Minggu, 20 Mei 2012

Berbagi Cerita Bersama BCA

Perlindungan Jiwa dan Kesehatan adalah Investasi 


Sedari kecil saya senang sekali menikmati panorama pemandangan alam. Bagi saya pemandangan yang indah itu merupakan karya Tuhan yang harus wajib dinikmati. Pikiran yang sedang kalut bisa menjadi tenang dan nyaman ketika disuguhi pemandangan-pemandangan alam yang indah, tentunya harus dari mata kepala saya sendiri bukan hanya dari video, film maupun foto. Kecintaan saya terhadap pemandangan alam, memutuskan saya mengkuti ekstra-kulikuler pecinta alam di SMA. Sayangnya, hal ini kurang sejalan karena orang tua saya, kurang mengizinkan kegiatan pecinta alam yang saya jalani ini. Banyak kegiatan pendakian yang dilakukan, tapi saya hanya berhasil nengantongi izin mndaki Gunung Salak dan Gede-Pangrango dari orang tua. Sebenarnya pemandangan alam yang saya ingin nikmati secara langsung bukan hanya pegunungan tetapi juga, pantai, lembah, air terjun, kepulauan, cave, bukit atau apapun keindahan alam yang saya dapat nikmati.
Selepas SMA keinginan saya untuk travelling, wisata alam keliling Indonesia semakin mengebu-gebu, namun orang tua saya kurang menyetujui hal tersebut. Menurut mereka setelah lulus SMA harus konsentrasi kuliah dulu baru memikirkan jalan-jalan keliling Indonesia setelah lulus kuliah dan memiliki penghasilan pribadi. Pernyataan dari orang tua saya ini memotivasi saya untuk mewujudkan rencana masa depan saya yaitu, keliling Indonesia. Memang mungkin cita-cita ini terlihat remeh, namun karena itu saya ingin membuktikan pada dunia bahwa saya bisa menggapai cita-cita saya. Bukan hanya keindahan alam saja sebenarnya yang ingin saya pelajari, namun juga bentuk komunikasi dan dinamika penduduk serta kebudayaan di Indoesia yang beraneka ragam.  Nampaknya mempelajari itu semua merupakan hal yang mengasikkan, apalagi saya ini kuliah di jurusan yang berhubungan dengan eksak sehingga kurang mempelajari hal-hal tersebut.
Cita-cita saya ini tidak hanya sekedar ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya dapat menyelusuri keindahan dari alam dan kebudayaan Indonesia namun juga mengembangkan hobi menulis saya. Selain suka jalan-jalan saya juga suka menulis. Menurut saya dengan menulis dapat mengurangi beban pikiran yang terkadang sangat membelenggu. Apalagi bagi saya yang kebetulan mahasiswa tingkat tiga yang baru-baru ini memikirkan kembali perkara lama yaitu, masalah salah masuk jurusan. Saya mungkin terlalu naif, karena saya sudah mulai memikirkan konsep perjalanan dan judul tulisan saya nantinya, yaitu Perjalanan Indah Negeri Indonesia. Menyadari keinginan saya yang terlalu muluk, nampaknya memerlukan banyak modal serta perlindungan jiwa dan kesehatan yang merupakan investasi awal dari cita-cita saya.
Perlindungan jiwa dan kesehatan merupakan hal penting bagi semua orang, termasuk saya yang bercita-cita ingin mengelilingi seluruh wilaya Indonesia. Saya menyadari betul terkadang wilayah-wilayah keindahan alam Indonesia memiliki medan perjalanan yang cukup sulit untuk ditempuh. Tak jarang, medan perjalan wisata alam Indonesia menelan korban, oleh karena itu saya harus memiliki investasi berupa perlindungan jiwa dak kesehatan. Jadi jika saya mengalami kecelakaan saat perjalanan maka setidaknya kerluarga dan teman-teman dekat saya tidak perlu menghawatirkan biaya kesehatan yang harus saya tanggung.
Saya lebih memilih travelling/mengelilingi seluruh wilayah Indonesia satu-satu dibangdingkan jalan-jalan ke luar negri karena saya punya satu prinsip, sebelum saya menikmati keindahan alam milik orang lain saya ingin menikmati keindahan alam milik saya sendiri yaitu Indonesia. Selain itu mengelilingi Indonesia nampaknya memiliki kemudahan bertransaksi dibandingkan ke luar negeri karena kita sebagai warga Indonesia masih mempunyai bahasa pemersatum yaitu, bahasa Indonesia. Agar rencana masa depan saya yang satu ini dapat terwujud saya rasa diperlukan solusi perbankan dan BCA adalah salah satu solusi perbankan tersebut.
  Jujur saya sendiri selama ini selalu menabung bukan ditabungan BCA. Saya menabung, melakukan transaksi, serta melakukan layanan perbankan lainnya melalui salah satu bank yang bekerja sama dengan pihak sekolah ataupun pihak kampus saya. Namun ketika ada situs terbaru dari BCA yaitu, www.bca.co.id  saya mulai melirik situs tersebut. Salah satunya adalah tulisan tentang menabung sejak muda yang terdapat pada kolom ‘temukan solusi pilihan’. Dari situs tersebut saya jadi mengetahui bahwa BCA menawarkan beberapa produk perbankan yaitu tabunganku, tahapan gold, tahapan Xpressi, tapres, giro, deposit berjankadan BCA dollar. Produk perbankan tahapan Xpressi nampaknya menjadi pilihan menarik bagi saya setelah melihat keunggulan utama yang dijabarkan dalam situs tersebut. Apalagi saya yang masih berumur dibawah 25 tahun. Besar harapan saya dengan menggunakan produk perbankan tahapan Xpressi ini dapat menawarkan kebebasan finansial nantinya, bagi saya yang ingin mewujudkan cita-cita saya untuk dapat berkeliling Indonesia. Amin. :)

 

Jumat, 18 Mei 2012

Merdeka



Pernah tau arti kata merdeka? Jika pernah tolong definisikan hal itu padaku, karena aku tak pernah tau definisi merdeka. Jika definisi merdeka adalah kebebasan, maka saat ini mungkin adalah saat aku merasa merdeka.
Kamu bilang, kamu tidak akan pernah meninggalkanku, tidak akan pernah melupakanku, dan tidak akan melepas silaturahmi padaku. Nyatanya kamu telah berubah. Kamu bukan lagi sosok yang aku kenal dulu. Kamu hanya seorang lelaki berhati dingin dan beku yang kebetulan masih dapat kutemui setiap harinya di kelas. Sudah terlalu banyak kejujuran yang aku ucapkan kepadamu, sudah banyak rahasia yang kuceritakan kepadamu, namun kamu masih bergeming, seolah kini aku tak pernah ada lagi.
Hey, apa yang salah padaku? Apa ada tingkah lakuku yang membuatmu menjauh dariku? Tolong katakan aku tak bisa seperti ini terus, terasingi darimu. Beribu pertanyaan yang tadinya tertahan mulai menguap satu persatu di hadapanmu, namun kamu masih tetap bergeming. Mana janjimu? Nampaknya silahturahmi antara kita berdua pun tak sanggup terjalin lagi.
Bodohnya aku masih selalu menceritakan kejujuran padamu, kejujuran dari rahasia yang tak pernah bisa aku ungkapkan ke orang lain. Nampaknya usaha ku tak kian membuahkan hasil. Kamu masih tak berubah. Satu yang sama dari dirimu saat ini. Kamu orang yang tak kukenal. Aku lelah, aku merasa ada jarak antara aku dan kamu. Jarak itu adalah sebuah luka nanah yang tak kian sembuh dan hanya kamu obatnya.
Kamu tau? berkali-kali aku mencoba tak menghubungimu, mencoba tak menghiraukan setiap langkahmu, namun jari-jari tololku ini kerap kali beradu dengan tuts HP untuk mengetik namamu. Seolah sebuah modus, aku terus mengirimmu berbagai pesan yang aku sadar tak akan pernah kamu balas. Berbagai cara telah aku lakukan agar hatimu melumer, agar kamu kembali seperti dulu tapi selalu saja tak berhasil.
Kamu tau? dada ini sesak karenamu, karena kehilangan sosokmu. Perasaan ini hancur setiap teringat namamu. Rasa ini nampaknya lebih menyakitkan dibanding para rakyat pribumi yang dikekang dari kemerdekaannya, yang dianiaya, dibunuh atau pun diperkosa oleh bangsa penjajah. Aku terkurung, terperangkap oleh angan tentangmu yang begitu semu. Vonisan dokter tentang penyakit bipolar disorder yang aku punya pun tak lagi menyakitkan dibandingkan penyebutan namamu di relung hatiku.



Aku berpikir keras agar hatimu tergerak, agar kamu tak akan meninggalkanku lagi, agar kamu tak akan pernah melupakanku lagi, agar aku terbebas, agar aku merdeka. Dan kutemukan cara ini lah satu-satunya terampuh yang aku punya. Cara yang akan memerdekakanku darimu bahkan dari dunia yang kelam ini. Sekarang aku merdeka!
Kamu menangis entah untuk apa. Hey,  kamu tau, aku di sini merdeka? Aku merdeka karena melihatmu menangis pilu. Sekarang aku tau kamu memerlukanku, kamu membutuhkanku, kamu tidak pernah lupa padaku, kamu tak penah meninggalkanku, kini kutemukan sosokmu yang dulu kukenal. Di sini, di dunia lain. Dunia yang kini berbeda antara aku dan kamu.
*
            Arya banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, berusaha melupakan tentang Fani. Ia hanya ingin menyendiri mengasingkan perasaan asing yang masuk kejiwanya. Perasaan asing yang dibawa oleh Fani. Namun sms-sms Fani kian mengusik, baru kali ini Arya  mengerti tentang penyakit bipolar disorder yang Fani derita. Kini sudah terlambat bagi Arya untuk menyesali, Fani telah memilih untuk membebaskan dirinya dari penyakit itu, memerdekakan hati dan juga pikirannya. Arya hanya bisa memeluk erat badan Fani yang remuk jatuh dari lantai 2 rumah sakit.

