Minggu, 05 Januari 2014

INSTAN


            Aku terpaku membaca sebuah instan messenger di handphone milik ibu, dengan nama “My lovely” di header column-nya. Ini jelas-jelas bukan nomor ayah, dan foto personalnya jelas-jelas bukan foto ayah. Air mataku pecah tanpa sebab membaca satu persatu percakapan panjang yang tak berkesudahan di instan messenger itu. Hatiku ngilu bukan main. Hubungan semanis apakah yang telah ibu jalin dengan lelaki bernama “my lovely” ini?
            Ibu keluar dari kamar, aroma segar khas lemon menyengat indera penciumanku. Sepertinya ibu baru selesai mandi. Buru-buru kuhapus air mataku yang sedari tadi mengalir. Aku tidak ingin terlihat lemah! Terlebih di depan orang yang jelas-jelas telah menghianatiku.
            Ibu mondar-mandir di sekitar meja rias, mencari sesuatu.
            “Din, lihat HP ibu tidak?” tanya ibu padaku.
Lagi-lagi hatiku teriris mendengar pertanyaan dari ibu. Entah setan dari mana, entah keberanian dari mana, aku tiba-tiba saja mampu mengeluarkan pertanyaan retoris. “Sedang menunggu pesan dari My lovely, Bu?”
            “Hah? Ibu hanya sedang mencari HP andien,”

          
       “Iya! HP yng isinya pesan dari orang bernama my lovely kan, bu? Iya kan?” air mataku pecah. Aku jatuh terduduk di salah satu sofa ruang keluarga.
       Sakit! Ini sangat menyakitkan! Lebih dari sekedar kehilangan seorang kekasih. Aku bahkan bukan pelaku utama yang dikhianati di sini. Aku hanya sesuatu hasil dari sebuah kenyataan yng dihianati.
            Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, bersender di salah satu sofa. Aku malu! Aku malu dengan kehidupanku yang nista ini! aku malu punya ibu sepertinya! Aku malu jadi diriku sendiri!
            Aku menutup mataku lekat-lekat sampai pipi dan kelopak mataku beradu kuat.  Aku berusaha melakukannya agar air mata ini tidak jatuh terus. Gelap! Semua terasa semakin gelap. Perlahan aku mulai membanyangkan percakapanku beberapa minggu lalu dengan Ginda.
            “Hah? Kamu ngomong apa sih? cepet banget, kayak orang kumur-kumur. Hahaha,”
            “Hjdshjdnmdehfbnfmhjrf, fjhbfrmvnbek!”
            “Ginda! Serius! Ngomongnya pelan-pelan aja. Kamu tuh lucu banget deh! Hahaha. Kamu percaya gak sih? aku tuh kalau ngomong sering dimarahin sama temen-temen karena semakin cepatnya, terus ternyata ada yang lebih cepat dari aku. Hahaha, ”
“Hmm, gimana gini?” tanya Ginda padaku, sekarang ritme ucapannya perkata sangat lambat.
“Ya, gak usah lambat begitu juga lah. Hahaha. Tapi kayaknya kamu tipe cowok yang serba instan ya. minum aja beberapa detik udah habis. Hahaha. coba liat gelas di samping kamu. Sudah ada 7 buah. Kamu gentong ya? hahaha,” ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar merasa bahagia ketika itu. Sampai-sampai aku bisa melupakan Rico.
            “Hmm, kalau aku jawab iya kamu pasti kaget. Tapi percaya deh, hidup instan itu gak enak!”
            “Hah? Bukan semua orang ingin instan? Makan mau instan.  Minum maunya instan. Perjalanan juga mau instan kalau tidak, mana mungkin klakson mobil banyak berbunyi seenaknya, bahkan akhirnya jalan TOL pun dibangun. Belajar juga mau instan sampai-sampai banyak orang memalsukan ijasah. Bekerja juga seperti itu sampai-sampai banyak petinggi negara yang saling suap-menyuap. Bahagia pun juga ingin instan, alternatif cepat, ya narkoba!”
            “Haha, kamu kayak lagi demo di depan saya deh. Menurut aku instan tuh gak asik. Kamu bakal terus ngerasain hal-hal yang sama setiap saatnya dengan waktu singkat. Muak! Jenuh! Oh ya, saat semuanya menjadi instan, kamu akan berperang pada dirimu sendiri. Kematian juga akan datang dengan instan,”
            “Hahaha, aku jadi semakin percaya, kamu itu cowok yang serba instan. Pikiran kamu itu loh, seperti bukan manusia di jaman ini,”
            Percakapanku dengan Ginda tiba-tiba lenyap. Aku masih sesunggukan menahan air mata yang masih saja terjatuh. Apa ibu juga ingin bahagia, sampai-sampai melakukan perselingkuhan? Apa ibu tidak bahagia hidup dengan ayah, denganku dan juga dengan kakak? Apa ibu begitu membenci keluarga ini?
“Kalau memang ibu bahagia,” ucapku membuka wajahku yang sedari tadi kututup dengan telapak tangan. Aku memberanikan diri untuk menatap ibu, mencari sebuah jawaban, mencari sebuah kebenaran dari kesalahan yang telah ibu lakukan.
 Nihil. Ibu hanya terlihat kaget kutatap seperti itu, tidak lebih. Aku muak, lalu kubuang saja pandanganku pada satu sudut lantai. Aku berusaha mengingat-ngingat apa yang telah terjadi dikeluarga ini. Bagaimanapun aku hanya seorang penonton yang tersakiti karena sebuah pertunjukkan yang sering mereka tampilkan.
“Kalau memang ibu bahagia…., ishh, Andin tau, ibu kecewa sama ayah yang tiba-tiba jadi pengangguran, ishh, ibu kecewa karena ayah membuat ibu sakit kanker paru-paru, ishh, ibu kecewa karena ayah suka bertengkar dengan kakak dan kakak terlibat narkotika, ishh. Andin tau bagaimana rumah kita sudah seperti neraka jahanam…..,” ucapku tertahan. Hatiku terluka. sakit. Ini benar-benar perih. Aku tidak mampu melanjutkan ucapanku. Air mataku kembali jatuh entah yang keberapa kalinya.
Perkataanku dengan Ginda sepertinya benar. Semua orang butuh keinstanan. Termasuk ibu, termasuk aku. Aku ingin sesuatu yang instan untuk mengakhiri perasaan nyeri di dadaku.
“Bu, kalau semua itu membuat ibu sakit, membuat ibu membutuhkan tumpuan hidup pada lelaki lain, bagaimana dengan Andin bu?” ucapku memukul-mukul kencang dadaku. SAKIT! HATIKU SAKIT! “Hati Andin sakit bu! Ishhh, menerima kenyataan punya ayah yang tidak bekerja, punya kakak yang suka bertengkar dengan ayah, punya ibu yang divonis gak akan lama lagi usiannya. Issshhh, apa sekarang Andin juga harus pura-pura bego ngeliat ibu selingkuh? Andin capek bu, ngelihat neraka seperti ini!”
Ibu mendekat ke arah, berusaha memelukku. Aku dulu selalu merindukan dipeluk seperti ini oleh ibu. Tapi tidak kali ini! AKU JIJIK! Aku berusaha melepaskan pelukannya. Aku mendorongnya keras. Aku segera berlari ke arah dapur. Aku mengambil pisau dapur yang tergeletak di wastafel. Masih berlumur saus spagetti bewarna merah keorangean, bekas masakanku tadi siang, Aku ingin mengakhiri semua ini dengan instan!
“Makasih bu, sudah mengenalkan Andin pada neraka, sekarang Andin mau pergi ke neraka!” ucapku mengiris berkali-kali pergelangan tanganku. Darah pekat bewarna merah berhasil melumuri pisau yang kugunakan, melapisi sisa-sisa saus spagetti yang tertinggal di pisau itu.  

Before this Story  --> Sehari Tentang Cinta
The Same Situation --> LUKA



2 komentar: