Minggu, 20 April 2014

Pemilihan Umum Hati


                Ada yang berbeda dengan suasana taman pagi ini. kubikel-kubikel  dadakan yang terbuat dari kertas karton tersusun rapi di sepanjang ruas jalan kanan dan kiri. Banyak orang yang berlalu-lalang, entah berbaju bebas, entah menggunakan batik. Beberapa diantara mereka bertanda khas di jari kelingking kirinya.
 Beberapa sepeda berjejer di sekeliling taman. Mia meletakkan sepedanya di sana. Ia melihat ke sekeliling taman, mencari bilik bernomor 65. Statusnya yang pengangguran membuatnya memiliki banyak waktu untuk sekadar bersantai di taman, namun terik matahari pukul sembilan mulai menyerang. Mia memutuskan segera menemukan bilik tersebut dan bergegas pulang.
Ada rasa nyeri saat bahu Mia bertubrukan dengan seseorang laki-laki. Ia meringis pelan, namun tak ingin memperpanjang masalah.
“KAMU!” ucap laki-laki itu dengan suara lantang.
Mia hanya menunduk tak berani menatap laki-laki itu. Sudah lama ia tak menetap di wilayah ini, sehingga ia tak tahu persis seperti apa tingkah laku penduduk di sini. Hanya kata maaf yang mampu Mia ucapkan.
                “KAMU?” ucap laki-kali itu lagi.
Hening. Mia tak berani mejawab, tak berani juga untuk pergi melangkah.
                “Mia kan?” tanya laki-laki itu lagi.
Merasa dikenali, Mia lalu menegakan pandangannya mencari tahu siapa laki-laki di depannya itu.
 Mia memandangi laki-laki itu. Laki-laki itu berambut hitam legam dengan potongan sebahu, kaca matanya tak mampu menutupi hidungnya yang mancung, alis matanya tebal, wajahnya putih, postur tubuhnya yang bidang dan tinggi menaikkan nilai jual laki-laki itu. Mia kagum sesaat menikmati ciptaan Tuhan di depannya itu. Mia berusaha mengenali siapa laki-laki itu. Namun Mia benar-benar tak mengenalnya.
“Kamu Mia Sulistiani kan? Aku Iman, kamu ingat tidak?”
“Iman?” tanya Mia masih kebingungan dengan siapa laki-laki perfect di depannya itu.
“Iya, teman TK kamu. Sudah ingat?” ucap laki-laki itu tersenyum manis menimbulkan lesung pipi yang tak tampak sedari tadi.
Mia terdiam. Keringatnya mengucur deras entah karena panas matahari yang mulai menyengat atau karena hormon feromon laki-laki di depannya berhasil menarik perhatian Mia. Mia diam-diam mengendusi bau tubuhnya. Pagi ini Mia belum sempat mandi, hanya gosok gigi selama tiga menit yang menjadi andalannya menyambut pagi.
“Kok diem? Beneran gak ingat ya sama aku? Kamu sudah nyoblos?” tanya laki-laki itu karena tak juga mendapat respon dari Mia.
“Hehehe, iya belum. Aku nyoblos dulu ya!” ucap Mia kabar secepat kilat tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu, apakah Mia masih mengingatnya.
Sebenarnya Mia masih ingin berlama-lama dengan laki-laki itu. Namun Mia merasa malu, karena perlahan bau keringat di tubuhnya mulai menjalar. Apalagi pagi ini Mia belum mandi. Malukan jika laki-laki itu benar teman TK-nya. Tak beberapa lama Mia menemukan bilik nomor 65. Setelah sekian lama menunggu akhirnya Mia mendapat giliran untuk mencoblos. Mia buru-buru keluar dari kubikel penyoblosan dengan kelingking kiri bewarna keunguan.  
“Mia!” panggil seseorang.
Merasa terpanggil Mia mencari sosok si pemanggil. Beberapa saat kemudian Mia menemukan Misyel teman bimbingan belajar SMP-nya dulu yang kebetulan juga merupakan teman TK-nya Mia.
                “Hai!” sapa Mia sambil menghampiri Misyel. Rasa rindu mendadak timbul pada temannya yang satu ini. sudah lama mereka berdua tak bertemu, mungkin ada hampir 7 Tahun.
                “Kamu apa kabar Mi? Ih,  sekarang kok kamu kurus banget sih? tipsnya apa sih?” tanya Misyel sambil memegangi rambutnya yang sedari tadi tertiup angin.
                “Baik dong. Ini sukses jadi pengangguran. Hehehe, kamu sendiri gimana, Syel?” tanya Mia tak kalah serius menanggapi pertanyaan Misyel.
                “Hahaha, mending lah ketimbang aku masih jadi mahasiswa tua. Belum lulus aku mah. Eh, duduk di kursi taman itu yuk! Kita ngobrol dulu,” ucap Misyel menarik lengan Mia, tanpa menunggu jawaban dari Mia.
                Obrolan panjang antara dua sahabat lama ini mengalir begitu saja. Mia seolah lupa hari itu ia belum mandi. Baru saja Mia ingin menanyakan perihal laki-laki yang ia temukan dan mengaku bernama Iman pada Mia, Misyel sudah memanggil laki-laki itu.
                “Iman, sini! Kita ngobrol-ngobrol dulu. Laki-laki itu kemudian menghampiri Misyel dan duduk diantara Misyel dan Mia. “Man, masih inget gak sama Mia, temen TK dulu?”
                “Ingat dong, masa sih lupa? Tadi aku sudah menyapa kok, iya kan, Mi?”
                “Cie, yang udah sapa-menyapa. Udah tidak marah lagi, Man dengan kelakukan Mia jaman dulu?” tanya Misyel sambil tersenyum menyeringai. Misyel tau banyak tenang Iman. Maklum lah mereka satu sekolah dari TK sampai SMA.
                “Emang aku dulu ngapain?” tanya Mia kebingungan. Mia benar-benar lupa dengan laki-laki yang duduk di sampingnya. Umur Mia sudah beranjak 22 Tahun, dan TK? Bukan kah TK itu berlangsung saat usia 4-5 tahun? Sudah hampir 17 tahun yang lalu! Mia benar-benar lupa dengan laki-laki yang bernama Iman itu.
                “Kamu dulu menginjak kelingking kiriku, saat kita bersembunyi berdua di balik kolam renang ketika kita main petak umpat. Ingat?”
                “Hah?” Mia berusaha berpikir keras. Memorinya sepertinya mulai tergali. Samar-samar Mia dapat mengingat kejadian saat itu. “Iman yang nangis waktu itu? Yang abis itu ngadu ke mamahnya pas pengajian di TK?” tanya Mia akhirnya. Rasa malu langsung menyergap, mengingat tingkah laku konyolnya dulu pada laki-laki cinta pertamanya itu.
                “Hahaha, Iya Mi, Iya! Kamu tau gak sih? si Iman gak mau satu SD sama kamu. Setiap masuk SMP dan SMA juga dia menghindari kamu. Sekolah SMA unggulan kan? Si Iman tuh sudah diterima di sana, tapi pas tau ada kamu di sekolah itu dia langsung mau pindah ke sekolah swasta. Jadi akhirnya Iman satu seolah lagi deh sama aku,” cerocos Misyel panjang lebar.  
                Iman berusaha menutup mulut Misyel, tapi usahanya percuma Misyel telah membebarkan semuanya. Iman jadi salah tingkah sendiri menghadapi gadis di smping kirinya itu. Awalnya dulu memang Iman sangat marah dengan gadis itu. Apalagi gadis tidak pernah meminta maaf padanya. Lama-lama ia menjadi dendam dengan gadis bernama Mia itu.  Segala hal ia lakukan untuk mencari tahu tentang gadis itu. Bahkan ketika friendster ataupun facebook lagi booming-booming-nya ia diam-diam membuat akun khusus dengan mengubah identitasnya. Hingga saat ini path bahkan instragam pun ia follow tentunya dengan nama samaran.
Perasaan kesal itu lama-lama berubah menjadi rasa penasaran. Apalagi kini Mia telah berubah sangat jauh. Tubuh gumpal, pendek, kecil dan berwajah bulat hilang entah kemana. Wajahnya berbentuk hati dan dipermanis dengan rambut panjang dengan poni miringnya, tubuhnya tinggi menjulang dengan porsi tubuh sedikit semok. Hari ini benar-benar hari pertama bagi Iman melihat sosok Mia secara langsung, tanpa bersembunyi seperti yang sering ia lakukan. Apalagi Iman benar-benar sudah lama tak bertemu Mia sejak Mia kuliah di luar kota.
“Ah, serius?” ucap Mia menanggapi perkataan Misyel. “Maaf, ya Man! Aku benar-benar tidak maksud. Kamu tau kan dulu aku pemalu. Pulang-pulang aku nangis tau dulu. Abis kamu marah sam aku sambil nangis-nangis. Aku merasa bersalah banget! Tapi aku gak berani ngomong. Terus aku jadi tambah sedih karena kamu sampe bilang ke mamah kamu. Terus sekarang aku udah lupa tentang masalah itu. Maaf ya Man,” ucap Mia dengan perasaan bersalah.
Mia tentu ingat dengan jelas kejadian itu. Kejadian yang membuat laki-laki yang ia taksir menangis kala itu.  Keringat lagi-lagi mulai mengucur apalagi sengatan matahari siang meningkat. Mia menyakini aroma tubuhnya yang tak mengenakkan dapat tercium oleh laki-laki di samping kanannya. Apalagi jarak duduknya sangat berdekatan. Aduh, rasanya Mia ingin segera kembali ke rumah!
“Hahaha, iya. Gak apa-apa itu kan masa lalu,” ucap Iman berusaha tersenyum menutupi kecanggungannya.
Mia jadi senang sendiri menerima perlakuan manis dari Iman. Obrolan mulai mengalir lagi sederas aliran keringat Mia.
                “Eh, pulang yuk. Bapak aku sudah menunggu. Hari ini dia mau landing ke London,” ucap Misyel kepada Mia dan Iman.
Tanpa babibu Mia menerima ajakanan Misyel dengan senang hati.  Mereka bertiga siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Misyel berpisah dengan Mia dan Iman setelah keluar dari taman. Rumahnya kini tak lagi berdekatan dengan rumah Iman seperti dulu sejak ia pindah rumah. Mia dan Iman kemudian jalan berbarengan menuju gang rumahnya masing-masing. Ada rasa canggung antara keduanya. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mia yang malu takut-takut ketauan belum mandi dan Iman yang masih saja penasaran dengan Mia.
“Man,” pangging Mia tertahan.
Iman sedikit kaget mendengan suara Mia. Ia menengok ke arah Mia. Mia kembali berbicara, “Aku duluan ya, ini gang rumah aku. Dah!” ucap Mia sambil tersenyu. “Hati-hati di jalan ya, Man.”
Semakin sibuknya Iman, ia menjadi lupa sebenarnya rumahnya hanya berbeda dua gang dari rumah Mia dan kebiasaan menatap Mia dari jauh sering ia lakukan dari sudut gang ini. Iman kembali berjalan. Namun ada rasa gelisah dipikirannya. Perasaan aneh yang selalu ia tahan hampir selama 17 tahun. Perasaan yang selama ini selalu ia anggap sebagai rasa penasaran belaka.
Iman kemudian memutar balik arah, mencari dimana Mia berada. Ya, Iman harus bisa tegas sama halnya ketika memili calon legislatif tadi. Sosok Mia terlihat semakin mengecil. Iman kemudian mengejarnya. “Mia!” jerit Iman.
Mia kemudian menengok ke arah belakang, mencari darimana asal suara itu berasal.
“Mia……..,” ucap Iman tak meneruskan kata-katanya.
“Kenapa, Man?” sedikit menjauh dari Iman. Ia benar-benar tak ingin bau keteknya tercium.
“A, aku, boleh kan, minta.. nomor kamu? Boleh kan… dekat saja kamu? Boleh kan….,”
 Mia hanya mengangguk menanggapi ekspresi Iman yang benar-benar manis.  Iman sangat senang dan tanpa sadar memeluk Mia. Keringat dibaju Mia mulai menempel di baju Iman. Indera penciuman iman mulai mendapati bau tak sedap.
“Mi, kok kayak ada bau tong sampah ya?” tanya Iman polos setelah melepas pelukannya.
“Ehehehehe…,” tawa Mia menyeringis. “A, a, a.. aku, belum… belum, mandi Man, hehehehe. Kayaknya itu bau keringat aku deh………,”ucap Mia masih tertawa menyeringis karena malu.









Rabu, 16 April 2014

Bahagia itu Tentang Keiklasan

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali  & Get discovered! 





Aku berusaha menahan tangis. Jika dilihat, jelas sekali hidungku memerah dan mataku berkaca-kaca. Semua pegawai The Bay Bali, “Bumbu Nusantara” menatapku. Seolah mencari sesuatu dari kehadiranku hari ini. Aku hanya mampu tersenyum seperti biasanya. Seolah semuanya baik-baik saja.
bn-food0585

Ornamen kayu memenuhi aula depan tempat ini. Jauh masuk ke dalam terdapat ruang indoor dipenuhi meja unik dengan view langsung menghadap pantai, khas restauran ini. Hari ini restauran ini tampak berbeda. Tak ada seorang pengunjung pun selain aku. Meja-meja unik itu juga telah dimasukkan ke dalam aula, digantikan dengan bangku dan meja khas ornamen pernikahan. Aku duduk di salah satu bangku tersebut, meminta red wine yang sudah jauh-jauh dipesan. Terdapat gate kecil yang telah dihiasi bunga mawar warna-warni. Tempat ini sungguh romantis dan aku pun terkagum-kagum di sini, sendirian.




Aku berusaha menghela nafas panjang. Dulu semua orang bertanya tentang hubungan kedekatan kami berdua. Semua orang yang bertanya kadang tidak mau mengerti, mereka lebih banyak sekadar ingin tahu tak lebih. Aku pun hanya dapat membalas dengan senyum ketika mereka bertanya.
Bukankan jatuh hati itu adalah sebuah karunia, Tuhan? Lalu mengapa kebanyakan orang-orang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? Lalu mengapa kebanyakan orang sibuk memendam luka menahan perasaan? Bukankah jatuh hati itu sebuah perasaan harfiah yang sederhana?
Tentang perasaanku padanya biarlah aku memendam hingga resah tak lagi terbendung, hingga asa akan terlepas. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh hati. Butuh waktu lama untuk mempercayai seseorang singgah terlebih menetap di hatiku. Jadi, jika suatu hari nanti aku mampu mengungkapkan perasaanku padanya hanya ada dua kemungkinan dia telah menjadi pasanganku atau aku telah berani membuang perasaanku padanya.
Dulu aku selalu mengelak tentang hubungan kedekatan kami berdua. Aku rasa mereka tidak salah, tidak juga benar. Benar, jika mereka tanya perasaanku padanya adalah nyata, namun salah jika mereka bertanya kedekatan kami berdua adalah sebuah ikatan. Aku tak perlu sebuah ikatan yang dijelaskan dengan kata-kata ‘berpacaran’. Aku hanya butuh penyataan yang saling menguatkan ketika hati mulai melemah. Hanya sebuah kepastian tidak lebih! Walaupun aku tahu sebuah kepastian hakikatnya hanya ada pada Tuhan.
Aku lagi-lagi memandangi sekeliling restauran ini. Suasana pagi ini begitu tenang. Hanya terdengar deburan ombak perlahan. Air mataku kembali pecah. Ini kah hari kebahagiaan yang selama ini aku harapkan?
Aku tahu hubungan kami berdua hanya akan menyakitkan berbagai pihak terlebih seseorang yang menyukai dia dalam diam, sama seperti aku. Sudah itu aku hanya bisa melihat dan membuktikan bahwa doaku pada Tuhan tentangnya lebih kuat dibandingkan orang itu. Aku tahu hubungan kami seperti hubungan tanpa status, teman bukan, pacar pun bukan. Sungguh aku tak bermaksud melakukan hal itu. Aku hanya tak ingin memaksa kekuasaan Tuhan.
Tentang perasaannya padaku, aku tak pernah tahu persis. Tapi bukankan perasaan ini lebih indah jika kami sama-sama terdiam dalam sebuah doa? Aku hanya tak ingin keegoisanku, kecemburuanku membabi buta layaknya dia adalah milikku. Padahal jelas sekali dia dan aku hanya sekadar milik Tuhan.
Masih dapat kuingat jelas, ketika aku bertemu dengannya di restauran ini beberapa bulan yang lalu. Sore itu ketika sunset bewarna jingga keorenan, saat aku bersama dengan teman-temanku dan dia bersama wanita lain. Ada rasa cemburu yang membabi buta ketika itu. Rasanya perih sekali. Padahal aku jelas tahu wanita itu hanya klien dari pekerjaannya. Bagaimana jika dia masih menjadi milikku saat ini? Aku curiga aku akan selalu bersitegang dengannya untuk hal-hal sepele seperti ini.
bn-food0700

Lagi pula bukan kah masalah hati dapat berubah-ubah setiap saat? Bukan kah kami dulu pernah saling menjauh, dipisahkan jarak dan waktu, membenci satu sama lain tanpa sebab dan takdir membuat kami seperti ini sekarang? Aku hanya tak ingin suatu saat nanti aku akan kembali membencinya. Aku hanya tak ingin mendahului waktu.
Aku tahu seberapa pun aku ingin memilikinya jika dia bukan milikku maka dia akan pergi menjauh. Seperti  kemarin, saat ia memilih kembali kepada pemiliknya yang abadi. Aku hanya mampu mendoakannya dengan ikhlas. Karena itu hari ini di hari pernikahan kami, Aku harus menyatakan perasaanku yang tak pernah kunyatakan secara gamang padanya.
“Marsya sayang Ridwan. Marsya tau pernikahan ini hanya karena bisnis orang tua kita, tapi Marsya benar-benar sayang Ridwan. Maafin Marsya tidak pernah mampu menyatakan ini pada Ridwan secara langsung. Tapi Marsya tahu kok, Tuhan lebih sayang sama Ridwan. Marsya harus bahagia kan,Wan? Marsya janji, Marsya akan bahagia walau harus melepas Ridwan. Bahagia itu adalah sebuah keiklasan kan, Wan? Seperti saat Ridwan mengiklaskan wanita itu pergi dan memilih menikahiku untuk menuruti permintaan ayahmu kan wan?
Aku mengelap kelopak mataku yang tak lagi basah. Meneguk segelas red wine yang dituangkan seorang pelayan. Bahagia itu sederhana. Cukup menyimpan seseorang dalam kenangan di hati dan mengiklaskannya bersama pemiliknya yang abadi.