Aku hanya ingin istirahat sejenak dari penatnya jenuh pikiran.
Ku kira hal yang terbaik adalah bersama kau.
Salah! Jenuhku ternyata kau.
Terlalu berambisi,
Ekspektasi tak sesuai.
Memicu benci yang tak berkesudahan.
Aku letih mencintai dengan kebencian.
Tau kah kau?
Rasanya ingin menjerit,
Ingin memaki,
Ingin terjun dari ketinggian tak bertepi,
Ingin mencabik daging tubuh ini,
Atau sekedar memutuskan leher,
Agar letih ini hilang,
Agar tak lagi memikirkan luka,
Sejujurnya aku rindu,
Kau bercerita konyol saat orang rumah geger melihat perubahanmu.
Kau menangis melepasku tuk sekadar mengabdi merajut mimpi kecil.
Kau membangunkanku pagi hari,
Kau mengucapkan suatu saat akan datang ke rumah,
Kau memberi percakapan singkat di pagi hari, penuh semangat.
Kau menjadi imam kecil saat beribadah.
Kau memberikan waktu tuk mendengar keluh.
Kau menenangkanku, saat ku menonton mereka saling bergunjing.
Kau menemaniku mengelilingi kota kelahiranmu.
Tapi....
Benci, amarah, kesal, kecewa, terluka menyatu.
Menghidupi sisa-sisa emosi yang terbakar.
Apakah ke rinduanku hanya hayalan semu?
Aku benci kau!
Kau terlalu............
Bahkan aku tak sanggup untuk sekedar menulisnya dalam kata.
Terlalu menyakitkan,
Terlalu menyesakkan,
Terlalu mengiris luka,
Terlalu mengoyak paru-paru untuk sekadar bernafas sejenak,
Terlalu mempermainkan Tuhan.
Katakan!
Apa yang harus aku lakukan, jika pada akhirnya hingga detik ini aku tak mampu berdamai dengan diri sendiri?
Sudah jangan terlalu banyak dipikirkan!
Kau tak akan pernah tau rasanya menjadi aku
Pun sebaliknya,
Aku tak pernah tau rasanya menjadi kau!
Ku kira hal yang terbaik adalah bersama kau.
Salah! Jenuhku ternyata kau.
Terlalu berambisi,
Ekspektasi tak sesuai.
Memicu benci yang tak berkesudahan.
Aku letih mencintai dengan kebencian.
Tau kah kau?
Rasanya ingin menjerit,
Ingin memaki,
Ingin terjun dari ketinggian tak bertepi,
Ingin mencabik daging tubuh ini,
Atau sekedar memutuskan leher,
Agar letih ini hilang,
Agar tak lagi memikirkan luka,
Sejujurnya aku rindu,
Kau bercerita konyol saat orang rumah geger melihat perubahanmu.
Kau menangis melepasku tuk sekadar mengabdi merajut mimpi kecil.
Kau membangunkanku pagi hari,
Kau mengucapkan suatu saat akan datang ke rumah,
Kau memberi percakapan singkat di pagi hari, penuh semangat.
Kau menjadi imam kecil saat beribadah.
Kau memberikan waktu tuk mendengar keluh.
Kau menenangkanku, saat ku menonton mereka saling bergunjing.
Kau menemaniku mengelilingi kota kelahiranmu.
Tapi....
Benci, amarah, kesal, kecewa, terluka menyatu.
Menghidupi sisa-sisa emosi yang terbakar.
Apakah ke rinduanku hanya hayalan semu?
Aku benci kau!
Kau terlalu............
Bahkan aku tak sanggup untuk sekedar menulisnya dalam kata.
Terlalu menyakitkan,
Terlalu menyesakkan,
Terlalu mengiris luka,
Terlalu mengoyak paru-paru untuk sekadar bernafas sejenak,
Terlalu mempermainkan Tuhan.
Katakan!
Apa yang harus aku lakukan, jika pada akhirnya hingga detik ini aku tak mampu berdamai dengan diri sendiri?
Sudah jangan terlalu banyak dipikirkan!
Kau tak akan pernah tau rasanya menjadi aku
Pun sebaliknya,
Aku tak pernah tau rasanya menjadi kau!