Rabu, 17 Agustus 2016
Surat Bunuh Hati
Kamis, 04 Agustus 2016
Kamu
Seperti buku yg telah selesai dibaca.
Namun,
Masih dapatku kunikmati ketika kubaca ulang.
Masih dapat kucecap dalam memori rasa rindu yang tak pernah usai.
Mencintaimu adalah pelajaran yg tak usai..
Senin, 11 Juli 2016
Bangga Memilikimu
Sabtu, 11 Juni 2016
Sendiri
Minggu, 15 Mei 2016
SALAH
Minggu, 27 Maret 2016
Menghilang
Jangan tanya mengapa saya diam.
Tunggu, hingga waktu terkekang.
Tapi mungkin lelah menghampiri.
Wajar, karena kita adalah 2 insan bukan 1 insan yang sama.
Kini saat kamu minta,
Jangan salahkan jika saya benar menghilang.
Karena saya menghargai keputusanmu.
Seberapa pun saya ingin menyapamu.
Jumat, 04 Maret 2016
Ketakutan
Pada kapal yang belum menepi..
Pada hati yang pernah karam..
Pada rindu yang tak sempat terbawa..
Kutitipkan sebuah ketakutan yang tak pernah usai..
Ketakutan akhirnya aku bersamamu..
Atau
Ketakutan akhirnya aku tak bersamamu..
Ketakutan semu karen jutaan mimpi yang belum ku arungi..
Bukan kah kita memiliki ketakutan yang sama?
Tapi kapal ini masih diperaduan, belum menepi..
Tapi hati yang karam kini telah berlabuh kembali..
Tapi jutaan rindu ini sempat kau tau..
LALU KETAKUTAN APA YANG PERLU KUTAKUTKAN?
Jumat, 26 Februari 2016
Hidup Penuh Cinta di Natuna
Aku menyerah…. Lambaikan tangan ke kamera.
Hari pertama berangkat tanggal 20 Desember 2015, kami singgah dulu di Batam dan menginap sehari di sana. Layaknya anak gaul lainnya gue menyempatkan beli HP di Batam. Biasa, man orang kaya! *Padahal HP wasalam jatuh di kamar mandi, pas sampai di bandara Hang Na Dim. Sedih, mak, sedih!* sembuhkan HP SAYA! KEMBALIKAN HATI SAYA! #LOH
Hari ke dua baru deh ke Ranai. Ranai adalah pusat kota dari kabupaten Natuna. Bandara di Natuna ternyata milik TNI angkatan Udara, Natuna. Iya, jadi intinya di Natuna belum ada Bandara, karena masih nebeng dengan pangkalan udaraTNI AU. Gue sempat ditunjukin bandara yang sedang dibangun, tapi desas-desusnya bandara itu masih akan lama untuk dapat beroperasi. *Dudududududu*
STUCK,
Adalah ketika lo tidak tau apa yang mau lo lakukan. itulah yang terjadi pada gue setelah 1 hari sampai di Natuna. Gue diboyong pulang kepala sekolah gue ke rumahnya. Iya, ke rumahnya bukan ke rumah yang akan jadi tempat tinggal gue selama mengajar nanti. Rumah kepala sekolah ini berbeda desa dengan desa yang akan gue ajar nanti. Dan desanya cukup jauh, butuh kurang lebih 30 menit untuk sampai dari rumah kepala sekolah ke desa itu.
Kepala sekolah gue bilang, gue pindah ke desa penempatan gue nanti saja setelah masuk sekolah. Katanya di desa tu tidak ada apa-apa dan sepi. Terus gue kudu piye? Sedari awal udah di doktrin kayak gitu? Jumlah waktu dari gue nginap di rumah kepala sekolah hingga nanti masuk ssekolah masih cukup lama, yaitu sekitar 2minggu.
Terus apa yang harus gue lakuin selama 2 minggu di sana? Terus kira-kira gue harus bayar gak sih selama tingga di rumah kepala sekolah? Terus bayarannya berapa? Terus kepala sekolah gue mau gak sih dibayar? Terus bayaran yang gue kasih kira-kira kekecilan gak sih? Atau malah kegedean dan disangka gue anak orang kaya.. *dwaar* pikiran gue dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Pas masuk ke rumah kepala sekolah, gue lebih syok lagi dengan rumahnya yang… Mmm, sangat amat besar itu. Tidak tanggung-tanggung gue diminta menginap di lantai atas yang besar kamarnya juga lebih besar dibanding kamar rumah gue. DAN GUE DI ATAS RUMAHNYA SENDIRI SAUDARA-SAUDARA! Berasa dapat private house.
Kendala lanjutannya adalah bahasa daerahnya yang membuat gue cuma bisa senyum-senyum menyeringai kebingungan. Pernah nonton film Thailand tanpa subtitle? Kira-kira seperti itu lah yang gue hadapi ketika melihat para tetangga saling mengobrol di rumah pak kepsek. Kebetulan kepala sekolah gue ini juga membuka warung di rumahnya. Daya tangkap gue untuk mengikuti kultur-budaya di Natuna diuji saat mengobrol dengan ibu mertua kepala sekolah gue. Beliau akrab dipanggil Nyai. Beliau banyak cerita macam-macam yang sayangnya tak gue pahami. Oke daya tangkap gue terhadap kultur-budaya di sini, bisa langsung dicoret ya guys. Butuh waktu lama gue untuk paham bahaas daerah sini. Bahkan setelah 2 bulan gue idup di Natuna ini. Guys, please help me!
Ini beberapa kosakata yang bisa gue pahami :
Lah : selesai
Song gi song : ayo, pergi yuk!
Gianow : pergi kemana?
Kulah : sekolah
Ao : iya
Au : kamu
Di’sik : gak ada
Nde : engga
Dengki : bertengkar
Merajuk : ngambek
Lokal: kelas
*NB : Itu semua tergantung daerah masing-masing ya. Kayak temen gue yang dapat di pulau tiga kalau enggak itu bukan ‘nde’ tap ‘ndo’.*
Dan masih banyak lagi yang membuat gue pengen lambaikan tangan ke kamera.