Kekalutan
datang ketika Akbar bilang ingin menikah dengaku. Menikah denganku? Berhubungan
dekat dengan dia seperti ini saja rasanya hanya sebuah mimpi? Menikah? Kata-kata itu yng terus mengganjal di hatiku. Ya, tuhan, pantas kah diriku yang
penuh lumpur hina dengannya yang seputih kapas itu?
Kekaluatan kadang
menjadi sebuah air mata. Sungguh aku bukan wanita baik-baik, kenangan masa
buruk berjibaku dengan pikiranku. Aku si wanita jalang penuh dengan kenistaan. Ya,
ini bukan hanya sebuah julukan. Aku ini wanita bayaran. Oke, mungkin kini aku
ingin berubah sejak mengenal Akbar. Tapi menikah dengannya? Pantas kah aku? Mau
kah dia? Ya, tuhan, sungguh tak sepantasnya aku memohon doa padamu. Tapi kini
yang bisa kulakukan hanya berdoa.
***
Pagi ini aku
dikejutkan dengan kehadiran sepasang suami istri dengan Akbar di sampingnya. Menghampiri
tempat tinggalku. Air mataku jatuh seketika ketika pernyataan Akbar tempo hari
menjadi kenyataan. Kini tak ada lagi yang harus kuperbuat kecuali menyatakan
kejujuran tentang siapa aku yang sebenarnya.
“Nduk,
kenapa menangis?” tanya ibu Akbar pelan.
“Saya, saya,
saya rasa saya tak pantas untuk Akbar, bu,” jawabku terbata- bata.
“Mengapa?”
tanya bapak Akbar.
“……” Sulit sekali untuk mengaku apa yang pernah dilakukan. Apa lagi ini tentang seberapa boroknya dirimu. Aku sungguh tak sanggup untuk mempermalukan diriku sendiri dan menyakiti Akbar serta keluarganya.
“……” Sulit sekali untuk mengaku apa yang pernah dilakukan. Apa lagi ini tentang seberapa boroknya dirimu. Aku sungguh tak sanggup untuk mempermalukan diriku sendiri dan menyakiti Akbar serta keluarganya.
“Apa kah ini
masalah keperawananmu? Gunjingan dari teman-teman sekampus?” tanya Akbar tiba-tiba berucap. Sakit rasanya mendengar
tanya dari Akbar seperti ditusuk oleh benda tajam. Aku hanya menggangguk
tak berani menjawab.
“Nduk,
ceritakan lah yang sebenarnya. Apapun jawabanmu ibu rasa Akbar akan
menerimanya,” ucap ibu Akbar sambil mengelus lembut rambutku, seperti menguatkan
ku.
“Aku bukan
perawan, Bar. Aku ini wanita jalang. Ayam kampus. Wanita bayaran,” emosiku
keluar. Air mataku jatuh. sakit rasanya seperti menyobek luka yang baru saja akan
kering. Setelah ini aku rasa Akbar dan orang tuanya tidak akan sudi pernah
mengenalku.
Lama tak ada
suara. Aku tau ini sangat mengecewakan Akbar dan keluarganya. “Bar, jawablah. Utarakan
lah keinginanmu yang pernah kau sampaikan sebelumnya pada bapak. Berubah kah
setelah mendengar penjelasan darinya?” ucap bapak akbar memecah keheningan.
“San, aku
mencintaimu apa adanya. Aku menyukai kelembutan hatimu. Jika memang kamu bukan
gadis baik-baik mana mungkin aku sanggup mencintaimu. Tentangmu yang dulu sudah
sejak lama aku ketahui sebelum kita dekat. Jadi mau kah kau menjadi tulang
rusukku? Bapak dan ibu telah menyerahkan seluruh keputusanku di tanganku,”
“Aku…..” aku
tak sanggup menjawabnya. Kata-kata Akbar menenangkan, aku hanya dapat melanjutkan
dengan anggukan.
Akbar kemudian
memelukku erat.
Ibu Akbar
membisikkan kata – kata lembut yang sekejap seolah dapat menghilangkan luka-luka dan borok ditubuhku. “Nduk,
cinta itu menyembuhkan. Cinta dapat menyembuhkan dari nista dan borok sebanyak
apa pun yang kamu punya. Dulu ibu juga sepertimu namun bapaknya Akbar dapat
menerima ibu apa adanya. Maka cintailah Akbar sepenuhnya seperti sebuah cinta
yang telah menyembuhkanmu.”
Inspirited by merpati biru- Achmad Munif
ikut dalam #FFHore
ikut dalam #FFHore
Kunjungan pertama.. Salam kenal ya.
BalasHapusIkutan giveaway-ku yuk! Klik disini! :)
sama2.. :) ih pengen ikutan yang blog itu,,
BalasHapusnice :)
BalasHapuscowok langka begitu masih ada gak yaa..hehe
nampaknya g ada,, ahahahaha... itu inspirasi dari novelnya aja novel jaman dulu sekali.. :p
Hapusklo ada yg kayak gitu cuma bisa berdecak kagum..