Ada
derita dan kecewa dari wajah bapak tua itu. Anak semata wayangnya dibunuh
dengan berutal oleh salah satu teman sekolah anaknya. Tubuh anak jelita anaknya
yang kini beranjak dewasa tak lagi berbentuk. Terpotong satu persatu bagai
bagian puzzle yang belum tersusun.
Air matanya kembali jatuh, mengingat mayat anaknya yang ia lihat. Sementara istrinya
yang masih syok mendengar kabar berita itu masih terbaring lemah di rumah.
Semua reporter sibuk menulis dan
nyimak segala perkataan yang diucapkan bapak tua itu. Tidak ada yang sadar
dengan senyum tipis yang sempat mengembang beberapa detik di wajahnya. Senyum kemenangan
yang telah lama ia siapkan lebih dari belasan tahun.
*
Di ruang intrograsi, duduk
terpaku seorang gadis yang tertuduh sebagai pelaku pembunuhan artis remaja
terkenal. Gadis itu masih terdiam. Bahkan setelah dia divonis sebagai pelaku
utama pembunuhan berencana itu. Semua pertanyaan yang ditanyakan petugas intrograsi
ia diamkan. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri, mengingat berbagai
kejadian yang tak sengaja ia lihat.
Gadis itu seperti berjalan dalam
ilusinya. Mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu sebelum kematian
teman dekatnya, Winta, artis remaja yang sedang naik daun. Malam itu, ketika
gadis itu baru pulang les, ia mendapati suara-suara jeritan dan desahan aneh. Gadis
itu berusaha masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap. ia mendapati
ibunya sedang bergumul mesra dengan pria tua yang tak dikenalnya. Gadis itu
tidak sempat melihat bahwa tangan dan kaki itunya terikat kuat oleh tali. Pertahanannya
pecah, air matanya jatuh namun tak ada suara apapun yang mampu dia keluarkan.
Gadis itu merasa dikhianati oleh
ibunya, namun itu hanya terjadi selama beberapa menit hingga ibunya berkata
pada pria tua itu. Gadis itu mungkin tidak mampu melihat apa yang sedang
ibunya lakukan dengan lelaki itu, tapi ia masih bisa mendengar.
“Kamu
mungkin bisa memiliki tubuhku. Tapi tidak dengan hatiku. Kamu jelas tahu hatiku
hanya untuk Satria!” Gadis itu bergetar ketika ibunya menyebutkan nama ayahnya.
Pria tua itu tertawa, ”Kau juga berkata seperti itu dulu. Dulu kau bilang hatimu
hanya untukku? Dasar perempuan jalang!” , ‘plak’ bunyi tamparan keras terdengar
bersamaan dengan suara lelaki itu di telinga gadis itu.
Gadis itu
sungguh ketakukan dan segera melarikan diri dari rumahnya.
“Saudari
Nindy, coba berkata sedikit. Agar kasus ini cepat berakhir. Jawab saja apa yang
menyebabkanmu melakukan pembunuhan terhadap saudari Winta?” ucap petugas
introgasi lagi.
Gadis
itu seakan tersadar dari ilusinya, namun ia masih belum mampu mengatakan
apa-apa. Terlalu banyak kejadian yang dia lihat. Terlalu banyak tekanan yang
gadis itu hadapi. Kematian temannya pun menjadi derita yang terelakkan bagi
batinnya.
Gadis
itu hanya menatap petugas itu tanpa berkedip. Matanya terus memandangi petugas
itu sementara pikirannya kembali ke satu hari
yang lalu. Subuh itu, ia terbagun dalam keadaan memegang gergaji. Kepalanya
terasa berat, namun bau anyir busuk memaksanya untuk bangun. Di sampingnya terdapat
bagian-bagian tubuh tak berbusana berselimutkan darah pekat. Gadis itu dengan
sigap menjauh. Sedetik kemudian gadis itu menyadari bajunya dipenuhi darah dan tangan
kanannya masih memegang gergaji.
Gadis
itu tidak mengetahui bagian-bagian tubuh siapa yang terdapat di sampingnya
tadi, hingga ia melihat bagian kepala tanpa tubuh. Gadis itu menjerit kencang
membangunkan burung-burung gereja yang sedang bertengger di batang pohon. Gadis
itu menemukan wajah Winta teman dekatnya di sekolahnya yang sedang naik daun menjadi artis.
