Kamis, 24 November 2011

Temui Aku di Gedung 4



“Ih, lonte ngapain sih ke sini? Gak ada makanan tau!  Hus, sana pergi!” usir kasar wanita di depanku. Di sampingnya duduk beberapa wanita lainnya yang kusangka adalah temannya. Wujudnya masih muda belia, manis dan juga cantik, tapi jangan tanya mengapa aku memanggilnya wanita, karena jelas aku tidak tahu apakah dia masih gadis atau sudah tidak. Aku tidak mengerti dengan pemikiran wanita itu, memangnya jika aku mendekat, aku akan meminta makan padanya? Mana sudi aku meminta makan pada wanita seperti itu! dari pada harus muntah, cepat – cepat ku ayunkan kaki ku menuju tempah makanan utama ku. Tempah sampah.
            Apa? kalian juga ingin mencela ku? Lonte? Pelacur? Jablay? Apa lagi? Perek? Seperti wanita tadi? Kalian tau apa sih tentang aku? Aku merasa terhina dengan panggilang kalian? Jelas! Aku merasa sedih? Tentu tidak! Aku bukan manusia seperti kalian, yang menjadikan ku sebagai objek celaan kalian tanpa menyadari apa saja yang telah kalian perbuat? Hanya satu pertanyaan ku! Apa kalian masih perawan tanpa pernah tersentuh oleh lelaki? coba tolong jelas kan ke pada ku?
            Aku mengais - ngais tong sampah berusaha mencari sesonggok makan yang tersisa, untuk mengisi perutku dan mensuplai makanan ke janin yang ada di rahimku. Perutku semakin besar dan itu yang aku rasa, mengapa kalian selalu menyebutku dengan kata – kata kasar seperti itu. Seseorang tiba – tiba mengelusku pelan, dari arah belakang, menimbulkan kesan nyaman di tengkuk ku. Aku berbalik memandangnya, seseorang lelaki. dia tersenyum kepadaku dan kembali mengelus – ngelus tengkuk ku dan kini jarinya berjalan menuju pangkal leherku, menimbulkan sesuatu yang sulit untukku katakan.
            “Ih, Rama! Ngapain sih lo pake ngelus – ngelus si lonte itu? kan kotor tau! Kata seseorang yang tadi duduk disamping wanita yang memanggilku lonte.
            “Hah? Lonte? Lonte itu bukannya jablay ya? Kok gitu sih, Rat? Emang dia punya berapa pacar, eh suami deh maksud gue, sampe lo manggil dia lonte? “ tanya lelaki yang sedari tadi mengelusku. Aku hanya diam berusaha sepolos mungkin karena aku tau, seberapa banyak pun aku berbicara tentang kenyataan, wanita itu tidak akan pernah mau mendengarkan ku.
            “Hahahaha, abis kerjaannya hamil terus, udah gitu anaknya entah kemana? Di aborsi kali ya, hahahaha.” Ucap wanita itu sambil tertawa seolah di sini hatinya tidak akan ada yang terluka.
            “Ih, lo bisa aja. Gak apa – apalah, nanti gue cuci tangan. Yang bikin gue pengen ngelus dia ya emang perutnya ini,” ucap lelaki itu kali ini mengelus perutku, sedikt menenangkan pikiranku.
            Tau apa wanita itu tentang aku?  Aku lonte? Aku atau mereka yang lonte? Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan pasanganku. Aku tidak pernah sedetik pun melirik yang lain. Memangnya apa bedanya aku dengan mereka di luar sana? Memangnya salah kalau aku hamil? Memangnya kalian yang dengan mudah bisa mencari kondom atau pil KB di berbagai toko atau puskemas! Kalau aku bisa sudah dulu aku lakukan! Biar tak perlu aku bersusah payah membawa janin ini. Sayangnya aku tidak punya uang dan di sini mana ada yang menjual barang seperti itu.
‘Aku aborsi?’berusaha mengingat kata – kata yang wanita tadi lontarkan. Aku atau dia yang pernah melakukan aborsi? Memangnya ada yang seperti itu di sini? Asal kalian tau ya, aku melahirkan semua janin – janin yang ada dirahimku, hanya saja terkadang usianya tidak lama. Dan memangnya salah melakukan hubungan dengan pasangan sendiri? Aku memang seolah – olah tidak punya pasangan, karena pasangannku memang jarang beredar mencari makanan. Apa pasanganku itu melakukan hal yang salah?
Aku menghela nafas, tidak ingin berurusan lagi dengan kedua orang itu. aku melanjutkan aktivitaku mencari makan di tong sampah. Aku sudah tidka peduli lagi dengan celaan –celaan atau panggilan yang kalian berikan. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa, se-lonte apa pun aku, setidaknya aku memilih berhubungan dan setia hanya dengan pasangaku. Dan aku tidak pernah sedikit pun berganti pasangan seperti kalian. Sayangnya sampai kapan pun kalian tidak akan pernah tau pikiraku ini karena aku hanya kucing di gedung 4.

2 komentar: