Pagi
ini, pedesaan di bawah kaki Gunung Putri diramaikan oleh beberapa orang yang
terdiri dari 1 tim dan hendak mendaki Gunung Gede-Pangrango melalui jalur Gunung
Putri, salah satunya adalah seorang gadis bernama Wanogo. Oke, ini memang bukan
nama aslinya nama ini digunakan untuk menutupi nama asli pelaku utama dalam
kisah ini. Wanogo itu semacam nick name
yang diberikan bagi anggota pecinta alam yang diikuti oleh Wanogo. Wanogo itu
sendiri adalah nama singkatan dari WAnita maNis Orangnya Gak Oon, oke-oke bukan
itu sih singkatanya aslinya, itu singkatan yang penulis karang sendiri. Lanjut aja
yah, kan tidak penting-penting juga untuk tau Wanogo itu singkatan dari apa.
Nampak
terlihat aura semangat dari wajah cerah Wanogo, maklum ini pengalamannya
pertama kali naik gunung, jadi si Wanogo ini sangat ecxited. Sedari tadi bahkan tak lepas senyum mengembang tiada tara,
apalagi sebelum pendakian ia dan beberapa kawannya lari pagi dulu keliling kampung,
lumayan menemukan mas-mas ganteng yang nampaknya akan mendaki hari ini. Sepertinya
dia belum tau hal buruk apa yang akan menimpanya hari ini.
Berbekal
semangat 45’, Wanogo dan kawan-kawannya serta beberapa alumni yang ikut mendaki
memulai perjalanan panjang dari kaki Gunung Putri setelah semalam bermalam di
rumah penduduk. Tanaman seledri, wortel dan salada air menjadi back ground utama pemandangan awal
pendakian dari kaki Gunung Putri ini. Setelah setengah jam pemandangan beralih
pada pemandangan pohon-pohon pinus. Semakin dalam pemandangan semakin rimbun
dengan berbagai pepohonan. Tak terasa 2 jam perjalanan tanpa henti mulai
membuat nafas Wanogo tersengal-sengal, ingin beristirahat sejenak tapi malu
juga kalah sama alumni yang tadi jalan paling belakang sekarang sudah berada di
depan.
Akhirnya perjalan dihentikan sejenak di shelter
yang ke dua yaitu Shelter Buntut Lutung karena bukan hanya Wanogo yang lelah
beberapa temannya pun merasakan hal yang sama. Wanogo mengamati daerah sekitar
shelter kemudian bergidik ngeri membayangkan jika ia hanya sendiri tanpa
teman-temannya. Masih sama dengan pemandangan sebelumnya rerimbunan pohon
memenuhi tempat ini, menimbulkan suasana gelap dan rindang namun terik panas
masih dapat menelusup masuk ke dalam. Terdapat 1 pos kecil, nampak tua dan
sedikit tak terawat. Pos inilah yang sering disebut dengan Shelter Buntut
Lutung, entah dengan alasan apa.
Botol
air 1,5 liter yang sebelumnya telah diisi di sungai bawah, dikeluarkan oleh
salah seorang teman Wanogo. Hal ini secepat kilat membangkitkan semangat untuk berebutan
medapat giliran minum, padahal sebelumnya mereka bergelimpangan curi-curi waktu
tidur sambil beristirahat. Wanogo hanya menunggu enggan untuk berebutan melihat
tenaganya terasa begitu terkuras. Menunggu ternyata membawa hikmah tersendiri
bagi Wanogo karena ia kebagian minum setelah giliran dari orang yang saat itu
dapat membuatnya jatuh cinta. Lebay sih memang, tapi bukannya itu yang dilakukan
sebagian besar gadis kalau sedang jatuh cinta? Rasanya tuh kayak dapat tenaga
100 kali lipat karena mendapat air minum yang notabene langsung, setelah
diminum oleh sang pujaan hati. Lagu-lagu cinta mulai bermunculan dipikiran Wanogo
yang picisan satu ini.
Berbeda
dengan kebanyakan gadis yang biasanya jatuh cinta dengan lelaki yang ganteng
manis dan macho, Wanogo malah jatuh cinta dengan lelaki yang sebetulnya gak ada
ganteng-gantengnya, tinggi pas-pasan atau bisa dibilang lebih pendek daripada
Wanogo. Ada tambahan plus-plusnya pula lelaki itu suka merokok, padahal Wanogo
tidak suka dengan asap rokok. Karena itu lah walau Wanogo mulai mendaki, pikirannya
masih fokus untuk memusnahkan pikiran-pikiran manis sebelumnya. “Gak boleh, go, gak boleh! Hei, masih banyak
lelaki yang lebih baik daripada dia. Lagian emangnya dia suka sama lo,”
pikiran Wanogo masih liar berjalan berusaha menepis perasaan yang dia punya
ketika teman dibelakangnya mengingatkan untuk menyapa pendaki lain yang sedang
beristirahat di dekat tikungan.
“Go,
diingetin sama alumni jangan lupa nyapa pendaki yang lagi istirahat di depan
kita itu ya,” ucap salah seorang teman Wanogo.
Sayangnya
Wanogo terlambat, ketika menengok ke samping beberapa pendaki yang sedang
istirahat itu sudah di depan mata. Wanogo dengan sigap menyapa “permisi, mas” dengan senyum manis. Adengan
ini terjadi hanya beberapa detik tapi terlihat lama bagi wanogo. Apalagi saat Wanogo sadar salah satu dari
orang yang dia sapa cukup mempesona untuk ukuran orang yang sering mendaki gunung.
Wanogo sebisa mungkin mengeluarkan senyum maksimalnya dan kemudian sedikit
menunduk kepalnya saat mengucapkan kata “permisi mas”. Dan “GEDEBRUK” bunyi
keras tercipta saat lutut Wanogo bersinggungan dengan batu .
Saat
Wanogo melakukan aksi menundukan kepalanya cariel yang dipakainya pun ikut
merosot ke depan mengikuti aksi tersebut. Hal ini terjadi karena cariel yang
dibawanya cukup berat dan hoplah! Keseimbangan tubuhnya, tidak dapat menahan
cariel dan Wanogo pun jatuh dengan posisi setengah bersujud. Dengan tampang
watados (wajah tanpa dosa) Wanogo kembali bangkit seolah-olah semua baik-baik
saja. “Kamu, gak apa-apa? Luka gak?” tanya salah seorang yang membuatnya
tertarik tadi. Orang itu tersenyum berusaha menahan tawa. Senang sih ditanyain begitu
sama cowok ganteng, tapi rasa malunya itu loh gak abis-abis! Tindakan kilat
yang Wanogo lakukan hanya menggelung celana panjangnya dan melihat sebentar
kedua lututnya, ia tersenyum pias sambil berkata, “Gak, apa-apa kok, cuma luka kecil,
hehehe”.
“Bisa
jalan gak, Go?” tanya salah seorang alumni menghampiri Wanogo.
“Bisa
bang, bisa. Oh, ya makasih ya mas. Bang duluan ya, nanti ketinggalan sama yang
lain,” ucap Wanogo singkat berusaha kabur secepat kilat, menahan malu.
Lukanya
sih hanya luka biasa. Darahnya juga tak cukup banyak keluar. Tapi ya itu kalau kakinya
menekuk rasa sakitnya itu muncul di kedua kakinya. Apalagi keesokan harinya
saat mendaki Gunung Pangrango ternyata luka di kedua dengkul Wanogo, sudah
berubah menjadi biru lebam. Segini saja dulu deh tentang hal konyol yang
dilakukan Wanogo yang bisa penulis tulis. Sekian. Wasalam,.

Ada cinta di gunung gede-pangrango, haha ^^ lagipula buka cinta bertepuk sebelah tangan kok sepertinya :D
BalasHapusye, gelo.. mau bukan cinta bertepuk sebelah tangan mah jg udah jaman dulu. kasus udah ditutup. :P
BalasHapus