Gadis itu kembali melihat tangan kanannya yang memegang gergaji. Pikirannya mejalar-jalar
berusaha mengingat kejadian apa yang telah terjadi, namun tak ada satu pun hal
yang mampu gadis itu ingat. Gadis itu kembali memandang gergaji besar di tangan
kanannya. Tangan yang jarang sekali ia gunakan.
“Saudari
Nindy!” petugas itu kembali mengajak gadis itu berbicara.
Gadis
itu sedikit tersentak kembali kedunia nyata. Terdiam sesaat kemudian menjerit
berulang kali “Saya kidal! Saya kidal! Saya kidal!”
**
Bapak tua itu memasuki kamar
rumahnya. Bapak tua itu melihat istrinya sudah tertidur, ia melihat sekilas
meja di kamarnya. Bapak tua itu tersenyum, meskipun istrinya hanya makan
setengah dari makan yang disajikan di meja tersebut, setidaknnya istrinya
sempat terbangun tadi.
Bapak
tua itu kemudian memasukkan obat anti depresi pada selang infus istrinya. Bapak
tua itu tersenyum, mengelus lembut kepala istrinya yang masih tertidur, membuat
rambut istrinya sedikit acak-acakan.
“Tidur lah yang tenang sayang. Seperti
kedua orang tuamu dulu yang memaksaku untuk menikahimu. Anak kita juga pasti
sudah bahagia di surga karena mati demi kebahagianku. Dia anak yang berbakti
sayang,” ucap bapak tua itu.
Bapak tua itu
kemudian menambah dosis obat antidepresi pada istrinya.
Bapak tua itu tersenyum puas
keluar dari kamarnya. Kemenangan mutlak telah bapak tua itu miliki. Bapak tua itu
kemudian menelpon seseorang. Kemudian tertawa bahagia setelah telepon
dimatikan. Bapak tua itu memastikan kecelakaan mobil yang telah direncanakan sukses
berhasil dilaksanakan bawahannya.
“Winta,
Nindy, Satria dan sebentar lagi Selfi istri tercinta saya akan segera lenyap! Saya
akan mendapatkan kebahagian seutuhnya!” ucap bapak tua itu pelan, tapi pasti.
***
“Bagaimana? berhasil?” ucap seseorang
wanita melalui telepon genggamnya.
“Sudah berhasil. Kita hanya
perlu memastikan Selfi akan mati besok!”
“Lalu cinta kita akan bersemi
kembali?” tanya wanita itu lagi.
“Tentu, tentu sayang. Akan saya pastikan
itu!”
“Terima kasih, sayang. Aku kini
mencintai kamu seutuhnya,” ucap wanita itu berbicara dengan manja.
“Saya juga. Maaf membuat Satria
mati dan membuat anak kesayanganmu menanggung semua penderitaan kita dulu. Maafkan
saya,”
“Tidak apa-apa, sayang. Dia pantas
menerimanya! Bagaimana bisa anak tercintaku itu berteman akrab dengan anakmu
dan Selfi. Tentu aku tidak setuju! Dan aku ingin anak tercintaku itu sadar apa
yang telah dia lakukan!” ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Ah,
kau begitu baik menghukum anakmu tanpa membunuhnya. Saya semakin sayang padamu.
Sayang, maaf saat itu, Saya sampai
mengikat tangan dan kakimu,”
“Hei,
bukankah sudah kubilang aku suka saat kau melakukan itu. Aku suka saat kau
mampu menganiaya orang termasuk diriku. Aku suka saat kamu memotong satu persatu
bagian tubuh anakmu dan Selfi itu. Hahaha. Ekspresi gadis itu begitu lugu saat
mengetahui bahwa ayahnya yang akan memutilasi dirinya. Karena itu, mulai saat
ini tetaplah di sisiku, tetaplah menganiaya orang lain bersamaku,” ucap wanita
itu tersenyum puas, pengorbanan cintanya selama ini telah berhasiil.
“Baiklah,
sayang. Saya cinta kamu! Love you…”