Perjalanan Hati


Sori nih jadi agak sedikit nyampah di blog ini. Secara, seharusnya ini entri bukan buat curhat. Terlalu banyak yang ingin saya tulis dan akhirnya stuck di jalan. Sebelum semuanya menjadi stuck saya coba nulis artikel ini aja deh yang sedikit rada curhat. Hehehe
Gak tau lagi dalam fase apa, entah manic entah depressive atau mungkin peralihan, hari Selasa hingga Rabu kemarin saya merasa sangat kecewa, kecewa terhadap sesuatu yang seharusnya gak perlu saya kecewain lagi. Kecewa dengan pertemanan yang pernah saya jalin dengan seseorang. Hari itu saya nangis, nangisin seseorang teman yang menurut saya berubah, dia masih di sini, masih bisa saya lihat, masih bisa saya ajak obrol tapi dia bukan lagi seorang teman yang pernah saya kenal dekat dulu. Mau dinangisin sampai kapan pun saya juga tau kok, dia gak akan kembali seperti dulu lagi, capek batin ada juga mikirin dia. Gak mau dipikirin aja sering kepikiran.
Sepertinya sifat menyendiri saya kalau sedang ada masalah sudah tidak mempan lagi. Saya benar-benar kalut saat itu. “Hello, hanya kehilangan 1 orang teman kenapa harus kalut?” mungkin karena fase peralihan sedang berlangsung atau mungkin juga saya tidak pernah bisa kehilangan, entah itu barang atau orang. Tiba-tiba aja diajakin menginap di rumah salah satu teman yang kebetulan adek kelas saya. Dari pada menyendiri dalam keterpurukan yang tidak jelas saya memilih untuk menginap di rumahnya. Hanya sedikit waktu yang berlalu di rumahnya tapi banyak cerita dan banyak pelajaran yang dapat saya ambil. Adik kelas saya bisa boleh dibilang lebih muda, tapi saya rasa pengetahuannya lebih luas dari pada saya.
 Pelajaran pertama yang bisa saya ambil adalah ketabahannya menghadapi kehilangan orang yang ia sayang, yaitu ayahnya. Kurang dari 2 tahun, ayahnya meninggal dunia, dia menceritakan seolah-olah itu sebuah kisah ringan yang dengan mudah dapat diceritakan kepada orang-orang. Saya liat ekpresi wajahnya, sedikit menunduk sesekali menggaruk-garuk kelopak matanya seolah sedang kelilipan, namun ada sedikit embun di ujung kelopaknya. Dari sana saya tau dia sedang menahan air matanya. Kalau saya mana mungkin menceritakan, cerita sedih seperti itu secara gamblang kepada orang lain dengan ekspresi wajah seolah-olah tidak pernah terjadi suatu fase yang menyakitkan hati. Oke-oke, saya juga suka cerita perasaan sedih saya kok, tapi ya gak ke semua orang paling dunia maya (lebih parah ya sebenarnya?) yang pasti saya gak berani menceritakan masalah pribadi saya yang menguras air mata ke orang lain secara langsung. Paling hanya lewat sms, pokoknya yang gak ketemu langsung. Bukan apa-apa saya takut air mata saya jatuh di depan orang lain.
Saya sedikit tersentak sebenarnya dengan sifat adek kelas saya yang masih terlihat tenang itu. Dia kehilangan panutan seorang ayah, namun masih bisa menceritakan sepenggal kisah tentang ayahnya dengan senyum sementara saya menangis gak karuan hanya karena kehilangan sosok seorang teman yang sebenarnya masih dapat saya jumpai. Hal kedua yang saya pelajari adalah membuat popcorn rasa caramel. Yihaaa, bisa lah ya nanti coba dibuat di rumah. :) buat adek kelas yang bawel, makasih ya sudah menampung saya malam itu yang sebenarnya sedang mengalami tahap fase peralihan.
Selepas saya pulang dari rumahnya, saya berberes kamar asrama dan mencuci baju. Pukul 10.15 WIB saya bergegas pulang ke rumah. Perjalanan 4 jam yang terbayang dibenak saya membuat saya mampir ke kios juice tidak tanggung-tanggung saya membeli 2 macam variasi juice untuk saya konsumsi pribadi. Setelah turun angkot di Cileunyi. Saya menunggu 5menit, belum ada juga kehadiran primajasa jurusan lebak bulus. 5 menit kemudian 1 bus lewat namun penuh. Saya kembali menunggu. 11 menit menunggu kembali ada 1 bus datang namun sama penuhnya  dengan yang tadi. tanpa sadar karena terik matahari yang begitu menyengat saya sudah melahap 1 juice dan siap melahap juice terakhir. 7 menit berikutnya bus kembali datang namun lebih penuh dari sebelum-sebelumnya. Ada apa sih? Kenapa busnya begitu penuh dan jarang datang? Biasanya dalam waktu 5 menit sekali akan ada bus jurusan lebak bulus yang singgah di Cileunyi. Saya sebenarnya sedikit panik mengingat saya ada jadwal kencan dengan ‘miss cantik’ jam 3 sore itu. saya takutnya pas saya datang si ‘miss cantik’ sudah pulang karena jatah pertemuan saya hari ini dengannya merupakan jatah lembur baginya.
            Ketika saya menunggu sambil duduk di halte. Datang seorang gadis yang wajahnya nampak familiar bagi saya. Entah karena dari tadi dia seliweran di depan saya atau memang pernah kenal sebelumya. Gadis itu memakai baju hitam celana dan hitam dengan ransel, khas anak kuliahan yang mau pulang ke rumah. Gadis itu duduk di samping saya. Dia sempat menawar harga tahu Sumedang yang dijual oleh seorang aa’ penjual yang memang sedang berteduh di halte, di samping gadis itu.
            “A’, harga tahunya berapa?”
            “2 ribu aja neng?” ujar si aa penjual.
            “Masih hangat gak a’?”
            “Wah, neng udah enggak, neng,” ujar si aa penjual lagi.
Hening. Dia melirik saya sekilas kemudia tersenyum. Saya tersenyum kembali. Ada suasana cangguh yang mulai cair. Kemudian gadis itu kembali mengamati tahu Sumedang itu.
            “A, beli satu deh,” ujar gadis itu, dia mengeluarkan selembar uang 2 ribu. Transaksi jual beli itu berlangsung singkat dan saya hanya mengamati kejadian itu.
            Gadis itu kembali tersenyum padaku. “Mau?” tawarnya pada saya.
Saya hanya tersenyum menggeleng. Kemudian dia mengunyah ringan tahu Sumedang yang dia beli. Kami sama-sama terdiam dalam benak masing-masing. Hingga kemudian dia menanyakan saya mau pulang ke arah mana.
            “Lebak bulus,”
            “Wah, sama dong aku juga di lebak bulus. Kok dari tadi penuh terus ya? Apa kita ke pull aja? Kalau di sini pasti penuh terus,” ucap gadis itu mencairkan pertahanan saya. Saya biasanya enggan mengobrol dengan orang yang tidak dikenal, namun kata-kata ‘kita’ yang diucapkan membuat saya merasa nyaman dan seolah sudah mengenalnya sangat lama.
            “Mmm, boleh aja. Kamu mau?” tanya saya masih sedikit ragu.
            “Boleh-boleh. Tunggu aku abisin tahunya dulu ya. Eh, rumah kamu di daerah mananya?”
Saya sempat bingung, biasanya kalau orang Jakarta menanyakan rumah saya, pasti mereka tidak mengetahui diman rumahs aya berada. “Dekat Ciputat, tau?” tanya saya. Alternatif nama daerah Ciputat selalu menjadi andalan saya jika ditanya dimana letak rumah saya.
“Oh, tau kok. Deket dong. aku di gaplek. Yuk, kita ke pull sekarang,” ajaknya. Kami kemudian menyebrang. Menuju angkot hijau yang menuju ke arah pull.
“Oh, di gaplek, rumah aku tepatnya di Pamulang. Kamu tau?” tanya saya lagi.
“Pamulang? Tau lah. SMA –nya dimana?”
“Moonzher, tau?”
“Owh, tau-tau. temen aku ada banyak di sana. Ilham tau, temennya Denis?” tanya nya antusias.
Say terdiam, sebenarnya saya tau wajah 2 orang yang disebut gadis itu, tapi saya rasa 2 orang itu tidak permah mengenal saya, karena saya an 2 orang itu tidak pernah bertegur sapa.
            “Iya,aku tau,” jawabku akhirnya. “Kamu SMA-nya dimana emang?”
            “Di Nipam,” jawabnya singkat.
            “Nipam? Ih, kenal Maula dong? Rai? Suraih?” kini gantian saya yang begitu antusias.
            “Aduh, gak tau. aku masa udah banyak lupa sama temen SMA. Parah ya, masa waktu itu ada yang nyapa aku “Okta!” terus gue bingung lupa sama dia. Hahaha, parah ya,” ujarnya nampak seolah-olah saya itu teman dekatnya. Sekilas saya merasa iri padanya. Dia bisa jujur pada orang lain tentang dirinya sementara saya tidak bisa. “Eh, iya nama kamu siapa? Aku Okta,”
            “Hani, eh, kamu dari fakultas apa?”
            “FISIP, kamu?”
            “FTIP,”
            “Eh, sori itu tuh fakultas apa?” tanyanya polos.
            “Teknik pertanian itu gitu deh,”
            “Oh, tau-tau. Eh, temen aku ada yang di sana kalau gak salah, tapi yang pangannya. Eh, kamu angkatan berapa gitu?”
            “Aku juga pangannya kok. Angkatan 2009. Kamu angkatan berapa?”
            “2008. Eh temen aku itu kalau gak salah 2009. Eh tapi 2010 deh, dia gak kuliah setahun dulu. Dinoy. Dipanggilnya kalau gak salah,” pantas saja tadi saya tanyain nama teman-teman saya yang di nipam dia tak kenal, beda angkatan dengan saya ternyata.
            “Waduh, gak tau ah gue. Eh, FISIP jurusan apa lo?” tanya saya keceplosan ngomong gue-lo.
            “Kebudayaan dan Antropologi,”
            “Hah? Serius? Kenal Devan sama Bacil dong?”
            “Kenal-kenal. Lo kenal mereka juga?”
            “Temen KKN gue, hahahaha,” ucap saya yang sudah tak menggunakan kata aku-kamu lagi, seolah tahap perkenalan saya dengan Okta sudah meningkat menjadi tahap persahabatan.
            Setelah menyebrang kemudian kami memasuki angkot kosong beberapa detik kemudian ada seorang gadis lainnya naik ke dalam angkot kemudian menhempaskan badannya dengan di kursi angkot menimbulkan bunyi  dari plastik hitam yang dibawanya. “Eh,” ucapnya sambil tersenyum. Gadis itu menggunakan baju garis putih hitam horizontal, membawa tas yang dikaitkannya diantara tangan dan ketiaknya. Tangan satunya lagi membawa bungkusan plastik hitam yang tadi menimbulkan bunyi.
            Okta mengajaknya mengobrol, aku tidak tau gadis itu siapa. Nampaknya adik kelasnya Okta. Sampai di pull suananya juga ternyata penuh.
Okta kemudian mengeluh. “Ya, allah ini di pull aja udah sepenuh ini. Jangan sampe gue balik ke rumah lagi,”
”Yah, ngapain gue bawa-bawa ginian kalau begitu? Berat-beratin aja kalau harus naik bus berdiri,” keluh gadis yang saya pikir adik kelasnya Okta itu.
Hampir 1 jam kami bertiga menunggu di pull membicarakan banyak hal seolah-olah kami ini teman lama yang berjumpa kembali. Kami bertiga bahkan merencanakan untuk naik bus jurusan Jakarta (turun di UKI) atau kampung rambutan dan  ngebolang ke Lebak Bulus jika bus jurusan Lebak Bulus masih tetap penuh. Letih kami menanti hampir 2 jam akhirnya memilih untuk pulang, berdiri, agar bisa segera sampai di rumah. Berbagai pose kami  lakoni agar bisa menurunkan tingkat kepegalan kami karena harus berdiri hampir 3 jam di bus. Okta sudah mendapatkan tempat duduk duluan saat ada penumpang yang turun di Bekasi. Sementara saya dan adik kelas Okta baru bisa duduk dengan nyaman di Pasar Rebo dimana sebagaian besar penumpang turun di sana.
 Ternyata gadis itu bukan adik kelasnya Okta, tapi gaya bicaranya Okta yang santai seolah-oleh membuat mereka berdua adalah teman dekat. Gadis itu bernama Salvi, anak Fapet 2010 yang rumahnya di Cileduk, isi plastic hitam yang dibawanya adalah lidi-lidian yang akan dia jual kepada temannya. Lidi-lidian yang dibawanya itu adalah hasil buatan dia dan kelima temannya di kampus. Jadilah kami, 3 orang yang baru saling kenal dari 3 jurusan yang berbeda, karakter yang berbeda dan umur yang berbeda dengan satu tujuan sama : pulang ke arah Lebak Bulus. Kami yang sangat berbeda ini bisa menyatu karena sebuah situasi bernama ‘penantian  bus Lebak Bulus’. Hehehe
Dari perjalanan waktu, 2 hari itu (Rabu-Kamis) seolah mengobati perih dan kecewa saya 2 hari sebelumnya. Banyak hal dan pelajaran yang dapat saya petik selama 2 hari itu, yaitu :
1.      gak selalu orang yang kita anggep temen itu adalah temen terbaik buat kita.
2.      Jangan pernah men-judge seseorang sebelum mengenalnya lebih dekat.
3.    Masih banyak orang yang menghadapi masalah yang lebih berat dari pada kita, jadi jangan terlalu sedih dan kecewa untuk suatu hal yang sebenarnya tak penting.
4.  Belajar mengiklaskan sesuatu itu memang sulit, tapi semua orang akan menghadapi suatu pelajaran yang bernama ‘keiklasan’.
5.  pertemenan itu bukan dinilai dari lama atau sebentarnya bertemenan tapi sebuah kepercayaan yang bisa di jaga oleh kedua belah pihak.
6. Jujur pada sendiri itu merupakan hal penting untuk belajar ilmu ikhlas.
Masih banyak lah, pokoknya pelajaran yang bisa diterima selama dua hari itu. Saya seperti naik tingkat menjadi seorang manusia yang lebih siap menghadapi pelajaran  ‘ilmu ikhlas’. :)
            

Senin, 07 Mei 2012

Pujaan Hati

Lagi – lagi kamu tersenyum malu-malu padaku.  Hal itu yang sedari tadi kamu lakukan tanpa sadar. Aku tak mengerti, padahal  kamu sedang memainkan lagu stay away-nya Laruku, tanganmu memetik gitar dengan serius matamu tertuju pada gitar yang kamu petik.  Tapi kamu sesekali tersenyum padaku.
          Suaramu, itu jangan ditanya. Bukannya aku meremehkanmu, tapi suramu cukup bisa dibilang sangat standar. Hei, kamu jangan marah dulu! Suramu memang pas-pasan tapi petikan gitarmu tak kalah merdu dengan te-can kok. Eh, benarkan, itu nama salah satu anggota Laruku yang kamu suka? Kamu kemudian memandangku sekilas, tersenyum kemudian konsen dengan gitarmu lagi. Aku rasa ini memang hobimu atau kebiasaanmu di waktu senggang seperti ini, bermain gitar sambil menyanyikan beberapa lagu dari band kesukaanmu itu?
Aku tak ingin mengganggu konsentrasimu. Jadi yang aku lakukan hanya memandangimu. Memandangimu tak akan membuatmu merasa terganggu kan?  Senyummu manis itu yang aku tau. selebihnya aku tak yakin. Postur tubuhmu yang tinggi dan tegap kadang memberikan kesan bahwa kamu seorang perwira dimataku. Wajahmu yang tirus dan beningnya matamu membuatku jatuh hati padamu. Kecuali rambutmu itu. Mbok ya dipotong toh mas. Kriwil-kriwil tidak rata jingkrak-jingkrakan tak tentu arah. Membuatmu kadang terlihat kusam. Belum lagi warna coklat kehitaman rambutmu, sekilas nampaknya kamu sangat mirip dengan salah satu personil band kesukaamu itu. Pokoknya kalau aku gak kenal kamu aku tidak yakin mau berkenalan atau menyapamu deh. Kalau dilihat sekilas kamu tuh kayak masteng. Kamu tau tau gak masteng? Itu loh mas-mas tengil. Hahahhahaha.
Kamu kembali melirikku sekilas, tersenyum sedikit canggung. Aneh, baru kali ini aku liat ada orang yang diejek mas-mas tengil malah tersenyum canggung. Kamu tuh ada-ada aja deh! Bikin aku semakin sadar kalau aku telah jatuh hati padamu. Ya, kamu satu-satunya pujaan hatiku saat ini dan semoga untuk selamanya. Boleh kan?
“May, makan dulu, yuk!” suara seseorang dari luar pintu. Ah, pasti Rani, dia tak tau apa kalau aku sekarang sedang berdua denganmu. Kenapa dia harus mengganggu segala?
          “Maya, lo apa-apaan sih?” tanya Rani kini sudah berada disampingku. Yang apa-apaan tuh Rani! Sejak kapan orang bisa masuk kamar orang lain tanpa izin si pemiliknya? Aku bahkan menyuruhnya masuk.
          “Apaan sih lo Ran?” tanyaku merasa terusik, dan kamu masih asik menyenandungkan  lagi laruku dari gitarmu.
          “Maya, move on! Gak gini caranya. Lo bahkan gak kenal sama dia!” ujar Rani menunjukmu yang sedang fokus memainkan gitar.
“Gue, yang kenal dia Ran, bukan lo. Jadi jangan sok tau!”Berani sekali Maya itu, tau apa dia tentang kamu dan aku? Aku sangat mengenalmu kok. Buktinya kamu masih beberapa kali tersenyum padaku saat kamu sedang fokus memainkan gitar.
           “May, dia udah gak ada. Gak gini cara lo untuk menutupi rasa bersalah lo karena dia udah nolongin lo dari tabrakan itu. sadar May, sadar! Lo bahkan gak kenal dia. Dia kebetulan satu fakultas aja sama kita. May, gue yakin dengan cara lo yang kayak gini juga bakal ngeberatin dia di dunia sana. jadi tolong May, jangan terus kayak gini. Berlaku aneh, dengan cara mellhat dan mengulang-ulang video rekaman di salah satu posting-an yang asal dia buat itu, lo bisa sakit jiwa kalau kayak gini terus,”
          “Ran, dia Hero gue. Seharusnya lo ngerti dong!”aku berusaha menahan air mataku ketika Rani memaksa aku menyadari 1hal yang berusaha aku lupakan.
          Rani memelukku erat. “May, tolong baca Koran ini ini,”
          Aku menerima Koran yang diberikan Rani. Koran kadaluarsa 1 minggu yang lalu dengan Head lines : Tabrakan Maut, merengut seorang mahasiswa, Faisal 20 tahun.
        Faisal itu kebetulan nama kamu. Orang yang baru saja kupuja 1 minggu terakhir ini.
         

