Rabu, 17 Agustus 2016

Surat Bunuh Hati



Tak banyak pertemuan yang kurajut bersamamu. Hanya suara pecah tertahan oleh benturan-benturan sinyal yang tak bersatu yang selalu menemani kita. Jarak 1365 km memisahkan kita. 334 hari bertahan menyulam mimpi besar yang ternyata berbeda.

Bersamamu, kulalui canda tawa, serta tangis penuh ketakutan. Perbedaan kerap kali menghadang, namun jarak memberikan kita ruang untuk saling memahami. Oh, mungkin juga menyembunyikan perbedaan yang begitu besar. Bukan lagi soal harta, bukan lagi soal jenjang pendidikan, Tapi soal penyakitku dan penyakitmu. 

Ah, andai saja harga seseorang dapat dibayar dengan uang, akan kucuri dan kujual emas di atas monas itu, untuk menggenapkan hargamu. Ah, andai memang seseorang dapat dibayar, dengan harga berapa kau akan menggenapkanku? Sayangnya, seseorang tak pernah terbayarkan dengan harga semahal apapun, hingga kadang tak dapat dibedakan mana yang berharga dan tak berharga. Seperti keperawanan yang terkadang dijual murah oleh seorang gadis kepada kekasihnya. Permasalahan ini lah yang kerap menjadi perdebatan tanpa akhir oleh kita.

Dibesarkan dengan karakter budaya yang berbeda, kerap kali membuatku ingin tahu lebih jauh tentangmu. Tentangmu yang selalu dapat bertegur sapa dengan banyak orang. Tentangmu yang dapat hidup bebas tanpa sibuk memikirkan pendapat orang lain padamu. Tentangmu yang menghasilkan uang hanya untuk keluargamu. Tentang kamu yang lupa diri untuk mendapatkanku. Entahlah..

Kamu adalah semacam gula lewat jenuh yang tepapar panas berlebih, manis awalnya pahit diakhir. Bersamamu, aku belajar untuk menghargai. Menghargai dirimu dan tentunya menghargai diriku sendiri. Menurutku perasaan sayang hanya dapat dirasakan dan dibuktikan oleh hati. Menurutmu perasaan sayang harus dibuktikan dengan hubungan fisik. Ah, ini terlalu berbeda!

Akhirnya, hanya akan ada aku yang selalu luluh padamu. Entah, guna-guna apa yang kau berikan padamu. Hahaha, aku sampai lupa! Mana mungkin kamu punya guna-guna, dibesarkan dengan budaya barat. Mungkin hanya aku yang terlalu gila mencintaimu, atau karena selama ini tidak pernah ada yang mencintaiku, atau mungkin juga karena tidak pernah ada yang menghargaiku.

334 hari kulalui bersamamu, pertemuan terakhir denganmu, menyadarkanku bahwa kau juga tak pernah menganggapku berharga. Kau hanya jadikan aku fantasi untuk memenuhi hasrat biologismu. Aku terlalu trauma menerima noda yang kau percikan.

Kamu janjikan akan selalu ada untukku. Kamu akan mempertanggungjawabkan atas semua yang kau lakukan padaku. Tanggung jawab apa yang akan kau lakukan? Namun kenyataannya aku terlanjur menjadi munafik, melupakan pembatasku, melupakan kepercayaan diri pada Tuhan sang pencipta, melupakan tanggung jawabku sebagai anak yang entah dari rahim siapa. Aku menangis lagi, entah untuk apa. Untukmu atau untuk ibu yang tak pernah kutemui sejak lahir.

Katamu, aku yang harus mempertanggung jawabkan semua atas usahaku yang memutuskan untuk berpisah denganmu. Aku cukup bertanggung jawab ketika kulihat giwang yang dikenakan ibumu, giwang yang sama dengan milikku. Giwang yang Bunda Arni berikan ketika kumeninggalkan panti asuhan. Giwang yang kata Bunda Arni adalah satu-satunya peninggalan Ibuku. Karena itu aku harus membunuh hatiku. 

Aku mencintaimu, Kak.

Kamis, 04 Agustus 2016

Kamu

Kisah denganmu adalah sesuatu yg harus ditutup.
Seperti buku yg telah selesai dibaca.
Namun,
Masih dapatku kunikmati ketika kubaca ulang.
Masih dapat kucecap dalam memori rasa rindu yang tak pernah usai.
Mencintaimu adalah pelajaran yg tak usai..

Senin, 11 Juli 2016

Bangga Memilikimu


Mereka bilang Fei tak tahu usia. Menjalin roman picisan di usia ke 27 tahun. Mencintaimu mantan seorang gembong Narkoba. Ah, apa yang salah dari itu? Bukannya manusia itu ladangnya dosa? Toh, saat ini kamu juga sedang menggali pahala yang dulu pernah kau kubur.
Kamu gila ya, Fei? Ingat gelarmu! Lulusan S2 terbaik, mau nikah sama lulusan S3? SD,SMP, SMA!
Emang gak ada cowok lain, cuma pacaran sih, tapi inget umur dong, Fei! Lo mau pacaran doang gak ada niatan buat nikah?
Fei, eling hei, eling!
Iya sih, kamu sekarang pengangguran, tapi kamu gak mikir nanti kalau kamu kerja gajinya bakal gedean siapa?
Memang udah mantan gembong, tapi dia masih Bandar judi internasional, kan? Haram, Fei!
Fei, gue kenalin sama temennya abang gue aja, ya?        
Fei, gak usah kontak gue, sebelum lo udahan sama dia!

Entah kalimat apalagi yang sering terlontar dari mulut orang-orang yang katanya paling beretika itu. Kenapa sih mereka selalu sibuk mengurusi perihal orang lain? Bukannya cinta itu suci? Selama ini pun Fei tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh denganmu. Ciuman bibir saja kalian tak pernah pernah. Itulah yang paling Fei suka dari kamu, kamu menghargai Fei yang sedari dulu memang menjaga batasan, walaupun track record-mu tentang wanita sudah hatam berkali-kali.
Awal pertemuan Fei denganmu memang sungguh tak terduga. Fei mahasiswi S2 Kriminologi yang menelitian perjudian online dan kamu mata kunci dari semuanya. Berawal dari wawancara singkat, Fei menemukan sosok yang selama ini tak pernah ia temukan sebelumnya. Pribadimu yang baik membuatnya luluh, meski mungkin dari agama, kamu masih terlalu jauh dari cukup.
‘Pelan-pelan ya, sayang. aku bakal berubah demi kamu, Fei. Demi masa depan kita.’ ucap Fei padaku meniru gayamu saat awal-awal kalian meminang janji bersama. Demi Tuhan, itu adalah sebuah kata-kata terindah bagi Fei yang pernah hadir darimu!
Pada bulan ke tujuh kalian bersama, lagi-lagi kau membuat Fei bangga. Kau tinggalkan perkerjaanmu. Demi Fei, katamu ketika itu. Sungguh Fei begitu bangga padamu, tidak peduli pada akhirnya kamu hanya menjajakkan roti bakar di pinggir jalan. Demi Tuhan, Fei bangga kamu yang berani meninggalakan pekerjaanmu. Fei, ingat betul pada kali pertama kalian bertemu, kamu katakan, kamu dapat meraup puluhan juta dalam waktu sehari. Kini dengan penghasilanmu uang lima puluh ribu merupakan hal yang sangat mewah. Demi Tuhan aku bersumpah, Fei kagum dengan tekadmu! Kamu tak malu meski kini kau hanya bekerja di pinggir jalan, meskin perkataan-perkataan pedas dari mereka semakin menjadi.
 Fei ingat di bulan ke tiga kalian bersama, kamu bilang ingin memulai belajar agama lagi, biar nanti bisa jadi imam yang baik bagi Fei. Sungguh, saat itu Fei menangis mengharu biru, menyebut nama Tuhan berkali-kali, bersyukur atas hidayah yang telah menghampirimu.
Hampir dua tahun bersama akhirnya kamu beranikan diri untuk melamar, setelah sebelumnya kamu tak punya nyali datang ke rumahnya. Fei tentunya saat itu sangat bahagia. Namun tak sampai hitungan jam kebahagian Fei hilang, Fei  menangis, Fei terluka, Fei hancur ketika pada akhirnya orang tua Fei tak merestui hubungan kalian. Luka lama tak dapat ditutupi. Kelakuan-kelakuan burukmu yang ingin kamu kubur harus terbuka. Hubungan intimmu yang  dulu dengan ibu Fei terkuak, menimbulkan kebencian mendalam pada ayah Fei.
Fei menangis. Fei terluka. Bukan, bukan karena Fei akhirnya tau, kamu pernah berhubungan intim dengan ibunya! Bukan kah semua manusia pernah memiliki masa lalu yang kelam? Fei terluka karena usaha bersamamu kini harus hancur seketika. Berbulan-bulan Fei hancur. Berbulan-bulan pula aku berusaha membangkitkan Fei, memberinya semangat kembali. Percuma! Nyawanya seolah hilang setelah kepergianmu. Fei menjadi setengah gila.
Pagi ini sebuah undangan pernikahamu datang lewat pos. Kamu pada akhirnya menemukan wanita lain yang dapat menerimamu apa adanya. Aku buru-buru menyembunyikan surat itu agar Fei tak semakin hancur. Sungguh, aku tak pernah sanggup melihat Fei hancur seperti ini!
“Bu, ada surat dari siapa? Fei, boleh lihat, ya?” sebuah tanya dari Fei cukup mengagetkanku.



Sabtu, 11 Juni 2016

Sendiri

Prinsip saya, mencintai seseorang harus lah membuatnya bahagia. Hal itu yang saya lakukan padamu, mencintaimu sebesar mungkin. Kamu selalu berkata hal yang paling menakutkan adalah kehilangan orang yang kamu sayang, sehingga saya berusaha selalu ada di dekatmu. Meskipun nyatanya kita terbatas oleh waktu dan jarak.
Masih ingat dulu awal pertemuan kita, dalam sebuah trip singkat. Cinta pada pandangan pertama menghampiri saya. Senyummu yang ayu dan tutur katamu yang lembut, meski dengan setelan yang boyist. Siapa yang sangka rumah kita bahkan masih berada di sebuah kompleks perumahan yang sama. Rasa sayang kemudian perlahan menghampiri saya. Jatuh hati itu tak dapat saya bendung lagi dan hati kita ternyata memiliki perasaan yang sama. Ah sungguh itu pertemuan singkat yang menyenangkan.
Pernah suatu hari, kamu berkata jika ingin membuatmu melupakan seseorang, orang itu harus berbuat jahat kepadamu. Saya pikir kalimat itu tak sengaja kamu lontarkan saat amarahmu meradang, tapi di tengah percapakan kita lewat suara kamu selalu mengulang-ulangnya. Jujur saya tak akan pernah bisa melepasmu. Sungguh saya sangat menyayangimu, persetan dengan jarak dan waktu yang menghadang! Buktinya sudah hampir 1 tahun kita lewati bersama tanpa pertemuan. Pekerjaanmu sebagai perawat di Karimun harus membuat saya melupakan jarak ribuan kilometer dan mengingat bayangmu di setiap doa malam saya. Saya sayang kamu Dila! Sungguh!
Satu kabar darimu sempat membuat saya bahagia, kamu akan pulang ke rumah 1 bulan lagi. Beberapa hari kemudian saya meratapi kabarmu saat itu. Vonisan dokter, saat itu menyatakan  sebuah kanker  telah mengerogoti paru-paru saya, seolah mengingatkan kembali akan jarak dan waktu yang selama ini berusaha tak saya ingat. Saya hanya tak ingin kamu menangis melihat mayat kaku saya saat kepulangan ke kota kelahiran kami.
Ide gila saya adalah memutuskanmu dengan cara yang menyakitkan, hingga tak lagi kamu mengingat saya. Cara yang gila, cara yang cukup membuat saya menjadi lelaki yang paling keji. Saya menakutimu dengan cara menginginkan keperawananmu saat pulang lagi. Awalnya kamu hanya diam, lalu sengaja saya ulang-ulang dalam setiap percakapan hingga kamu lelah dan menyerah. Tak lama kamu meminta untuk mengakhiri hubungan ini. Kamu tak pernah tau, hati saya terluka ketika mengucapkan pertanyaan-pertanyaan itu. Mana mampu saya memintamu melakukan itu sebelum kita menikah?!
Bodohnya, saya lupa hanya Tuhan yang Maha Mengetahui mahluknya. Semua upaya saya lakukan untuk membuatmu melupakan saya. Agar kamu tak terlupa ketika nanti saya harus pergi selamanya.  Namun ternyata Tuhan malah megajarkan saya untuk dapat melupakanmu.
Ah, Tuhan, betapa tragisnya cerita cinta ini? Air mata yang selama ini selalu saya sembunyikan kini terjun deras tak dapat terbendung. Hati saya bagai tersegat lebah mendengar kabar itu. Kabar yang cukup membuat hati saya teriris. Tagline besar di harian koran cukup mengoyak sukma saya, menyisakan puing-puing luka di hati saya.




MELEDAKNYA PESAWAT, PENERBANGAN TANJUNG BALAI KARIMUN MENUJU PEKAN BARU


Minggu, 15 Mei 2016

SALAH

Katamu, LDR adalah adalah rasa hati penuh ilusi, pada akhirnya kau jalani sebuah hubungan LDR bersamaku. Satu-persatu kau jilat ludah yang pernah kau buang. Bersamaku, kau jalin angan-angan penuh ilusi. Entah apa yang menyebabkan kau tak percaya LDR, yang ku tau kau pernah bergumam bahwa angan-angan kau dengan wanita sebelum diriku, berakhir tragis.
                Guraumu selalu berkata semua wanita itu sama, materialistis. Ada uang maka semua beres, semua mampu kau dapatkan dengan uang. Aku hanya tertawa mendengarnya, kau salah! Akan kubuktikan aku bukan wanita seperti yang kau bilang.
                Aku kemudian membalas dengan guraun, bahwa semua lelaki sama, hanya butuh tubuh untuk pelampiasan sebuah nafsu. Kamu menepis semua perkataanku tanpa canda, tanpa tawa, tanpa senyum. Kau seolah marah dengan candaanku kali itu, entah bagian mana yang salah.
                Akhir-akhir ini kau menghilang, entah karena kau bosan, atau karena sudah hampir 1 tahun kau belum juga dapat menikmati tubuhku. Sayangnya, aku bukan wanita yang sama dengan wanita-wanita sebelumku. Aku pernah baca sebuah cerita bahwa waktu dan jarak yang dapat membekukan hati namun juga mencairkan hati. Jika kau begitu mencintai seseorang, tanyakan pada jarak dan waktu sebelum kau memberikan semua.
                Perlahan tapi pasti aku mulai membalas semua luka yang pernah kudapatkan. Katamu, hal membahagiakan dari hubungan LDR adalah kediaman kita, hanya saling bersua dengan panggilan tak terjawab. Selain waktu dan jarak sepertinya sinyal juga berbicara tentang hati. Aku hanya bisa tertawa dari jauh tentang keluguanmu. Dasar, Don Juan yang aneh! Mari kita buktikan saja.
                Ringtone “karena aku telah denganmu” Ari Lasso feat Ariel Tatum berbunyi, tanda sebuah panggilan masuk darimu.
“Sayang, kangen kamu, ada yang kurang tanpa suaramu,” ucap kau dari seberang sana.
“Hah, apa? Apa bang? Hah?” ucapku berusaha tak mendengar percakapan, padahal jelas sekali suara kau nyaring terdengar.
“Sayang, kangen kamu,” ucap kau mengulang percakapan.
“Hah? Ap…….” Kugantungkan perkataanku. Lalu kumatikan panggilan dari kau.
Biar kau rasa bagaimana mana rasanya merindu. Sakit! Sakit! Sakit! Kau tau betapa perihnya merindukan seseorang! Mungkin kau tak pernah tau.
Kau lalu berusaha meneleponku lagi, kuangkat, kudiamkan selama beberapa detik lalu aku matikan. Begitu terus hingga akhirnya kau merasa lelah. Kau berkali-kali menghela nafas dalam, ketika tak mendapatkan suaraku, ketika itu pula aku tertawa dalam diam. Aku menghela nafas, memikirkan berbagai cara lain agar kau merasakan yang aku rasakan.
Masih teringat jelas teriakan parau ibu saat melihat tubuh kakak yang tergeletak kejang-kejang bersimbah darah. Darah segar terus mengalir dari pergelangan tangannya. Aku hanya terpaku melihat kakak, meninggalkan sebilah luka dalam di hatiku. Kakak tewas bunuh diri, karena sebuah janin tanpa ayah hadir dari rahimnya. Hubungan kakak dengan pacarnya telah melewati batas. Pertemuan-pertemuan kakak dengan pacarnya yang LDR mungkin telah menghalalkan nafsu setan. Mulai saat itu aku benci laki-laki, mulai saat itu aku berpacaran dengan banyak pria untuk membalas segala amarahku pada semua sosok laki-laki di dunia ini.
Dan kau hadir…. Meningkatkan rasa amarahku, ketika kau selipkan nama kakak pada kisah tragis hubungan LDR mu sebelumnya. Kau bahkan menyalahkan kakak tentang kisah tragis yang telah terjadi, lupa siapa dalang dalam kisah tragis itu!
Aku tertawa melihat pisau tumpul penuh karat di atas meja kamarku, mengingatkanku akan gurauanmu tentang semua wanita materialistis. Kau salah! Aku hanya seorang wanita yang ingin menagihmu tentang semua rasa rinduku pada kakak. Pisau tumpul penuh karat itu akan menjadi saksi kisah tragismu selanjutnya. Tunggu dan buktikan lah!



