalinya. Bahu kiri yang kugunakan untuk mendobrak sudah mati rasa. Ya Tuhan, aku mohon, selamatkan keluarga ini! Beberap menit kemudian pintu rumah itu berhasil aku dobrak. Mataku menatap ke sekeliling, mencari seseorang yang masih terkurung di dalam rumah ini. Pemadam kebakaran belum juga datang.

Aku berlari menuju arah api yang datang. Dari lantai dua kudengar suara orang yang terbatuk-batuk.
“Tolong, uhuk, uhuk,tolong!” rintih seseorang di salah satu kamar di lantai dua.
“Ada orang di dalam?” jeritku berusaha membuka pintu kamar itu. Terkunci! Pintu itu tidak bisa terbuka.
“I.. iya. To… long-tolong, tolong buka kan. A… anakku, anakku,” ucap seseorang tertatih-tatih.
“Nyonya Kinarsih kah di sana?’ tanyaku menyebut nama nyonya pemilik rumah megah ini.
“Hah, hah, hah.  Iya. Tolong. Buka. Tolong,” ucapnya dari dalam kamar.

Aku berusaha mendobrak pintu itu. Sakit! Sakit sekali. Tapi aku rasa melihat orang yang kita sayangi meninggal di hadapan kita itu lebih menyakitkan. Aku tidak mau Nyonya kinarsih merasakan hal itu. Aku harus menolong Nyonya Kinarsih dan anak-anaknya. Aku tidak ingin kisah tragis yang melenyapkan nyawa orang tuaku terulang lagi.

 Aku masih berusaha terus mendobrak, semua tubuhku seakan mati rasa, aku mulai sulit bernafas. Aku lemah, lemah sekali. Tapi aku harus bertahan, hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Aku melihat kedua anak Nyonya Kinarsih tergeletak dipangkuan Nyonya Kinarsih.

“Nyonya Kinarsih!” ucapku menguncang-guncang tubuhnya, berusaha membangunkannya.
Aku melihat ada lelehan air mata di pelupuk matanya. Ia memelukku erat, “Terima kasih,” ucapnya pelan.

Aku berusaha membawanya keluar bersama anak-anaknya, sebelum oksigen-oksigen di ruangan ini habis. Hah, hah, hah, hah, hah, Aku berhasil keluar, aku berhasil keluar! Aku berhasil menyuplai kembali oksigen ke organ pernafasanku.
***

Setelah kejadian itu, majikanku bilang, aku pingsan selama sehari. Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan Nyonya Kinarsih. Kata majikanku Tuan Kinarsih tewas di tempat tak terselamatkan. Meninggalkan beberapa rasa syukur dari para warga yang tidak suka mendengar keributan di rumah itu. Rumah yang besar dan megah itu luluh lantah oleh api, hanya tersisa lantai satu yang berhasil diselamatkan karena akhirnya pemadam kebakaran datang.

                Nyonya Kinarsih meminta bantuan majikanku agar aku bisa bekerja dengan Nyonya Kinarsih di malam hari. Awalnya majikanku tidak menyetujuinya. Namun setelah dibujuk oleh Nyonya Kinarsih akhirnya majikanku memperbolehkanku kerja di rumah Nyonya Kinarsih. Aku akan mulai bekerja dari jam 4 sore hingga pagi menjelang pagi setiap harinya. Hari ini aku genap sebulan bekerja di rumah Nyonya Kinarsih.

                “Jumiyati, bisa bantu saya?” ucap Nyonya Kinarsih memanggilku dari salah satu kamar tamu yang sekarang dijadikan kamarnya beserta anak-anaknya.
                “Iya Nyonya,” ucapku masuk ke dalam kamar. Anak Nyonya Kinarsih sudah tertidur pulas di tempat tidur.
                “Jumiyati sudah berulang kali, saya bilang. Panggil saja saya Maya,” ucapnya kembali megingatkanku untuk kesekian kalinya. Aku tau, tapi aku selalu merasa sungkan untuk memanggil nama aslinya.
                “Ini saya hadiahkan kamu sepaket peralatan make-up, untukmu. Dan ini ada gaun, coba kamu kenakan, pasti sangat cantik,” ucapnya sambil tersenyum manis.
                Aku tampak ragu untuk menerima semua hal itu, ini terlalu berlebih. Terlebih aku tak terbiasa menggunakan make-up apalagi gaun panjang bewarna putih.
                “Ini terimalah. Coba kenakan sekarang,” ucapnya mengelus rambutku. Seperti yang dulu sering ibu lakukan padaku saat memberikan hadiah. Ah, aku merindukan ibu.
                “Tapi?” tanyaku masih ragu.
                “Sudah, pakai saja lah,” ucapnya lagi.

                Aku seperti terhipnotis dan segera mengganti bajuku dengan gausn yang diberikan Nyonya Kinarsih. Sepaket perlatan make-up pun ku pakai seadanya. Aku tidak begitu mengerti cara memakainya. Jadi yang aku gunakan hanya bedak di dalam kotak itu.

                “Wah, kamu cantik, sekali Jumiati. Sini kamu duduk di meja rias, biar saya dandankan agar terlihat lebih cantik,” ucap Nyonya Kinarsih menuntunku menuju meja riasnya.
                “Nah, hal pertama yang akan membuatmu cantik adalah pewarna bibir bewarna merah darah,” ucap Nyonya Kinarsih mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Beberapa detik kemudian dia menancapkannya di tengkukku.
                “Aaaahg, Hah, Hah,” ucapku seketika menahan nyeri yang timbul dari tengkukku. Aku sesak nafas.
                “Hahahahahahaha, kamu cantik Jumiati, Kamu cantik! Karena itu aku ingin memakanmu dalam keadaan cantik. Agar kecantikanku terlihat sempurna! Hahahaha,” tawanya.

                Aku berusaha kabur, tapi aku mulai kehilangan kendali. Aku semakin sulit untuk bernafas.
                “Jumiati-Jumiati. Hahaha. Silahkan saja kamu menjerit dan pergi. Kamar ini sudah saya kunci. Lagipula semakin banyak kamu berkeringat savor-mu akan semakin enak untuk di kunyah dan ditelan!" 

