“Ren!
Rena kan?” tanya seorang lelaki di belakangku, menyentuk pundakku saat jam
istirahat mabim di fakultas. Sialnya aku sangat mengenal suara itu.
Ya Tuhan, kenapa harus bertemu denganya
setelah setengah mati aku berusaha melupakannya? Percuma saja liburan dua bulan
setelah ujian akhir nasional dan tak bertegur sapa dengannya jika mendengar
suaranya saja sudah membuatku mengingat kenangan-kenangan manis bersamanya.
“Iya, Zi. Hehehe,” tawaku cengengesan entah untuk apa.
“Kita satu fakultas ternyata! Gak nyangka, ih! Jangan bilang
kita satu jurusan juga,”
“Gak tau, gue jurusan Biologi. Kalau lo?” tanyaku
harap-harap cemas.
Ya Tuhan please, jangan sampai aku
satu jurusan juga sama dia. Cukup satu fakultas saja. Ya Tuhan, aku mohon. Sungguh
aku ingin melupakannya, ingin melepasnya. Biar ia hanya jadi kisah kasih masa
lalu. Cukup penantianku selama dua tahun jangan kau tambahkan lagi, aku tak
sanggup! Biar rasa iklas melepasnya, Ya Tuhan.
“Ih,
sama dong! hahaha, gak nyangka deh. Jauh-jauh kuliah di sini. Ketemunya lo
lagi, lo lagi. Hahaha,” tawa Renzi pecah. DAMN! Apa yang harus aku lakukan?
“Ren,
jerawat lo mana? Kok sekarang bersihan sih? Ke dukun mana lo?” tambah Renzi.
Ya Tuhan, ini benar-benar sudah
gila kenapa aku bisa jatuh hati sama lelaki ini? lelaki yang suka menghina dan
menjatuhkanku? Berbicara tentang jerawat aku jadi
ingat pendapat abang sepupu aku tentang faktor ada tidaknya jerawat dengan
tingkatan jatuh cinta. Dalam hati saat itu aku mengimani perkataan abang
sepupuku itu. Kalau gini ceritanya sebentar lagi jerawat akan kembali bermunculan
di wajahku dong?
“Sial.
Rajin bebersih lah gue. Pake sabun pembersih muka doang, Zi!”
“Ah,
gak mungkin. Lo baru jadi mahasiswa aja udah doyan bohong!”balas Renzi tajam.
“Ih
beneran tau Zi! Kata abang gue kalau lagi gak lagi jatuh cinta sama orang atau
dengan kata lain jomblo pasti mukanya bersih. Kalau ada jerawat lebih dari 10
tuh berarti lagi jatuh hati sama orang. Kalau jerawat penuh menghiasi muka
berarti lagi bermasalah sama pacarnya atau kalau yang gak punya pacar pasti
lagi memendam perasaannya ke orang yang dia taksir. Puas lo?” ucapku tersulut
emosi.
Haduh
ini kenapa pendapat si abang sepupu pake diceritain ke Renzi? Siap-siap aja nih
aku bakal tambah dihina-hina sama dia. Tuhan,
tolong aku!
“Oh
gitu ya? Kalau muka gue indikasinya gimana?” tanya Renzi, membuatku menatap
wajahnya lekat-lekat. Nihil tak ada jerawat. Dosa apa aku Tuhan? Mengapa kau menghukumku terlalu berat?
“Yah,
mana gue tau!“ jawabku seketika berusaha menetralkan pesona wajah Renzi yang
semakin menjadi-jadi berkelana di pikiranku.
“Ren,
lo rela gak kalau jerawat lo tiba-tiba jadi lebih dari 10 lagi? Kaya pas
jaman-jaman SMA?” ucap Renzi kembali menyatakan pertanyaan ambigu
“Zi,
kok lo jahat banget sih sama gue. Enggak lah udah bagus kaya begini aja. Gak mau
kayak dulu lagi,” ‘gak mau jelek lagi
gara-gara naksir lo, Zi!’
“Yah,
berarti lo gak mau pacaran dong? Padahal gue rela kok, kalau ada jerawat muncul
di wajah gue lebih dari 10, demi lo,”
“Hah?” ucapku mengambang. Masih bingung dengan pernyataan
Renzi. Maksudnya apa?
Ya
tuhan, kenapa jantungku jadi ikut berdetak kencang begini?
Sebentar lagi pasti Renzi akan bilang kalau semua ini hanya bercanda.
“Iya, gue rela jerawatan sebanyak apapun demi mendapatkan
hati lo. Lo mau kan? Kalau lo gak mau beberapa hari lagi pasti bakal banyak
jerawat muncul di seluruh wajah gue. Soalnya gue harus memendam perasaan sampe
lo rela menimbun jerawat lebih dari 10 di wajah lo,” ucap Renzi padaku.
Hening. Aku terdiam. Mukaku memerah seketika. Tuhan, ini kah jawaban atas keiklasanku
melepasnya selama dua bulan ini?