Minggu, 27 Maret 2016

Menghilang

Jangan tanya mengapa saya diam.
Tunggu, hingga waktu terkekang.

Tapi mungkin lelah menghampiri.
Wajar, karena kita adalah 2 insan bukan 1 insan yang sama.

Kini saat kamu minta,
Jangan salahkan jika saya benar menghilang.
Karena saya menghargai keputusanmu.
Seberapa pun saya ingin menyapamu.

Jumat, 04 Maret 2016

Ketakutan

Pada kapal yang belum menepi..
Pada hati yang pernah karam..
Pada rindu yang tak sempat terbawa..
Kutitipkan sebuah ketakutan yang tak pernah usai..

Ketakutan akhirnya aku bersamamu..
Atau
Ketakutan akhirnya aku tak bersamamu..
Ketakutan semu karen jutaan mimpi yang belum ku arungi..
Bukan kah kita memiliki ketakutan yang sama?

Tapi kapal ini masih diperaduan, belum menepi..
Tapi hati yang karam kini telah berlabuh kembali..
Tapi jutaan rindu ini sempat kau tau..
LALU KETAKUTAN APA YANG PERLU KUTAKUTKAN?

Jumat, 26 Februari 2016

Hidup Penuh Cinta di Natuna

as dapat penempatan di Natuna ada perasaan senang sekaligus sedih juga, soalnya pengen banget di Pegunungan Bintang, soalnya dekat Gunung Jaya Wijaya (Salah fokus). Tapi senang sih Natuna kan daerah pariwisata pantai, ya jadi bisa main-main (lagi-lagi salah fokus). Soal budaya gue dengan pedenya merasa akan bisa hidup di sana, secara masih daerah Sumatra, dan ternyata……… 

Jreng-jreng-jreng. 

Aku menyerah…. Lambaikan tangan ke kamera.
Hari pertama berangkat tanggal 20 Desember 2015, kami singgah dulu di Batam dan menginap sehari di sana. Layaknya anak gaul lainnya gue menyempatkan beli HP di Batam. Biasa, man orang kaya! *Padahal HP wasalam jatuh di kamar mandi, pas sampai di bandara Hang Na Dim. Sedih, mak, sedih!* sembuhkan HP SAYA! KEMBALIKAN HATI SAYA! #LOH 

Hari ke dua baru deh ke Ranai. Ranai adalah pusat kota dari kabupaten Natuna. Bandara di Natuna ternyata milik TNI angkatan Udara, Natuna. Iya, jadi intinya di Natuna belum ada Bandara, karena masih nebeng dengan pangkalan udaraTNI AU. Gue sempat ditunjukin bandara yang sedang dibangun, tapi desas-desusnya bandara itu masih akan lama untuk dapat beroperasi. *Dudududududu* 

STUCK, 

Adalah ketika lo  tidak tau apa yang mau lo lakukan. itulah yang terjadi pada gue setelah 1 hari sampai di Natuna. Gue diboyong pulang kepala sekolah gue ke rumahnya. Iya, ke rumahnya bukan ke rumah yang akan jadi tempat tinggal gue selama mengajar nanti. Rumah kepala sekolah ini berbeda desa dengan desa yang akan gue ajar nanti. Dan desanya cukup jauh, butuh kurang lebih 30 menit untuk sampai dari rumah kepala sekolah ke desa itu. 

Kepala sekolah gue bilang, gue pindah ke desa penempatan gue nanti saja setelah masuk sekolah. Katanya di desa tu tidak ada apa-apa dan sepi. Terus gue kudu piye? Sedari awal udah di doktrin kayak gitu? Jumlah waktu dari gue nginap di rumah kepala sekolah hingga nanti masuk ssekolah masih cukup lama, yaitu sekitar 2minggu. 

Terus apa yang harus gue lakuin selama 2 minggu di sana? Terus kira-kira gue harus bayar gak sih selama tingga di rumah kepala sekolah? Terus bayarannya berapa? Terus kepala sekolah gue mau gak sih dibayar? Terus bayaran yang gue kasih kira-kira kekecilan gak sih? Atau malah kegedean dan disangka gue anak orang kaya.. *dwaar* pikiran gue dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Pas masuk ke rumah kepala sekolah, gue lebih syok lagi dengan rumahnya yang… Mmm, sangat amat besar itu. Tidak tanggung-tanggung gue diminta menginap di lantai atas yang besar kamarnya juga lebih besar dibanding kamar rumah gue. DAN GUE DI ATAS RUMAHNYA SENDIRI SAUDARA-SAUDARA! Berasa dapat private house. 

Kendala lanjutannya adalah bahasa daerahnya yang membuat gue cuma bisa senyum-senyum menyeringai kebingungan. Pernah nonton film Thailand tanpa subtitle? Kira-kira seperti itu lah yang gue hadapi ketika melihat para tetangga saling mengobrol di rumah pak kepsek. Kebetulan kepala sekolah  gue ini juga membuka warung di rumahnya. Daya tangkap gue untuk mengikuti kultur-budaya di Natuna diuji saat mengobrol dengan ibu mertua kepala sekolah gue. Beliau akrab dipanggil Nyai. Beliau banyak cerita macam-macam yang sayangnya tak gue pahami. Oke daya tangkap gue terhadap kultur-budaya di sini, bisa langsung dicoret ya guys. Butuh waktu lama gue untuk paham bahaas daerah sini. Bahkan setelah 2 bulan gue idup di Natuna ini. Guys, please help me!
Ini beberapa kosakata yang bisa gue pahami :
Lah : selesai
Song gi song : ayo, pergi yuk!
Gianow : pergi kemana?
Kulah : sekolah
Ao : iya
Au : kamu
Di’sik : gak ada
Nde : engga
Dengki : bertengkar
Merajuk : ngambek
Lokal: kelas 

*NB : Itu semua tergantung daerah masing-masing ya. Kayak temen gue yang dapat di pulau tiga  kalau enggak itu bukan ‘nde’ tap ‘ndo’.*
Dan masih banyak lagi yang membuat gue pengen lambaikan tangan ke kamera.