Mereka bilang
Fei tak tahu usia. Menjalin roman picisan di usia ke 27 tahun. Mencintaimu
mantan seorang gembong Narkoba. Ah, apa yang salah dari itu? Bukannya manusia
itu ladangnya dosa? Toh, saat ini kamu juga sedang menggali pahala yang dulu
pernah kau kubur.
Kamu gila ya, Fei? Ingat gelarmu! Lulusan S2
terbaik, mau nikah sama lulusan S3? SD,SMP, SMA!
Emang gak ada cowok lain, cuma pacaran sih,
tapi inget umur dong, Fei! Lo mau pacaran doang gak ada niatan buat nikah?
Fei, eling hei, eling!
Iya sih, kamu sekarang pengangguran, tapi
kamu gak mikir nanti kalau kamu kerja gajinya bakal gedean siapa?
Memang udah mantan gembong, tapi dia masih
Bandar judi internasional, kan? Haram, Fei!
Fei, gue kenalin sama temennya abang gue
aja, ya?
Fei, gak usah kontak gue, sebelum lo udahan
sama dia!
Entah
kalimat apalagi yang sering terlontar dari mulut orang-orang yang katanya
paling beretika itu. Kenapa sih mereka selalu sibuk mengurusi perihal orang
lain? Bukannya cinta itu suci? Selama ini pun Fei tidak pernah melakukan
hal-hal yang aneh denganmu. Ciuman bibir saja kalian tak pernah pernah. Itulah
yang paling Fei suka dari kamu, kamu menghargai Fei yang sedari dulu memang
menjaga batasan, walaupun track record-mu
tentang wanita sudah hatam berkali-kali.
Awal
pertemuan Fei denganmu memang sungguh tak terduga. Fei mahasiswi S2 Kriminologi
yang menelitian perjudian online dan
kamu mata kunci dari semuanya. Berawal dari wawancara singkat, Fei menemukan
sosok yang selama ini tak pernah ia temukan sebelumnya. Pribadimu yang baik
membuatnya luluh, meski mungkin dari agama, kamu masih terlalu jauh dari cukup.
‘Pelan-pelan ya, sayang. aku bakal berubah
demi kamu, Fei. Demi masa depan kita.’ ucap Fei padaku meniru gayamu saat
awal-awal kalian meminang janji bersama. Demi Tuhan, itu adalah sebuah
kata-kata terindah bagi Fei yang pernah hadir darimu!
Pada
bulan ke tujuh kalian bersama, lagi-lagi kau membuat Fei bangga. Kau tinggalkan
perkerjaanmu. Demi Fei, katamu ketika
itu. Sungguh Fei begitu bangga padamu, tidak peduli pada akhirnya kamu hanya
menjajakkan roti bakar di pinggir jalan. Demi Tuhan, Fei bangga kamu yang
berani meninggalakan pekerjaanmu. Fei, ingat betul pada kali pertama kalian
bertemu, kamu katakan, kamu dapat meraup puluhan juta dalam waktu sehari. Kini
dengan penghasilanmu uang lima puluh ribu merupakan hal yang sangat mewah. Demi
Tuhan aku bersumpah, Fei kagum dengan tekadmu! Kamu tak malu meski kini kau
hanya bekerja di pinggir jalan, meskin perkataan-perkataan pedas dari mereka
semakin menjadi.
Fei ingat di bulan ke tiga kalian bersama,
kamu bilang ingin memulai belajar agama lagi, biar nanti bisa jadi imam yang
baik bagi Fei. Sungguh, saat itu Fei menangis mengharu biru, menyebut nama
Tuhan berkali-kali, bersyukur atas hidayah yang telah menghampirimu.
Hampir
dua tahun bersama akhirnya kamu beranikan diri untuk melamar, setelah
sebelumnya kamu tak punya nyali datang ke rumahnya. Fei tentunya saat itu
sangat bahagia. Namun tak sampai hitungan jam kebahagian Fei hilang, Fei menangis, Fei terluka, Fei hancur ketika pada
akhirnya orang tua Fei tak merestui hubungan kalian. Luka lama tak dapat
ditutupi. Kelakuan-kelakuan burukmu yang ingin kamu kubur harus terbuka.
Hubungan intimmu yang dulu dengan ibu
Fei terkuak, menimbulkan kebencian mendalam pada ayah Fei.
Fei
menangis. Fei terluka. Bukan, bukan karena Fei akhirnya tau, kamu pernah
berhubungan intim dengan ibunya! Bukan kah semua manusia pernah memiliki masa
lalu yang kelam? Fei terluka karena usaha bersamamu kini harus hancur seketika.
Berbulan-bulan Fei hancur. Berbulan-bulan pula aku berusaha membangkitkan Fei,
memberinya semangat kembali. Percuma! Nyawanya seolah hilang setelah
kepergianmu. Fei menjadi setengah gila.
Pagi
ini sebuah undangan pernikahamu datang lewat pos. Kamu pada akhirnya menemukan
wanita lain yang dapat menerimamu apa adanya. Aku buru-buru menyembunyikan
surat itu agar Fei tak semakin hancur. Sungguh, aku tak pernah sanggup melihat
Fei hancur seperti ini!
“Bu,
ada surat dari siapa? Fei, boleh lihat, ya?” sebuah tanya dari Fei cukup
mengagetkanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar