Minggu, 15 Mei 2016

SALAH

Katamu, LDR adalah adalah rasa hati penuh ilusi, pada akhirnya kau jalani sebuah hubungan LDR bersamaku. Satu-persatu kau jilat ludah yang pernah kau buang. Bersamaku, kau jalin angan-angan penuh ilusi. Entah apa yang menyebabkan kau tak percaya LDR, yang ku tau kau pernah bergumam bahwa angan-angan kau dengan wanita sebelum diriku, berakhir tragis.
                Guraumu selalu berkata semua wanita itu sama, materialistis. Ada uang maka semua beres, semua mampu kau dapatkan dengan uang. Aku hanya tertawa mendengarnya, kau salah! Akan kubuktikan aku bukan wanita seperti yang kau bilang.
                Aku kemudian membalas dengan guraun, bahwa semua lelaki sama, hanya butuh tubuh untuk pelampiasan sebuah nafsu. Kamu menepis semua perkataanku tanpa canda, tanpa tawa, tanpa senyum. Kau seolah marah dengan candaanku kali itu, entah bagian mana yang salah.
                Akhir-akhir ini kau menghilang, entah karena kau bosan, atau karena sudah hampir 1 tahun kau belum juga dapat menikmati tubuhku. Sayangnya, aku bukan wanita yang sama dengan wanita-wanita sebelumku. Aku pernah baca sebuah cerita bahwa waktu dan jarak yang dapat membekukan hati namun juga mencairkan hati. Jika kau begitu mencintai seseorang, tanyakan pada jarak dan waktu sebelum kau memberikan semua.
                Perlahan tapi pasti aku mulai membalas semua luka yang pernah kudapatkan. Katamu, hal membahagiakan dari hubungan LDR adalah kediaman kita, hanya saling bersua dengan panggilan tak terjawab. Selain waktu dan jarak sepertinya sinyal juga berbicara tentang hati. Aku hanya bisa tertawa dari jauh tentang keluguanmu. Dasar, Don Juan yang aneh! Mari kita buktikan saja.
                Ringtone “karena aku telah denganmu” Ari Lasso feat Ariel Tatum berbunyi, tanda sebuah panggilan masuk darimu.
“Sayang, kangen kamu, ada yang kurang tanpa suaramu,” ucap kau dari seberang sana.
“Hah, apa? Apa bang? Hah?” ucapku berusaha tak mendengar percakapan, padahal jelas sekali suara kau nyaring terdengar.
“Sayang, kangen kamu,” ucap kau mengulang percakapan.
“Hah? Ap…….” Kugantungkan perkataanku. Lalu kumatikan panggilan dari kau.
Biar kau rasa bagaimana mana rasanya merindu. Sakit! Sakit! Sakit! Kau tau betapa perihnya merindukan seseorang! Mungkin kau tak pernah tau.
Kau lalu berusaha meneleponku lagi, kuangkat, kudiamkan selama beberapa detik lalu aku matikan. Begitu terus hingga akhirnya kau merasa lelah. Kau berkali-kali menghela nafas dalam, ketika tak mendapatkan suaraku, ketika itu pula aku tertawa dalam diam. Aku menghela nafas, memikirkan berbagai cara lain agar kau merasakan yang aku rasakan.
Masih teringat jelas teriakan parau ibu saat melihat tubuh kakak yang tergeletak kejang-kejang bersimbah darah. Darah segar terus mengalir dari pergelangan tangannya. Aku hanya terpaku melihat kakak, meninggalkan sebilah luka dalam di hatiku. Kakak tewas bunuh diri, karena sebuah janin tanpa ayah hadir dari rahimnya. Hubungan kakak dengan pacarnya telah melewati batas. Pertemuan-pertemuan kakak dengan pacarnya yang LDR mungkin telah menghalalkan nafsu setan. Mulai saat itu aku benci laki-laki, mulai saat itu aku berpacaran dengan banyak pria untuk membalas segala amarahku pada semua sosok laki-laki di dunia ini.
Dan kau hadir…. Meningkatkan rasa amarahku, ketika kau selipkan nama kakak pada kisah tragis hubungan LDR mu sebelumnya. Kau bahkan menyalahkan kakak tentang kisah tragis yang telah terjadi, lupa siapa dalang dalam kisah tragis itu!
Aku tertawa melihat pisau tumpul penuh karat di atas meja kamarku, mengingatkanku akan gurauanmu tentang semua wanita materialistis. Kau salah! Aku hanya seorang wanita yang ingin menagihmu tentang semua rasa rinduku pada kakak. Pisau tumpul penuh karat itu akan menjadi saksi kisah tragismu selanjutnya. Tunggu dan buktikan lah!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar