Sabtu, 21 April 2012

JATUH



Pagi ini, pedesaan di bawah kaki Gunung Putri diramaikan oleh beberapa orang yang terdiri dari 1 tim dan hendak mendaki Gunung Gede-Pangrango melalui jalur Gunung Putri, salah satunya adalah seorang gadis bernama Wanogo. Oke, ini memang bukan nama aslinya nama ini digunakan untuk menutupi nama asli pelaku utama dalam kisah ini. Wanogo itu semacam nick name yang diberikan bagi anggota pecinta alam yang diikuti oleh Wanogo. Wanogo itu sendiri adalah nama singkatan dari WAnita maNis Orangnya Gak Oon, oke-oke bukan itu sih singkatanya aslinya, itu singkatan yang penulis karang sendiri. Lanjut aja yah, kan tidak penting-penting juga untuk tau Wanogo itu singkatan dari apa.
Nampak terlihat aura semangat dari wajah cerah Wanogo, maklum ini pengalamannya pertama kali naik gunung, jadi si Wanogo ini sangat ecxited. Sedari tadi bahkan tak lepas senyum mengembang tiada tara, apalagi sebelum pendakian ia dan beberapa kawannya lari pagi dulu keliling kampung, lumayan menemukan mas-mas ganteng yang nampaknya akan mendaki hari ini. Sepertinya dia belum tau hal buruk apa yang akan menimpanya hari ini.
Berbekal semangat 45’, Wanogo dan kawan-kawannya serta beberapa alumni yang ikut mendaki memulai perjalanan panjang dari kaki Gunung Putri setelah semalam bermalam di rumah penduduk. Tanaman seledri, wortel dan salada air menjadi back ground utama pemandangan awal pendakian dari kaki Gunung Putri ini. Setelah setengah jam pemandangan beralih pada pemandangan pohon-pohon pinus. Semakin dalam pemandangan semakin rimbun dengan berbagai pepohonan. Tak terasa 2 jam perjalanan tanpa henti mulai membuat nafas Wanogo tersengal-sengal, ingin beristirahat sejenak tapi malu juga kalah sama alumni yang tadi jalan paling belakang sekarang sudah berada di depan.
 Akhirnya perjalan dihentikan sejenak di shelter yang ke dua yaitu Shelter Buntut Lutung karena bukan hanya Wanogo yang lelah beberapa temannya pun merasakan hal yang sama. Wanogo mengamati daerah sekitar shelter kemudian bergidik ngeri membayangkan jika ia hanya sendiri tanpa teman-temannya. Masih sama dengan pemandangan sebelumnya rerimbunan pohon memenuhi tempat ini, menimbulkan suasana gelap dan rindang namun terik panas masih dapat menelusup masuk ke dalam. Terdapat 1 pos kecil, nampak tua dan sedikit tak terawat. Pos inilah yang sering disebut dengan Shelter Buntut Lutung, entah dengan alasan apa.



Botol air 1,5 liter yang sebelumnya telah diisi di sungai bawah, dikeluarkan oleh salah seorang teman Wanogo. Hal ini secepat kilat membangkitkan semangat untuk berebutan medapat giliran minum, padahal sebelumnya mereka bergelimpangan curi-curi waktu tidur sambil beristirahat. Wanogo hanya menunggu enggan untuk berebutan melihat tenaganya terasa begitu terkuras. Menunggu ternyata membawa hikmah tersendiri bagi Wanogo karena ia kebagian minum setelah giliran dari orang yang saat itu dapat membuatnya jatuh cinta. Lebay sih memang, tapi bukannya itu yang dilakukan sebagian besar gadis kalau sedang jatuh cinta? Rasanya tuh kayak dapat tenaga 100 kali lipat karena mendapat air minum yang notabene langsung, setelah diminum oleh sang pujaan hati. Lagu-lagu cinta mulai bermunculan dipikiran Wanogo yang picisan satu ini.
Berbeda dengan kebanyakan gadis yang biasanya jatuh cinta dengan lelaki yang ganteng manis dan macho, Wanogo malah jatuh cinta dengan lelaki yang sebetulnya gak ada ganteng-gantengnya, tinggi pas-pasan atau bisa dibilang lebih pendek daripada Wanogo. Ada tambahan plus-plusnya pula lelaki itu suka merokok, padahal Wanogo tidak suka dengan asap rokok. Karena itu lah walau Wanogo mulai mendaki, pikirannya masih fokus untuk memusnahkan pikiran-pikiran manis sebelumnya. “Gak boleh, go, gak boleh! Hei, masih banyak lelaki yang lebih baik daripada dia. Lagian emangnya dia suka sama lo,” pikiran Wanogo masih liar berjalan berusaha menepis perasaan yang dia punya ketika teman dibelakangnya mengingatkan untuk menyapa pendaki lain yang sedang beristirahat di dekat tikungan.
“Go, diingetin sama alumni jangan lupa nyapa pendaki yang lagi istirahat di depan kita itu ya,” ucap salah seorang teman Wanogo.
Sayangnya Wanogo terlambat, ketika menengok ke samping beberapa pendaki yang sedang istirahat itu sudah di depan mata. Wanogo dengan sigap  menyapa “permisi, mas” dengan senyum manis. Adengan ini terjadi hanya beberapa detik tapi terlihat lama bagi wanogo.  Apalagi saat Wanogo sadar salah satu dari orang yang dia sapa cukup mempesona untuk ukuran orang yang sering mendaki gunung. Wanogo sebisa mungkin mengeluarkan senyum maksimalnya dan kemudian sedikit menunduk kepalnya saat mengucapkan kata “permisi mas”. Dan “GEDEBRUK” bunyi keras tercipta saat lutut Wanogo bersinggungan dengan batu .


Saat Wanogo melakukan aksi menundukan kepalanya cariel yang dipakainya pun ikut merosot ke depan mengikuti aksi tersebut. Hal ini terjadi karena cariel yang dibawanya cukup berat dan hoplah! Keseimbangan tubuhnya, tidak dapat menahan cariel dan Wanogo pun jatuh dengan posisi setengah bersujud. Dengan tampang watados (wajah tanpa dosa) Wanogo kembali bangkit seolah-olah semua baik-baik saja. “Kamu, gak apa-apa? Luka gak?” tanya salah seorang yang membuatnya tertarik tadi. Orang itu tersenyum berusaha menahan tawa. Senang sih ditanyain begitu sama cowok ganteng, tapi rasa malunya itu loh gak abis-abis! Tindakan kilat yang Wanogo lakukan hanya menggelung celana panjangnya dan melihat sebentar kedua lututnya, ia tersenyum pias sambil berkata, “Gak, apa-apa kok, cuma luka kecil, hehehe”.
“Bisa jalan gak, Go?” tanya salah seorang alumni menghampiri Wanogo.
“Bisa bang, bisa. Oh, ya makasih ya mas. Bang duluan ya, nanti ketinggalan sama yang lain,” ucap Wanogo singkat berusaha kabur secepat kilat, menahan malu.
Lukanya sih hanya luka biasa. Darahnya juga tak cukup banyak keluar. Tapi ya itu kalau kakinya menekuk rasa sakitnya itu muncul di kedua kakinya. Apalagi keesokan harinya saat mendaki Gunung Pangrango ternyata luka di kedua dengkul Wanogo, sudah berubah menjadi biru lebam. Segini saja dulu deh tentang hal konyol yang dilakukan Wanogo yang bisa penulis tulis. Sekian. Wasalam,.

2 komentar:

  1. Ada cinta di gunung gede-pangrango, haha ^^ lagipula buka cinta bertepuk sebelah tangan kok sepertinya :D

    BalasHapus
  2. ye, gelo.. mau bukan cinta bertepuk sebelah tangan mah jg udah jaman dulu. kasus udah ditutup. :P

    BalasHapus