Jumat, 04 Mei 2012

Keramahan di Balik Kegelapan



Pasti pada tau kan ya apa yang terjadi hari Kamis kemarin? Setelah malamnya tanggal 2 Mei kemarin arus listrik sempat padam karena Gardu Cinunuk kebakaran. Kamisnya tanggal 3 Mei lampu kawasan Jatinangor hingga Ujung Berung kembali padam dari siang sampai malam hari. Bahkan kawasan kampus UNPAD tak kunjung menyala hingga detik ini.
Arus listrik yang padam membuat kehidupan sekitar Jatinangor hingga Ujung Berung terlihat sangat depresi bahkan lumpuh total. Pencahayaan menjadi hal yang langka hanya beberapa tempat yang ber-genset lah yang menunjukkan pencahayaan layak. Penduduk terutama mahasiswa yang tinggal disekitar Jatinangor berburu arus listrik di tempat-tempat ber-genset untuk menghidupkan benda-benda elektronik yang mereka punya dari mulai HP, laptop, I-phone, I-pod, tablet, android dan BB. Suasana bahkan sedikit terlihat horor karena kebetulan padamnya lampu bertepatan dengan malam Jumat. Begitu lah kiranya keadaan Jatinangor malam kemarin.
          Padamnya arus listrik ini membuat kericuhan tidak hanya pada malam hari bahkan siang hari. Berbagai tugas kuliah terbengkalai, seperti salah seorang teman saya yang anak Farmasi harus rela menunda penelitiannya karena listrik padam. Belum lagi jika ada yang harus presentasi untuk usulan penelitian (UP) bisa dibayangkan betapa desperate-nya. Kuliah terpaksa diundur, atau dipercepat karena suasana kelas yang tidak nyaman gelap, gerah dan pengap.
Efek samping terparahnya adalah ketika air ikut mati. hal ini saya rasakan kemarin hingga siang tadi ketika arus listrik tak kunjung menyala juga. Kebetulan saya tinggal di kawasan kampus UNPAD yang diperkirakan akan mati total hingga 4-5 hari. Pagi tadi bahkan saya mandi menggunakan air galon yang biasa saya gunakan untuk minum. Hari ini pun saya terpaksa menginap di kost-an teman.
Jujur banyak tugas-tugas saya yang terbengkalai. Kegiatan harian seperti mencuci baju pun harus saya undur. Saya sempat merasa sangat desperate menghadapi kenyataan ini. Padamnya listik di Jatinangor membuat saya sadar akan satu hal ternyata selama ini tanpa saya sadari saya sering sekali menghambur-hamburkan listrik hanya intuk hal-hal yang tak jelas. Ternyata hidup tanpa arus listrik itu sangat sulit baik siang maupun malam hari. Lalu bagaimana dengan  daerah-daerah pedalaman yang selama  ini belum mendapatkan penerangan yang cukup? Kegiatan apa yang mereka lakukan ketika malam mulai menyambut?
Sadar tidak sadar ternyata padamnya arus listrik membuat hangatnya kebersamaan. Kantin ditempat saya tinggal pukul 8 malam biasanya sudah sepi tapi malam kemarin hingga pukul 9 malam hingar-bingar keramaian masih tercipta. Padahal penjual di kantin pun sudah tidak ada. Di tengah-tengah kegelapan yang hanya bermandikan cahaya lilin tergurat canda tawa membahana. Ditambah dengan ramainya beberapa orang yang bermain gitar. Berbeda dengan suasana di kantin suasana di lantai 2 juga bisa dibilang cukup hangat. Beberapa anak sibuk menyalakan lilin dan senter di sekitar pendopo lantai 2. Mereka sibuk mengerjakan tugas. Dari awalnya tidak saling kenal hingga sibuk bercanda satu sama lain. Duduk berdekatan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup dari lilin dan senter yang dinyalakan dan dihidupkan.
Mungkin memang ketika arus listrik itu padam akan sangat menghambat produktifitas dan keefisienan waktu. Akan ada banyak tugas dan kegitan yang terbengkalai. Akantetapi ternyata dibalik semua itu terdapat banyak hikmah kehidupan yang tercipta. Keakraban satu sama lain antara penghuni kosan akan lebih terjalin. Jadi mengapa harus disesali jika arus listrik padam? Bukan kejadian langka ini patutnya disyukuri?