Jumat, 28 September 2012

Ehem!


“ehem,” kurang lebih begitulah saya, saat menyapanya.
Tak banyak percakapan yang terjadi, hanya senyum manis yang ia sunggingkan, sesederhanan itu.  Sayangnya setelah mengenalnya lebih jauh, ia tak sehening senyumnya. Ya, dia sangat bawel, bahkan bisa membuat saya jengah jika terlalu sering berdekatan. namun ada rasa nyeri yang menyeruak setiap kali tak berjumpa dengannya, dengan senyum manisnya.
                Seakan semua menjadi pelik saat ia menanyakan tebakannya benar atau salah mengenai ‘saya ada hati padanya’ . Saya dengan percaya diri menentang tebakannya. Namun apa yang terjadi saat ini? Jantung saya berdebar lebih kencang setiap bertemu dengannya, bahkan mata elang saya mencari sosoknya ketika saya berpas-pasan dengan salah satu temannya.  Bodohnya tak ada satu kata pun terucap dari bibir saya saat bertemu dengannya, bahkan suara ‘ehem..’ pun tak lagi saya keluarkan. Saya hanya berdiam diri dalam luka.
                Kata teman saya itu namanya jatuh hati, cinta pertama. Jatuh hati ? Apa rasanya? Saya belum pernah jatuh hati, dan saya ingin merasakan cinta pertama saya pada istri saya kelak. Lantas ia kah yang akan menjadi istri saya kelak?
                “Ehem, ehem,” suara batuk yang disengaja itu keluar begitu saja tanpa saya sadari saat berpas-pasan dengannya. Kebetulan saya sedang tidak bersama dengan teman saya, begitupula dengannya. Ingin saya ralat rasanya suara batu itu, namun terlambat ia melihat saya.
                “Oh, Hai!” jawabnya singkat. Tak ada lagi senyum yang dulu sering saya lihat.
****
Hanya batuk? Memangnya batuk itu bentuk kataan sapaan di tahun 2012? Kamu jahat! Gak gentle! Mungkin kamu memang cinta pertamaku, dan masih di hatiku hingga detik ini., tapi aku rasa kamu bukan orang yang cocok jadi imamku kelak, jika menyapapun kamu tak bisa.



Sabtu, 22 September 2012

Lost



Kamu menangis lagi. Sudah entah untuk yang keberapa kalinya dalam enam bulan ini kamu menangis demi seorang laki-laki. Dan sudah entah untuk yang keberapa kalinya kamu memintaku menemanimu. Hey kamu tidak sendiri! Ada mereka sahabat-sahabatmu yang akan selalu menemanimu. Mungkin kamu tak tau, tapi aku selalu memperhatikan ketulusan mereka saat menemanimu yang sedang terjatuh.
Kamu juga punya aku kan? jangan sedih lagi ya, karena kamu tak sendiri. Ada aku yang selalu ada denganmu yang siap tersesat bersamamu. Ups, mungkin kamu yang akan tersesat bersamaku. Hahaha. Sudah ih, hapus air matanya!
Kamu lalu menghapus airmatamu, kemudian mengengamku erat, membuat simpul nelayan, menggantungkanku diantara teralis gorden jendela kosanmu. Lalu kamu paksa aku menggenggam lehermu kuat di udara. Kamu  tersenyum.

Ya, aku hanya seikat tali tambang.

BUNDA


Aku sayang bunda, tiga kata itulah yang mendeskripsikan aku tentang perasaanku ke bunda.
Tak banyak cerita yang aku ingat tentang beliau karena semakin berjalannya waktu ingatanku tentang masa lalu pun semakin menghilang. Kata orang, kamu sangat menyayangiku. Aku selalu ditimang, selalu dimanja. Hmm, andai aku bisa mengingat masa lalu tentangmu.

Aku mengelusmu, mungkin selayaknya yang sering kamu lakukan padaku dulu.
“Pergi kamu!” usir seorang gadis mendorongku jatuh terjerembab kepelukanmu. Bahkan hingga detik ini kamu masih saja mencintaiku. Kamu memelukku dengan lembut.
“Giska, jaga kelakuanmu!” jerit lelaki yang ada di belakangnya. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka perdebatkan, nampaknya mereka seorang kekasih yang sedang bertengkar.
“Tapi, Pah! Dia telah membunuh bunda!” ucap gadis itu lagi.
Siapa? Siapa yang berani membunuh bunda? Bunda masih di sini kok, dia bahkan mendekapku saat ini. aneh!  Aku segera berdiri medekati gadis itu untuk bertanya.
“Giska, dia adikmu! Dia, hanya tidak tau apa-apa,nak,” ucap lelaki itu mulai melembut.
“Dia itu siapa sih? Kalian siapa sih? Bunda baru saja memelukku. Kalian jangan asal tuduh-tuduh orang lain. Dosa tau!” ucapku ikut ambil berbicara.
“Aku benci dia Pah! Aku gak akan mau ke makam bunda kalau masih ada dia! Kenapa dia masih terus-terusan di makam ini seperti orang tolol? Kenapa dia tidak dimasukkan kepenjara atau rumah sakit jiwa sekalian!” ucap gadis itu meracau. Aneh. Sepertinya dia yang gila.
“Giska, kamu kembali lah ke mobil. Ayah tak ingin berdebat. Ayah tak ingin ikut gila seperti adikmu, dan membunuh orang lain karena bertengkar denganmu.”
Aku kemudian bergeming. Dasar manusia jaman sekarang! kalau gila malah nuduh-nuduh yang lain. Masa batu nisan dibilang gila? Memangnya batu nisan orang?

Minggu, 16 September 2012

Tentang Dendam


 Gw mungkin orang pendendam tapi gue bukan orang yang akan menyimpan dendam dan melupakannya tiba-tiba. Gue lebih suka to the point dan marah-marah saat itu juga dan kemudian melupakan. Atau seenggaknya gue lebih milih diem dibanding berbicara. Tapi apa semua orang kayak gitu? Gak kan, semua orang punya reaksi yang berbeda-beda tentang dendam, dan di situlah masalahnya……
Jujur, gue bukan seorang muslim yang taat. Solat aja kadang-kadang absen, ngaji cuma 1 bulan sekali dan pengetahuan gue tentang agama mungkin bisa dibilang minim.  Gue Cuma berusaha menjadi lebih baik setiap harinya walau malas kadang mengganggu.
Gue orang lebih suka membaca dan mendengar dibanding menanggapi, Sillent reader mungkin, jadi ketika ada berita-berita miring tentang islam/muslim gue pasti cuma diem sambil melihat respon orang-orang. Semisal pernyataan tersirat akhir-akhir ini tentang rohis tempat bermulanya teroris. Gue gak bisa bilang gak, dan gue gak bisa bilang iya karena pernah jadi rohis juga *heran ya, orang g bener kayak gue bisa jadi rohis* dan pastinya sistem rohis dan bimbingan rohis di sekolah-sekolah kan beda. Waktu jaman SMP gue ikutan sih, kayaknya biasa-biasa aja deh.  Waktu SMA sih gue g ikutan dengan alasan gue g suka dengan paham yang dianut oleh beberapa anak rohis SMA gue tapi itu bukan berarti rohis di SMA gue mengarah teroris ya.. gak sama sekali! Balik tentang isu rohis yang mengarah ke teroris gue masih aja diem, sambil baca-baca respon orang. Gue lebih milih diem daripada ikutan berbicara dan ke bawa emosi. Karena 1 respon yang salah bisa membuat hancurnya perpecahan kan?
Dan pagi ini gue baru aja baca isu serupa tentang muslim. Isu ‘trailer film Innocence Of Muslims’, film apa sih itu? kenapa pada ribut? Gue lagsung googling mencari penjelasan dan sayangnya trailer itu tidak bisa dibuka di Indonesia. Jadi gue hanya bisa melihat beberapa adegan yang sungguh menjatuhkan, lewat rekaman berita dibeberapa stasiun tv luar negri yang menjelaskan film ini, dari hasil pencarian yang saya lakukan film ini sukses membunuh duta besar AS di Libya. Inilah yang sering saya sebut DENDAM.
Jujur saya kecewa, bukan hanya tentang isi film yang menghina rasullah tetapi juga film ini bisa menimbulkan konflik yang bermula dari masalah sepele ini. Lalu harus siapa yang disalahkan atas meninggalnya beberapa orang di Libya? Kemarahan penduduk Libya kah? para pemeran dan semua orang yang terlibat dalam film itu kah? atau kah, sesimple masalahnya, yaitu film tersebut.
Masalah yang muncul tak hanya sampai di sana. gunjang-ganjing saling menuduh pun riuh di comment-comment youtube. Siapa kah yang benar? Nonsen! Mungkin ini hanya semacam euphoria dari film tersebut, namun dapat memberi luka yang dalam. Hal-hal semacam ini yang dapat menimbulkan dendam. Kenapa? Karena film ini menyakiti hati para muslim, dan menyulut emosi sesaat di Libya, tindakan ini kemudian menyakiti hati warga AS, LALU SIAPA LAGI KAH YANG AKAN DISAKITI DAN TERSAKITI AKIBAT FILM INI?
Harus kah saya diam, haruskan saya berkomentar, haruskah hati saya ikut terluka dengan komentar-komentar pedas yang siap mengkritik komentar saya? Lagi-lagi ini hanya masalah kecil yang bermulai dengan kata DENDAM.