Kamis, 13 Agustus 2015

NAFSU

Aku tak ngerti mengapa banyak wanita di luar sana yang posesif. Ya ampun pria dan wanita jalan berduaan aja, wajar kali. Gak tiba-tiba kalian nge-cap mereka sepasang kekasih kan? Dan plis, aku benar-benar pusing, jika Ana sibuk menghasutku untuk cemburu pada Akbar. Semua itu hanya nafsu!
Ayolah, Akbar dan aku hanya teman biasa. Jika Akbar sesekali bilang cinta padaku, wajar kan? Itu kan hak dia, toh semua orang berhak mencintai seseorang selama tidak menganggu yang lain. Jika Akbar pada akhirnya menjanjikanku akan melamarku di hadapan orang tuaku juga hak dia kan? Toh, sampai saat ini Akbar juga belum berani membawa seserahan.
Banyak yang bilang aku tidak mencintai Akbar, aku hanya mencari nama dalam sebuah ikatan saja. Tapi plis, aku dan Akbar saja tidak pernah membuat komitmen apapun. Aku hanya bilang jika kamu memang serius datang lah ke rumah untuk berkenalan dengan orang tuaku. Jadi apa aku sekarang boleh cemburu melihat Akbar foto berdua dengan gadis berbikini di Pantai Losari, sehabis dinas beberapa minggu yang lalu?
Ah, mereka tidak pernah tau saja, kadang ada perasaan teriris ketika Akbar jalan-jalan sehabis dinas keluar kota. Entah perasaan teriris karena iri melihat Akbar bisa jalan-jalan atau teriris karena pada kenyataannya Akbar selalu didampingi sekertarisnya saat pergi dinas. Hey, iya aku juga sekertaris Akbar, tapi kan aku khusus di dalam lapangan. Mana pernah Akbar mengajakku pergi dinas. Katanya takut aku sakit. Demi apapun juga, aku bukan gadis penyakitan dan meskipun begini aku pernah menjajaki kakiku di Rinjani. So, siapa yang sekarang masih menganggapku lemah? 
                “Ketika uang dan nafsu tidak lagi memburu, maka tidak adalagi yang perlu kamu takutkan,” aku selalu mengingat kata-kata ayahku ini. Hal itu yang selalu kuyakini dalam mengambil sikap hidup di kota besar.
***
“Min, kamu pulang sama siapa malam ini? Aku rindu kamu, Min,” Akbar memanggilku ketika aku akan beranjak pulang.
“Aku juga kangen....,” Aku tersenyum dan melanjutkan ucapanku  “Aku pulang sama Ardi, udah jemput di bawah, dia,”
“Kamu gak bisa bilang kamu jadinya pulang sama aku?” tanya Akbar sedikit memelas. Ada kilatan cemburu di bola matanya.
“Aku udah janji duluan sama Ardi. Kamu tau kan aku gak suka ingkar janji?” aku kembali menegaskan.
Aku kemudian mengambil tas kerjaku dan turun ke bawah tanpa melihat Akbar sedikitpun. Aku tau Akbar sangat cemburu, terlebih ketika aku pulang dijemput oleh Ardi, yang kebetulan juga pernah berjanji untuk melamarku. Hey, kalian mau bilang aku wanita gampangan? Aku tak seperti itu! Mereka saja yang tak berani melamarku. Mereka saja yang menebar janji. Biasalah sifat dasar lelaki, menebar janji untuk melampiaskan nafsu. Sama halnya dengan  wanita, yang bernafsu untuk bisa hidup enak di masa depan. 
Ana sering memperingatiku untuk tidak bermain api dengan Akbar dan Ardi. Aku hanya tersenyum enggan menanggapi. Tak perlu Akbar jelaskan, tak perlu Ana sampai berseru, aku tau pasti Akbar cemburu, karena aku pun juga begitu. Aku  pun sangat cemburu pada Akbar. Cemburu itu nafsu, dan sama halnya dengan cemburu aku sangat bernafsu untuk membuat Akbar cemburu membabi buta. Aku ingin Akbar hancur! Bukan, ini bukan karena aku cemburu melihat Akbar foto berdua dengan wanita lain di Losari. Aku cemburu karena kasih sayang ibuku tercurah penuh pada Akbar. Karena ibu tega meninggalkan ayah demi lelaki kaya-ayah dari Akbar. Karena pada dasarnya wanita selalu bernafsu ingin hidup enak di masa depan.