Minggu, 03 Maret 2013

Bersinggungan



Harian kota.
17-03
(16/03) Telah terjadi tabrakan beruntun di Jalan Karang Sari. Tabrakan ini menewaskan tiga korban jiwa, 6 orang luka-luka berat, satu orang luka ringan dan empat mobil hancur berat. Menurut saksi mata, tabrakan ini terjadi karena karena ada seorang yang akan menyebrang jalan. Korban berinisial (S) yang sedang membawa truk dengan laju cepat, berusaha membanting stir ke arah kanan, menerabas pembatas jalan dan menabrak seseorang yang sedang berdiri di pinggiran trotoar. seperkian menit kemudian tabrakan beruntun terjadi. 
*

       Mantel merahnya  menyatu dengan darah segar yang mengalir. Ia menatap kosong ke arah saya. Bergeming, sesekali nafasnya tercekat. Air matanya jatuh seiring darah pekat terus mengalir ke luar, merembes kepermukaan jalan. Satu-persatu orang datang menghampirinya.

*
        Bunyi decitan keras beradu antara roda dan aspal jalan. Nampaknya pengendara truk itu berusaha mengerem. Saya tak mampu menghindari kejadian itu. Bola mata saya masih terpaku padanya yang masih menyebrangi jalan tanpa melihat ke kanan jalan. Hantaman itu terdengar dengan keras, membuat indra pendengaran saya mendengung dengan kencang. 

*

     “Hei, Rina? Kenapa belum menyeberang juga?” seru saya, setengah menjerit. Berharap ia dapat mendengar suara saya dari sebrang jalan sana.
         “Tunggu dulu. Aku takut!” ucapnya sedikit samar terdengar oleh saya.
         “Tadi kenapa kamu tidak memegang tangan saya?” jerit saya sekali lagi.
       “Aku, tak mau merepotkanmu. Sudah terlalu banyak aku merepotkanmu. Aku takut…….,” suaranya menguap bersamaan dengan lalu-alalangnya pengguna kendaraan.
         “Rin, Ayo nyebrang. Sudah kosong,”
          “Tunggu dulu, aku takut…”
       Beberapa mobil dan motor silih berganti.
      “Ayo, saya tunggu. Kita sudah terlalu lama di luar Rin. Kasihan anak-anak panti yang lain, mereka terlalu lama menunggu umtuk makan malam,”
          "Iya,” ucapnya. Sesekali ia melangkah ke depan, kemudian ke belakang lagi.
Cukup lama sampai akhirnya ia punya keberanian untuk menyeberangi jalan.
         “RINA!!!”

*

         Pernah jatuh hati? Mungkin semua akan mengatakan ‘Ya’. Sejujurnya saya tak pernah tahu apa artinya jatuh hati. Tapi jika ditanya adakah seseorang  yang saya butuhkan dan saya akan merasa kehilangan jika tak berjumpa dengannya, tentu saya akan menjawab, Ya.
Ia, hanya seorang gadis berusia kisaran 17 tahun. Ia terbiasa tersenyum sumringah ketika bertemu dengan saya. Ia juga terbiasa menguncir rambutnya ke belakang dan menggunakan mantel merah, hadiah dari seseorang ketika lebaran. Terbiasa tanpa orang tua membuat saya sangat menyayanginya, seperti kakak saya. Ah, entahlah, toh dari awal saya tak pernah merasakan kehangatan seorang keluarga.


*

“Hei, kenapa sedari tadi diam saja? Namaku Rina. Namamu siapa?”
“Wicaksana,”
“Usiamu berapa?”
“Tujuh,”
“Wah, sama dong. Aku juga. Mulai sekarang kita keluarga ya! Kamu boleh panggil aku ‘kakak’, akukan yang tinggal duluan di sini. hehehe”
 Saya hanya terdiam melihatnya terus tersenyum. Seolah tinggal di sini adalah sebuah kebahagiaan.
“Ih, kok diam saja sih? Kamu takut ya sama aku? Tenang saja,kan ada aku! Aku pasti aku akan menjagamu,” ucapnya sambil tersenyum manis, mengikrarkan sebuah janji pada saya. Bodohnya sampai saat ini saya masih mempercayai janji itu. Bahkan berjanji dalam hati bahwa saya juga akan melindunginya sepenuh hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar