Minggu, 29 April 2012

Selamat Tinggal, Itu Baik


Hujan kembali menggunyur ini sudah yang kebeberapa kalinya terjadi akhir-akhir ini. Kala hujan kembali mengguyur kamu akan dengan sigap menggajak saya bertepi. Melindungi saya dan yang lainnya dari hujan deras, tak jarang kamu melupakan dirinya sendiri yang kedinginan diguyur hujan. Kamu selalu berkata, “Tenang, kita akan aman di sini. Bersabarlah.”
Jika ada seseorang yang harus saya cintai, haruslah kamu seorang. Kamu layaknya seorang ibu yang menemani anaknya makan dan bagai seorang teman akrab yang selalu menemani saya bermain, bahkan saat kondisinya sedang tidak baik. Sempat saya memergokimu batuk terkokol-kokol kemudian mengeluarkan suatu cairan bewarna merah dari mulutmu. Entah cairan apa, cairan itu nampak sama seperti saat bapak mengorbankan dirinya.
Kata orang, saya dan beberapa yang lainnya berada di sini hanya untuk menunggu kematian. Bukan kah kita semua akan mati nantinya? Lalu apa yang perlu ditakut kan? Kata orang pula, kamu adalah orang pertama yang harus dipertanyakan dan dipersalahkan saat saya dan yang lainnya mati. Mungkin saya satu-satunya yang tak percaya akan hal itu, mana mungkin seseorang yang dapat  berkata seperti ini “Tenang,kita akan aman di sini. Bersabarlah.” adalah orang yang dipersalahkan atas kematian saya dan yang lainnya.
“Hey, dimana teman-teman mu yang lain? Kita harus segera pulang sebelum hujan kembali mengguyur,”ujarmu.
Saya hanya terdiam, menatap bias matamu. Sungguh saya mencintaimu. Kemudian saya mengikutimu dari belakang enggan mengusikmu jika berada di sampingmu. Sesekali saya memanggil yang lainnya untuk segera pulang. Selama perjalanan pulang hanya kamu lah yang satu-satunya yang saya khawatirkan. Bajumu masih basah terkena hujan tadi karena melindungi kami dari hujan deras. Saya memandangimu dari belakang tampak begitu menyedihkan.  Bajumu nampak lusuh bercampur dengan tanah merah akibat rintikan hujan yang memantul dari tanah. Badanmu semakin kurus, layaknya orang-orangan sawah di dekat kami biasa tinggal. Saya mencintaimu apa adanya. Bukan hanya karena sekedar rasa iba karena kamu sering bermalam ditempat kami yang dingin.
***
      Saya terjaga ketika ada sentuhan halus menyentuh tubuh. Ingin saya buka mata mencari tau siapa yang malam-malam seperti masih terjaga dan mengelus saya. Namun hal ini enggan saya lakukan, ketika ada setetes cairan membasahi tubuh ini.
      “Mbul, maafin aku ya. Aku sayang mbul,” ujar seseorang sambil kembali mengelus tubuhku lembut. Dari suaranya saya tau itu adalah kamu.
Jika boleh saya juga ingin menyuarakan hal yang sama denganmu, tapi apakah mungkin kamu bisa mendengar jeritan hati saya? Mengapa harus meminta maaf untuk menyayangi saya? Tidak pantaskah saya disayangi olehmu?
      “Mbul, maafin aku. Besok kamu diminta pak RT, dan aku tak bisa berbuat apa-apa,bul. Aku hanya seorang gembala,” ujarmu kembali menangis kembali.
      Saya membuka mata, tak tahan karena semakin banyak tetes air yang membasahi tubuh saya, sama banyaknya ketika hujan membasahi tubuh ini. Kamu menangis, berusaha menahan air mata, tapi semakin menahan air matamu semakin banyak keluar. Tak pernah saya melihatmu seperti ini. Kamu seorang wanita yang tegar. Lalu mengapa kamu menangis hari ini?
      “Eh, mbul bangun,” ucapmu sesegera mungkin menghapus air mata. Kemudian memeluku saya erat. Tak pernah saya dipeluk erat seperti ini olehmu, kecuali ketika hujan datang memburu.
      “Mbul, aku sayang mbul. Aku gak mau kehilangan mbul. Tapi besok ada selamatan di rumah pak RT dan dia memintamu. Aku tak bisa apa-apa mbul, kamu dan yang lainnya itu miliknya. Dan aku hanya seorang gembala,” ujarmu menangis masih terus memeluk saya.
      Ini kah giliran saya? Giliran saya menghadap yang Maha Kuasa? Jika memang esok hari untuk saya. Maka saya harus siap.  Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bukan semua mahluk cintaan tuhan nantinya akan mati? Lalu hal apa yang harus ditakutkan untuk menghadapi kematian? Seharusnya tak ada, tapi saat memandangmu saya tau, satu hal yang saya takutkan adalah kamu. Bukan takut karena kehilanganmu, tapi takut karena mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan keadaanmu yang semakin hari semakin terlihat ringkih. Saya sayang kamu, itu adalah kata-kata yang tak mampu kamu dengar.
Sudah dari turun temurun saya tahu, bahwa saya dan lainnya adalah sejenis mahluk yang diciptakan untuk membantu manusia. Meski banyak diantara kami merasa hal ini tidak adil tapi bapak dulu selalu bilang. “Sudah menjadi kebanggaan bagi mahluk seperti kamu dapat membantu manusia. Apalagi jika itu adalah saat perayaan kurban dimana ribuan diantara kami dikurban untuk sesuatu yang suci. Maka berbahagialah jika kamu akan mati seperti itu. dan jika kamu tidak mati dalam keadaan seperti itu kamu harus tetap bersyukur setidaknya kamu sudah dapat membantu manusia.bukan kah kita semua mahluk tuhan diciptakan untuk seling membantu dan melengkapi” karena itu saya rela jika harus mati demi membantu manusia. Ya, saya hanya mahluk tuhan yang sering disebut kambing.

Minggu, 22 April 2012

SAHABAT


Capek kali ya kalau kalian denger judul di atas. Udah beberapa kali saya coba nulis dan bahas baik di bulletin board, notes sampai di twitter. Jujur sampai detik ini saya juga masih belum mengerti tentang kata di atas. Saya bukan orang yang mudah bergaul, so saya rasa kalau dihitung-hitung teman dekat saya hanya beberapa. Weits, sori nih kalau saya hanya menyebutkan teman dekat bukan sahabat, karena saya gak tau sih sebenarnya diantara mereka adalah sahabat saya atau bukan. Wel, saya orangnya egosentris bukannya gak percaya dengan mereka, tapi siapa yang tau? Jujur kalau saya sih menganggap mereka orang-orang yang paling saya sayangi bahkan terkadang saya bisa menangis tanpa sebab karena memikirkan mereka. Tapi apa mereka juga seperti itu? Saya gak akan pernah tau dan mungkin lebih baik saya gak akan pernah tau. karena itu, saya hanya bisa menyebutnya teman dekat saya, atau lebih tepatnya teman terdekat saya.
Kata ‘teman’ saja nampaknya cukup berat bagi saya. Kalau saya lihat selama saya hidup, terkadang teman itu hanya sebuah kelompok atau koloni yang tak sengaja bertemu, yang sebenarnya belum tentu cocok diantara salah satunya. Kalau gak kuat iman terkadang berteman itu hanya istilah seseorang untuk bertahan hidup, gak percaya? Saya pernah dan bahkan berkali-kali merasakan hal tersebut, dimana tanpa sadarkan di depak dari pertemanan dikala idealisme dan beberapa hal yang gak sesuai dengan konsep pertemanan. Sakit loh rasanya. Berteman itu bukan hanya 1 rasa kan? Tapi berbagai macam rasa entah sedih, senang, bahagia, takut, kalut, galau, rindu, gembira dan berbagai hal lainnya. So, saat semua itu berakhir karena tidak dianggap cocok, atau karena jarak dan waktu yang memisahkan, itu sakit banget. Sakit sampai buat saya pernah berpikir, apa sih yang salah dari saya?
Teman tuh, saya rasa sejenis pacaran kali ya. Kalau pacaran itu hanya menyocokkan 2 karakteristik dan 2 jenis kelamin, kalau teman itu bisa lebih dari 2 karakter dan 2 jenis kelamin.#eh. Hahaha. Bahkan ya, nampaknya nyari teman tuh lebih sulit dari pada nyari pacar. *pengalaman ini loh* Gimana sahabat? Yang katanya maknanya lebih dalam dari kata ‘teman’ Makanya sekarang-sekarang ini saya gak mau bersahabat dengan orang lain kecuali saya sedang memakai ‘topeng saya’.
     Walau seperti itu selama saya hidup, saya selalu saja termasuk dalam sebuah koloni atau bahasa ababilnya sih ‘geng’. Hampir setiap ajaran baru pasti saya masuk diantara ‘geng’ ini dan ‘geng’ itu dan terkadang hal itu merepotkan sekali loh. Apalagi kalau udah diajak ke acara-acara di sekolah, entah mau bergabung dengan ‘geng’ mana. Kalau ikut ‘geng’ ini nanti dianggap ga kompak sama ‘geng’ itu, kalau ikut ‘geng’ itu pasti dianggap gak asik sama ‘geng’ ini. Pokoknya ribet deh. Kalau udah kayak gitu saya terkadang memutuskan untuk tidak ikut. Udah gitu terkadang yang namanya geng itu gak akan lama, pengalaman dari jaman SD, yang sudah-sudah sih, ketika jarak dan waktu memisahkan itu adalah akhir dari sebuah pertemanan/persahabatan.
     Jujur saat kembali bertemu ada rasa kangen yang menyelinap masuk, tapi saya gak pernah tau bagaimana cara memulainya, karena waktu dan jarak terkadang membuat dinding beku diantara peteman/persahabatan. Jadi yang dulu sering saya lakukan hanya diam, menunggu mereka memulai duluan. Walau nyatanya saya ngerasa saya dan mereka jatuhnya seperti hanya seseorang yang sebelum pernah berkenalan, udah gitu aja, gak lebih. Kadang itu yang membuat saya nyesek sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu saya mencoba berusaha lebih terbuka. So, yang kenal saya pasti sudah pada taulah ya apa yang sering saya lakukan? Saya akan mulai memecahkan kecanggungan dengan kata-kata seperti “Eh, pacar lo sekarang siapa?”, “gimana kabarnya si itu?”, “eh, kapan nikahnya?” intinya tentang cinta-cintaan.
     Wel, udah kebanyakan nih prolognya, intinya saya mau nulis ini buat mereka yang selalu ada dihati saya dan mereka salah satu teman saya yang masih keep contact walau sudah hampir 3 tahun berpisah. Kami itu bersembilan orang dan kebetulan cewek semua. Ini koloni pertemanan terbanyak yang pernah saya punya loh. Biasanya tak pernah lebih dari 6 orang. Kami sih gak punya nama ‘geng’ khusus ya karena kami terbentuk secara alami, tapi kalau mau maksa sih ada. Namanya lenjeh haters. Kenapa lenjeh haters? Karena kebanyakan dari kami membenci cewek lenjeh. Kalau gak tau cewek lenjeh itu apa saya akan mencoba mendeskripsikan cewek lenjeh itu  cewek centil, pecicilan, sok imut, mengeluarkan suara mendayu-dayu atau mendesah-desah dan gak banget. Pokoknya pusing dan eneng deh bawaannya kalau ada disekitar cewek lenjeh.
duo kembar
Bersembilan dan cewek semua itu ribet banget loh. Banyak karakter yang harus disatukan. Si ajis, niken dan bleki dengan karakter gahar nan sangar tipe-tipe mas-mas tengil tapi berhati hello kitty, dube dengan karakter si tersiksa, muti dan gita dengan karakter ibu-ibu pengajian, serta pijol dan dita duo kembar dengan karakter dua kepribadian cewek tulen tapi sekaligus bisa jadi cowok tulen pas naik gunung. Coba bayangin aja. Tapi dari mereka saya banyak banget belajar tentang arti hidup. Belajar tentang apa peranan saya bagi mereka. Dan terharu itu ketika mereka masih punya waktu untuk jengukin saya pas lagi sakit. Saya sayang banget sama mareka.. :’)



taman mini
Kami bisa jadi deket itu butuh waktu yang, hampir 1 semester. Percaya gak percaya kami pernah saling benci loh sebelum dekat. Oke, buka-bukaan aja ya, si duo kembar pernah sempat kesel sekelompok tugas dengan bleki, sementara gita dan saya juga sempat kesel sekelompok dengan si duo kembar. Saya yang sudah dulu kenal dengan duo kembar dibandingkan teman-teman lainnya bahkan pernah mem-blacklist duo kembar tanpa alasan yang jelas. Saya malas berhubungan dengan bleki karena saat SD dia sering mem-bully saya. Saya bahkan sempat berpikir ajis itu tipe wanita kalem yang berwibawa. Hahaha, tapi dulu ya sebelum saya kenal lebih dekat dengan mereka. Kami mulai dekat ketika merencanakan acara gila jalan-jalan ke lubang buaya dan taman mini. Coba bayangin mana ada sih orang-orang kayak kita? Ide-in jalan-jalan ketempat bersejarah kayak gitu?

Museum Taman Guci

     Sebenarnya kalau mau dikelompok-kelompokkan mereka tuh bisa di bedakan jadi beberapa tipe hubungan yaitu temen tapi musuh, temen tapi debat, teman tapi curhat, temen tapi menyiksa dan temen tapi berdakwah. :P hubungan temen tapi musuh itu saya jalanin bareng ajis dan bleki. Sering banget entah saya dengan ajis, saya dengan bleki, saya dengan ajis dan bleki, itu bertengkar gak jelas. Berantem ngomongin siapa diantara kita yang lenjeh, siapa yang paling berhati hello kitty, menghina dengan kata-kata yang terkadang tidak layak dan sebagainya. Setiap hari ada aja keributan yang tercipta. Bahkan kekerasan seperti cubit-cubitan, toyol-toyolan, jambak-jambakan, dan pepetan ke dinding kelas, pokoknya frontal abis deh. Tapi abis itu kita pasti ketawa-ketawa gak jelas dan baikan lagi. Dari mereka berdua saya belajar kejamnya dunia. Saya belajar bahwa teman itu tak selamanya hubungan mutualisme, dan kata-kata tak layak dari mereka terkadang dapat mengubah pikiran saya yang apatis dan bisa membangun karakter saya menjadi lebih baik.
     Yang kedua itu temen tapi debat, ini khusus pertemanan yang saya jalin dengan gita. Saya duduk sebangku dengan dia. Dan saya itu tipe orang yang butuh penjelasan yang detail. Hal ini lah yang terjadi kalau soal pelajaran. Saya yang terkadang tidak puas dengan jawaban dari guru mempertanyakan kembali pada Gita. Entah kenapa selalu diakhiri denga perdebatan. Yang ketiga itu temen tapi curhat. Itu hubungan koalisi yang saya lakukan dengan niken, pijol dan dita. Hehehehe. Biasa anak muda, pasti ada aja setiap hari curhatan tentang cinta dan diantara kami bersembilan memang mereka bertiga yang sering curhat. Si pijol dengan si jawa, niken dengan org p****t** dan dita dengan si b**I (sori ya, sedikit menyinggung masa lalu). Dan selalu aja ada kegalauan yang muncul kalau sudah dimulai edisi curhatnya. :)tapi dari sana saya bisa belajar banyak bagaimana cara untuk memulai suatu hubungan dengan lawan jenis.
     Yang keempat tuh hubungan teman tapi tersiksa. ini hubungan saya dengan si dube dan beberapa orang lainnya. Muka lugu dan polos dube terkadang jadi sasaran manis bagi kami berdelapan. Hmm, tepatnya saya, ajis dan bleki kayaknya. Becandaan kita ituloh yang sering banget dianggep dube serius. Pikirannya yang masih polos juga kadang membuat saya sering menahan tawa. Hal terparah adalah ketika bercandaan ajis membuat dube MENANGIS. Mengangis saudara-saudara, padahal ajis hanya bercanda. Sayangnya saya lupa apa sebenarnya masalah yang menyebabkan ajis membuat dube menangis. Saya belajar banyak dari dube bahwa hidup terkadang tidak perlu dibuat terlalu sulit. hidup itu harus dibawa polos. #eh. And the last hubungan teman tapi dakwah ini saya rasakan dari muti dan gita. Banyak banget hal yang membuat saya berpikir panjang, dan lebih mengenal tuhan dari mereka. Mereka yang sering mengingatkan solat dikala kami sedang jalan-jalan. Pokoknya kalau ada mereka jalan-jalan kami bersembilan aman lah ya. :)pikiran mereka berdua yang lebih dewasa dan lebih terbuka membuat saya belajar banyak hal. Saya bersyukur punya teman seperti mereka berdua.
     Ini nih karakteristik mereka kalau dijabarin satu-satu :

1. Ajis: galak, hampir semua orang takut sama dia, tapi saya bukan termasuk orang tersebut, karena saya tau sebenarnya kegalakan dia sudah bawaan dari lahir. Jadi sebenarna dia gak bermaksud galak. Walau galak-galak ini dia hatinyanya hello kitty loh kalau udah jatuh cinta. warna kuning dan pink akan mendominasi dan dia takut sama darah! Liat luka aja dia bisa nangis.
2. niken: pencinta kucing kalau kerumahnya tuh bawaanya pengen ngejarin kucing-kucing dirumahnya. Dia itu tipe orang yang sering banget jatuhnya ‘ngejilat ludah sendiri’. Selama saya kenal dia 2 kali aja saya ngeliat dia ‘jilat ludah sendiri’. Sweet moment itu ketika dia bela2in jengukin saya sakit saat besoknya dia mau pergi ke Jepang.

3. Dita : dia, yang paling muda tapi kadang memiliki pikiran yang lebih dewasa dibandingkan kami. Saya banyak banget belajar dari dia bahwa hidup itu harus kuat! Hidup itu harus semangat, sebarapapun sulitnya hari-hari lo. Dia yang sering jadi tempat curhat pribadi saya.
4. gita : dia itu orangnya keras kepala tapi selalu aja kalah sama saya. Hehehehe. Kita sempat punya kecengan yang sama. Keakraban saya dengan dia muncul saya saat kita ikut ekskul teater disekolah.
5. pijol : wis, saya gak pernah tau kenapa saya dulu pernah memblacklist dia. Saya pikir dia orangnya songong. Eh pas kenal emag songong gitu. #eh hahahaha. Kalau mau belajar tips kecantikan nampaknya kayaknya saya haur tanya sama dia deh, pokoknya dia yang paling upto date deh orangnya.

6. bleki : huwoh, ini orang satu dari dulu gak pernah akrab sama saya. Hahaha. Dulu saya bahkan menbenci dia karena jaman SD dia selalu membully saya. Tapi setelah kenal lebih dekat lagi kami jadi dekat. Pokokny kalau lagi suntuk dan butuh teman rebut tinggal nyulut api sedikit deh ke dia.. :)


7. dube: dia tipe cewek yang polos, manis dan terkadang seidkit gak nyambung, kalau lagi butuh isengin orang pasti duluan yang saya isengin. Karena kepolosan dia ini nih, sampe dia ampir aja dimanfaatin sama ‘orang gila’,, -_____- untungnya ga berlanjut. Pas tau hal itu saya kesel banget dan pengen nampar itu ‘orang gila’! Ujung2nya saya yang malah dteror.
8. muti : ini nih si ibu pengjian satu ini, saya gak ngerti kalau gendut sih gendutan saya tapi entah kenapa kalau di kelas selalu saja dia yang kena cak-cakan kalau menyinggung gendut-gendutan. Kiat punya kesamaan yaitu suka pemandangan alam. Dia satu-satunya cewek yang yakinin saya ‘kalau saya cantik loh’ :P kebetulan kita kuliah di satu jurusan yang sama tapi sayang beda universitas.
saya, bleki, dita, niken
     Wel, Sebenarnya masih banyak banget yang pengen saya certain tapi takutnya bakal jadi novel bukan sebuah cerita. Hehehe. Dari semuanya saya sadar saya sayang kalian. Makasih banyak sudah mengajarkan arti hidup bagi saya. Banyak banget tawa, canda dan kesedihan yang saya alami sama kalian. Saya sayang banget sam kalian dan saya gak mau kehilangan kalian. 



buka bareng with dita, pijol,dube, muti dan niken :)

perpisahan niken seblum ke jepang nih

iseng ke take-tei















Dari temanmu, yang posesif Hani :)
220412

Sabtu, 21 April 2012

JATUH



Pagi ini, pedesaan di bawah kaki Gunung Putri diramaikan oleh beberapa orang yang terdiri dari 1 tim dan hendak mendaki Gunung Gede-Pangrango melalui jalur Gunung Putri, salah satunya adalah seorang gadis bernama Wanogo. Oke, ini memang bukan nama aslinya nama ini digunakan untuk menutupi nama asli pelaku utama dalam kisah ini. Wanogo itu semacam nick name yang diberikan bagi anggota pecinta alam yang diikuti oleh Wanogo. Wanogo itu sendiri adalah nama singkatan dari WAnita maNis Orangnya Gak Oon, oke-oke bukan itu sih singkatanya aslinya, itu singkatan yang penulis karang sendiri. Lanjut aja yah, kan tidak penting-penting juga untuk tau Wanogo itu singkatan dari apa.
Nampak terlihat aura semangat dari wajah cerah Wanogo, maklum ini pengalamannya pertama kali naik gunung, jadi si Wanogo ini sangat ecxited. Sedari tadi bahkan tak lepas senyum mengembang tiada tara, apalagi sebelum pendakian ia dan beberapa kawannya lari pagi dulu keliling kampung, lumayan menemukan mas-mas ganteng yang nampaknya akan mendaki hari ini. Sepertinya dia belum tau hal buruk apa yang akan menimpanya hari ini.
Berbekal semangat 45’, Wanogo dan kawan-kawannya serta beberapa alumni yang ikut mendaki memulai perjalanan panjang dari kaki Gunung Putri setelah semalam bermalam di rumah penduduk. Tanaman seledri, wortel dan salada air menjadi back ground utama pemandangan awal pendakian dari kaki Gunung Putri ini. Setelah setengah jam pemandangan beralih pada pemandangan pohon-pohon pinus. Semakin dalam pemandangan semakin rimbun dengan berbagai pepohonan. Tak terasa 2 jam perjalanan tanpa henti mulai membuat nafas Wanogo tersengal-sengal, ingin beristirahat sejenak tapi malu juga kalah sama alumni yang tadi jalan paling belakang sekarang sudah berada di depan.
 Akhirnya perjalan dihentikan sejenak di shelter yang ke dua yaitu Shelter Buntut Lutung karena bukan hanya Wanogo yang lelah beberapa temannya pun merasakan hal yang sama. Wanogo mengamati daerah sekitar shelter kemudian bergidik ngeri membayangkan jika ia hanya sendiri tanpa teman-temannya. Masih sama dengan pemandangan sebelumnya rerimbunan pohon memenuhi tempat ini, menimbulkan suasana gelap dan rindang namun terik panas masih dapat menelusup masuk ke dalam. Terdapat 1 pos kecil, nampak tua dan sedikit tak terawat. Pos inilah yang sering disebut dengan Shelter Buntut Lutung, entah dengan alasan apa.



Botol air 1,5 liter yang sebelumnya telah diisi di sungai bawah, dikeluarkan oleh salah seorang teman Wanogo. Hal ini secepat kilat membangkitkan semangat untuk berebutan medapat giliran minum, padahal sebelumnya mereka bergelimpangan curi-curi waktu tidur sambil beristirahat. Wanogo hanya menunggu enggan untuk berebutan melihat tenaganya terasa begitu terkuras. Menunggu ternyata membawa hikmah tersendiri bagi Wanogo karena ia kebagian minum setelah giliran dari orang yang saat itu dapat membuatnya jatuh cinta. Lebay sih memang, tapi bukannya itu yang dilakukan sebagian besar gadis kalau sedang jatuh cinta? Rasanya tuh kayak dapat tenaga 100 kali lipat karena mendapat air minum yang notabene langsung, setelah diminum oleh sang pujaan hati. Lagu-lagu cinta mulai bermunculan dipikiran Wanogo yang picisan satu ini.
Berbeda dengan kebanyakan gadis yang biasanya jatuh cinta dengan lelaki yang ganteng manis dan macho, Wanogo malah jatuh cinta dengan lelaki yang sebetulnya gak ada ganteng-gantengnya, tinggi pas-pasan atau bisa dibilang lebih pendek daripada Wanogo. Ada tambahan plus-plusnya pula lelaki itu suka merokok, padahal Wanogo tidak suka dengan asap rokok. Karena itu lah walau Wanogo mulai mendaki, pikirannya masih fokus untuk memusnahkan pikiran-pikiran manis sebelumnya. “Gak boleh, go, gak boleh! Hei, masih banyak lelaki yang lebih baik daripada dia. Lagian emangnya dia suka sama lo,” pikiran Wanogo masih liar berjalan berusaha menepis perasaan yang dia punya ketika teman dibelakangnya mengingatkan untuk menyapa pendaki lain yang sedang beristirahat di dekat tikungan.
“Go, diingetin sama alumni jangan lupa nyapa pendaki yang lagi istirahat di depan kita itu ya,” ucap salah seorang teman Wanogo.
Sayangnya Wanogo terlambat, ketika menengok ke samping beberapa pendaki yang sedang istirahat itu sudah di depan mata. Wanogo dengan sigap  menyapa “permisi, mas” dengan senyum manis. Adengan ini terjadi hanya beberapa detik tapi terlihat lama bagi wanogo.  Apalagi saat Wanogo sadar salah satu dari orang yang dia sapa cukup mempesona untuk ukuran orang yang sering mendaki gunung. Wanogo sebisa mungkin mengeluarkan senyum maksimalnya dan kemudian sedikit menunduk kepalnya saat mengucapkan kata “permisi mas”. Dan “GEDEBRUK” bunyi keras tercipta saat lutut Wanogo bersinggungan dengan batu .


Saat Wanogo melakukan aksi menundukan kepalanya cariel yang dipakainya pun ikut merosot ke depan mengikuti aksi tersebut. Hal ini terjadi karena cariel yang dibawanya cukup berat dan hoplah! Keseimbangan tubuhnya, tidak dapat menahan cariel dan Wanogo pun jatuh dengan posisi setengah bersujud. Dengan tampang watados (wajah tanpa dosa) Wanogo kembali bangkit seolah-olah semua baik-baik saja. “Kamu, gak apa-apa? Luka gak?” tanya salah seorang yang membuatnya tertarik tadi. Orang itu tersenyum berusaha menahan tawa. Senang sih ditanyain begitu sama cowok ganteng, tapi rasa malunya itu loh gak abis-abis! Tindakan kilat yang Wanogo lakukan hanya menggelung celana panjangnya dan melihat sebentar kedua lututnya, ia tersenyum pias sambil berkata, “Gak, apa-apa kok, cuma luka kecil, hehehe”.
“Bisa jalan gak, Go?” tanya salah seorang alumni menghampiri Wanogo.
“Bisa bang, bisa. Oh, ya makasih ya mas. Bang duluan ya, nanti ketinggalan sama yang lain,” ucap Wanogo singkat berusaha kabur secepat kilat, menahan malu.
Lukanya sih hanya luka biasa. Darahnya juga tak cukup banyak keluar. Tapi ya itu kalau kakinya menekuk rasa sakitnya itu muncul di kedua kakinya. Apalagi keesokan harinya saat mendaki Gunung Pangrango ternyata luka di kedua dengkul Wanogo, sudah berubah menjadi biru lebam. Segini saja dulu deh tentang hal konyol yang dilakukan Wanogo yang bisa penulis tulis. Sekian. Wasalam,.

Kamis, 19 April 2012

In Cathedral Doumo



Lian, memandangi pemandangan di sekelilingnya, sambil sesekali mencatat dan terkadang membaca catatan kecil yang sedari tadi ia pegang. Ini pertama kalinya Lian mengunjungi tempat ini Katedral Duomo. Tempat yang sebelumnya tak pernah ada dalam benaknya untuk dikunjungi.

            Pemandangan yang begitu eksotis dari katedral itu membuatnya lupa diri, lupa bahwa Lian sedang ada di negeri orang. Sampai akhirnya Lian menemukan penjual es krim dari top of the church, untuk yang satu ini memang Lian ahlinya. Lian yang telah puas dengan apa yang sedari tadi diamati berbegas turun ke lapangan tempat dimana Lian melihat penjual es krim itu.



            Lian, memandang sekilas, penjual tersebut sambil berkata terbata-bata karena terkesima dengan penjual ice cream itu “Mr, I want that, one  please,”
            “This one? Vanilla? Ow, sweet girl,” ucap sang penjual masih mengeluarkan senyum memikatnya.
            “Yes, please,” Lian masih terlihat gugup.
            “okay, it’s only 65 cent, sweety.”
            “okay, thank you,” ucap Lian sambil memberikan uang dan tak kalah gugup dari sebelumnya. Kali ini bukan karena senyum manis si penjual ice cream itu tapi karena pujian yang sedari Lian terima dari penjual itu. Lian tau mungkin itu hanya trick yang dilakukan penjual bagi konsumennya, tapi ini sungguh hal yang menakutkan bagi Lian. Lian sendiri di sini, tak mengenal seorang pun, tunggu mungkin ada yang dirinya kenal Jeremy, yang entah dimana dapat Lian temukan.
            “hey, sweety, are you millano people?” ucap penjual itu lagi. Lian kemudian berlari sekencangnya tak ingin memperpanjang urusan dengan seseorang yang tak dikenalnya.
            Ini sudah hari ke-5 tapi sosok Jeremy belum juga Lian temukan. Kalau bukan karena Lita kembarannya yang dulu sempat menghilang, tak akan pernah Lian melakukan hal bodoh untuk segera mendarat di Millan seperti ini. Lian kemudian kembali menangis, ini terlalu berat baginya. Lalu bagaimana dengan Lita jika Lian merasa ini sudah cukup berat baginya?
            Lian tak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia tak mengenal seorang pun di sini dan bahasa Inggrisnya pun masih patah-patah. Ini ia lakukan hanya demi Lita. Lita, saudara kembarnya yang telah lama terpisah dan Lian temukan dengan vonis dokter berupa kanker tulang. Tak ada yang Lita harapkan lagi, hanya satu orang yang ingin Lita lihat setelah ia menemukan Lian, seorang teman dunia mayanya yang kini tak pernah memberikan kabar. Ya, dia Jeremy. Bagaimana cara menemukan Jeremy di kota yang bahkan sekecil ini, dengan hanya bermodal sebuah catatan kecil yang pernah Jeremy berikan untuk Lita, tanpa foto?
***
            Hari ini Lian kembali mengunjungi Katedral Duomo, sambih berharap cemas tak akan bertemu dengan penjual ice cream yang kemarin. Lian terpaksa melakukan hal ini karena satu-satunya kata kunci tentang Jeremy hanya katedral duomo dan beberapa tempat di sekitar katedral tersebut. Nampaknya Jeremy tinggal di dekat katedral Doumo.
            Sebelum memasuki katedral duomo Lian nampak terkesima dengan burung-burung yang bertengger di sekeliling lapangan katedral. Lian megurungkan niatnya sejenak untuk mengunjungi katedral, kemudian Lian mengeluarkan kamera yang sedari ia simpan di tasnya itu. Lian asik mengambil beberapa foto burung-burung yang berterbangan dan dan kadang tertengger di sekeliling lapangan katedral. Tanpa sadar tangan kiri Lian dipegang oleh seseorang pemuda Millan. Pikiran buruk Lian mulai bermain. Akan tetapi pikiran itu hanya sekedar pikiran buruk, karena pemuda itu hanya memberinya segenggam biji jagung.
            Pemuda itu tersenyum pada Lian, membuat Lian kembali gugup. Pemuda itu berbicara menggunakan bahasa yang sama sekali tak dimengerti Lian. Lian tak mengerti apa maksud pemuda itu memberikan segenggang biji jagung pada hingga pemuda itu memeragakan gerakan untuk memberikan biji jagung tersebut pada burung-burung yang beterbangan disekeliling lapangan katedral. Lian tertawa kecil menanggapi sikap yang dilakukan pemuda itu. pemuda itu pastinya orang yang sangat baik karena mau berbagi jagung dengan Lian, bahkan beberapa aktivitas Lian yang sedang asik memberi makan burung di foto oleh pemuda itu.
            Lian melirik jamnya, sudah terlalu lama ia berfoto-foto. Ia tak punya banyak waktu untuk menemukan sosok Jeremy. Ketika akan bergegas, tangan Lian ditahan oleh pemuda tadi. Pemuda tersebut kemudian berbicara dengan bahasa yang lagi-lagi tak Lian mengerti. Lian kembali panik, Lian tak mengerti apa yang pemuda itu ucapkan dan Lian pun tak ingin ditahan seperti ini.
            “Hey, what are you doing whit this girl?” tanya seseorang memecah ketakutan yang mendera Lian. Lian mencari arah suara itu datang. Orang itu nampak Lian kenal entah dimana.
            Kedua orang itu kemudian berbicara dengan bahasa yang tak Lian mengerti. Lian hanya bisa berharap-harap cemas bahwa lelaki yang memecah ketakutannya bukan lah seorang penjahat. Lian, melihat apa yang kedua lelaki itu lakukan. Lian hanya dapat bergidik ngeri ketika salah satu dari mereka mengeluar kan 2 lembar uang 10 euro.
‘Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ini dijadikan objek penjualan kah? Seseorang tolong aku! Aku ini terlalu toloL atau apa? kenapa gak lari aja sekarang? Kenapa malah ngeliatin mereka?’ pikiran-pikiran panjang memenuhi kepala Lian, tapi kaki Lian seoralh enggan diajak bercanda, ia masih terpaku memandangi kedua lelaki itu.
“Hey, are you okey?” tanya salah satu lelaki tadi. “Calm down, your save with me,”
Lian, masih tak bersuara, ia masih terlalu syok mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
            “Hello?” ucap lelaki itu menepuk pelan punggung Lian.
            “Yes, fine, thank you,” berusaha tersenyum.
            “Let I guess. You aren’t come from ini here?”
            Lian, hanya mengangguk pelan kemudian menyadari bahwa lelaki dihadapannya itu adalah penjual ice cream waktu itu.
            “Hmm, so, you are come from Indonesian?”
            “How do you know?” tanya Lian sedikit kaget lelaki itu bisa mengenal Indonesia.
            “Saya punya teman di sana. dan wajahmu nampak familiar,”
            Lian kembali kaget ketika lelaki itu dapat berbahasa Indonesia dengan fasih.
            “Saya, Jeremy. Siapa namamu?”
Sesaat Lian terdiam. Kemudian tersenyum lebar ketika nama itu tersebut. Lian yakin ini lelaki yang Lita cari.