Senin, 06 Oktober 2014

Korban Gosip

Semua orang di kantor mulai memperbincangkan kedekatan kita berdua. Awalnya saya tidak peduli tapi lama-lama saya pun mulai jera. Ketika sedang asik mengobrol denganmu saat istirahat pasti disangka sedang pacaran. Saya benar-benar tak suka ketika kamu menyatakan bahwa itu lah kenyataannya, bahwa kita pacaran. Kamu bahkan tak pernah sedikitpun menyatakan perasaanmu pada saya! Bagaimana mungkin kita pacaran?

Saya tak suka dengan gunjingan mereka yang mempermasalahkan kedekatan hubungan kita. Lagipula bagaimana caranya mereka bisa yakin bahwa kita berdua saling mencinta? Bukankah perasaan itu secara harfiah hanya milik, Tuhan? Hanya Tuhan yang mampu membolah-balikkan hati. Seperti ini, seperti saat ini ketika saya mulai menjadi cemburu padamu ketika kamu mengobrol mesra degan Mbak Vinka teman se-divisimu. Padahal dulu saya tak pernah memperdulikan hal itu.

Semakin hari kalian berdua semakin dekat. Apalagi dengan adanya project R n D marsamallow rasa green tea di luar kota, kalian semakin sibuk berdua. Tak ada lagi waktu untuk saya, walau hanya sekedar makan malam bersama. Dan mereka semakin gencar mengunjing dan menggosip bahwa saya sudah putus denganmu, atau selama ini hanya saya yang cinta padamu, bukan kamu.

Setiap kali mereka mengosip seperti itu rasanya saya sangat membencimu. Ini kah yang dinamakan jatuh hati? Jatuh hati yang tak pernah saya sadari seutuhnya. Sudah seperti itu saya hanya berdoa smoga saya bisa cepat-cepat melupakanmu. Agar hati yang baru bersemi ini tidak terlalu terluka.

Dulu pernah kamu bilang, entah saat makan malam berdua yang ke berapa kalinya, bahwa yang namanya patah hati dapat disebuhkan dengan cinta yang baru, dengan orang baru, selama itu tidak ada mana ada manusia yang bisa melupakan seseorang. Tentu saya menolak dengan keras ucapanmu. Saya pernah patah hati dan sembuh ketika orang yang saya cintai itu berpacaran dengan orang lain. Secepat itu, semudah itu evolusi hati saya. Maka dari itu saya paling tak suka ketika mereka sibuk mengosipkan tentang perasaan hati saya. Sekarang saat saya harus patah hati karenamu, saya hanya berharap kamu segera berpcaran dengan Mbak Vinka atau sekalian menikah dengannya.

***
Win, kamu apa kabar?
 Kangen!
Ping!
 Pengen cerita banyak sama kamu!
Diner ditempat biasa ya. C.U, your husband  

Sebuah bbm darimu mampu membuat galau seharian. Sudah beberapa hari ini saya tak memikirkanmu, kini bbm darimu mampu membuat hati saya, meringis. Your husband? Memangnya saya sudah menikah denganmu?  
Saya membalasnya bbm darimu dengan singkat.
Oke sip.
Jam biasa ya.
 Saya tak ingin terlihat terlalu antusias. Saya takut kecewa. Kecewa mungkin yang akan kamu ceritakan tentang Mbak Vinka.

***
Saya benar-benar patah hati kali ini. saya benar-benar akan melupakan kamu detik ini. Saya janji, ini hari terakhir kalinya saya mengharapkanmu! Saya janji, besok-besok saya akan menganggapmu sebagai teman baik saya, tidak lebih.

Aduh, gusti saya gak boleh keluar air mata. Tahan, Win, tahan! Masa saya nangis hanya gara-gara  hal sepele kayak gini?! Masa saya harus nangis karena secara gak langsung kamu bilang kamu sudah punya orang yang kamu cintai apa adanya.

 Masa kamu menolak secara halus Mbak Vinka yang jelas punya perasaan padamu cuma karena Pak Erik sudah menyatakan perasaannya duluan dan kamu pun juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Sungguh saya lupa, selain Mbak Vinka kamu juga pergi keluar kota dengan Pak Erik.  


1 komentar: