Senin, 11 Juli 2016

Bangga Memilikimu


Mereka bilang Fei tak tahu usia. Menjalin roman picisan di usia ke 27 tahun. Mencintaimu mantan seorang gembong Narkoba. Ah, apa yang salah dari itu? Bukannya manusia itu ladangnya dosa? Toh, saat ini kamu juga sedang menggali pahala yang dulu pernah kau kubur.
Kamu gila ya, Fei? Ingat gelarmu! Lulusan S2 terbaik, mau nikah sama lulusan S3? SD,SMP, SMA!
Emang gak ada cowok lain, cuma pacaran sih, tapi inget umur dong, Fei! Lo mau pacaran doang gak ada niatan buat nikah?
Fei, eling hei, eling!
Iya sih, kamu sekarang pengangguran, tapi kamu gak mikir nanti kalau kamu kerja gajinya bakal gedean siapa?
Memang udah mantan gembong, tapi dia masih Bandar judi internasional, kan? Haram, Fei!
Fei, gue kenalin sama temennya abang gue aja, ya?        
Fei, gak usah kontak gue, sebelum lo udahan sama dia!

Entah kalimat apalagi yang sering terlontar dari mulut orang-orang yang katanya paling beretika itu. Kenapa sih mereka selalu sibuk mengurusi perihal orang lain? Bukannya cinta itu suci? Selama ini pun Fei tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh denganmu. Ciuman bibir saja kalian tak pernah pernah. Itulah yang paling Fei suka dari kamu, kamu menghargai Fei yang sedari dulu memang menjaga batasan, walaupun track record-mu tentang wanita sudah hatam berkali-kali.
Awal pertemuan Fei denganmu memang sungguh tak terduga. Fei mahasiswi S2 Kriminologi yang menelitian perjudian online dan kamu mata kunci dari semuanya. Berawal dari wawancara singkat, Fei menemukan sosok yang selama ini tak pernah ia temukan sebelumnya. Pribadimu yang baik membuatnya luluh, meski mungkin dari agama, kamu masih terlalu jauh dari cukup.
‘Pelan-pelan ya, sayang. aku bakal berubah demi kamu, Fei. Demi masa depan kita.’ ucap Fei padaku meniru gayamu saat awal-awal kalian meminang janji bersama. Demi Tuhan, itu adalah sebuah kata-kata terindah bagi Fei yang pernah hadir darimu!
Pada bulan ke tujuh kalian bersama, lagi-lagi kau membuat Fei bangga. Kau tinggalkan perkerjaanmu. Demi Fei, katamu ketika itu. Sungguh Fei begitu bangga padamu, tidak peduli pada akhirnya kamu hanya menjajakkan roti bakar di pinggir jalan. Demi Tuhan, Fei bangga kamu yang berani meninggalakan pekerjaanmu. Fei, ingat betul pada kali pertama kalian bertemu, kamu katakan, kamu dapat meraup puluhan juta dalam waktu sehari. Kini dengan penghasilanmu uang lima puluh ribu merupakan hal yang sangat mewah. Demi Tuhan aku bersumpah, Fei kagum dengan tekadmu! Kamu tak malu meski kini kau hanya bekerja di pinggir jalan, meskin perkataan-perkataan pedas dari mereka semakin menjadi.
 Fei ingat di bulan ke tiga kalian bersama, kamu bilang ingin memulai belajar agama lagi, biar nanti bisa jadi imam yang baik bagi Fei. Sungguh, saat itu Fei menangis mengharu biru, menyebut nama Tuhan berkali-kali, bersyukur atas hidayah yang telah menghampirimu.
Hampir dua tahun bersama akhirnya kamu beranikan diri untuk melamar, setelah sebelumnya kamu tak punya nyali datang ke rumahnya. Fei tentunya saat itu sangat bahagia. Namun tak sampai hitungan jam kebahagian Fei hilang, Fei  menangis, Fei terluka, Fei hancur ketika pada akhirnya orang tua Fei tak merestui hubungan kalian. Luka lama tak dapat ditutupi. Kelakuan-kelakuan burukmu yang ingin kamu kubur harus terbuka. Hubungan intimmu yang  dulu dengan ibu Fei terkuak, menimbulkan kebencian mendalam pada ayah Fei.
Fei menangis. Fei terluka. Bukan, bukan karena Fei akhirnya tau, kamu pernah berhubungan intim dengan ibunya! Bukan kah semua manusia pernah memiliki masa lalu yang kelam? Fei terluka karena usaha bersamamu kini harus hancur seketika. Berbulan-bulan Fei hancur. Berbulan-bulan pula aku berusaha membangkitkan Fei, memberinya semangat kembali. Percuma! Nyawanya seolah hilang setelah kepergianmu. Fei menjadi setengah gila.
Pagi ini sebuah undangan pernikahamu datang lewat pos. Kamu pada akhirnya menemukan wanita lain yang dapat menerimamu apa adanya. Aku buru-buru menyembunyikan surat itu agar Fei tak semakin hancur. Sungguh, aku tak pernah sanggup melihat Fei hancur seperti ini!
“Bu, ada surat dari siapa? Fei, boleh lihat, ya?” sebuah tanya dari Fei cukup mengagetkanku.