Minggu, 10 November 2013

Cemburu


Nafas Dina memburu. Ada sengatan tajam menusuk pembuluh jantungnya. Menimbulkan efek jilatan api yang berpadu alkohol, menyengat kulit. Perih, menusuk, menjalar menjadi satu, ketika tusukan itu kembali dihujamkan ke pembuluh jantungnya. Perlahan indera perasanya mulai kehilangan arah. Getir semakin terasa, namun bukan perih. Dina kehilangan kendali!
Dina berusaha memijar-mijarkan padangan matanya. Memastikan semua baik-baik saja. Rimbunan pohon edelweiss, batu-batu kerikil, ranting-ranting pohon  semuanya mulai tampak bias.  Gelap mulai menyerang, namun ini bukan gelap malam yang biasa ia rasakan. Ada siluet putih yang kadang timbul di tepi gelap. Menimbulkan kekontrasan yang tajam.
***
Arga telah menanti kesempatan ini. Kesempatan langka yang tak mungkin menjadi kenyataan kalau saja keberuntungan tak datang. Arga mendapat tugas menilai kualitas tanah di salah satu pegunungan aktif yang baru saja meletus beberapa bulan yang lalu. Bukan, bukan ini keberuntungan Arga. Keberuntungannya adalah mendapat tim bersama Nita-seorang gadis manis dan kemayu namun memiliki keahlian handal dalam mejejaki gunung-yang sudah lama Arga Taksir.
Oh, ya tentunya tim ini tidak hanya berdua saja. Standar operasional perjalanan untuk menjejaki gunung memerlukan minimal tiga orang, pertama sebagai leader, kedua sebagai center dan ketiga sebagai sweeper. Sialnya, satu orang lainnya adalah seseorang yang kebetulan juga pernah dekat dengan Arga. Ya, ya, ya, apa mau dikata, Arga yang tampan mampu membuatnya layak sebagai don juan. Ibarat kata tinggal dipanah sedikit jadilah ia milik Arga seutuhnya. Sayangnya Arga tak melakukan itu dulu.
Selayaknya lelaki pada umumnya, pikiran nakal kadang sering mendatangi. Sudah keberapa kalinya dalam seminggu ini Arga memimpikan Nita saling berbagi rasa dalam kegelapan hutan yang syahdu. Beberapa kali pula Arga berusaha menghapus bayangan itu. Percuma, syahwat lebih menguasai dibanding batin. Pikiran cepatnya adalah mempersiapkan segala mimpinya dengan matang untuk menjadi kenyataan termasuk bagaimana caranya mengenyahkan pengganggu diantara dia dan Nita. Atau kalau perlu memanfaatkan pengganggu itu untuk membuat Nita cemburu, mungkin.
***
Sesekali Nita melirik dua orang di depannya. Entah mengapa ada rasa cemburu yang menelusup di rongga-rongga hatinya. Bagaimana mungkin tugasnya kali ini membawanya pada rasa cemburu yang dalam. Kalau saja ia tak digaji besar mana mungkin ia akan ikut perjalanan kali ini. Apalagi hatinya tampak dipermaikan seperti ini.
“Nit, enak tidak masakan saya?” ucap seseorang.
Pipi Nita merona seketika bagai reaksi titrasi asam-basa saat larutan asam ditambahkan fenolftalein menimbulkan warna merah muda selama tiga puluh detik.
“Iya, enak. Terima kasih Ini makanan yang lezat,” ucap Nita sambil tersenyum manis. “Nanti malam biar aku yang masak makan malam ya,” tambah Nita tak ingin kalah dalam hal memasak. Nita ingin orang itu tau bahwa ia ahli memasak.  
 “Hei, sudah-sudah jangan ngobrol terus. Segera packing ya, supaya nanti siang kita sudah bisa sampai puncak, ” ucap teman satu tim lainnya. Mengusik rasa senang yang membuncah dalam diri Nita.
Ya Tuhan, kenapa dia mengganggu saja? Apa baiknya ku enyahkan saja dia? Mengusik! Runtuk Nita dalam hati. Setan kecil mulai muncul dibenaknya. Siap melakukan hal buruk yang tak dapat dinalar.
“Eh, sampelnya jangan lupa dibawa ya Nit. Kamu yang bawa. Bisa kan?” tanya orang yang mampu membuat semburat merah di pipi Nita. Pertanyaan sederhana yang mampu membuat Nita merasa dipercayai dan diberi tanggungjawab lebih.
***
Berhasil. Arga yakin sekali upayanya kali ini berhasil. Ada wajah muram Nita, tiap kali Arga berdekatan dengan gadis pengganggu itu. Arga yakin seratus persen Nita mencemburui gadis pengganggu itu.
”Din, Webing kamu mana? Sini dipasangin biar kalian naiknya mudah,” Arga sengaja memberi perhatian lebih pada gadis pengganggu itu. Berusaha menguji Nita untuk yang kesekian kalinya. Memastikan bahwa ia tak salah tangkap, bahwa Nita juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Kembali kerencana awal. Malam ini nampaknya Arga bisa mengeksekusi hasratnya yang terpendam. Hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya mengenyahkan gadis pengganggu itu saat ia akan bercinta dengan Nita malam ini.
Ah, baiknya aku ajak saja gadis pengganggu itu menemaniku mencari kayu bakar atau apapun itu,lalu kusesatkan dia agar aku bisa bersama Nita. Atau biar kubius gadis  pengganggu itu supaya ia tertidur pulas lalu aku bisa puas dengan Nita. Ah, sudah begini aku ingin segera berjumpa dengan malam. Mereguk manisnya keperawanan. Itu pun jika Nita memang masih perawan. Pikiran-pikiran kotor Arga mulai bekeliaran. Mengganggu konsentrasinya.
***
Dina bingung ketika menghadapi sebuah tugas dimana ia harus bersama dengan Arga. Alih-alih profesional Dina menyetujui tugas yang akan ia emban. Ah, cinta lama, mungkinkah akan bersemi kembali? Bagaimanapun hati Dina pernah jatuh ke tangan Arga. Sebersikeras apapun Dina menepis rasa, nama Arga memang sempat mengisi harinya.
Rasa canggung melekat kuat pada Dina namun hal ini tak berlangsung lama. Arga datang bak pangeran berkuda putih yang siap menolong Dina saat letih ataupun lelah.  Dina berusaha memungkiri, takut-takut hanya sebatas gede rasa yang ia punya.
Tapi buktinya kali ini yang ditawarkan untuk mengikat tali webing di belakang Arga adalah Dina bukan wanita itu. Sudah jelas kali ini Dina yang menang. Bukan apa-apa, ada rasa khawatir pada Dina. Terlebih banyak kabar yang bilang bahwa Arga kini memiliki perasaan pada wanita itu. Bukan maksud hati mencemburui, toh Dina memang tak pernah memiliki hubungan lebih pada Arga. Dina hanya tidak ingin ada kejanggalan dari perjalan mereka bertiga kali ini.
***
Malam mulai menjelang. Pukul tiga sore tadi Arga dan timnya sampai di puncak. malam ini mereka bermalam di padang edelweiss. Langit bermandikan cahaya purnama. Bintang nampak malu-malu untuk muncul, apalagi sinar purnama mengalahkan cahayanya.
Malam ini cukup sepi pendaki. Bahkan hanya mereka bertiga yang bermalam di sana. Maklum  ini bukan musim liburan. Gunung ini juga bukan termasuk taman nasional yang acap kali dijelajahi para pendaki. Wajar jika Arga semakin ingin mengeksekusi hasratnya itu.
 Bukan pilihan pertama atau kedua yang ada dibenaknya tadi pagi, yang akhirnya mendominasi rencana malam ini. Ia memilih untuk melakukan kombinasi keduanya. Arga berencana untuk meminta gadis penggangu itu menemaninya mencari kayu bakar kemudian membiusnya di tengah perjalanan. Pagi harinya dengan tanpa dosa Arga dapat menjemput si gadis penggangu itu. Sementara Nita akan menunggu sendirian di dalam tenda. Alih-alih kedinginan Arga akan memulai semuanya. Memastikan bahwa semua hasrat dan syahwatnya dapat terpenuhi.
“Din, temenin cari kayu lagi, yuk!”  ucap Arga sambil berharap pancingannya kali ini berhasil. Sebelumnya sudah Arga siapkan obat bius. Di kantung celananya.
Pandangan gadis penganggu itu menatap Nita. Seolah meminta Izin pada Nita.
“Iya, udah gak apa-apa gue sendiri di sini juga gak apa-apa. Kasian tuh Din, siapa tau Arga pengen banget berduaan sama kamu. Belum puas kali dari tadi siang berduan sama kamu melulu,” ucap Nita beku dan kaku.
***
“Kamu marah sama saya, Nit?” tanya seseorang yang membuat pipi Nita memerah akhir-akhir ini.
“Yaelah, buat apa sih pakai marah-marah segala? Masa orang jatuh cinta dilarang?” tanya Nita Retoris.
Nita tau ucapan kali ini pasti membuatknya terdengar bahwa ia sangat cemburu. Ah, biarlah, biar dia tau bahwa aku memang mencintainya, mencemburuinya. Itu pun jika ia bisa berpikir seperti itu. Batin Nita berujar.
Jujur saja, ada rasa kebencian yang memuncak ketika Arga mengajak Dina mencari kayu. Alasan yang tak masuk akal! Untuk apa harus mencari kayu? Apa kayu yang sedari tadi ia kumpulkan tidak cukup? Untuk apa harus berbohong bilang saja jika ingin bercinta, melampiaskan nafsu setan.
Arga dan Dina tak juga kunjung kembali. Sudah setengah jam lebih mereka berdua pergi. Sudah begitu, Nita yakin sekali dengan pikirannya tadi. Mungkin saat ini mereka sedang memainkan aksi kamasutra. Ah, entahlah! Memikirkannya membuat Nita ngilu. Teriris pedang tajam. Ini kah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Kenapa harus selalu ia yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?
Nita melirik jam tangannya. Waktu berjalan terasa amat sangat lama. Rasa cemburu membuatnya ingin menyusul mereka berdua. Nita segera mengambil asal jaket tebal yang berada dalam tenda entah punya siapa. Nita buru-buru mengenakannya dan menyusul mereka berdua.
***
Arga sengaja membuat perjalanannya mencari kayu dengan gadis pengganggu itu nampak panjang dan membingungkan. Agar nanti  jika penggangu itu sadar setelah dibius, ia tak akan dapat segera kembali. Arga berpaling kebelakang siap membius, alih-alih membuka pembicaraan dengan gadis itu.
“Crat!” suara pisau tumpul beradu menusuk  daging. Sedetik kemudian Arga merasakan kesakitan di sekitar ginjalnya. Darah mulai mengalir seiring irisan daging yang dengan cepat digoreskan membentuk leter L.
Ada seseorang yang menusuk victorinox ke arah ginjal Arga. Gadis pengganggu yang sedari tadi bersama Arga menjerit histeris. Segera melarikan diri. Takut dia yang akan menjadi sasaran selanjutnya.
Pembunuh asing itu kemudian menusuk-nusukkan pisau di kaki kanan Arga, merasa belum puas dengan apa yang dia perbuat, membuat Arga tak mampu melarikan diri. Arga ambruk seketika.
***
Suara jeritan keras berkali-kali,  mengagetkan Nita. Nita segera menyusuri darimana arah suara berasal. Takut-takut hal buruk menimpa teman setim-nya. Nita melepas jaket tebalnya. Entah mengapa udara dingin yang berhembus di sekelilingnya tak mampu menyelusup ke sela-sela pori-pori kulit. Rasa gerah bahkan menghampirinya bersamaan dengan detak jantung yang terpacu.
 Nita mendapati seseorang dari kejauhan mendekat ke arahnya. Bunyi sepatu yang bergesekan dengan rumput dan ranting jalan semakin terdengar. Samar-samar Nita dapat melihat, orang itu adalah orang yang sedari ia tunggu. Orang yang mampu membuatnya cemburu membabi buta.
Nafas orang itu naik turun. Keringatnya terkucur deras. Mukanya pucat pasi. Orang itu ingin sekali berujar, tapi tampaknya suaranya tercekal habis.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Nita. Sisi keibuannya keluar, ia serta merta memeluk orang itu. Memberi sebuah ketenangan yang sederhana.
“Nit…. Nit…” ucap orang itu menggantung.
“Iya kenapa?”
“Ada pembunuh!” ucap orang itu mulai melonggarkan pelukan Nita.
Ada rasa takut yang menelusup ke rongga dada Nita. Bukan, bukan karena pembunuh, tapi karena takut Nita tak mampu lagi memeluknnya seerat ini.
***
Arga mulai kehabisan nafas. Rasa dingin mulai menyergap keseluruh tubuhnya. Ini tak boleh terjadi! Arga tidak ingin Nita menjadi korban selanjutnya. Arga ingin melindungi Nita bahkan jika ini memang waktu-waktu terakhirnya. Arga berusaha bangkit. Ia terseok-seok menelusuri jalan kembali ke tendanya.
            Dingin mulai menginhibisi seluruh tubuh Arga. Sesekali Arga ambruk, namun semangatnya mulai bangkit ketika melihat orang itu di persimpangan jalan sedang bersama Nita. Orang yang ia yakini telah menikamnya dari belakang.
***
Dina tak mampu berpikir jernih. Siapa? Siapa orang itu? Rasa takut menyelinap membuatnya berlarian tak tentu arah. Sesekali ia tersandung kerikil dan terjatuh. Tapi rasa takutnya membuat Dina bangkit kembali. Tak beberapa lama berlari, ada seseorang di seberang jalan yang gelap. Dina nampak mengenali orang itu. Dina beberapa kali berdoa, berharap orang yang ia lihat memanglah temannya.
Air mata Dina pecah, ia tak mampu mengucapkan apa yang baru saja ia saksikan. Kejadian itu begitu cepat. Membuat pikiran Dina pecah. Hanya kata ‘Ada pembunuh!’ yang mampu Dina ucapkan.
***
            “Mati kau Jahanam!” Arga menusukkan ranting tajam dari arah belakang tepat di jantung orang itu beberapa kali.
            “Arrrggggg!” Dina menjerit seketika.
            Hati Nita hancur seketika mendapati orang yang ia cintai mengeluarkan darah, mulai kehabisan nafas.
            “Biadap kau Ga!” ucap Nita membabi buta.
Nita  menusukkan lagi victorinox yang tadi ia gunakan untuk menghujam ginjal Arga, keseluruh bagian tubuh Arga yang mampu ia sentuh. Membuat Arga tak berkutik.
            Tak ada lagi yang mampu Arga lakukan. Hanya matanya yang mampu mengisyaratkan sebuah tanya. ‘kenapa?’
            “Bedebah kau Ga! Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Nita menjatuhkan air matanya.
            Pikiran Nita larut dan kalut, melihat orang yang ia cintainya mulai memucat seputih kapas.
            Tak ada jawaban dari Arga. Arga pun mulai kehilangan kesadaran. Siap direngkuh oleh malaikat pencabut nyawa.

            “Iya, aku yang menusukkan victorinox itu padamu Ga! Aku cemburu! Aku cemburu melihatnya bersamamu! Aku mencintainya, Ga! Dan kamu hanya mampu mengusik kedekatanku dengannya. Jadi yang bisa kulakukan adalah melenyapkanmu. Tapi kenapa kamu sekarang malah membunuhnya ga? Kenapa ga? Kenapa?” ucap Nita mengguncang-guncang tubuh Arga yang kini tak lagi bernyawa.