Lian,
memandangi pemandangan di sekelilingnya, sambil sesekali mencatat dan terkadang
membaca catatan kecil yang sedari tadi ia pegang. Ini pertama kalinya Lian
mengunjungi tempat ini Katedral Duomo. Tempat yang sebelumnya tak pernah ada
dalam benaknya untuk dikunjungi.
Pemandangan yang begitu eksotis dari
katedral itu membuatnya lupa diri, lupa bahwa Lian sedang ada di negeri orang.
Sampai akhirnya Lian menemukan penjual es krim dari top of the church, untuk yang satu ini memang Lian ahlinya. Lian
yang telah puas dengan apa yang sedari tadi diamati berbegas turun ke lapangan
tempat dimana Lian melihat penjual es krim itu.
Lian, memandang sekilas, penjual
tersebut sambil berkata terbata-bata karena terkesima dengan penjual ice cream
itu “Mr, I want that, one please,”
“This
one? Vanilla? Ow, sweet girl,” ucap sang penjual masih mengeluarkan senyum
memikatnya.
“Yes,
please,” Lian masih terlihat gugup.
“okay,
it’s only 65 cent, sweety.”
“okay,
thank you,” ucap Lian sambil memberikan uang dan tak kalah gugup dari
sebelumnya. Kali ini bukan karena senyum manis si penjual ice cream itu tapi karena pujian yang sedari Lian terima dari penjual
itu. Lian tau mungkin itu hanya trick yang
dilakukan penjual bagi konsumennya, tapi ini sungguh hal yang menakutkan bagi
Lian. Lian sendiri di sini, tak mengenal seorang pun, tunggu mungkin ada yang
dirinya kenal Jeremy, yang entah dimana dapat Lian temukan.
“hey,
sweety, are you millano people?” ucap penjual itu lagi. Lian kemudian
berlari sekencangnya tak ingin memperpanjang urusan dengan seseorang yang tak
dikenalnya.
Ini sudah hari ke-5 tapi sosok
Jeremy belum juga Lian temukan. Kalau bukan karena Lita kembarannya yang dulu
sempat menghilang, tak akan pernah Lian melakukan hal bodoh untuk segera
mendarat di Millan seperti ini. Lian kemudian kembali menangis, ini terlalu
berat baginya. Lalu bagaimana dengan Lita jika Lian merasa ini sudah cukup
berat baginya?
Lian tak mengerti apa yang harus
dilakukannya. Ia tak mengenal seorang pun di sini dan bahasa Inggrisnya pun
masih patah-patah. Ini ia lakukan hanya demi Lita. Lita, saudara kembarnya yang
telah lama terpisah dan Lian temukan dengan vonis dokter berupa kanker tulang.
Tak ada yang Lita harapkan lagi, hanya satu orang yang ingin Lita lihat setelah
ia menemukan Lian, seorang teman dunia mayanya yang kini tak pernah memberikan
kabar. Ya, dia Jeremy. Bagaimana cara menemukan Jeremy di kota yang bahkan
sekecil ini, dengan hanya bermodal sebuah catatan kecil yang pernah Jeremy
berikan untuk Lita, tanpa foto?
***
Hari ini Lian kembali mengunjungi
Katedral Duomo, sambih berharap cemas tak akan bertemu dengan penjual ice cream
yang kemarin. Lian terpaksa melakukan hal ini karena satu-satunya kata kunci
tentang Jeremy hanya katedral duomo dan beberapa tempat di sekitar katedral
tersebut. Nampaknya Jeremy tinggal di dekat katedral Doumo.
Sebelum memasuki katedral duomo Lian
nampak terkesima dengan burung-burung yang bertengger di sekeliling lapangan
katedral. Lian megurungkan niatnya sejenak untuk mengunjungi katedral, kemudian
Lian mengeluarkan kamera yang sedari ia simpan di tasnya itu. Lian asik
mengambil beberapa foto burung-burung yang berterbangan dan dan kadang
tertengger di sekeliling lapangan katedral. Tanpa sadar tangan kiri Lian dipegang
oleh seseorang pemuda Millan. Pikiran buruk Lian mulai bermain. Akan tetapi
pikiran itu hanya sekedar pikiran buruk, karena pemuda itu hanya memberinya
segenggam biji jagung.
Pemuda itu tersenyum pada Lian,
membuat Lian kembali gugup. Pemuda itu berbicara menggunakan bahasa yang sama
sekali tak dimengerti Lian. Lian tak mengerti apa maksud pemuda itu memberikan
segenggang biji jagung pada hingga pemuda itu memeragakan gerakan untuk
memberikan biji jagung tersebut pada burung-burung yang beterbangan disekeliling
lapangan katedral. Lian tertawa kecil menanggapi sikap yang dilakukan pemuda
itu. pemuda itu pastinya orang yang sangat baik karena mau berbagi jagung
dengan Lian, bahkan beberapa aktivitas Lian yang sedang asik memberi makan
burung di foto oleh pemuda itu.
Lian melirik jamnya, sudah terlalu
lama ia berfoto-foto. Ia tak punya banyak waktu untuk menemukan sosok Jeremy.
Ketika akan bergegas, tangan Lian ditahan oleh pemuda tadi. Pemuda tersebut
kemudian berbicara dengan bahasa yang lagi-lagi tak Lian mengerti. Lian kembali
panik, Lian tak mengerti apa yang pemuda itu ucapkan dan Lian pun tak ingin
ditahan seperti ini.
“Hey,
what are you doing whit this girl?” tanya seseorang memecah ketakutan yang
mendera Lian. Lian mencari arah suara itu datang. Orang itu nampak Lian kenal
entah dimana.
Kedua orang itu kemudian berbicara
dengan bahasa yang tak Lian mengerti. Lian hanya bisa berharap-harap cemas
bahwa lelaki yang memecah ketakutannya bukan lah seorang penjahat. Lian,
melihat apa yang kedua lelaki itu lakukan. Lian hanya dapat bergidik ngeri
ketika salah satu dari mereka mengeluar kan 2 lembar uang 10 euro.
‘Apa
yang sebenarnya terjadi? Aku ini dijadikan objek penjualan kah? Seseorang
tolong aku! Aku ini terlalu toloL atau apa? kenapa gak lari aja sekarang?
Kenapa malah ngeliatin mereka?’ pikiran-pikiran panjang memenuhi kepala Lian,
tapi kaki Lian seoralh enggan diajak bercanda, ia masih terpaku memandangi
kedua lelaki itu.
“Hey, are you okey?”
tanya salah satu lelaki tadi. “Calm down,
your save with me,”
Lian, masih tak
bersuara, ia masih terlalu syok mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
“Hello?” ucap lelaki itu menepuk
pelan punggung Lian.
“Yes,
fine, thank you,” berusaha tersenyum.
“Let
I guess. You aren’t come from ini here?”
Lian, hanya mengangguk pelan
kemudian menyadari bahwa lelaki dihadapannya itu adalah penjual ice cream waktu itu.
“Hmm,
so, you are come from Indonesian?”
“How
do you know?” tanya Lian sedikit kaget lelaki itu bisa mengenal Indonesia.
“Saya punya teman di sana. dan wajahmu
nampak familiar,”
Lian kembali kaget ketika lelaki itu
dapat berbahasa Indonesia dengan fasih.
“Saya, Jeremy. Siapa namamu?”
Sesaat Lian terdiam.
Kemudian tersenyum lebar ketika nama itu tersebut. Lian yakin ini lelaki yang
Lita cari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar