Katamu, LDR
adalah adalah rasa hati penuh ilusi, pada akhirnya kau jalani sebuah hubungan
LDR bersamaku. Satu-persatu kau jilat ludah yang pernah kau buang. Bersamaku,
kau jalin angan-angan penuh ilusi. Entah apa yang menyebabkan kau tak percaya LDR,
yang ku tau kau pernah bergumam bahwa angan-angan kau dengan wanita sebelum
diriku, berakhir tragis.
Guraumu
selalu berkata semua wanita itu sama, materialistis. Ada uang maka semua beres,
semua mampu kau dapatkan dengan uang. Aku hanya tertawa mendengarnya, kau
salah! Akan kubuktikan aku bukan wanita seperti yang kau bilang.
Aku
kemudian membalas dengan guraun, bahwa semua lelaki sama, hanya butuh tubuh
untuk pelampiasan sebuah nafsu. Kamu menepis semua perkataanku tanpa canda, tanpa
tawa, tanpa senyum. Kau seolah marah dengan candaanku kali itu, entah bagian mana
yang salah.
Akhir-akhir
ini kau menghilang, entah karena kau bosan, atau karena sudah hampir 1 tahun
kau belum juga dapat menikmati tubuhku. Sayangnya, aku bukan wanita yang sama
dengan wanita-wanita sebelumku. Aku pernah baca sebuah cerita bahwa waktu dan
jarak yang dapat membekukan hati namun juga mencairkan hati. Jika kau begitu
mencintai seseorang, tanyakan pada jarak dan waktu sebelum kau memberikan
semua.
Perlahan
tapi pasti aku mulai membalas semua luka yang pernah kudapatkan. Katamu, hal
membahagiakan dari hubungan LDR adalah kediaman kita, hanya saling bersua
dengan panggilan tak terjawab. Selain waktu dan jarak sepertinya sinyal juga
berbicara tentang hati. Aku hanya bisa tertawa dari jauh tentang keluguanmu. Dasar,
Don Juan yang aneh! Mari kita buktikan saja.
Ringtone
“karena aku telah denganmu” Ari Lasso
feat Ariel Tatum berbunyi, tanda
sebuah panggilan masuk darimu.
“Sayang, kangen
kamu, ada yang kurang tanpa suaramu,” ucap kau dari seberang sana.
“Hah, apa? Apa
bang? Hah?” ucapku berusaha tak mendengar percakapan, padahal jelas sekali suara
kau nyaring terdengar.
“Sayang, kangen
kamu,” ucap kau mengulang percakapan.
“Hah? Ap…….”
Kugantungkan perkataanku. Lalu kumatikan panggilan dari kau.
Biar kau rasa
bagaimana mana rasanya merindu. Sakit! Sakit! Sakit! Kau tau betapa perihnya
merindukan seseorang! Mungkin kau tak pernah tau.
Kau lalu
berusaha meneleponku lagi, kuangkat, kudiamkan selama beberapa detik lalu aku
matikan. Begitu terus hingga akhirnya kau merasa lelah. Kau berkali-kali
menghela nafas dalam, ketika tak mendapatkan suaraku, ketika itu pula aku
tertawa dalam diam. Aku menghela nafas, memikirkan berbagai cara lain agar kau
merasakan yang aku rasakan.
Masih teringat
jelas teriakan parau ibu saat melihat tubuh kakak yang tergeletak kejang-kejang
bersimbah darah. Darah segar terus mengalir dari pergelangan tangannya. Aku
hanya terpaku melihat kakak, meninggalkan sebilah luka dalam di hatiku. Kakak
tewas bunuh diri, karena sebuah janin tanpa ayah hadir dari rahimnya. Hubungan
kakak dengan pacarnya telah melewati batas. Pertemuan-pertemuan kakak dengan
pacarnya yang LDR mungkin telah menghalalkan nafsu setan. Mulai saat itu aku
benci laki-laki, mulai saat itu aku berpacaran dengan banyak pria untuk
membalas segala amarahku pada semua sosok laki-laki di dunia ini.
Dan kau hadir….
Meningkatkan rasa amarahku, ketika kau selipkan nama kakak pada kisah tragis
hubungan LDR mu sebelumnya. Kau bahkan menyalahkan kakak tentang kisah tragis
yang telah terjadi, lupa siapa dalang dalam kisah tragis itu!
Aku tertawa
melihat pisau tumpul penuh karat di atas meja kamarku, mengingatkanku akan
gurauanmu tentang semua wanita materialistis. Kau salah! Aku hanya seorang
wanita yang ingin menagihmu tentang semua rasa rinduku pada kakak. Pisau tumpul
penuh karat itu akan menjadi saksi kisah tragismu selanjutnya. Tunggu dan
buktikan lah!